Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 "AKU BERANGKAT YA PAK..."
Sejenak kuperhatikan sosok wanita itu. Tampak begitu murung dengan wajahnya yang tertunduk. Dan aku sudah tau, bahkan sangat yakin dia bukanlah sosok manusia. Meskipun dia muncul dalam pandanganku secara jelas di siang hari, di tengah keramaian peron-peron stasiun ini.
Ketika aku termenung memperhatikannya, dia tampak mengangkat wajahnya, lalu memandang ke arahku dari seberang peron 5. Aku hanya memberikan senyum kecil kepadanya, namun ia hanya terpaku memandangiku.
Tiba-tiba...
"Heh?! Ngeliatin apa kamu?!" suara Ningrum yang selesai mencuci tangan dan duduk di sampingku, mengagetkanku.
"Eh, enggak... Enggak ngeliatin apa-apa kok Rum." jawabku spontan.
"Yeeeh... Orang dari tadi kamu kayak bengong gitu. Jangan sering ngelamun Nis, gak baik loh." tambahnya, sambil mengelap tangannya yang masih agak basah menggunakan tisu.
Tak selang lama... Dinda, kedua orang tua dua sahabatku, dan juga bapakku datang menghampiri. Mereka sepertinya sudah selesai melaksanakan sholat zhuhur. Lalu kami semua saling mengobrol satu sama lain sambil menunggu kedatangan kereta yang akan membawaku menuju Jawa Timur. Suasana hangat dan begitu syahdu terasa dalam batinku.
Aku merasakan mereka semua begitu perhatian, begitu sayang, dan begitu peduli denganku. Sampai tak terasa kedua mataku mulai berkaca-kaca ditengah obrolan dengan mereka semua.
"Loh, loh, loh... Kamu kenapa toh Nis?" tanya Ibunya Ningrum saat melihat aku yang tampak sedih.
"Hehehe... Enggak apa-apa kok Bu..." jawabku dengan sedikit terisak suaraku.
"Aduuuh... Jangan sedih begitu ah..." timpal Ibunya Dinda sambil mengusap lembut kepalaku.
"Hehehe... Hiks hiks..." aku malah semakin merasa sedih. Menyadari tinggal beberapa menit lagi, aku akan meninggalkan mereka semua.
"Nisa, kamu pasti bisa, kamu pasti kuat. Dan jangan khawatir. Insya Alloh kami semua pasti baik-baik aja kok di rumah." tambah Ibunya Dinda.
Aku yang merasa tak bisa menahan tangis, akhirnya memeluk tubuh Ibunya Dinda.
"Hem... Giliran Ibunya Dinda, kamu peluk. Kenapa Bapakmu ini gak kamu peluk toh Nisa?" celoteh Bapakku saat melihatku seperti ini.
"Hehehe... Hiks hiks hiks... Bapaaak... Hiks hiks..." aku langsung melepas pelukan dengan Ibunya Dinda, dan segera berdiri, memeluk tubuh Bapakku.
Wajahku terbenam di dadanya. Tercium aroma khas tubuhnya. Dan juga terdengar pelan suara detak jantungnya di telingaku. Disambutnya pelukanku itu dengan belaian tangannya yang begitu penuh kasih sayang.
"Udah-udah, jangan nangis. Udah gede, malu diliat banyak orang." ucap Bapakku sambil mengangkat daguku, kemudia ia usap air mataku yang membanjiri kedua pipiku.
"Gimana aku gak sedih Pak? Hiks hiks... Aku sebentar lagi mau pergi jauh ninggalin Bapak di rumah, sendirian. Siapa yang nanti masak buat Bapak? Siapa yang cuci baju-bajunya Bapak? Hiks hiks hiks... Terus, siapa yang nemenin Bapak ngopi santai di teras malem-malem? Huuuhuuuhuuu..." ucapku, sambil semakin erat pelukanku, semakin dalam juga kutatap wajah Bapakku itu.
"Nisa, kalo kamu sedih, nanti Bapak juga ikutan sedih loh. Udah, jangan nangis ah... Lagian juga kan Bapak udah restui, udah izinkan, udah ridho... Jangan bebani pikiranmu. Jangan terlalu khawatir sama Bapakmu ini." jawabnya, sambil mengusap kembali air mataku.
Lantas, perlahan, aku melepas pelukanku dengan Bapak. Sesekali aku melihat orang-orang di sekitar tampak memperhatikanku. Seolah mereka bertanya-tanya, ada apa denganku.
Aku mengusap sendiri air mataku yang masih saja terus mengalir. Lalu kucoba kuatkan kembali hatiku, tekadku. Aku menatap wajah Bapakku, dan berkata, "Iya Pak, Insya Alloh Nisa gak terbebani pikirannya. Yang penting Bapak terus menerus do'akan Nisa ya Pak."
"Ya pastilah... Setiap saat Bapak selalu do'akan kamu Nis." jawab Bapakku dengan tersenyum.
Dinda dan Ningrum yang sedari tadi hanya duduk melihatku, tampak juga raut kesedihan di wajah mereka berdua. Dan sekali lagi, aku jadi sedih lagi melihat mereka. Segera mereka berdua berdiri dan berjalan menghampiriku, lalu memelukku dengan erat.
Akhirnya pecah juga tangisan pelan mereka saat memelukku...
"Huaaa... Nisaaa... Jangan lupain kita berdua ya Nis... Hiks hiks hiks..." ucap Ningrum yang memelukku dari sebelah kiri.
