NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Diplomat Sidoarjo dan Investor Korea

Pagi itu, kantor Wijaya Tower mendadak sibuk luar biasa. Karpet merah digelar, bunga-bunga segar dipasang di setiap sudut lobby, dan para karyawan perempuan dandanannya lebih menor dari biasanya. Kabarnya, hari ini adalah penentuan nasib proyek besar Clarissa dengan Mr. Kim, investor raksasa dari Korea Selatan.

​"Genta! Kamu pakai jas yang bener! Jangan dikancingkan salah lubang begitu!" Clarissa berteriak panik sambil merapikan draf presentasinya. Wajahnya tegang, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan kalau dia kurang tidur semalam.

​"Aduh Mbak Bos, ini kancingnya yang nakal, nggak mau masuk rumahnya sendiri. Tenang saja, yang penting kan kegantengan saya tetap stabil di angka sembilan," jawabku santai sambil mencoba membetulkan jas hitamku yang sedikit bau setrikaan gosong.

​Clarissa hanya menarik napas panjang. "Ingat Genta, Mr. Kim ini orangnya sangat perfeksionis dan sangat kaku. Dia paling benci orang yang tidak disiplin dan tidak sopan. Kamu berdiri di belakang saya, jangan bicara, jangan senyum aneh-aneh, dan yang paling penting... jangan tawarkan sambal setanmu itu!"

​"Siap, Mbak Bos! Saya akan jadi patung Liberty versi Jawa hari ini. Diem, tegak, dan berwibawa," balasku sambil memberikan hormat komando.

Rapat dimulai di lantai paling atas. Suasananya lebih dingin daripada kulkas di rumah Clarissa. Mr. Kim datang dengan pengawalan ketat. Orangnya kecil, tapi tatapannya tajam seperti silet. Dia bicara pakai bahasa Korea yang diterjemahkan oleh asistennya yang mukanya lebih kaku daripada kanebo kering.

​Presentasi Clarissa berjalan lancar, tapi wajah Mr. Kim tetap datar. Tidak ada senyum, tidak ada anggukan. Clarissa mulai terlihat gugup, tangannya gemetar saat memegang laser pointer. Aku yang berdiri di belakangnya mulai merasa kasihan. Bos cantikku ini sudah kerja keras bagai kuda, masa mau ditolak begitu saja sama orang Korea ini?

Tiba-tiba, Mr. Kim menghentikan asistennya dan bicara langsung dalam bahasa Korea dengan nada yang agak tinggi. Asistennya tampak bingung menerjemahkannya.

​"Maaf Madam Clarissa, Mr. Kim bilang proposal Anda bagus, tapi dia merasa ada yang kurang tulus dari kerjasama ini. Dia merasa Anda terlalu mengejar keuntungan," asisten itu menerjemahkan dengan nada datar.

​Clarissa hampir menangis. Dia mencoba menjelaskan lagi, tapi Mr. Kim malah sibuk bicara sendiri dengan asistennya sambil menunjuk-nunjuk dokumen. Telingaku yang terbiasa mendengar berbagai macam dialek di pasar Sidoarjo tiba-tiba menangkap sesuatu yang aneh.

Jebule... jebule iki toh?" gumamku pelan. Aku merasa ada beberapa kata yang diucapkan Mr. Kim terdengar sangat akrab di telingaku. Bukan bahasa Korea, tapi mirip dialek pedalaman yang pernah aku dengar dari kakekku yang dulu pernah merantau.

​Karena tidak tahan melihat Clarissa dipojokkan, aku nekat maju satu langkah. Clarissa melirikku dengan mata melotot, seolah ingin bilang "Genta, jangan cari mati!". Tapi aku tetap maju.

​"Permisi, Mr. Kim. Annyeonghaseyo... eh, maksud saya, begini Mas Kim," kataku dengan suara mantap.

​Seluruh ruangan mendadak hening. Mr. Kim menoleh padaku dengan tatapan merendahkan. Asistennya sudah mau memanggil satpam, tapi aku mengangkat tangan.

