Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menebus Abi
Wulan bersama pak Rama segera pergi ke kantor polisi menemui Abi yang sedang di tahan saat ini.
"pak Rama, apa suami saya bisa bebas" tanya Wulan dengan perasaan cemas.
"Sebenarnya masalah ini bisa di selesaikan dengan cara kekeluargaan Nona Wulan, asalkan papa Nona Wulan mau mencabut laporannya pada kantor polisi, dengan begitu mas Abi bisa bebas" jelas pak Rama pada Wulan.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Wulan penasaran.
"Ah ini mungkin hanya salah paham saja, asal nona Wulan bisa membujuk papa nona Wulan saya kira semua akan jadi lebih mudah" ucap pak Rama yang berharap Wulan termakan ucapannya dan bisa dengan mudah membebaskan Abi, supaya uang dari Abi bisa ia kantongi sepenuhnya.
"Ayo lah bujuk papa kamu itu, biar nanti aku dapat uang lebih dari mas Abi" gumam Pak Rama dalam hari.
"Nanti aku akan bicara dulu sama mas Abi Pak!" jawab Wulan pada pak Rama saat mereka masih dalam perjalanan ke kantor polisi.
Setelah beberapa lama perjalanan mereka pun akhirnya sampai di kantor polisi. Mereka segera turun dari mobil setelah mobil itu terparkir rapi di halaman kantor polisi.
Keduanya segera melapor untuk bisa bertemu dengan Abi.
"pak Polisi, saya istrinya mas Abi, tolong izinkan kami bertemu dengan Mas Abi" ucap Wulan saat sudah masuk ke dalam kantor polisi. Mereka berdua pun di ajak ke sebuah ruangan untuk bertemu dengan Abi dengan penjagaan yang ketat.
"Sayang...tolong aku sayang, tolong bebaskan aku dari sini Ku mohon!" rengek Abi saat bertemu dengan Wulan.
"Mas, kenapa bisa seperti ini, apa sebenarnya yang kamu lakukan mas, kenapa mereka menangkapmu, apa benar kamu mencuri bahan bangunan di proyek?!" tanya Wulan dengan tidak sabarnya.
"Tidak..itu tidak benar, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal itu, aku yakin ada orang yang lain menjebak dan memfitnahku!" kilah Abi.
"Nanti biar papa yang menyelidikinya mas, orang itu enggak boleh di biarin begitu saja. Dia harus mendapatkan pelajaran yang setimpal!" ucap Wulan geram, Wulan masih mengira kalau memang Abi di jebak.
"Aduh dasar goblok, kenapa malah minta tolong sama papa buat cari tahu, papa pasti sudah tahu kalau memang aku yang mengambil barang-barang itu!" ucap Abi dalam hati, dia masih bingung bagaimana cara meyakinkan Wulan tanpa semua orang tahu kalau dia memang dalang dari pencurian itu.
"Sayang...dengerin ucapanku, sekarang kamu bujuk papa buat cabut gugatan padaku setelah itu aku janji akan menangkap pelaku yang sebenarnya, percayalah sayang bukan aku yang melakukannya, aku pasti akan membuktikannya!" bujuk Abi pada Wulan, kemudian Wulan menghela nafas dan menghembuskannya.
"Baiklah aku akan bicara sama papa, aku percaya kok kamu pasti enggak akan melakukan hal konyol itu!" jawab Wulan dengan patuh, Abi pun tersenyum puas dengan jawaban Wulan tersebut.
"Makasih sayang, makasih...kamu memang istri kesayangan aku" ucap Abi dengan lembut pada Wulan.
"Sabar ya Sayang, aku pasti akan segera membujuk papa supaya mencabut gugatannya, kalau begitu aku pulang dulu ya mas" pamit Wulan pada Abi, kemudian Wulan dan pak Rama pun segera kembali pulang, dengan di dampingi pengacara Rama, Wulan pun menghadap Pak Safrudin.
Setelah keduanya sampai di kediaman pak Safrudin Wulan tak mau buang-buang waktu lagi, dia langsung menemui sang papa.
''Paaaaa!'' Wulan buru-buru menyapa sang papa dan meraih kedua tangan pria paruh baya itu.
''Ada apa lagi hah!'' jawab pak Safrudin ketus, beliau sudah tahu apa yang akan di lakukan Wulan, pokoknya beliau sudah merasakan sesuatu yang tak mengenakkan.
