NovelToon NovelToon
Legenda Api Yang Menghilang

Legenda Api Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:627
Nilai: 5
Nama Author: Absonen

Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35 [Saat Harapan Hampir Tenggelam]

Air yang biasanya jernih… kini bergetar.

Bukan karena angin.

Bukan karena sihir.

Namun karena manusia.

Di dalam kerajaan Aqualis Luminara, kekacauan telah mencapai titik yang tidak lagi bisa disebut “insiden”.

Ini bukan lagi gangguan.

Ini kehancuran.

“JAUHI AKU!!”

Seorang pria mendorong orang lain hingga jatuh ke kolam.

Air memercik ke mana-mana.

“KAU YANG MULAI DULUAN!”

“AKU HANYA BILANG YANG SEBENARNYA!”

Di sudut lain

Seorang ibu menarik anaknya menjauh dari kerumunan.

Namun bahkan matanya sendiri dipenuhi kecurigaan.

Tidak ada yang percaya siapa pun lagi.

Tidak ada yang merasa cukup.

Dan tidak ada yang sadar… kenapa.

Di tengah semua itu

Seorang gadis berdiri.

Diam.

Namun dunia di sekitarnya… runtuh.

Seira Lune

Tangannya gemetar.

Air di sekitarnya bergerak tidak stabil.

“…tenang…”

Ia mencoba mengatur napas.

“…mereka hanya… panik…”

Namun kata-kata itu terdengar kosong.

“KENAPA KAU TIDAK MENGHENTIKAN INI?!”

Suara itu datang dari belakang.

Seira menoleh.

Seorang pria menatapnya dengan marah.

“Kau Grandmaster, kan?!”

“Harusnya kau bisa menghentikan semua ini!”

Seira membuka mulutnya.

“…aku-”

Namun kata-katanya tertahan.

“Aku kehilangan tokoku!”

“Anakku terluka!”

“KAU DI MANA SAJA?!”

Suara-suara itu datang satu per satu.

Kemudian

Bersamaan.

Seira mundur selangkah.

Dadanya terasa sesak.

“…aku… di sini…”

“…aku sudah berusaha…”

Namun tidak ada yang mendengar.

Atau mungkin

Tidak ada yang mau mendengar.

Air di sekitarnya bergetar lebih kuat.

Tidak lagi tenang.

Tidak lagi patuh.

“…kenapa…”

Matanya sedikit berkaca.

“…kenapa jadi seperti ini…”

Di atas tembok

Seseorang berdiri.

Menatap semuanya.

Dengan ekspresi… puas.

Vyre

“…ah…”

“…indah sekali.”

Matanya menyapu kota.

Kerusakan.

Kemarahan.

Kecemburuan.

“…mereka bahkan tidak butuh aku lagi.”

Ia melangkah turun.

Langkahnya ringan.

Namun setiap langkah terasa seperti… tekanan.

Di bawah

Seira mencoba lagi.

Air mengalir.

Memisahkan dua kelompok warga.

“BERHENTI!”

Namun

“JANGAN IKUT CAMPUR!”

Seorang pria mendorong air itu.

Seolah menolak perlindungannya.

“…apa…”

Seira terdiam.

“…kenapa…”

Vyre muncul di belakangnya.

“…karena mereka tidak ingin diselamatkan.”

Seira membeku.

Ia tidak menoleh.

Namun ia tahu.

“…kau…”

Vyre mendekat.

“…kau mulai mengerti sekarang.”

Seira menggertakkan giginya.

“…ini salahmu.”

Vyre tersenyum tipis.

“…aku hanya memperlihatkan apa yang ada.”

Ia menunjuk ke arah warga.

“…iri…”

“…ketidakpuasan…”

“…perasaan bahwa mereka kurang…”

“…itu sudah ada di dalam mereka sejak awal.”

“…aku hanya… membuka pintunya.”

Seira menunduk.

“…itu bukan kebenaran…”

“…itu manipulasi…”

Vyre tertawa pelan.

“…bedanya tipis sekali.”

