NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 - Jarak Yang Diciptakan

Pagi di rumah keluarga Wijaya terasa lebih sunyi dari biasanya, meskipun tidak ada perubahan nyata yang terlihat di permukaan. Para pelayan tetap menjalankan tugas mereka seperti biasa, langkah kaki terdengar di lorong yang panjang, dan meja makan tetap dipersiapkan dengan rapi tanpa kekurangan apa pun.

Namun ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan melihat keadaan sekitar. Perubahan itu tidak datang dari suasana rumah, melainkan dari seseorang yang selama ini selalu menyesuaikan diri dengan tempat itu.

Alyssa.

Ia berdiri di depan cermin di kamarnya, merapikan rambutnya dengan gerakan pelan dan teratur. Wajahnya tampak sedikit lebih pucat dibandingkan biasanya, tetapi sorot matanya tidak lagi menunjukkan keraguan atau kegelisahan yang dulu mudah terlihat.

Kini, tatapannya lebih tenang dan terkendali, seolah ia sudah memutuskan sesuatu yang tidak perlu diumumkan pada siapa pun. Ia mengamati dirinya beberapa saat tanpa ekspresi berlebihan, lalu meraih tas kecil di atas meja dengan gerakan yang mantap.

Hari ini ia tidak mengenakan gaun pilihan orang lain, tidak juga mencoba menyesuaikan diri dengan selera yang bukan miliknya. Pakaiannya sederhana, tetapi tetap rapi dan elegan, cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak lagi berusaha mencari pengakuan dari siapa pun.

Ia keluar dari kamar tanpa ragu, langkahnya mantap menyusuri lorong yang sudah terlalu familiar. Beberapa pelayan yang berpapasan dengannya sempat melirik, bukan karena ia terlihat mencolok, tetapi karena ada sesuatu yang terasa berbeda dari cara ia berjalan dan bersikap.

“Nona Alyssa,” sapa salah satu dari mereka dengan nada hati-hati, seolah tidak yakin apakah ia masih bisa berbicara seperti biasa.

Alyssa berhenti sebentar dan menoleh dengan tenang, tidak menunjukkan keberatan atau ketidaksabaran.

“Iya?”

“Anda… ingin sarapan di ruang makan?”

Alyssa menggeleng pelan, jawabannya datang tanpa jeda panjang.

“Tidak. Saya ada urusan.”

Nada suaranya tidak dingin, tetapi juga tidak membuka ruang percakapan lebih jauh. Ia melanjutkan langkahnya tanpa menjelaskan apa pun, meninggalkan pelayan itu yang hanya bisa saling pandang dengan rekan lainnya.

Perubahan itu terasa jelas, bukan karena Alyssa menjadi kasar atau sulit didekati, melainkan karena ia tidak lagi berusaha menyesuaikan dirinya dengan orang-orang di sekitarnya. Ia tidak menolak, tetapi juga tidak mendekat seperti dulu.

Alyssa keluar menuju taman belakang, tempat yang lebih sepi dibandingkan bagian lain rumah itu. Udara pagi masih terasa segar, embun belum sepenuhnya menguap, dan sinar matahari jatuh lembut di antara dedaunan.

Ia duduk di bangku kayu yang menghadap kolam, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku kecil bersama pulpen. Beberapa halaman di dalamnya sudah terisi, berisi catatan yang tidak pernah ia buat sebelumnya.

Rencana.

Hal-hal yang ingin ia lakukan.

Dan kemungkinan yang selama ini tidak ia pertimbangkan karena terlalu sibuk bertahan di dalam rumah itu.

Tangannya bergerak perlahan di atas kertas, menuliskan satu per satu dengan fokus yang tidak terganggu. Ia tidak terburu-buru, tetapi juga tidak ragu, seolah setiap kata yang ia tulis sudah dipikirkan dengan matang.

Beberapa menit berlalu sebelum suara langkah kaki terdengar dari belakang, cukup pelan namun tetap jelas di tengah suasana yang tenang. Alyssa tidak langsung menoleh, karena ia sudah mengenali siapa yang datang.

“Kenapa tidak sarapan di dalam?”

Suara Daren terdengar datar seperti biasanya, tidak menunjukkan perubahan yang mencolok.

Alyssa menutup bukunya lebih dulu sebelum menoleh, memastikan semuanya kembali rapi di dalam tasnya.

“Saya tidak lapar.”

Jawaban itu singkat dan tidak disertai penjelasan tambahan, membuat Daren berdiri beberapa langkah dari bangku tanpa langsung bergerak lebih dekat.

“Kamu keluar pagi-pagi begini untuk apa?”

Alyssa bangkit pelan dari duduknya, menjaga jarak yang sama seperti sebelumnya.

“Udara di sini lebih nyaman.”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya, tidak juga berusaha memperhalus suasana seperti yang biasanya ia lakukan. Daren mengernyit sedikit, karena perubahan itu terasa semakin jelas ketika ia memperhatikannya lebih lama.

“Kamu terlihat berbeda.”

Alyssa menatapnya sebentar, ekspresinya tetap tenang.

“Biasa saja.”

Nada suaranya tidak berubah, seolah komentar itu tidak cukup penting untuk dipikirkan.

Daren melangkah mendekat, mencoba mempersempit jarak yang sejak tadi terasa tidak terlihat tetapi jelas ada.

“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu katakan, kamu bisa bicara.”

Alyssa menggeleng pelan tanpa ragu.

“Tidak ada.”

Jawaban itu datang dengan cepat, tanpa celah untuk dipertanyakan lebih lanjut. Daren menahan napas sejenak, mencoba mencari sesuatu dari sikap Alyssa yang terasa terlalu rapi.

“Kamu masih marah?”