"Hiks hiks hiks... Iya Nis, jangan lupain kita ya... Pokoknya kita marah kalo kamu sampe lupa! Huaaa..." tambah Dinda yang memelukku dari sebelah kanan.
"Hiks hiks hiks... Iya... Aku gak akan pernah lupain kalian kok. Kan kalian berdua sahabat terbaik aku... Hiks hiks..." jawabku.
"Heh, heh, heh! Kok kalian bertiga malah kayak anak-anak sih? Malah kayak nonton drama sedih gini kita semua?" ucap Bapaknya Dinda.
"Hiks hiks... Bapak iri aja sih liat kita begini?" jawab Dinda sambil memandangi Bapaknya itu.
Akhirnya kami semua sedikit cengengesan, merasa agak geli dan lucu saat melihat tingkah kami bertiga ini.
Dan sejurus kemudian, terdengar suara petugas stasiun memberi pengumuman melalui pengeras suara, "Mohon perhatian! Mohon Perhatian! Kereta api Brantas jurusan Pasar Senen-Kediri akan segera memasuki stasiun di jalur 4! Dimohon kepada seluruh penumpang untuk bersiap, dan mohon diperhatikan barang-barang agar tidak tertinggal saat menaiki kereta." Diulangi kembali pengumuman tersebut oleh petugas stasiun sebanyak dua kali.
Akhirnya... Detik-detik keberangkatanku tiba...
Aku, dibantu oleh semua yang ikut mengantar, mempersiapkan diri dan juga membantuku agar tidak ada tas atau barang yang ketinggalan. Kami semua berdiri sesuai garis batas aman di pinggir peron. Bersamaan dengan semua penumpang kereta yang sama denganku.
"Pak, jangan lupa tiketnya dikasih ke Nisa. Terus nanti yang bantuin bawa masuk barang-barangnya Nisa biar saya aja, sama Bapaknya Dinda." kata Bapaknya Ningrum. Lalu Bapakku mengangguk dan memberikan tiket kereta padaku. Ku taruh tiket itu baik-baik di dalam kantong baju gamisku.
Kemudian, dari kejauhan, tampaklah kereta Brantas itu. Berjalan perlahan memasuki area stasiun di jalur 4.
"Ngoooooong!!!"
Suara klaksonnya membelah seisi peron saat keretanya melaju pelan di depanku. Bergetar lantai peron yang kuinjak. Selang beberapa saat, terdengar suara remnya yang begitu kuat. Dan akhirnya kereta pun berhenti. Dan Alhamdulillahnya, gerbong kereta yang menjadi tempatku naik, tepat berhenti di depanku.
Sejurus kemudian, seluruh penumpang satu persatu menaiki gerbong masing-masing. Aku disuruh naik duluan oleh Bapaknya Dinda, dia sambil menyusulku di belakang bersamaan dengan Bapaknya Ningrum, tampak agak kesulitan mereka menaiki gerbong sambil membawakan tas-tas milikku.
Saat kami memasuki gerbong, aku yang berada di depan jadi kebingungan mencari tempat dudukku.
"Nis, kamu duduk di bangku nomor E-13. Coba cari di mana bangkunya, ayok jalan terus ke depan sana!" ucap Bapaknya Ningrum.
Aku berjalan mengikuti arahannya, sambil melihat ke sisi kanan dan kiri dalam gerbong. Mencari dimana letak bangku bernomor E-13 itu. Dan tak lama kemudian, sambil bersenggolan dengan penumpang lain, aku menemukan bangku yang dimaksud.
"Pak, di sana bangkunya!" ucapku.
"Oh, yaudah, langsung duduk aja sana Nis, buruan." ucap Bapaknya Dinda.
Aku langsung duduk dibangku tersebut, sambil ku taruh tas kecil yang kubawa di kursi sebelahku. Bapaknya Dinda dan Ningrum tampak menaruh dua tas agak besar milikku di dalam laci, tepat di atas bangku aku duduk.
"Nisa, kami pamit pulang ya. Inget pesan-pesan Bapakmu ya Nis..." Ucap Bapaknya Dinda.
"Dan jangan lupa banyak-banyak berdoa, semoga kamu selamat sampai tujuan di Jawa Timur ya Nis..." tambah Bapaknya Ningrum.
"Iya Pak, terima kasih banyak ya udah anterin saya... Maaf banget jadi ngerepotin..." jawabku dengan senyuman lebar.
"Iya Nis, gak apa-apa. Ya udah, kami turun ya, hati-hati selama di perjalanan. Jangan sembrono."
Lantas, aku mencium kedua tangan mereka. Dan akhirnya mereka berdua berjalan turun dari gerbong.
Aku langsung menatap ke arah luar jendela gerbong. Sekali lagi, kulihat dan kupandangi wajah Bapakku.
"Pak, Nisa berangkat dulu ya... Jaga kesehatan di rumah, jangan capek-capek kalau kerja, istirahat yang cukup, makan yang cukup!" ucapku dari dalam gerbong.
"Iya Nis... Kamu juga hati-hati. Jangan sembrono selama di pondok nanti ya. Salam buat Ustadz Furqon!" sahut Bapakku.
Dan tak terasa, kembali mengalir air mataku...
Ku lihat dua sahabatku juga, mereka melambaikan tangan dengan wajah yang masih nampak sedih, tapi dengan senyuman di bibir mereka berdua... Begitupun dengan kedua orang tua mereka...
Nisaa akhirnya mau menjadi temannya dgn syarat tertentu