''Pa...Wulan mohon, cabut gugatan papa pada mas Abi Pa, dia tidak bersalah, mas Abi berjanji kalau dia bebas nanti mas Abi akan langsung mencari dalang di balik pencurian itu yang sudah memfitnahnya!'' ucap Wulan meyakinkan Pak Safrudin.
''Wulan papa itu sudah selidiki dengan jelas dan pelakunya adalah Abi di balik semua ini, semua preman itu sudah mengaku dan juga menunjukkan bukti-bukti yang akurat, Abi enggak bisa lepas gitu saja, dia harus berani bertanggung jawab!'' jawab pak Safrudin dengan tegas.
''Pa...percaya sama Wulan, mas Abi enggak melakukan itu, dia di jebak, mungkin musuh papa sengaja melakukan itu buat ngancurin rumah tangga Wulan dan juga keharmonisan keluarga kita pa!'' bujuk Wulan lagi dengan kukuh.
''Kamu sudah di bodohi Abi tahu nggak, pokoknya papa enggak mau mencabut gugatan itu, biar in Abi mendekam di penjara biar kapok!'' ancam pak Safrudin yang tidak mau di bujuk Wulan.
''Pa...jangan jahat begitu dong pa, papa mau anak papa yang cantik ini jadi janda gara-gara keegoisan papa!''ucap Wulan kesal.
''Wulan papa nggak akan ngelepasin Abi begitu saja karena dia sudah merugikan perusahaan terlalu besar, kalau papa maafin dia perusahaan kita akan jatuh bangkrut dan dia pasti akan melakukannya lagi, papa tidak mau usaha yang sudah papa rintis dari muda hancur begitu saja di tangannya!'' jelas pak Safrudin berharap Wulan akan lebih mengerti dan lebih legowo.
''Haiyoh pa...Wulan enggak sanggup kalau mas Abi di penjara pa, kalau papa masih kekeh lebih baik Wulan ikut Ma Abi di penjara saja!'' ucap Wulan merajuk.
''Kamu apa-apaan sih Wulan, buka mata kamu, kalau kamu masih ngeyel pergi sana papa tidak akan menghalangi lagi namun untuk mencabut laporan itu jangan mimpi kamu!'' ucap pak Safrudin dengan sangat tegas dan penuh keyakinan, karena merasa sang papa tidak bisa di buju Wulan pun langsung pergi sembari menghentakkan kedua kakinya ke lantai.
Pak Rama yang menunggu di depan pintu pun langsung mengikuti Wulan dari belakang.
''Bagaimana ini pak Rama, papa tidak mau bebasin mas Abi, saya harus bagaimana lagi?'' Wulan pun sudah mentok pikirannya dan tidak bisa mencari solusi lagi.
''Bagaimana kalau nona Wulan bayarin denda mas Abi, mungkin dengan begitu mas Abi bisa di bebasin atau paling tidak di ringankan hukumannya'' ucap pak Rama memberikan ide.
''Apa pak, dendaaaa....berapa memangnya denda yang harus di bayar mas Abi?'' tanya Wulan penasaran.
pak Rama mengacungkan salah sat jari tangannya di depan Wulan.
''10 juta'' ucap Wulan namun pak Rama menggeleng.
''100 juta'' ucap Wulan lagi dan lagi- lagi pak Rama menggeleng
''Jangan-jangan satu milyar?!'' ucap Wulan yang mengira-ngira dna pak Rama pun menganggukkan kepalanya.
''Apaaaaa...jadi beneran di denda satu milyar?!'' Wulan pun terkejut, pak Rama hanya bisa mengedikkan kedua bahunya sembari menghela nafas.
''Mau bagaimana lagi, mas Abi memang melakukan semua itu dan semua bukti sudah mengarah kepadanya'' jawab pak Rama pasrah.
''Tapi kata mas Abi dia di Fitnah!'' bantah Wulan.
''Mau di fitnah atau enggak semua sudah terbukti, sedang kita tidak punya bukti untuk membantahnya'' jawab pak Rama pada Wulan, kemudian Wulan pun menghela nafas.
''Baiklah kalau begitu aku akan membayarkan dendanya mas Abi'' jawab Wulan dengan yakin, pak Rama pun tersenyum puas, dengan begitu Abi akan bisa bebas dan dia akan mendapat komisi yang besar.
''Nah kalau begitu mas Abi tidak akan lama di tahanan, mari kita kembali ke kantor polisi untuk menebusnya!'' ajak pak Rama pada Wulan, keduanya pun segera kembali ke kantor polisi lagi, meski harus bolak-balik namun Wulan tak merasa lelah atau pun capek demi pria kesayangannya itu.
cinta boleh wi gobloogg jangan