NovelToon NovelToon
ASI Untuk CEO

ASI Untuk CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Menjadi pengasuh CEO yang berpura pura menjadi anak berumur 7 tahun?
CEO bernama Halton Felix berumur 25 tahun, tubuh tinggi kekar dan juga berisi.

Menceritakan kehidupan yang sungguh pahit yang di jalani seorang perempuan polos yang bernama Qiandra Januar Putri. Dia berstatus pelajar kelas 2 di sekolah SMA Negeri yang ada di kota nya.
Dia seorang gadis yang cantik, baik dan juga ramah. Dia adalah anak yatim piatu, yang di tinggal orang tua nya sejak dia duduk di bangku kelas 6 SD.
Setiap hari dia berjualan donat di sekolah untuk menghidupi kehidupan dirinya dan juga adik kandungnya.
Di sekolah Qiandra adalah korban perundungan. Karena semua orang membenci dirinya akibat kemiskinan yang dia jalani.
Qiandra juga disukai Rio Dewandaru tuan muda yang terkenal akan kekayaan dan juga ketampanannya di sekolah.
Alih alih melindungi orang yang dia cintai, tuan muda yang terkenal akan kecerdasannya malah menjadi orang pertama yang ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4.

"KENAPA BISA AKU DI SINI, INI KENAPA? WAJAH KU BERUBAH MENJADI SOSOK MONSTER SEPERTI INI!" teriak Diandra, sembari membanting semua barang yang berada di dekatnya.

Diandra sekarang ini membanting makan siang, obat dan juga air mineral yang ada di dalam gelas yang tertata rapi di atas meja yang berada samping brangkar miliknya.

Sekarang semua makanan, obat dan air mineral yang tumpah itu nampak serakan di lantai, makanan itu tercampur dengan pecahan kaca dari piring dan juga gelas yang telah dilempar oleh Diandra.

Qiandra hanya bisa menelan ludahnya yang kelu, dia yang lapar hanya bisa menatap makanan yang di buang oleh adiknya.

Padahal yang ada dalam pikiran Qiandra, dia akan memakan makanan yang di sediakan rumah sakit, dan uang yang tadi sengaja dia simpan, akan dia gunakan untuk membelikan makanan enak untuk adiknya. Tapi sayang rencananya gagal.

"Kau ... memang kakak kurang ajar, kenapa kau baru saja datang kesini?" tanya Diandra dengan nada meninggi sembari menunjuk ke arah wajah kakaknya dengan jari telunjuk nya.

Glek

Qiandra sekarang ini hanya bisa menelan ludahnya dengan kelu. Apalagi semua orang yang berada di dalam satu ruangan yang sama dengan adiknya, melihatnya dengan tatapan wajah yang sulit untuk di deskripsikan.

Jika membahas perihal sopan santun adiknya, benar benar merasa malu dan juga gagal.

Tak berselang lama para satpam dan juga suster datang, karena ada keluarga pasien lain yang mengadukan keributan yang telah terjadi di ruangan kelas tiga ini, kepada pihak rumah sakit.

Qiandra pun berjalan ke arah adiknya yang masih mengamuk, dia pun berkata "Ya Allah Diandra, Kakak mohon. Tenanglah! Kakak minta maaf, selepas pulang sekolah Kakak langsung datang kesini. Tapi kamu belum sadar, karena efek obat bius yang di berikan oleh dokter selepas operas belum hilang.

Lalu Kakak di panggil dokter, untuk membicarakan perihal keadaan mu. Tolong Diandra, Kakak mohon jangan berbuat onar seperti ini! Karena sekarang kita itu menggangu pasien lain yang ingin beristirahat."

Qiandra dengan suara begitu lembut mencoba untuk merayu adiknya.

Sekarang ini, Qiandra ingin sekali memeluk adiknya, agar adiknya itu bisa lebih tenang.

