Pernahkan kalian melihat angsa? Berenang dan menari dengan anggunnya di tengah sungai.
Tapi tahukah kalian? Di balik ketenangan tubuhnya di atas permukaan, Angsa berjuang mengayuhkan kakinya di dalam air agar dapat terlihat anggun di permukaan.
Begitulah hidup Gisella,
Tak ada yang tahu perjuangan hidupnya selama ini,
Pribadi yang selalu tersenyum riang di depan orang-orang, ternyata memiliki masa lalu yang kelam.
Bergumul dengan masa kecilnya yang selalu di rundung oleh teman-temannya, dan trauma masa kecilnya,
"Dasar anak pembawa sial!"
Ibunya sendiri mengatainya sebagai anak pembawa sial dan mengusirnya dari rumah.
Sang sopir membawa Gisella pergi dari rumah dan membuangnya di tempat antah berantah.
"Nak, kenapa menangis di sini?" tanya seorang wanita paruh baya yang melihat Gisella duduk menangis di pinggiran kebun.
Gisella kecil hanya menatapnya, lalu kembali meringkuk menangis pilu.
"Nak, ikut Emak mau?" tanya suara lembut itu lagi, mengulurkan tangannya kepada Gisella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CloverMint, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 35
Malam ini, cafe Balones sedang ramai pengunjung. Ella membantu bagian depan melayani para pengunjung cafe.
"Mbak," panggil seorang pengunjung cafe.
Ella yang mendengar panggilan dari salah satu meja, langsung membalikkan badan berniat menghampiri tamu yang memanggil.
Ella terkejut ketika membalikkan badannya. Papa,ucapnya dalam hati.
Ella diam terpaku, tak sanggup bergerak dari tempatnya berdiri.
"Mbak.. " panggil Toni kembali karena melihat Ella hanya berdiri mematung.
Ima yang juga mendengar segera menghampiri dan melayani permintaan tamu tersebut, sedangkan Ella yang baru sadar, buru-buru berlari ke arah toilet. Ella masuk dan menatap cermin besar di sana.
Papa.. Akhirnya Ella bisa melihat Papa lagi, tangisnya tiba-tiba.
Tak kuat, Ella segera masuk ke salah satu bilik di toilet itu, dan mengunci rapat bilik tersebut.
Papa.. Ella kangen.. rintihnya dalam hati. Tangis Ella pecah, dia tak kuat menahan rasa sedihnya.
Ella baru berhenti menangis ketika mendengar pintu toilet dibuka seseorang. Ella segera menutup mulutnya dan menahan isakan agar tak terdengar dari luar.
Papa masih tampan seperti dulu meski sudah ada beberapa kerutan menghiasi wajahnya.
"La, kamu di sini?" terdengar suara Ima memanggil dirinya.
Segera Ella menahan dirinya, dan perlahan menjawab.
"Bentar Im," jawab Ella singkat.
"Buruan La," ujar Ima segera keluar lagi.
Cepat-cepat Ella menghapus air mata yang membanjiri wajahnya. Ella berusaha mengendalikan tangisnya, setelah itu dia keluar dan membasuh wajahnya dan langsung masuk ke dapur.
"Kamu kenapa La?" tanya Ferry begitu melihat mata Ella yang sembab.
"Ella lagi sedih Kak, boleh Ella menangis di sini?" pintanya kembali terisak.
Ferry segera meraihnya, masuk dalam pelukannya, ditepuknya pundak Ella perlahan.
"Menangislah kalau itu bisa mengurangi kesedihanmu," bisik Ferry.
Tangis Ella kembali pecah. Ella menangis sesenggukan di pelukan Ferry, kemudian Ferry membawanya ke sudut dapur agar tidak langsung terlihat dari pintu.
Ferry memberi kode kepada Ima saat melihat Ima hendak masuk ke dapur. Melihat kode dari Ferry, dan melihat Ella yang menangis, Ima segera mundur tanpa suara.
