Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 Rintangan Baru dari Dunia Maya
Setelah kejadian di Jembatan Merah, nama Genta mulai terdengar di kalangan masyarakat luas. Banyak yang kagum dengan keberaniannya membela kebenaran, tapi tidak sedikit pula yang meragukan hubungan antara dia dan Clarissa.
"Saya sudah dengar banyak omongan tentang kita, Genta," ucap Clarissa dengan nada sedikit berat saat mereka duduk di kantin perusahaan. "Mereka bilang saya terlalu dekat dengan seorang preman jalanan."
"Biarkan saja mereka bicara apa saja, Clarissa," jawab Genta dengan tenang. "Yang penting kita tahu apa yang benar untuk diri kita."
Di saat itu juga, seorang pria muda tampan mendekat dengan senyum lebar. "Clarissa, akhirnya kamu mau makan bareng! Siapa pria ini? Teman baru kantor?"
"Ini Genta, dia—" sebelum Clarissa selesai, pria itu langsung menyela. "Oh, pengawal ya? Kayaknya kamu punya teman baru yang cukup unik ya Clarissa."
Genta melihat pria itu dengan tatapan tenang. "Benar sekali, saya memang pengawal. Tapi saya juga tahu bahwa kerja keras dan kejujuran itu lebih berharga dari semua kekayaan di dunia."
Pria itu hanya mengangkat bahu dan pergi dengan tatapan meragukan. Clarissa menghela nafas lega setelahnya pergi. "Itu Ryan, anak dari keluarga bisnis lama. Dia selalu seperti itu sejak dulu."
Setelah makan, mereka kembali ke kantor untuk menghadapi rapat penting. Di tengah rapat, tiba-tiba semua lampu padam dan suara dering keras terdengar. Semua orang panik kecuali Genta yang tetap tenang.
"Tetap tenang semua!" teriak Clarissa dengan suara kuat. "Ini hanya masalah kecil, kita akan atasi bersama."
Saat lampu menyala kembali, mereka melihat seorang pria berjas tua berdiri dengan wajah marah. "Clarissa, kamu telah melewatkan kesempatan besar! Jika kamu tidak mau bekerja sama, saya akan mengambil alih perusahaan ini dengan cara saya sendiri!"
Genta melangkah maju dengan tenang. "Pak, saya tidak bisa diam mendengar kata-katamu. Clarissa telah membuat keputusan yang tepat, dan saya tidak akan menyalahkannya karena itu."
Pria itu melihat Genta dengan tatapan merendahkan. "Siapa kamu untuk berbicara padaku? Hanya seorang pengawal tanpa pendidikan!"
"Tidak peduli siapa saya," jawab Genta dengan tegas. "Yang penting saya tahu bahwa melakukan bisnis dengan cara salah tidak akan membawa keberhasilan abadi. Dan saya akan menjamin tidak ada yang akan menyakiti Clarissa selama saya ada di sini."
Suasana menjadi sangat tegang. Semua orang diam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Clarissa melihat Genta dengan rasa terima kasih dan kembali menghadapi pria itu.
Setelah pria itu pergi dengan wajah memalukan, semua orang di ruangan itu menghela nafas lega. Clarissa melihat Genta dengan senyum hangat. "Terima kasih telah membela saya tadi, Genta. Kamu benar-benar menunjukkan bahwa kamu lebih dari sekadar pengawal."
"Saya hanya melakukan apa yang benar, Clarissa," jawab Genta dengan senyum. "Dan saya akan selalu ada untukmu."
Setelah rapat selesai, Clarissa mengajak Genta makan siang di kantin perusahaan. Banyak karyawan melihat mereka dengan rasa penasaran tapi tidak berani bertanya. Saat mereka makan, Clarissa mulai bercerita tentang rencana baru perusahaan dan bagaimana dia berharap Genta bisa membantu dalam beberapa hal lain selain tugasnya sebagai pengawal.
"Aku punya satu hal lagi yang ingin katakan, Genta," ucap Clarissa dengan suara lembut. "Aku ingin mengajakmu menghadiri acara keluarga penting nenek saya minggu depan. Ini acara keluarga yang penting, dan aku merasa kamu pantas datang sebagai tamu saya."
Genta terkejut. "Apakah itu mungkin? Saya hanya pengawalmu, Clarissa. Mungkin keluarga kamu tidak akan senang melihat saya datang."
"Tidak ada yang salahnya, Genta," jawab Clarissa sambil menggenggam tangannya. "Kamu telah banyak berbuat untuk saya dan perusahaan ini. Keluarga saya harus mengenalmu sebagai orang yang penting dalam hidupku."
Di malam hari, mereka kembali ke warung makan kesayangan mereka. Pak penjual sudah mengenal mereka dan tersenyum hangat saat mereka datang. "Kalian datang lagi ya! Dua porsi sego sambel pedas kan?"
Setelah makan, mereka berjalan di sekitar area warung sambil berbincang santai. "Saya merasa sangat nyaman bersamamu, Genta," ucap Clarissa dengan suara pelan. "Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu sekarang."
