NovelToon NovelToon
Delapan Pusaka : Amarah Harimau

Delapan Pusaka : Amarah Harimau

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Pusaka Ajaib / Barat
Popularitas:768.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ersa Kurnia

Cakiya dan Baruna, dua pendekar muda yang paling dicari-cari keberadaannya di kerajaan. Salah satu alasan dua pendekar itu begitu diburu karena mereka dituduh mencuri tiga dari Delapan Senjata Pusaka milik Kerajaan, yaitu gada Aqni Samaja, kujang Nagacita dan keris Rudra Arutala.

Mereka berdua juga diincar orang-orang dari Perguruan Harimau Bulan dan Perguruan Harimau Matahari, dua perguruan aliran putih terbesar di Kerajaan. Takdir seperti apa yang akan menanti mereka? Apakah mereka tertangkap? Akankah Baruna & Cakiya berhasil memulihkan nama baik mereka? Atau mereka justru bergabung bersama para pendekar dari golongan hitam?


Catatan : Boleh promosi karya di kolom komentar, mohon maaf kalau saya lambat merespon atau malah lupa merespon di kolom komentar 🙇‍♂️🙇‍♂️. Mari sesama pegiat industri kreatif saling mendukung...✊✊✊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersa Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Hutan Pedang

Cuaca mulai beranjak siang, tetapi suasana teduh dan sendu tidak beranjak dari tempat

itu, bahkan cenderung memiliki kesan dingin serta angker. Tidak terhitung pohon menjulang dengan daun sangat lebat menutupi tempat yang disebut dengan Hutan Pedang. Tempat itu dinamakan Hutan Pedang karena selain ribuan pohon berukuran besar hingga mencapai tinggi puluhan meter serta diameter beberapa meter, juga memiliki tidak terhitung pedang, tombak serta keris yang menancap di lantai hutan maupun pada setiap batang pohon. Meski pun demikian, senjata terbanyak yang berada di Hutan Pedang adalah senjata berjenis pedang dengan berbagai jenis dan ukuran.

Hutan Pedang sendiri adalah sebuah hutan yang telah ada semenjak zaman leluhur yang menjadi saksi bisu kerasnya peperangan pada zaman kuno dimana meninggalkan sisa berbagai jenis senjata ditinggalkan di tempat itu. Kesan mistis begitu terasa jika melihat sebagian besar senjata di Hutan Pedang hanya sedikit berkarat dan juga berlumut sekali pun hutan tersebut juga merupakan hutan keramat bagi para pandai besi serta penempa. Para pandai besi yang ingin memanjatkan syukur atau memohon sesuatu bisa meninggalkan persembahan berupa senjata yang ditancapkan pada pepohonan atau lantai di hutan pedang. Konon, tidak sedikit keinginan para pandai besi ini yang dikabulkan setelah memanjatkan keinginannya di Hutan Pedang.

 

Selain itu, Hutan Pedang juga menyimpan banyak cerita-cerita menyeramkan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Seperti berbagai wujud para arwah para pemilik senjata yang bersemayam di Hutan Pedang. Konon mereka akan mengutuk atau menghantui siapa pun yang berani mengambil senjata di Hutan Pedang. Banyak

kisah menyeramkan yang melibatkan arwah penghuni Hutan Pedang, antara lain terdapat kisah terkenal yang terjadi seratus lima puluh tahun lalu dimana seorang pangeran dikutuk menjadi gila setelah mencuri sebuah senjata dari Hutan Pedang.

Ada juga cerita tentang rombongan pendekar dan seorang keluarga pandai besi yang meninggal dengan ekspresi wajah penuh ketakutan serta kehilangan bola mata dengan mulut yang menganga lebar dan lidah yang menjulur berwarna hitam seperti hangus terbakar. Konon sebelum mereka mati, beberapa hari sebelumnya mencuri berbagai senjata lalu meleburkan dan membentuknya lagi menjadi senjata yang baru. Tetapi, ada juga cerita sedih yang melibatkan Hutan Pedang serta arwah penghuninya juga dikenal luas oleh orang-orang, seperti penampakan seorang arwah prajurit di pinggir Hutan Pedang yang selalu menghadap ke arah matahari tenggelam karena arah tersebut merupakan arah menuju sebuah desa dimana kekasih sang prajurit itu tinggal. Berbagai kisah yang menghantui Hutan Pedang tersebut membuat siapa pun takut untuk mengambil senjata yang berada di sana atau

memasuki hutan tersebut pada waktu malam hari.