Setelah puas menangis, Ella melepaskan pelukan Ferry dan duduk di kursi dengan lesu. Ferry memberikan tisu dan Ella menerimanya.
"Jangan tanya apa-apa ya Kak," pinta Ella lirih.
Ferry hanya mengangguk sedih melihat keadaan Ella.
Ada apa sebenarnya La.. gumamnya dalam hati.
Setelah bisa mengendalikan dirinya, Ella kembali ke toilet dan membasuh wajahnya, tak berani menatap kaca, lalu keluar dan melanjutkan pekerjaannya di dapur.
Sampai waktu pulang, Ferry tak menyinggung masalah tersebut. Ella sudah kembali seperti biasanya, walau lebih banyak diam.
###
"La.. Kamu kenapa? Cerita sama aku, kalau kamu ada masalah? Jangan kamu simpan semuanya sendiri. Kita sudah lebih dari sekedar sahabat kan?" ucap Ima di dalam kamar.
Mendengar pertanyaan Ima, Ella bukannya menjawab, Ella malah kembali menangis sesenggukan.
Ima terkejut melihat Ella menangis seperti itu. Diraihnya tubuh Ella, lalu dipeluknya dengan erat.
"La, sudah jangan menangis lagi," bujuk Ima, ikut sedih mendengar suara tangisan Ella.
Hampir setengah jam Ella menangis sesengguukan. Setelah lelah menangis, Ella pum menghapus tangisnya dan menatap Ima yang setia menemaninya.
"Maafin Ella ya Im.." isak Ella.
"La, apapun masalahmu, ceritalah. Aku akan selalu mendengarkan," ucap Ima menatap Ella sedih.
Ella menatap Ima sambil menimbang-nimbang. Akhirnya, Ella pun memberanikan diri menceritakan kisah hidupnya, keluarganya, dan bagaimana ia bisa berakhir di rumah Mak Mila.
Ima yang terkejut mendengar penderitaan Ella, hanya bisa memeluk Ella begitu berat. Ia tak tahu bagaimana cara meringankan beban sahabatnya itu selain lewar pelukan.
"Sekarang ada aku La.. Kamu nggak sendiri lagi, jangan kamu simpan sedihmu sendiri ya.." Ima berbicara sambil menatap Ella.
"Makasih Im.." peluk Ella erat.
"Sekarang bilang, kenapa kamu tadi menangis seperti itu?" tanya Ima melepaskan pelukan Ella.
"Tadi aku lihat papaku, Im," jawab Ella menangis lagi.
Ima terkejut mendengar perkataan Ella.
"Papa nggak ngenalin aku lagi Im," ucap Ella sambil menangis.
"Astagfirullah … Sabar La ... Yang sabar ya," hibur Ima ikut menangis juga.
"Keluargaku nggak ada yang mengenaliku. Mereka benar-benar melupakanku. Aku memang anak yang tak diinginkan ..." isak Ella.
Ima terdiam, dia tak bisa menjawab. Cerita Ella masih membuat hatinya terkejut, karena baru kali ini Ella mau menceritakan tentang kehidupannya.
Setelah lelah menangis, Ella pun tertidur. Ima menatap Ella dan menghapus air mata yang tersisa di wajah sahabatnya.
Perlahan Ima keluar, dan duduk merenung. Kasihan sekali Ella.. Dia punya keluarga, tapi tak menginginkannya hingga ia harus berjuang hidup sebatang kara seperti ini.
Di tengah lamunannya, ponsel Ima bergetar.
"Malam Kak," jawab Ima terdengar sedih.
"Im, kamu kenapa?" tanya Ferry.
"Nggak papa, Kak," jawab Ima.
"Ella gimana Im, masih nangis?" tanya Ferry khawatir
"Sudah tidur Kak, mungkin kelelahan menangis," jawab Ima.
"Ya sudah kamu juga buruan tidur, sudah malam," ucap Ferry.
"Iya Kak, makasih," jawab Ima.
Setelah mematikan sambungan telepon, Ima beringsut dari duduknya dan masuk ke kamarnya.