Tiba-tiba

Seira melihat sesuatu.

Sebuah bayangan.

Dirinya sendiri.

Namun

Lebih lemah.

Lebih putus asa.

“…aku… gagal…”

Suara itu bukan dari luar.

Namun dari dalam dirinya sendiri.

Ia melihat

Warga yang terluka.

Anak-anak yang menangis.

Bangunan runtuh.

Semua…

Karena dia terlambat.

Karena dia tidak cukup kuat.

“…kalau aku lebih kuat…”

“…ini tidak akan terjadi…”

Vyre berdiri diam.

Menonton.

“…bagus…”

“…teruskan…”

Seira memegang kepalanya.

“…hentikan…”

“…aku tidak ingin melihat ini…”

Namun bayangan itu tidak hilang.

Malah semakin jelas.

“…kau tidak cukup…”

“…tidak pernah cukup…”

Air di sekitarnya bergetar liar.

Tidak lagi mengikuti perintahnya.

“…kalau aku tidak ada…”

“…mungkin mereka lebih baik…”

Kalimat itu keluar…

Tanpa ia sadari.

Vyre melangkah lebih dekat.

“…itu ide yang bagus.”

Suaranya pepela

“…kau akhirnya berpikir dengan benar.”

Seira terdiam.

Matanya kosong.

“…aku…”

Tangannya jatuh lemas.

Air di sekitarnya… runtuh.

Kota semakin kacau.

Teriakan semakin keras.

Api mulai muncul.

Dan Seira

Hanya berdiri di tengahnya.

Tanpa bergerak.

“…ini akhir.”

Vyre berdiri tepat di depannya sekarang.

“…kau tidak pernah cocok menjadi pelindung.”

“…kau hanya memperlambat kehancuran.”

Seira tidak menjawab.

Matanya menatap kosong ke tanah.

Tubuhnya… hampir menyerah.

Tiba-tiba

Seorang anak terjatuh di dekatnya.

“AAH!!”

Kerumunan hampir menginjaknya.

Seira melihatnya.

Untuk sesaat

Waktu terasa berhenti.

“…aku…”

Tangannya bergerak.

Refleks.

Air melesat.

Menarik anak itu menjauh.

Menyelamatkannya.

Seira terengah.

Matanya kembali fokus.

“…aku… masih…”

“…di sini…”

Vyre mengamati.

Tanpa ekspresi.

“…menarik.”

Namun

Ia tidak mundur.

Sebaliknya

Ia mengangkat tangannya sedikit.

Seketika

Seluruh kota bergetar.

Emosi warga

Meledak.

“KAU SALAH!”

“BUKAN AKU!”

“MATI SAJA KAU!”

Kekacauan total.

Seira menutup telinganya.

“…cukup…”

“…CUKUP!!”

Ia mencoba mengangkat air.

Gelombang besar terbentuk.

Namun

Air itu goyah.

Tidak stabil.

Dan

Pecah.

Seira jatuh berlutut.

“…tidak…”

“…aku tidak bisa…”

Hening.

Di tengah semua suara

Ada satu momen hening.

Seira hanya mendengar

“…tidak cukup…”

“…tidak cukup…”

Dan di saat itu

Angin berubah.

Udara bergetar.

Sesuatu datang.

Dari jauh.

Seira perlahan mengangkat kepalanya.

Matanya samar.

Namun ia melihatnya.

Di horizon

Kilatan cahaya.

Petir.

Dan

Api.

Kecil.

Namun… nyata.

“…?”

Vyre menoleh.

Untuk pertama kalinya

Matanya sedikit menyipit.

“…oh…”

Senyumnya kembali.

“…akhirnya.”

Di kejauhan

Dua sosok berlari cepat.

Satu dikelilingi api.

Satu diselimuti petir.

Membelah angin.

Menuju kehancuran.

Seira menatap mereka.

Matanya yang hampir padam…

Sedikit menyala kembali.

1
ŇØŞŦŘΔĐΔΜỮŞ
flbck kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!