Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Jakarta tetaplah Jakarta dengan segala kebisingannya, namun setelah kehancuran gudang di pelabuhan utara, Arka memutuskan bahwa mereka butuh menghilang sejenak. Ia tidak ingin Nirmala terus-menerus dihantui oleh ucapan Saraswati tentang kecelakaan orang tuanya sebelum mentalnya benar-benar siap. Maka, dengan bantuan Baruna yang meminjamkan sebuah mobil jip tua namun tangguh, Arka membawa istrinya mendaki menuju arah selatan, ke tempat di mana udara tidak lagi berbau garam dan karat, melainkan berbau pucuk teh dan embun pagi.
Kawasan Puncak menyambut mereka dengan pelukan kabut tipis yang dingin. Di sebuah vila kecil yang tersembunyi di balik lereng bukit jauh dari keramaian jalur utama, Arka dan Nirmala akhirnya bisa benar-benar bernapas. Vila itu milik seorang kenalan lama Aki, sebuah bangunan kayu bergaya kolonial rendah yang dikelilingi oleh taman bunga hydrangea biru dan ungu yang sedang mekar sempurna.
Pagi itu, tidak ada alarm berupa ketukan pintu yang panik. Nirmala terbangun karena sinar matahari yang menembus sela-sela gorden tipis, menyapu wajahnya dengan kelembutan yang hangat. Ia menoleh ke samping dan mendapati ranjang itu sudah kosong, namun ia bisa mendengar suara langkah kaki pelan di teras kayu di luar.
Nirmala bangkit, mengenakan sweter rajut berwarna krem yang kebesaran, lalu melangkah keluar. Di sana, Arka sedang berdiri menghadap hamparan kebun teh yang bergelombang seperti samudra hijau. Di tangannya ada dua cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap.
"Sudah bangun, Istriku?" Arka berbalik, senyumnya pagi itu tampak begitu lepas, tanpa beban tanggung jawab sebagai pelindung yang biasanya membuat raut wajahnya kaku.
Nirmala mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Arka dan menyandarkan kepalanya di punggung suaminya yang kokoh. "Udara di sini enak sekali Mas. Rasanya seperti tidak ada beban sama sekali di dunia ini."
Arka meletakkan cangkir-cangkir itu di meja kecil, lalu berbalik untuk membalas pelukan Nirmala. Ia mengecup puncak kepala istrinya lama-lama, menghirup aroma rambut Nirmala yang kini berbau sabun bunga matahari, bukan lagi bau kemenyan atau tanah basah. "Hari ini, tidak ada Saraswati, tidak ada akar merah, dan tidak ada hantu yang minta tolong. Hanya ada kita."
Setelah sarapan sederhana berupa nasi kuning dan perkedel hangat yang mereka beli di pinggir jalan, Arka mengajak Nirmala berjalan-jalan menyusuri jalan setapak di tengah perkebunan teh. Langit di atas Puncak sangat biru, kontras dengan hijau zamrud dedaunan di bawahnya.
Mereka berjalan bergandengan tangan, langkah mereka santai, tidak terburu-buru oleh panggilan tugas. Arka sesekali berhenti untuk memetik sebuah bunga kecil atau sekadar menunjukkan burung-burung yang berkicau di dahan pohon pinus.
"Kau tahu Nir." ucap Arka sambil menggenggam tangan Nirmala, jemarinya mengusap cincin perak di jari manis istrinya. "Dulu, saat aku masih sering masuk ke hutan Merapi, aku selalu bermimpi bisa membawa wanita yang kucintai ke tempat seperti ini. Tempat di mana aku tidak perlu waspada pada bayangan di balik pohon."
Nirmala tersenyum, pipinya merona merah karena udara dingin dan ucapan Arka. "Dan sekarang impian itu jadi nyata?"
"Lebih dari nyata. Karena ternyata wanitanya bukan hanya cantik, tapi juga sangat kuat." goda Arka, membuat Nirmala mencubit lengannya dengan gemas.
Mereka sampai di sebuah bukit kecil yang menghadap ke lembah. Di bawah sana, Jakarta terlihat seperti kumpulan kotak korek api yang mungil dan tak berdaya. Di sini, di atas awan, masalah-masalah besar itu terasa begitu jauh.
Nirmala memejamkan mata, membiarkan angin dingin membelai wajahnya. Lewat kepekaannya, ia tidak lagi mencoba mendeteksi energi negatif. Sebaliknya, ia membuka batinnya untuk menyerap kedamaian alam. Ia merasakan energi kehidupan dari ribuan pohon teh di sekelilingnya, sebuah aliran energi yang hijau, murni, dan penuh vitalitas. Ia menyalurkan energi itu ke dalam genggaman tangannya pada Arka, berbagi kesegaran yang ia rasakan.