Genta tersenyum dan menjawab, "Saya juga merasa begitu, Clarissa. Saya akan selalu ada untukmu, tidak peduli apa yang terjadi."
Mereka berjalan bersama menyusuri jalan yang sunyi, menikmati kedekatan satu sama lain tanpa harus khawatir tentang dunia luar yang berbeda. Di bawah sinar bulan yang lembut, mereka tahu bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang lebih berharga dari semua kekayaan di dunia—cinta dan penghargaan yang tulus satu sama lain.
Hari setelahnya, Genta Arjuna bangun dengan tubuh yang masih sedikit pegal dari latihan kemarin malam. Dia melihat ke arah kamar tidur yang kosong—Clarissa sudah pergi ke kantor lebih awal untuk menghadapi rapat penting dengan investor baru.
"Saya harus lebih kuat lagi," gumam Genta sambil menatap bayangan cermin yang menampilkan wajahnya yang serius. "Tidak hanya sebagai pengawal, tapi juga sebagai suami yang bisa menjadi sandaran hati."
Saat ia sedang memeriksa keamanan area sekitar kantor, seorang pria tua mengenakan baju koko putih mendekat dengan langkah lambat. Wajahnya keriput tapi tetap menunjukkan keanggunan, mata nya seperti sedang melihat masa lalu yang panjang.
"Kamu pasti Genta Arjuna ya?" ucapnya dengan suara lembut tapi penuh kekuatan. "Nama saya Pak Hartono, teman lama ayahmu dulu. Saya pernah melihat betapa hebatnya dia sebagai agen khusus sebelum Anda terlahir."
Genta merasa hati nya berdebar mendengar kata-kata itu. Dia tidak pernah menyangka bahwa orang dari masa lalunya akan muncul kembali seperti ini. "Senang bertemu dengan Anda, Pak. Saya tidak tahu bahwa Anda kenal dengan ayah saya."
Pak Hartono mengangguk dengan senyum hangat. "Ayahmu adalah salah satu agen terbaik yang pernah ada di divisi khusus. Dia selalu menemukan cara unik untuk menangani masalah, bahkan menggunakan barang-barang sehari-hari seperti kerupuk atau lontong sebagai alat perlindungan diri. Kamu sudah mewarisi keahlian itu ya nak."
Setelah beberapa saat berbincang, Pak Hartono memberitahu bahwa ada kelompok baru yang mencoba mengganggu keamanan perusahaan dengan cara yang lebih canggih. Mereka tidak hanya menyerang fisik, tapi juga mencoba merusak reputasi perusahaan melalui dunia maya.
"Saya khawatir mereka akan melakukan sesuatu yang lebih buruk dari sebelumnya, Genta," ucap Pak Hartono dengan suara penuh kekhawatiran. "Mereka bahkan bisa menggunakan informasi pribadi karyawan untuk mengancam mereka."
Genta mengerutkan kening mendengarnya. Dia tahu bahwa ini bukan masalah kecil lagi. "Saya akan segera mengambil tindakan, Pak. Saya akan membuat strategi keamanan baru yang bisa melindungi perusahaan dan seluruh karyawan dari ancaman seperti itu."
Saat itu juga, Genta mengumpulkan tim keamanan untuk membuat rencana baru. Dia tidak hanya mengajarkan teknik keamanan konvensional, tapi juga cara menggunakan barang-barang sehari-hari sebagai alat pertahanan—seperti membuat kerupuk menjadi pelindung atau menggunakan bunga kantan sebagai alat untuk membaca gerakan musuh.
"Jadi, dari sekarang kita tidak hanya akan menjaga keselamatan secara fisik, tapi juga akan menjaga keamanan data dan reputasi kita dari ancaman dunia maya," ucap Genta dengan suara tegas. "Kita akan menggunakan cara-cara kreatif untuk melindungi diri kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai."
Beberapa hari kemudian, mereka mengadakan pelatihan khusus untuk seluruh karyawan. Acara itu diisi dengan banyak tawa dan candaan—terutama saat Genta menunjukkan cara menggunakan kerupuk besar sebagai perisai atau cara membuat bubuk dari bunga untuk membingungkan musuh.
"Jadi, kalau ada orang yang mencoba menyakiti kamu, kamu bisa menggunakan kerupuk ini sebagai perisai atau bahkan lontong sayur sebagai senjata pelindung diri," ucap Genta dengan candaan yang membuat seluruh peserta tertawa dan juga merasa termotivasi.
Clarissa juga memberikan pidato yang penuh semangat. Dia berterima kasih kepada semua orang yang telah mendukung mereka, terutama kepada Genta yang selalu ada di sisinya dalam suka dan duka.
"Kamu adalah orang yang paling luar biasa yang pernah saya temui, Genta," ucap Clarissa sambil melihat mata nya dengan penuh cinta. "Saya mencintaimu bukan karena kamu adalah pengawal yang hebat atau anggota dewan direksi perusahaan, tapi karena kamu adalah pria yang baik hati dan selalu siap membantu orang lain."