Walaupun kini semua orang yang berada di dalam ruangan inap kelas tiga ini, menatapnya dengan tatapan tidak suka.  Tapi Qiandra memilih abai yang penting adalah adiknya.

Dengan langkah yang terlihat begitu pelan, akhirnya Qiandra pun sampai di brangkar milik adiknya. Qiandra ingin memeluk adiknya, guna membantu meringankan rasa sakit pasca operasi adiknya, tapi dengan kasar adiknya itu malah menepis kasar tangannya.

Plakkk

"Gak usah dekat dekat denganku, kau begitu menjijikkan! Bahkan itu kotor dan juga bau. Lihat baju mu itu! Begitu kotor dan juga jelek, aku tidak mau mempunyai seorang Kakak seperti mu," ucap Diandra dengan nada meninggi dan juga tatapan mata tajam ke arah kakaknya.

Reflek air mata seketika luruh membasahi ke dua pipi Qiandra, kala mendengar ucapan yang menyakitkan yang keluar dari bibir cantik adiknya.

Perkataan adiknya sungguh sangat menyakiti hati Qiandra. Dia pun memilih untuk memundurkan langkahnya dan berjalan menjauh dari adiknya.

Adegan yang terlihat begitu dramatis dan juga di luar nalar tampak dilihat oleh semua orang yang berada di dalam ruangan kelas 3 itu, termasuk satpam dan juga para suster yang tadi masuk.

Para suster dan juga satpam berusaha untuk menenangkan pasien lain, yang terlihat jengkel dengan memberikan banyaknya umpatan untuk Qiandra maupun adiknya.

Mereka memilih untuk memberitahu pasien lain, jika Diandra dan adiknya adalah kakak adik yatim piatu.

Melihat kondisi yang sudah kondusif, para satpam pun buru buru keluar dari dalam ruang inap kelas 3 itu, untuk memanggil para petugas kebersihan. Agar membantu membersihkan kekacauan yang ada sekarang ini.

Bahkan para pasien dan keluarga pasien yang lain. Pada awalnya mereka mencibir dan menghina tindakan Qiandra, kini mereka juga terlihat bersimpati pada Qiandra.

"Sudah Nak, jangan hiraukan ucapan adik mu itu! Dia sedang marah karena tidak di dampingi ke dua orang tuanya.

Jika para pasien lain, yang awalnya pada protes dan sekarang bisa tenang. Hal yang sebaliknya justru di perlihatkan oleh Diandra.

Dia malah terlihat kembali mengamuk.

Sementara itu para suster terlihat menenangkan Diandra yang masih saja terus berteriak teriak. Padahal tadi Diandra sudah sedikit tenang, sebenarnya dia itu kembali marah. Karena melihat orang orang yang ada di dalam ruang inap itu, begitu peduli dan juga simpati pada kakaknya.

"Dasar Kakak tidak berguna! Harusnya kau itu cari uang yang banyak! Kalau perlu jual dirimu yang tidak berguna dan hanya bisa membuat donat, agar aku bisa dirawat di kelas satu. Jadi tidak perlu satu ruangan dengan orang orang miskin ini!" ujar Diandra dengan nada mengejek dan menghina para penghuni ruangan kelas 3 ini.

"Kalian mau apa? Jangan megang megang aku dengan tangan kotor mu itu!" ucap Diandra lagi dengan nada tidak sopan kepada satpam yang sekarang jni sedang memegang tubuhnya. Agar suster yang berada di sampingnya bisa menyuntikkan obat penenang pada Diandra. Karena tindakan yang di lakukan Diandra sekarang ini, sungguh sangat keterlaluan.

Qiandra menatap adiknya sekarang ini dengan tatapan begitu sedih, karena adiknya terlihat urakan dan tidak punya sopan santun. Bukan hanya itu saja, adiknya juga terlihat sangat menyusahkan. Padahal ada 4 satpam berubuh tinggi yang memegang tubuhnya dengan 2 orang suster yang berusaha untuk menyuntikkan obat penenang di tubuhnya. Tapi para suster dan juga satpam itu terlihat sangat kesulitan, karena adiknya itu terus meraung raung dan juga berteriak sembari tangannya terus bergerak.

