Luna di nikahi Keanu dua tahun yang lalu. Berharap mendapat keluarga baru yang baik dan penyayang. Siapa sangka mulut manis sang mertua berubah seratus delapan puluh derajat setelah beberapa bulan pernikahannya.
Begitu juga dengan suaminya begitu mendengarkan apa yang mamanya katakan. Rumah tangga Luna menjadi tak sehat karna ada campur tangan mertua. Luna di perlakukan tak lebih seperti babu gratisan mereka, hingga Luna mendapat kabar jika kedua orang tuanya menjual tanah. Tanpa memberi tahu suaminya tentang penjualan tanah orang tuanya, Luna berencana membuka usaha untuk masa depanya dan membahagiakan orang tuanya.
Perlahan Luna mulai membalas perlakuan suami, mertua dan iparnya satu persatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Mobil Luna berjalan perlahan meninggalkan pasar dengan muatan penuh. Luna sesekali terdengar menarik nafas kasar sambil melihat kearah jalan yang sudah mulai ramai.
"Yang tadi itu bukanya mantan mertua ibu ya?" tanya Caca.
"Hmm...." Luna hanya mendengar dan mengangguk.
"Kalau ga ibu larang tadi sudah aku hajar mulut pedesnya." ujar Caca terlihat kesal.
"Ga usah, ga perlu. Orang kaya gitu mending di antepin aja. Nanti juga bakal kena batu sendiri."
"Kok bisa ya, dulu ibu bisa bertahan dengan keluarga kaya gitu." tanya Gadis itu penasaran.
"Iya begitulah, dulu aku itu telah bodoh. Rela di jadikan budak oleh mereka karna saking bucinya. Itulah nasib tak ada seorang pun tahu, ternyata Allah itu sayang sama aku sehingga mata hati yang selama ini tertutup bisa terbuka dan kembali kejalan yang seharusnya." Luna mulai menceritakan kisahnya pada Caca. Ia sudah menganggap Caca sepeti adiknya sendiri.
Hampir setengah jam akhirnya mereka sampai juga di rumah. Beberapa orang karyawan yang lain ikut membantu menurunkan belanjaan dari dalam mobil. Sementara itu Luna dan Caca pergi menuju rumah.
"Udah selesai belanjaan, nduk?" tanya sang ibu.
"Sudah bu, ayah mana?" tanya Luna sambil menyeruput teh yang ada di meja.
"Tadi sehabis sholat katanya ada rapat pengurus mesjid."
"Tumben?"
"Ibu dengar - dengar mesjid mau di benerin. Ada orang baik yang mau membantu dan untuk perbaikannya."
"Alhamdulillah ya bu, masih banyak orang baik di luar sana."
"Iya, nduk. Kamu sudah makan?" tanya Ibu lagi.
"Udah kue tadi di pasar bu. Bu jadi kan awal bulan ini kita pulang?" tanya Luna.
"Insya Allah jadi kalau ga ada halangan."
"Bu aku mau ke kamar dulu, ganti baju sekalian mandi. Gerah habis dari pasar. " pamit Luna lalu berlalu meninggalkan ibunya sendirian di ruang tamu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, baru pulang yah?" sambut ibu pada suaminya.
"Iya, bu. Baru kelar rapatnya."
"Rapat apaaan, yah?" tanya ibu.
"Mau renovasi mesjid."
"Orang mana yang membantu biayanya, yah?" tanya ibu penasaran.
"Katanya sih masih orang komplek sini. Tapi ayah juga ga tau yang mana orangnya."
"Ayah mau makan?" tanya istrinya.
"Nanti aja, ayah mau ganti baju dulu." ayah pun berlalu meninggalkan istrinya.
Luna kembali beraktivitas seperti biasanya. Sesekali ia akan mengecek pesana ataupun lauk unutk warungnya. Semantara itu ibu juga sibuk dengan warung makanya dan ayah dengan Laundrynya.
Karyawan Lina makin bertambah banyak, hampir semuanya berasal dari kampung halamannya. Untuk dua hari kedepan Luna meliburkan semua karyawan warung dan Laundry karan ia dan kedua orangtuanya hendak pulang ke kampung. Beberapa karyawanya yang satu kampung memilih ikut pulang juga.
Luna begitu bahagia saat melihat rumahnya sudah berdiri kokoh. Ada senyum bahagia terpancar dari sudut bibirnya.
"Ini beneran rumah kita, nduk?" tanya ibu tak percaya dengan pandangan matanya.
"Bagaimana menurut ibu?"
"Bagus banget, nduk." Ada binar bahagia di mata wanita itu. Dia tak pernah bermimpi bisa berada di posisi sekarang. Rumah reot yang hampir roboh berubah jadi rumah megah.
Roda itu berputar dulu mungkin mereka berada di bawah tapi sekarang roda itu tengah berada di atas. Apalagi usaha yang mereka geluti juga membuahkan hasil yang melimpah. Senyum bahagia selalu menghiasi bibir mereka. Meskipun hidup mereka sudah berubah seratus delapan puluh derajat tapi tidak mengubah sikap mereka.
Mereka masih tetap sama seperti dulu, tak sombong dan selalu merendah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya kk 🙏🤲😘
robby tuntut pencemaran nama baik 🤭🤣
bkalan msalah lgi nich...