Selama dua hari berturut-turut berada di Hutan Pedang perempuan bangsawan muda serta dua orang wiracaya pengawalnya menemui tidak sedikit gangguan-ganguan serta berbagai peristiwa aneh yang tidak dapat dijelaskan secara nalar. Di waktu siang hari  mereka hanya diganggu oleh suara-suara yang tidak wajar, seperti suara keramaian sebuah pasar maupun suara sekelompok perempuan dan anak-anak yang sedang bersuka ria bermain-main. Suara itu begitu jelas dan juga bergema di langit-langit hutan. Gumaman serta gerutuan juga sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Sesekali dari belakang mereka bertiga, juga merasakan diikuti oleh seseorang atau beberapa orang dengan suara langkah kaki serta gemerisik dedaunan, namun begitu mereka menoleh ke belakang

atau memutar tubuh, sosok yang mengikuti mereka menghilang. Beberapa kali pula ketika melangkahkan kaki terjadi sebuah fenomena dimana beberapa pedang yang manancap ataupun tergeletak tidak jauh dari mereka mengeluarkan suara dentingan atau berdengung seolah-olah usai beradu oleh benda keras. Namun, apa yang

terjadi pada siang hari di Hutan Pedang, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan suasana Hutan Pedang pada waktu malam hari.

Hutan Pedang pada waktu malam hari jauh lebih menakutkan dibandingkan pada waktu siang hari. Berbeda di waktu siang hari dimana hanya suara-suara yang mengganggu ketiga perempuan itu, Hutan Pedang pada malam hari memperlihatkan berbagai makhluk ganjil serta memiliki bentuk yang tidak dapat dijelaskan secara akal sehat. Mereka semua berkali-kali menunjukkan keberadaannya pada ketiga perempuan itu. Dimulai dari sekelabat bayangan gerombolan anjing hutan berwajah manusia yang mengitari mereka lalu menghilang begitu saja. Lalu, depan serta disamping mereka betiga sering melihat sekelabatan makhluk seperti kelabang raksasa sepanjang sepuluh meter merayap mengitari pohon-pohon besar mengunakan kaki sepanjang lima puluh

sentimeter.  Saat melihat makhluk itu, wiracaya bertopeng kepala singa mengaku bahwa makhluk panjang itu merayap cepat di pepohonan itu tidak bergerak menggunakan kaki, tetapi bergerak menggunakan organ tubuh seperti lengan saat bergerak meliuk-liuk di antara pepohonan.

Selain itu beberapa sosok perempuan memakai pakaian panjang berwarna putih serta memiliki rambut panjang sering terlihat di langit-langit hutan sedang mengambang ataupun berdiri dengan tubuh yang terbalik. Sosok-sosok perempuan itu seringkali tertawa-tawa dengan nada tinggi sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kiri maupun ke kanan. Ada juga rombongan prajurit tanpa kepala yang berjalan tegap berbaris yang berpapasan dengan rombongan perempuan bangsawan serta dua orang pengawalnya itu. Saat rombongan prajurit tanpa kepala itu lewat, pedang-pedang yang menancap di seluruh penjuru hutan tiba-tiba mengeluarkan dengungan rendah seolah-olah menyambut kedatangan mereka. Ketiga orang rombongan itu pun hanya diam terpaku tanpa suara hingga para prajurit tanpa kepala tersebut sudah jauh meninggalkan mereka bertiga. Berbagai makhluk penghuni Hutan Pedang pun datang silih berganti menunjukkan diri di depan mereka bertiga. Sebagian lagi terlihat marah dan kurang berkenan dengan kedatangan mereka bertiga, sebagian lagi terlihat hanya ingin menyapa. Ketika hari menjelang pagi sosok-sosok mengerikan itu tidak menampakkan diri lagi. Meski demikian, Hutan Pedang tetap menunjukkan kesan menakutkan meskipun pada waktu dimana matahari berada di langit.

Meski Hutan Pedang benar-benar sangat angker baik pada waktu malam dan siang, hal tersebut tidak menyurutkan keberanian bagi perempuan bangsawan muda serta dua pengawalnya itu untuk memasuki hutan tersebut. Usai melarikan diri dari kejadian di rumah makan itu, mereka segera pergi dari kota Lamunarta secepatnya lalu memasuki Hutan Pedang. Selama dua hari mereka berada di Hutan Pedang berlindung dari orang-orang yang memburu mereka. Bagi mereka pilihannya hanya ada dua : bertemu penunggu Hutan Pedang atau bertemu orang-orang yang menginginkan kematian mereka bertiga. Mereka bertiga terlihat duduk bersandar pada sebuah pohon yang rindang sedang selesai membereskan tempat makanan. Sang perempuan bangsawan membersihkan mulut serta menata barang bawaan. Sementara dua orang pengikutnya setelah membereskan tempat makan, lalu memakai topeng mereka yang berbentuk kepala gagak dan kepala singa jantan.

