"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: PERLAWANAN SANG PENGUASA BISU
Matahari Jakarta yang terik hari itu seolah membakar aspal di depan gerbang Mansion Ryker. Namun, panasnya cuaca tak sebanding dengan amarah massa yang menyemut di sana. Ratusan orang, terprovokasi oleh berita hoaks yang disebarkan Stella, berteriak-teriak sambil membawa spanduk.
"KELUARKAN MAKHLUK ASING ITU!"
"RYKER GROUP MENYEMBUNYIKAN MONSTER!"
"USIR PEMBAWA BENCANA DARI KOTA KAMI!"
Di dalam mansion, Alurra berdiri di balik gorden ruang tamu, wajahnya pucat. Tangannya yang kini terasa begitu 'manusia' gemetar saat mendengar hantaman batu yang dilemparkan ke gerbang besi.
"Nael... kenapa mereka begitu membenciku?" bisik Alurra, suaranya parau. "Aku sudah melepaskan sayapku. Aku sudah menjadi salah satu dari mereka. Kenapa mereka tetap melihatku sebagai monster?"
Nael menghampiri Alurra dari belakang. Ia memutar tubuh Alurra, menatap mata ungunya dengan dalam. Nael tidak memegang ponselnya kali ini. Ia mengambil jemari Alurra, lalu meletakkannya di dadanya sendiri—tepat di mana jantungnya berdetak kencang namun teratur.
Jangan takut, pesan itu tersampaikan lewat tatapan mata Nael yang berkilat baja.
Nael kemudian mengambil tablet besarnya yang terhubung ke sistem pengeras suara gerbang luar dan layar raksasa yang biasa digunakan untuk pengumuman perusahaan di depan mansion. Ia mengetik instruksi terakhir kepada Bram.
"BUKA GERBANGNYA SEKARANG."
"Tuan! Anda gila?!" suara Bram terdengar panik dari interkom. "Mereka bisa mengeroyok Anda!"
Nael tidak bergeming. Ia hanya memberikan anggukan tegas.
...****************...
DI DEPAN GERBANG MANSION
Gerbang besi raksasa itu perlahan terbuka dengan derit yang memilukan. Massa mendadak bungkam. Mereka mengira akan melihat pasukan keamanan bersenjata lengkap, namun yang muncul hanyalah sesosok pria.
Nael Ryker. Ia berjalan sendirian tanpa pengawal. Mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, ia melangkah tenang menuju pusat kerumunan. Di belakangnya, layar LED raksasa di dinding luar mansion menyala terang.
Stella, yang berada di dalam mobil mewahnya tak jauh dari sana, tersenyum puas. "Bagus, Nael. Keluarlah dan biarkan mereka mencabik-cabikmu."
Nael berdiri di podium kecil di depan massa. Ia menatap mereka satu per satu. Keheningan yang ia bawa begitu kuat hingga teriakan massa mereda dengan sendirinya. Nael mengangkat tabletnya, lalu sebuah suara digital yang tenang namun berwibawa keluar dari speaker:
"SELAMAT SIANG, WARGA JAKARTA. SAYA NAEL RYKER. SAYA BERDIRI DI SINI SEBAGAI PRIA BISU YANG KALIAN HINA, TAPI SAYA JUGA BERDIRI SEBAGAI PRIA YANG TIDAK AKAN MEMBIARKAN ISTRI SAYA DIFITNAH OLEH KEMUNAFIKAN."
Massa mulai berbisik-bisik. "Istri? Dia menyebut makhluk itu istrinya?"
"KALIAN BICARA TENTANG BENCANA ALAM? KALIAN BICARA TENTANG MONSTER?" lanjut suara digital itu. "MARI KITA LIHAT SIAPA MONSTER YANG SEBENARNYA."
Tiba-tiba, layar raksasa di belakang Nael memutar sebuah video. Bukan video pilar cahaya, melainkan rekaman CCTV tersembunyi dari kantor pengacara Stella semalam.
Di layar itu, wajah Stella terlihat jelas. Suaranya terdengar jernih: "Gunakan rasa takut. Jika publik tahu wanita itu sumber bencana, mereka akan menyeretnya keluar... Aku ingin tim investigasi dunia menghancurkan Nael!"
Seluruh massa terdiam. Stella yang berada di dalam mobil membeku, wajahnya berubah menjadi seputih kertas. "Bagaimana bisa... bagaimana dia meretas ruanganku?!"
Nael mengetik lagi, wajahnya tanpa ekspresi namun matanya memancarkan kepuasan:
"ISTRI SAYA BUKAN ANCAMAN. DIA ADALAH KORBAN DARI AMBISI SEORANG WANITA YANG TIDAK BISA MENERIMA PENOLAKAN. STELLA VAN DOREN TELAH MEMANIPULASI VIDEO KEMARIN UNTUK MENCIPTAKAN KEPANIKAN MASSAL DEMI SAHAM PERUSAHAAN."
Layar berganti memperlihatkan dokumen-dokumen aliran dana dari rekening Stella ke akun-akun bot media sosial yang menyebarkan hoaks.
"Penipu! Jadi kita cuma diperalat?!" teriak seorang pemuda di barisan depan.
"Lihat itu! Dia sengaja membuat kita takut!" sahut yang lain.
Nael melihat ke arah mobil Stella. Ia mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat 'pergi' yang sangat merendahkan.
Tiba-tiba, Alurra keluar dari pintu rumah. Ia berjalan pelan menuju Nael. Tanpa cahaya yang menyilaukan, tanpa sayap, ia hanya seorang wanita cantik yang tampak rapuh namun berani. Ia berdiri di samping Nael, menggenggam lengannya erat.
Alurra menatap massa. "Aku hanya ingin hidup tenang di sini," ucapnya lirih namun terdengar karena mikrofon di podium. "Aku sudah memberikan segalanya agar bisa menjadi bagian dari kalian. Apakah itu salah?"
Seorang ibu-ibu di kerumunan menurunkan batunya. Ia melihat air mata manusia yang tulus di pipi Alurra. "Dia... dia menangis. Monster tidak menangis seperti itu."
Massa mulai membubarkan diri dengan rasa malu. Beberapa bahkan meminta maaf sebelum pergi. Polisi yang tadinya berjaga segera bergerak menuju mobil Stella untuk melakukan penjemputan paksa atas tuduhan penghasutan dan manipulasi informasi.
Setelah jalanan sepi, Nael berbalik menghadap Alurra. Ia merangkul bahu bidadarinya, menariknya masuk ke dalam kedamaian rumah mereka.
Alurra mendongak, menatap Nael dengan kagum. "Nael... kau melakukannya tanpa sihir. Kau mengalahkan mereka dengan kebenaranmu."
Nael tersenyum. Ia merogoh ponselnya, mengetik pesan yang membuat Alurra tersipu:
"SAYA MEMANG TIDAK PUNYA SUARA UNTUK BERTERIAK, TAPI SAYA PUNYA DUNIA UNTUK MEMBUNGKAM SIAPA PUN YANG MENYAKITIMU. SEKARANG, BISA KITA LANJUTKAN MAKAN SATE AYAMNYA?"
Alurra tertawa riang, memeluk Nael erat. "Ayo! Tapi kali ini, aku yang akan menyuapimu, Pangeranku yang Hebat!"
Di kejauhan, sisa-sisa awan mendung benar-benar menghilang, menyisakan langit biru yang cerah, seolah-olah semesta akhirnya memberikan restu bagi kebahagiaan mereka yang kini murni sebagai manusia.
...****************...
aku suka namanya Nael ....