Setelah acara pelatihan selesai, mereka pergi makan malam di sebuah restoran kecil yang damai. Di sana mereka menikmati hidangan khas daerah dan hanya menikmati kebersamaan tanpa gangguan dari pekerjaan atau masalah lainnya.
"Kamu tahu tidak, Clarissa?" ucap Genta dengan suara penuh cinta. "Saya tidak hanya akan menjadi pengawal yang menjaga keselamatanmu, tapi juga akan menjadi penjaga cinta yang selalu ada untukmu setiap hari."
"Dan saya akan selalu ada di sisimu, Genta," jawab Clarissa dengan senyum hangat. "Sebagai istri, sebagai teman terbaikmu, dan sebagai orang yang selalu mendukungmu dalam setiap langkah hidupmu."
Mereka saling memandang dengan mata penuh cinta. Bulan sedang bersinar terang di langit malam, seolah merayakan kebahagiaan mereka berdua. Bintang-bintang tampak seperti sedang bersinar lebih terang untuk menyaksikan momen bahagia mereka.
Beberapa minggu kemudian, mereka mengadakan pesta kecil untuk merayakan keberhasilan perusahaan dalam menghadapi ancaman baru. Acara itu diisi dengan banyak candaan dan cerita lucu tentang pengalaman mereka bersama—terutama saat Genta menggunakan lontong sayur untuk melindungi Clarissa dari bahaya.
"Jadi, dari sekarang saya tidak hanya akan menjaga keselamatanmu secara fisik, tapi juga akan selalu menjaga kebahagiaanmu setiap hari sebagai suami yang mencintaimu," ucap Genta dengan suara penuh cinta, membuat seluruh tamu tertawa dan juga merasa haru.
Clarissa juga memberikan pidato yang penuh perasaan. Dia berterima kasih kepada semua orang yang telah mendukung mereka berdua, terutama neneknya yang selalu memberikan dukungan dan Genta yang telah mengubah hidupnya menjadi lebih baik.
"Kamu adalah orang yang paling luar biasa yang pernah saya temui, Genta," ucap Clarissa sambil melihat mata nya dengan penuh cinta. "Saya mencintaimu bukan karena kamu adalah pengawal yang hebat atau anggota dewan direksi perusahaan, tapi karena kamu adalah Genta Arjuna—pria yang baik hati dan selalu ada untuk saya."
Setelah acara itu selesai, mereka pergi untuk menghabiskan waktu bersama di sebuah pulau kecil yang indah. Selama di sana, mereka menikmati keindahan alam dan hanya menikmati kebersamaan tanpa gangguan dari pekerjaan atau masalah lainnya.
Kembali dari perjalanan mereka, kehidupan mereka kembali menjadi sibuk dengan pekerjaan di perusahaan. Namun kali ini, mereka bekerja sama sebagai pasangan suami istri yang saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain tentang pentingnya kebahagiaan dan cinta dalam hidup.
Genta berhasil membawa banyak perubahan positif dalam kebijakan keamanan perusahaan, membuat perusahaan menjadi lebih aman dan nyaman bagi seluruh karyawan. Dia juga sering mengadakan pelatihan unik kepada karyawan—termasuk cara menggunakan barang-barang sehari-hari sebagai alat pertahanan diri seperti lontong sayur atau kerupuk.
Clarissa juga semakin sukses dalam menjalankan perusahaan. Dengan dukungan dari Genta dan timnya, perusahaan mereka semakin berkembang dan bahkan mulai melakukan ekspansi ke luar negeri. Namun meskipun semakin sukses, Clarissa tetap tidak pernah melupakan akar nya—dia masih sering makan di warung kesayangan mereka dan selalu memberikan kesempatan kepada orang-orang muda berbakat untuk bekerja di perusahaan nya.
Beberapa tahun kemudian, mereka telah memiliki dua anak yang lucu dan cerdas—seorang putra bernama Arjuna Jr. dan seorang putri bernama Clarissa Jr. Anak-anak mereka juga mewarisi sifat unik dari kedua orang tua mereka.
Pada suatu hari libur, seluruh keluarga berkumpul di rumah nenek Clarissa yang sekarang sudah lebih tua tapi tetap sehat dan ceria. Mereka makan makanan kesukaan mereka—sego sambel yang dibuat oleh nenek Clarissa sendiri—sambil bercerita tentang pengalaman mereka masing-masing.
"Kamu tahu tidak nak," ucap nenek Clarissa sambil melihat cucu-cucu yang sedang bermain dengan bahagia. "Pada awalnya saya khawatir dengan hubungan antara Genta dan Clarissa. Tapi sekarang saya melihat betapa bahagia mereka dan betapa baiknya mereka sebagai orang tua, saya tahu bahwa saya telah membuat keputusan yang benar untuk mendukung mereka."
Genta dan Clarissa saling melihat dengan senyum hangat. Mereka tahu bahwa perjalanan hidup mereka tidak selalu mudah—ada banyak rintangan dan tantangan yang mereka lewati bersama. Namun dengan cinta dan dukungan satu sama lain, mereka tahu bahwa mereka akan selalu menemukan cara untuk bahagia dan sukses dalam hidup.