“Kira-kira kita akan keluar dari hutan ini sebelum gelap.” Perempuan bangsawan muda itu membuka suara.

“Ada baiknya kita bergerak sebelum gelap secepat mungkin, lalu bersembunyi di desa atau tempat tersembunyi terdekat. ”Usul wiracaya bertopeng kepala singa yang dibalas anggukan oleh yang lain.

“Setelah di Liwara, tidak kusangka kita akan kembali lagi ke pulau utama.” Komentar perempuan bangsawan muda itu.

“Mau bagaimana lagi.” Sahut wiracaya bertopeng kepala burung gagak. “Kerajaan sudah mencium pelarian kita, mau tidak mau kita harus mencari tempat persembunyian paling aman. Termasuk di Hutan Pedang ini.”

Suara lolongan panjang tiba-tiba bergema dari seluruh penjuru hutan pedang, lolongan itu lebih terdengar seperti suara seorang anak kecil dari pada lolongan binatang. Tubuh perempuan bangsawan muda serta dua orang wiracaya pengawalnya itu pun mengerjap nyaris secara bersamaan karena suara lolongan yang mengagetkan mereka bertiga.Rasa takut jelas mengintai mereka bertiga, akan tetapi ketiga perempuan itu tidak memiliki pilihan lain yang lebih mudah.Setelah mereka bertiga dapat menenangkan diri usai terkejut akibat lolongan tersebut. Perempuan bangsawan itu berkata.

”Jika tidak ada halangan, beberapa hari lagi kita akan tiba di-”

Belum sempat perempuan muda itu menyelesaikan kalimatnya, tangan wiracaya bertopeng kepala singa menyambar leher sang putri bangsawan, suara denting logam terdengar cukup nyaring sebanyak beberapa kali. Rupanya beberapa jarum ditujukan ke arah leher perempuan bangsawan tersebut, sementara wiracaya pengawalnya melindunginya dengan mengangkisnya menggunakan plat logam yang melindung punggung lengan wiracaya bertopeng kepala singa itu.

Jarum itu terpental dengan suara denting keras, lalu jatuh ke lantai hutan, ketika jarum tersebut terpental beberapa tetes cairan terciprat ke udara lalu jatuh di lantai hutan. Dedaunan yang terkena tetesan racun itu pun terbakar dan ditelan api berwarna kehijauan. Amarah menyapu dua orang wiracaya pengawal perempuan bangsawan itu ketika melihat deadunan yang terbakar oleh api hijau dari jarum beracun itu.Sebuah serangan ternyata ditujukan kepada perempuan bangsawan muda itu dengan leher sebagai sasaran. Sedangkan jarum yang digunakan oleh orang-orang yang menincarnya merupakan jarum yang dilumuri racun. Bahkan, saat masih melesat di udara, jarum itu masih basah oleh cairan racun.

“Terimakasih Nira.” Kata Perempuan bangsawan kepada wiracaya yang mengenakan topeng kepala singa tersebut. “Kau sudah menyelamatkan nyawaku kali ini.”

“Siapa pun kalian keluarlah!” Bentak wiracaya bertopeng kepala burung gagak.

Dua puluhan orang wiracaya bermunculan seolah-olah menjawab gertakan perempuan bangsawan itu, mereka terjun dari atas pepohanan atau menampakkan diri dari balik pepohonan. Semua wiracaya itu adalah laki-laki yang dipimpin oleh empat orang wiracaya itu mengenakan topeng berbentuk kepala burung hantu, kepala burung elang, kepala burung gagak dan kepala burung bangau. Keempat wiracaya itu adalah laki-laki bertubuh jangkung dengan kisaran usia dua puluh atau akhir dua puluh tahunan. Sedangkankira-kira delapan belas orang wiracaya rekan mereka terlihat berusia belasan hingga awal dua puluh tahunan.

“Widyata Arkanagari, puteri dari Camaraditya Arkanagari sang wiracaya pengawal Gusti Putri Nawaruni benar-benar luar biasa. Anda bisa merasakan keberadaan kami semua yang bersembunyi.” Sebuah suara tiba-tiba memanggil nama wiracaya pengawal perempuan bangsawan muda yang mengenakan topeng kepala burung gagak.