Alyssa terdiam beberapa detik sebelum menjawab, kali ini dengan nada yang sama seperti sebelumnya.

“Tidak.”

Satu kata itu bukan sekadar jawaban, melainkan pernyataan yang tidak memberi ruang untuk ditafsirkan. Daren menatapnya lebih dalam, namun tidak menemukan emosi yang bisa ia baca dengan jelas.

“Kalau begitu, kenapa kamu bersikap seperti ini?”

Alyssa memiringkan sedikit kepalanya, seolah mencoba memahami maksud pertanyaan itu.

“Seperti apa?”

“Jauh.”

Kata itu keluar tanpa rencana, membuat Alyssa diam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.

“Saya hanya melakukan apa yang perlu.”

Kalimat itu sederhana, tetapi tidak membuka ruang untuk perdebatan. Daren merasakan kesabarannya mulai teruji, karena setiap jawaban yang ia terima tidak memberi arah yang ia cari.

“Kamu adalah istriku.”

Alyssa mengangguk tanpa menunjukkan perubahan ekspresi.

“Iya.”

Pengakuan itu terasa kosong, tidak membawa makna yang biasanya melekat pada kata itu.

“Lalu kenapa kamu bertingkah seperti orang asing?”

Alyssa menarik napas pelan sebelum menjawab, suaranya tetap tenang.

“Karena saya tidak ingin salah lagi.”

Daren terdiam, kalimat itu terdengar sederhana tetapi memiliki arti yang lebih dalam dari yang terlihat.

“Salah dalam hal apa?”

Alyssa menatapnya tanpa ragu.

“Berharap.”

Jawaban itu keluar dengan jelas, tanpa nada tinggi atau emosi berlebihan, tetapi cukup untuk membuat suasana di antara mereka menjadi lebih berat.

Daren tidak langsung membalas, ia hanya berdiri mencoba memahami apa yang sebenarnya berubah. Alyssa yang dulu selalu menatapnya dengan harapan kini berdiri di depannya tanpa membawa apa pun.

“Alyssa…”

Ia memanggil pelan, tetapi Alyssa tidak segera merespons seperti sebelumnya.

“Aku ingin kita memperbaiki ini.”

Alyssa mengangguk kecil, responsnya tetap sama.

“Silakan.”

Jawaban itu kembali muncul, memberi ruang tetapi tidak ikut terlibat di dalamnya. Daren merasakan sesuatu di dadanya mengencang, karena ia tidak tahu bagaimana menghadapi sikap seperti ini.

“Kenapa kamu tidak mau mencoba?”

Alyssa menatapnya, kali ini lebih tegas.

“Saya sudah mencoba, dan sekarang saya ingin fokus pada diri saya sendiri.”

Daren mengernyit.

“Fokus seperti apa?”

Alyssa tersenyum tipis, lebih sebagai bentuk kesopanan daripada kehangatan.

“Menjadi lebih baik.”

“Untuk siapa?”

Alyssa tidak berpikir lama sebelum menjawab.

“Untuk saya.”

Jawaban itu membuat Daren terdiam, karena tidak ada nama lain di sana selain Alyssa sendiri.

“Kalau tidak ada hal lain, saya ingin kembali ke dalam.”

Ia melangkah melewati Daren, menjaga jarak tanpa terlihat tergesa-gesa.

“Alyssa.”

Langkahnya berhenti, tetapi ia tidak menoleh.

“Aku tidak terbiasa dengan ini.”

Alyssa terdiam sejenak sebelum menjawab dengan suara yang tetap tenang.

“Saya juga.”

Ia melanjutkan langkahnya tanpa melihat ke belakang, meninggalkan Daren sendirian di taman yang kembali terasa sunyi.

Daren berdiri cukup lama di sana sebelum akhirnya kembali ke dalam rumah. Ruang makan sudah hampir kosong, hanya menyisakan Cassandra yang masih duduk dengan tenang sambil menyeruput tehnya.

“Dia terlihat berbeda, bukan?” katanya tanpa menoleh.

Daren tidak menjawab, ia hanya duduk di kursinya dengan pikiran yang masih tertinggal di taman tadi.

“Aku tidak menyangka dia bisa berubah secepat itu,” lanjut Cassandra dengan nada ringan.

“Orang seperti dia biasanya akan terus mencoba menyenangkanmu.”

Daren menatap meja di depannya tanpa berkata apa pun.

“Atau mungkin dia akhirnya sadar posisinya.”

Daren mengangkat pandangan, tatapannya dingin, tetapi kali ini bukan ditujukan pada Alyssa.

Cassandra menyadarinya, namun ia hanya mengangkat bahu santai.

“Anggap saja aku hanya berpendapat.”

Daren tidak menanggapi lagi, ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruang kerja dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya.

Ia berdiri di depan jendela, menatap halaman rumah yang mulai lebih ramai oleh aktivitas pagi. Beberapa saat kemudian, ia melihat Alyssa keluar lagi dengan tas di tangannya.

Wanita itu berjalan menuju gerbang tanpa ragu, tanpa melihat ke belakang, dan tanpa memberi tahu siapa pun tentang tujuannya. Daren memperhatikan dari kejauhan, ada dorongan kecil untuk memanggil, tetapi ia tidak melakukannya.

Ia hanya berdiri dan menatap hingga sosok itu menghilang dari pandangan.

Di dalam dirinya, muncul perasaan yang sulit dijelaskan, bukan sekadar kebingungan atau rasa ingin tahu. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.

Ia menyadari satu hal dengan jelas, Alyssa tidak lagi menunggunya, dan dalam hubungan yang selama ini ia kendalikan tanpa banyak berpikir, kini ia justru menjadi pihak yang tertinggal.

Tanpa ia sadari, Daren Wijaya mulai merasakan apa artinya diabaikan.

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!