Siapa bilang niat balas dendam akan berakhir sesuai rencana?
Buktinya nih si Nisa!
Hatinya udah di buat jungkir balik sama Aziz. Tetap aja hatinya gak bisa berpaling dari pria galak yang acap kali berkata nyelekit di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
...🥀🥀🥀🥀...
“Gak usah pake lama, Bima! Kamu nih terlalu banyak tingkah!” protes Rahma.
Bima berdecak kesal, “Iya sabar, bu! Piton saya belum berdiri ini! Mana bisa masuk kalo di p4ksa juga!”
“Kamu kan bisa mulai melakukan pem4nasan dengan jari mu ini, Bima! Masa gitu aja kamu gak ngerti sih! Jangan bilang ini pengalam pertama mu ya?” timpal Rani, mulai mengalih kan kamera ponsel nya dengan mode rekam video.
“Si- siapa bilang ini pertama buat saya! Ngaur aja kamu!” dusta Bima.
“Alah ngeles aja kamu! Udah buru langsung tancap gas Bima! Saya udah gak sabar nih, pengen liat Nisa hancur dan gak lagi punya muka di depan Aziz!” sentak Rahma dengan tangan terkepal.
Bima berdiri dengan ke dua lutut nya, di antara ke dua p4ha atas Nisa yang masih dalam kedaan gak sadarkan diri.
“Oke oke! Karena kalian gak sabaran, saya bakal langsung tancap gas! Tapi jangan lupa dengan yang bu manajer janjikan ya!” ujar Bima, dengan seringai di bibir nya.
Bugh.
Rahma yang gem4s, melempar bantal sofa tepat mengenai kepala Bima.
“Ugghhhh!” pekik Bima.
“Saya gak suka ya, punya bawahan yang banyak bertanya!” sentak rahma dengan wajah merah padam.
Bima berdecak kesal, “Ihss dasar singa betina! Saya kan cuma mau pastiin saya dapat hak atas kerja keras saya ini, bu!”
Rahma beranjak dari duduk nya, tangan nya terulur meraih pas bunga yang ada di atas meja dekat sofa.
Prang.
Dengan sengaja, Rahma menghantam kan mulut vas bunga di tangan nya dengan tepian meja. Menyisakan setengah badan vas bunga dengan ujung yang tajam dan runcing.
“Kesabaran saya sudah habis Bima! Kamu kerjain sekarang, atau kamu tinggalin tempat ini sekarang juga, Bima!” ancam Rahma, mengarahkan bagian vas bunga yang tajam ke arah Bima.
Bima bergidik ngeri, “I- iya iya! Ini saya mulai! Gak usah ngancem juga kali!” dengan tergesa Bima menurunkan celana bahan hitam nya.
Rani menelan saliva nya sulit, ‘Anjiiiir! Gak nyangka gua, bu manajer bisa segila ini demi satu cowok.’
“Kamu! Jangan lupa rekam! Ambil gambar yang bagus!” titah Rahma, mengalihkan perhatian nya pada Rani.
“I- iya, bu! Saya udah stay ambil video dari beberapa menit lalu kok! Ini malah udah dalam mode rekam gambar!” cicit Rani dengan gugup.
“Bagus!” puji Rahma.
Sreeek.
Bima menyingkap helaian dress yang memb4lut p4ha Nisa, memperlihatkan sepasang p4ha mulus tanpa celah.
Dengan lancang, Bima meng3lus p4ha mulus Nisa. Kulit jari tangan nya yang tampak kasar, mendarat sempurna di kulit tanpa celah Nisa.
“Gila mulu5 bangat!” gumam Bima, menjilat sudut bibir nya sendiri.
Rani menelan saliva nya sulit, ‘Gilaaa, gua gak bisa ngebayangin. Di saat terbangun dari pingsan, gua berada dalam keadaan kacau usai di perk0s4. Anjiiir! Sumpah! Bu Rahma ini manajer paling brengsek yang gua temuin.’
Rahma tersenyum mengejek, ‘Gak lama lagi, kamu bakal hancur, Nisa!’
Sementara jemari tangan Bima, terus merangkak hingga ke atas tepat di pinggul Nisa yang tertutup kain dress nya. Meraih helai kain yang lebih tipis dan menarik nya tanpa ragu dengan kasar.
Sreeeek.
Bunyi sob3kan kain menggema di ruang sunyi itu. Dengan degup jantung Bima yang kian bertalu, dengan nafas pria itu yang kian memburu. Netra nya seakan di penuhi nafsu yang gak bisa lagi di kontrol.
Nisa mengerjap, tangan kanan nya terulur memberikan pijatan pada kening nya sendiri.
“Uggghhh kepala gua pusing bangat!” ringis Nisa, mencoba beradaptasi dengan cahaya terang di kamar, yang membuat netra nya silau.
Bima menghembuskan nafas nya lega, dengan dada naik turun. Ia menatap lekat Nisa yang berada di bawah nya, “Akhir nya lu sadar! Ini baru seru!”
“Bima? Lu? Akhhhhh!” pekik Nisa, langsung memalingkan wajah, saat netra nya melihat piton Bima yang tampak menjulur tegak.
Bima terkekeh senang, rasa canggung dengan keberadaan Rahma dan Rani seakan lenyap.
“Berhubung lu udah bangun! Ayo kita mulai merajut surga dunia!”
“Surga dunia kepala lu! Akhhh!” Nisa berusaha beranjak dari tidur nya, namun sayang nya tangan besar Bima berhasil membuat nya kembali terhempas dan kembali berbaring di atas tempat tidur. Berada di bawah kungkungan Bima.
“Lepas! Jangan lakuin ini ke gua! Awas! Bima! Berenti!” jerit Nisa, ia meronta saat Bima mencondongkan tubuh nya, mengikis jarak di antara ke duanya.
Nisa membola, mendapati Rahma yang duduk di sofa dengan senyum di bibir nya. Seakan wanita itu menikmati pertunjukan yang baru di mulai.
“Bu manajer! Tolong bu! Ibu jangan diam aja! Tolongin saya!” teriak Nisa dengan nada memohon.
“Ssstttt jangan teriak minta tolong! Cukup nikmatin piton gua yang mau masuk lembah lu! Anjiir gua gak sabar mau penyatu4n ini!” seru Bima dengan nafas memburu, hembusan nafas nya terasa hangat dan mematikan di leher Nisa.
“Gak! Jangan! Gua gak mau! Lep4s! Bima! Hiks tolong jangan lakuin itu ke gua! Gua mohon!!” jerit Nisa, sepasang kaki nya menendang angin, sementara ke dua tangan nya berusaha mendorong dada bidang Bima. Menjaga jarak aman ke duanya.
‘Siapa pun tolong gua! Aziz! Gua butuh lu! Gua gak mau ada di sini!’ jerit batin Nisa penuh harap, sementara air mata nya gak berhenti menerobos pelupuk mata nya.
Rahma mengepalkan tangan nya, senyum puas tampak jelas terlihat di wajah nya.
‘Mampus kamu Nisa! Maka nya jangan berani berhadapan dengan saya! Ini balasan untuk wanita yang berani melawan, dan merebut Aziz dari saya!’ batin Rahma.
“Akkhhh sialan! Tahan Nis! Biar piton gua masuk ke lembah lu!” sentak Bima frustasi, saat piton nya meleset.
Brugh.
Bersambung …