Siang hari membawa mereka ke sebuah telaga tersembunyi yang airnya berwarna hijau pekat karena pantulan pepohonan di sekelilingnya. Mereka menyewa sebuah perahu kayu kecil yang dikayuh sendiri oleh Arka.
Di tengah telaga yang tenang, Arka membiarkan dayungnya diam. Perahu itu pun terombang-ambing pelan, menciptakan riak-riak kecil di permukaan air yang jernih.
"Lihat ke bawah Nir." Arka menunjuk ke dalam air.
Nirmala melongok ke pinggir perahu. Di bawah sana, ratusan ikan mas berwarna oranye dan merah berenang dengan tenang. Tidak ada gangguan energi hitam yang biasanya membuat hewan-hewan air gelisah. Segalanya begitu harmonis.
Arka mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berisi bekal makan siang jagung bakar manis dan pisang goreng cokelat. Mereka makan dengan lahap sambil duduk berdampingan di atas bangku kayu perahu yang sempit, tubuh mereka bersentuhan erat.
"Mas." panggil Nirmala pelan.
"Ya?"
"Terima kasih sudah membawaku ke sini. Aku merasa... aku merasa seperti manusia biasa lagi. Bukan si pembaca batin, bukan si penyembuh. Hanya Nirmala."
Arka meletakkan sisa jagung bakarnya, lalu meraih kedua tangan Nirmala. Ia menatap mata istrinya dengan kesungguhan yang tak terlukiskan. "Nir, bahkan tanpa kekuatan itu pun, kau adalah duniaku. Aku mencintaimu bukan karena apa yang bisa kau lakukan, tapi karena siapa dirimu."
Arka memajukan wajahnya, dan di tengah telaga yang sunyi itu, mereka berbagi ciuman yang sangat lembut dan lama. Tidak ada gangguan suara gaib, tidak ada hawa dingin yang mengancam. Hanya suara air yang beriak dan suara napas mereka yang menyatu.
Sore harinya, saat suhu mulai turun drastis dan kabut kembali turun menyelimuti vila, Arka menyalakan perapian di ruang tengah. Kayu-kayu pinus berderak mengeluarkan api berwarna jingga yang hangat, menyebarkan aroma resinous yang menenangkan ke seluruh ruangan.
Nirmala duduk di atas permadani tebal di depan perapian, menyandarkan tubuhnya pada kaki Arka yang duduk di kursi kayu. Arka membelai rambut Nirmala yang panjang dengan jemarinya, gerakan yang ritmis dan penuh kasih.
"Mas, apa nanti setelah semua ini selesai, kita bisa tinggal di tempat seperti ini selamanya?" tanya Nirmala, matanya menatap api yang menari-nari.
Arka terdiam sejenak, membayangkan masa depan di mana tidak ada lagi Saraswati atau sisa-sisa Sandiwayang. "Tentu. Kita akan bangun rumah kecil dengan kebun teh sendiri. Kita akan punya anak-anak yang tumbuh dengan udara bersih, bukan udara penuh kutukan."
Nirmala tersenyum membayangkan anak-anak kecil yang memiliki mata setajam ayahnya dan kelembutan hati ibunya. Ia merasa sangat penuh. Kebahagiaan ini terasa begitu nyata hingga ia ingin membekukan waktu di saat ini juga.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan bercerita tentang hal-hal sepele, tentang masa kecil Arka yang nakal di desa, tentang hobi Aki yang suka mengoleksi batu akik, dan tentang impian-impian kecil yang belum sempat mereka wujudkan. Tidak ada diskusi strategi, tidak ada peta pelabuhan.
Saat mereka akhirnya masuk ke dalam kamar yang hangat, Arka menarik Nirmala ke dalam pelukannya di bawah selimut tebal. Penyatuan mereka malam itu bukan lagi soal pengisian energi untuk berperang, tapi murni soal cinta dan rasa syukur atas hidup yang kini mereka miliki bersama. Dalam keheningan Puncak, mereka menemukan kembali jati diri mereka sebagai sepasang manusia yang saling memuja.
Arka dan Nirmala yang tertidur lelap dalam dekapan masing-masing, sementara di luar, kabut Puncak menjaga vila mereka dengan ketenangan yang absolut. Untuk hari ini, dunia supranatural seolah memberikan izin bagi dua pejuangnya untuk sekadar mencintai dan dicintai.