###
Seperti tak terjadi sesuatu, Ella bangun seperti biasa. Menyibukan diri di dapur, dan membangunkan Ima untuk sholat subuh.
Ima yang biasanya sudah untuk dibangunkan, pagi ini langsung terbangun begitu Ella memanggilnya. Melihat Ella sudah memasang senyumnya kembali, Ima merasa lega. Ia segera mandi kemudian melakukan kewajibannya.
"Im, itu tehnya diminum dulu. Ini aku buat nasi goreng, sisa nasi semalam, sayang kalau dibuang," ucap Ella begitu melihat Ima sudah duduk.
"Enak nggak tuh nasi gorengnya," canda Ima sambil menyesap teh hangatnya.
"Hihi.. Cobain aja deh" jawab Ella tertawa, kemudian ikut duduk di dekatnya.
"La, krupuknya di goreng kapan?" tanya Ima sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Enak Im?" tanya Ella menatap Ima.
"Kamu mending buat donat aja deh La," gurau Ima sambil tertawa.
Penasaran, Ella menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Hehe.. Maaf.. keasinan ya," ucap Ella tersipu.
"Hahaha.. Nasi goreng beli aja deh di Pak Karmin," canda Ima tertawa.
"Ih.. Ima.. Kan namanya belajar, lagikan asin nya cuma sedikit ini," rajuk Ella tertawa kecil.
"La.. Kata Ibu, kalau masak asin tuh mau kawin," ucap Ima tertawa.
"Hah? Ngawur ih!" jawab Ella ikut tertawa.
Mereka menghabiskan sarapan sambil bercanda.
Teruslah tersenyum La, jangan menangis lagi, ucap Ima dalam hati melihat Ella sudah bisa tertawa.
"Im, aku antar kue ke warung-warung dulu ya. Kamu tidur lagi nggak?" tanya Ella sambil mengangkat wadah-wadah kue.
"Aku ikut ah," jawab Ima membantu Ella membawa wadah kuenya.
###
"La.." Denis tiba-tiba sudah berada di belakang Ella.
"Kak Denis, kok tumben pagi-pagi sudah datang?" tanya Ella begitu membalikkan badannya.
"Hehe.. Tau nih bisa bangun pagi. Kamu habis dari kantin ya," tanya Denis menjejeri langkah Ella.
"Iya Kak, biasa apel," canda Ella tersenyum.
"Kue buatanmu selalu habis kan La?"
"Puji Tuhan habis terus, Kak."
"Syukurlah. Besok Minggu kita jalan yuk. Sama Arka dan Farah," sambung Denis.
"Boleh ajak teman nggak, Kak?" tanya Ella pelan.
"Ima ya? Ajak aja nggak papa. Nanti Arka yang jemput kalian pake mobil kok," jawab Denis tersenyum.
"Jam berapa Kak?"
"Jam 9-an bisa? kamu kerja jam berapa?"
"Besok Minggu Ella sudah nggak kerja di cafe Balones lagi. Awal bulan baru kerja lagi. Mampir ya nanti," jawab Ella tersenyum.
"Loh kenapa pindah? Ada masalah?" tanya Denis kaget.
"Nggak Kak, mau coba suasana baru."
"Ya sudah, kabari alamatnya aja. Terus tuh HP di buka chatnya. Arka ngomel-ngomel tuh, katanya chatnya sudah dua hari nggak kamy baca," ucap Denis menatap Ella.
"Hihi.. Lupa, Ella nggak megang HP sudah 3 hari."
"Ya ampun La.. Punya HP nggak pernah dibuka? Pantes aku chat juga nggak dibaca.." Denis geleng-geleng kepala.
"Hehe.. Maaf Kak. Nanti pulang sekolah Ella cek ya."
"Sudah sana masuk kelas."
"Bye Kak," ucap Ella berjalan masuk ke dalam kelas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya agar tetap semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih.❤...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah teman teman mengejek Eh kakaknya juga ikutan ...
Tapi YG membuat Tambah sedih mama nya kok cuek Amat...