​"Mr. Kim, Anda bilang kerjasama ini kurang tulus? Coba lihat matanya Mbak Bos saya ini. Sudah merah gara-gara begadang ngerjain ini semua. Di tempat saya, Sidoarjo, kalau orang sudah niat itu kelihatan dari usahanya, bukan cuma dari angka di kertas!"

Asistennya baru mau menerjemahkan, tapi Mr. Kim malah tertawa kecil. Dia bicara lagi dalam bahasanya. "Dia bilang, siapa kamu berani bicara begitu?" asisten itu menerjemahkan.

​"Saya? Saya Genta Arjuna. Bodyguard paling sengklek tapi paling jujur. Mr. Kim, saya tahu Anda aslinya orang baik. Tadi saya dengar Anda bilang 'Kwenchana' berkali-kali. Itu kan artinya 'nggak apa-apa' kan? Kalau nggak apa-apa, ya sudah, tanda tangan saja. Jangan kelamaan akting antagonis, nanti cepat tua lho!"

​Clarissa sudah pasrah. Dia pasti berpikir kariernya berakhir hari ini gara-gara aku. Tapi keajaiban terjadi. Mr. Kim malah berdiri dan berjalan mendekatiku. Dia menepuk bahuku dengan keras.

​"Hahaha! Neomu gwiyeowo!" Mr. Kim tertawa terbahak-bahak. Ternyata dia bisa bahasa Indonesia sedikit-sedikit. "Kamu lucu, Genta! Clarissa, saya suka bodyguard kamu. Dia jujur, tidak seperti direktur-direktur saya yang cuma bisa bilang 'Yes Boss' tapi hatinya palsu."

​Rapat yang tadinya tegang berubah jadi santai. Mr. Kim ternyata bosan dengan pertemuan bisnis yang terlalu formal. Dia malah mengajak kami makan siang di kantor. Tapi bukan makan makanan hotel, dia minta dibelikan makanan lokal yang asli.

​"Genta, apa ada makanan yang bikin semangat?" tanya Mr. Kim lewat asistennya.

​"Waduh, kalau itu pertanyaannya, saya punya solusinya Mas Kim! Kita pesan Nasi Rawon setan plus kerupuk udang Sidoarjo. Dijamin habis makan langsung pengen investasi dua kali lipat!" jawabku semangat.

​Clarissa hanya bisa geleng-geleng kepala, tapi aku bisa melihat dia mengembuskan napas lega. Proyek milyaran rupiah itu akhirnya gol gara-gara ocehan preman pasar sepertiku.

​Saat makan siang, Mr. Kim malah asyik ngobrol denganku soal tato Doraemon di lenganku. Dia bilang cucunya di Korea suka sekali dengan Doraemon. Clarissa cuma diam memperhatikan kami sambil tersenyum tipis. Sesekali dia mencuri pandang ke arahku, mungkin dia baru sadar kalau bodyguard-nya ini punya 'karisma' tersendiri yang tidak dimiliki pria-pria berdasi di kantornya.

​Sore harinya, setelah Mr. Kim pulang, Clarissa memanggilku ke ruangannya. Dia duduk di kursi kebesarannya, tapi kali ini wajahnya tidak galak.

​"Genta... terima kasih ya untuk tadi. Meskipun kamu hampir bikin saya jantungan karena berani memotong pembicaraan Mr. Kim," ujarnya tulus.

​"Sama-sama, Mbak Bos. Saya kan sudah bilang, tugas saya itu jagain Mbak Bos dari segala macam ancaman, termasuk ancaman proyek gagal," balasku sambil menyandarkan badan di pintu.

​"Sebagai hadiah, besok saya liburkan kamu setengah hari. Tapi ada satu syarat," kata Clarissa sambil tersenyum misterius.

​"Apa itu, Mbak Bos? Jangan suruh saya jaga patung lagi ya, bosan!"

​"Besok kamu temani saya ke acara keluarga. Mama saya ingin ketemu sama orang yang sudah bikin saya sering tertawa akhir-akhir ini," jawab Clarissa sambil membuang muka, mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.

​DEG! Jantungku serasa mau copot. Acara keluarga? Ketemu Mama? Waduh, ini levelnya sudah naik dari bodyguard jadi calon menantu apa gimana? Jakarta ternyata makin hari makin penuh kejutan buat preman sengklek sepertiku

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!