Qiandra sebenarnya tidak tega melihat para satpam yang menyentuh adik

nya dengan kasar. Walaupun yang satpam lakukan itu tidak salah karena tubuh adiknya terus menolak.

Akhirnya Qiandra pun membalikkan tubuhnya, menatap orang orang yang menatap dirinya dengan tatapan wajah iba.

"Saya meminta maaf pada kalian semua, tentang sikap adik saya. Karena adik saya begitu kaget, dengan keadaan yang sekarang ini menimpanya. Sekali lagi saya meminta maaf atas nama adik saya, karena telah membuat kalian terganggu dan tidak beristirahat dengan nyaman," ujar Qiandra dengan lembut dan juga sopan sembari membungkukkan badannya, ke arah orang orang yang kini menatapnya.

****

Beberapa jam pun berlalu, Qiandra sekarang ini duduk di sebuah kursi yang berada disamping brangkar adiknya.

Qiandra terlihat menghembuskan nafas berkali kali, kala melihat adiknya yang tidur di atas brangkarnya, dengan posisi kaki dan juga tangan yang di ikat. Bahkan ikatan tali itu terlihat sangat kencang.

Qiandra sekarang ini terus memandang meja yang berada di samping brangkar milik adiknya, dia memandang beberapa makanan yang diberikan oleh keluarga pasien yang lain yang bersimpati padanya.

Air mata Qiandra sampai luruh, merasakan kebaikan orang orang yang ada di sekitarnya.

Sebenarnya Qiandra ingin memakan sepotong roti yang ada di atas meja, tapi dia memilih untuk mengurungkan niat nya itu.

Karena Qiandra takut nanti kalau adiknya tidak suka dengan makanan yang lain, tidak ada pilihan lain untuk adiknya makan.

Sesayang itu Qiandra kepada adiknya. Padahal diatas meja yang ada disamping brangkar rumah sakit adiknya, ada sepotong roti, sebungkus nasi goreng dan juga 2 buah apel.

Qiandra hanya bisa memegang perutnya yang perih tanpa berani untuk menyentuh makan itu, dia lebih memilih untuk menunggu adiknya itu bangun.

Qiandra juga tidak tega meninggalkan adiknya sendirian di rumah sakit, takut jika adik nya itu membutuhkan bantuan, tidak akan ada yang mau menolongnya. Karena jika mengingat tabiat adiknya yang kasar dan tidak mempunyai sopan santun.

"Dek ... Kenapa terus memegang perut mu? Apa perut mu sakit? Bahkan wajahmu juga kelihatan pucat."

Tiba tiba ada seorang wanita yang berusia sekitar 20 tahunan, mendekat ke arah Qiandra.

"Hmm tidak Kak, aku tidak apa apa." jawab Qiandra sendu, lalu dia memaksakan senyumannya.

"Keyla, kalau kamu ada baju lebih yang dibawa ke rumah sakit ini. Bisa kamu pinjamkan pada Qiandra, soalnya kasihan dia tadi katain bau oleh adik nya."

Sanggah seorang wanita paruh baya, yang tiduran di atas brangkar samping brangkar Diandra, dengan pakaian rumah sakit.

"Hmm iya Bu, ini aku udah menawarkan, jangan ceritakan lagi deh! Perihal keributan yang tadi terjadi. Karena ibu itu sudah menceritakan nya sebanyak dua kali. Kalau ibu cerita lagi, itu berati yang ketiga," ucap perempuan yang di ketahui bernama Keyla itu dengan nada mencibir.

Lalu Keyla terlihat menatap Qiandra dengan senyuman miring, karena dia sungguh merasa tertarik dengan perempuan yang terlihat begitu cantik yang sekarang ini berada di hadapannya.

1
Nurul Mentari
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!