Pemilik suara itu adalah seorang laki-laki berambut coklat jangkung dengan mata hijau dengan wajah tampan serta mengenakan pakaian khas seorang ksatria. Ia menampakkan dirinya secara tiba-tiba di hadapan Nawaruni dengan berdiri di bawah sebuah pohon besar. Ksatria itu sepertinya adalah pemimpin wiracaya itu, karena ketika ksatria itu menampakkan diri, sebagian dari wiracaya yang menghadang rombongan Nawaruni menundukkan kepala atau membungkukkan badan. Sedangkan keempat wiracaya yang memimpin puluhan wiracaya itu ternyata adalah Garuda Cemani, Gagak Kanaka, Arcaya Jingga serta seorang wiracaya yang mengenakan topeng berbentuk kepala burung bangau.

“Mahisa!” Raung  wiracaya bertopeng gagak yang dipanggil Widyata dengan penuh emosional seolah-olah dirinya begitu mengenal ksatria bermata hijau serta belasan wiracaya yang mengawalnya. “Pengkhianat terkutuk.” Umpatnya.

Mahisa justru membalas umpatan Widyata itu dengan senyuman datar. “Aku tidak menyangka jika kalian bertiga bisa melarikan diri dari Tuan Yasodana sejauh ini. Kalian bertiga benar-benar perempuan yang luar biasa tangguh. Berbulan-bulan kami semua mencari kalian bertiga, dan tidak kusangka akan bertemu di tempat angker seperti ini. Hutan keramat ini akan menjadi tempat terakhir yang kalian bertiga kunjungi.” Mahisa  mengamati Nawaruni serta dua orang pengikutnya.

“Sepertinya dia banyak berubah.” Komentar Nira. “Jauh lebih sopan dari pada terakhir kali kita bertemu, tapi Mahisa yang sekarang menurutku terlalu banyak berbicara.”

1
anggita
tetep top👍
Feri Ferdiansyah
cerita yang sangat menarik.. kata katanya sangat detail sekali.. perumpamaan yg halus, logis dan diluar nalar.. harusnya cerita nusantara seperti ini yg dibutuhkan bagi penikmat cerita seni beladiri..
Nedi Junaidi
Luar biasa
asta guna
tak simak e sek
asta guna
tak kiro wes end....
oke thor tlg masukan dr para reader yg. sekiranya itu membangun tlg di aplikasikan.
kita sangat menghargai perih payah author dlm membangun cerita dan klopun ada kata2 yg kasar dari kami ya itu semata2 Krn kami ingin sajian yg memanjakan imaginasi.
Ardi Yansyah
gak disangka ada notip update ceritanya
Eclairs5888: Maaf Yaa...dari Agustus-Desember 2023 Saya ada Diklat Latsar & Aktualisasi. Januari-26 Februari, Saya urus administrasi dll sampai pengambilan sumpah hhu.
total 1 replies
asta guna
bangke, gue kira tambah lagi yg tumbang ternyata 2 paragraf cuma untuk menjelaskan yg sudah tumbang. keterlaluan lu. gue di novel2 lain yg bergenre pendekar biasanya sangat royal. sebut saja sang musafir, 13 pembunuh. tp maaf gak di novelmu. merinci hal2 yg gak penting itu MENYEBALKAN
asta guna: anda hebat JD bagian dari pejuang kemanusiaan. sedikit masukan yg agak frontal semoga gak mengendorkan semangatmu thor
total 2 replies
asta guna
bertele2... 3 chapter perterungan seimbang.. kelihatan banget author ngulur2 cerita dan narasi
asta guna
hal2 receh kek gini gak perlu di deskripsikan dengan detail. gak menarik tau
asta guna
novel ini keren. sayangnya kau telat bacanya.
asta guna
namanya keren
asta guna
mantab
Priskila Prima Hevina
coyoteeeee
Priskila Prima Hevina
woww plot twist Recamadya Anala
Ardi Yansyah
tetap akan di update ceritanya oleh author tapi para pembaca setia harus extra sabar dan slow
kalau cepat hasil ceritanya tidak akan bagus, seru dan menarik jadi pembaca harus sabar ya
Eclairs5888: Mohon maaf updatenya lama, Saya masih latsar utk PNS ini, sampai tanggal 11 November 2023.
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
kek nggak percaya lihat notif novel ini up 😅😅😅
Priskila Prima Hevina
Baruna dan Recamadya Anala
Priskila Prima Hevina
Busur Cincin Ungu
Kang_Wah_Yoe
,siiip thor
anggita
top✊☝👏👌👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!