NovelToon NovelToon
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

​Mobil sedan putih milik Siham perlahan memasuki sebuah gang yang asri, jauh dari kebisingan pusat kota dan gedung-gedung pencakar langit yang angkuh. Begitu ia sampai di depan sebuah pagar besi hitam yang kokoh, jantungnya yang sejak pagi terasa tegang mendadak melunak. Halaman itu sangat luas, dipenuhi pohon mangga dan beberapa tanaman hias yang dirawat dengan sangat telaten.

​Di tengah halaman itu berdiri sebuah rumah lama dengan arsitektur tahun 80-an yang masih sangat terjaga. Rumah itu menolak untuk menua, persis seperti pemiliknya. Dulu, berkali-kali Siham membujuk Ayahnya untuk merenovasi rumah ini agar tampak seperti rumah mewah modern seperti saat ini, namun sang Ayah selalu menolak dengan lembut.

​"Rumah ini punya nyawa, Ham. Setiap sudutnya ada bau Bundamu. Kalau direnovasi, nanti Ayah tidak bisa lagi mendengar suara Bundamu di dapur," begitu alasan yang selalu diucapkan sang Ayah. Pada akhirnya, Siham hanya diizinkan membangun tembok keliling yang tinggi untuk keamanan, sementara bangunan utama tetap dibiarkan asli, dengan ubin semen warna abu-abu yang sejuk dan jendela kayu jati yang lebar.

​Siham turun dari mobil. Begitu pintu terbuka, aroma tanah basah dan melati menyambutnya. Di teras rumah, seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya namun dengan raut wajah yang teduh, berdiri dari kursi rotannya. Matanya yang mulai mengeruh karena usia seketika berbinar saat melihat sosok putri kesayangannya.

​"Siham?" suara Ayah terdengar serak namun penuh kegembiraan.

​"Ayah!" Siham berlari kecil, mengabaikan statusnya sebagai editor senior yang disegani. Di depan pria ini, ia kembali menjadi anak kecil yang butuh perlindungan.

​Siham memeluk Ayahnya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di bahu pria yang selalu menjadi pahlawannya. Hangat. Sangat berbeda dengan pelukan Dewangga yang terasa kaku dan penuh tekanan. Pelukan Ayah adalah rumah yang sesungguhnya.

​"Lho, kok pagi-pagi sekali sudah sampai sini? Dewangga mana? Dia tidak ikut?" tanya Ayah sembari melepas pelukan dan menatap ke arah mobil, mencari sosok menantu yang selalu ia bangga-banggakan.

​Siham sempat terdiam sejenak. Ia sudah menyiapkan ribuan alasan, namun melihat tatapan tulus Ayahnya, ia hanya bisa tersenyum tipis sebuah senyuman yang sudah ia edit sedemikian rupa agar tidak terlihat seperti luka.

​Ayah terdiam melihat senyum itu. Sebagai pria yang sudah hidup puluhan tahun, ia menangkap sesuatu yang tidak tersampaikan lewat kata-kata. Tanpa perlu penjelasan panjang, Ayah mengangguk pelan. "Ayah paham, Nak. Dewangga pasti sedang sibuk sekali di kantor, ya? Proyek besarnya belum selesai? Tidak apa-apa, Ayah mengerti."

​Siham merasakan tenggorokannya tercekat. Ayahnya selalu memberikan pengertian yang luar biasa besar untuk orang yang bahkan tidak pernah meluangkan waktu lima menit untuk meneleponnya.

​"Iya, Ayah. Mas Dewangga tadi ada rapat mendadak. Jadi Siham saja yang mampir," bohong Siham, namun kali ini bohongnya terasa lebih ringan karena ia melakukannya demi menjaga hati sang Ayah. "Tapi lihat, Siham bawa sesuatu untuk Ayah!"

​Siham mengangkat kotak bekal yang sejak pagi ia siapkan. "Siham bawa bekal sarapan. Kita sarapan bareng di dalam, ya? Siham rindu duduk di meja makan lama kita."

​Mata Ayah berbinar antusias. "Kejutan sarapan pagi? Wah, Ayah baru saja mau menyeduh teh. Ayo masuk, ayo!"

​Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam rumah masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Foto-foto keluarga termasuk foto almarhum Bunda yang sedang tersenyum terpampang di dinding ruang tamu. Dulu, rumah ini selalu penuh dengan tawa dan aroma masakan Bunda. Setelah Bunda tiada, Ayah tetap menjaga kehangatan itu. Ia tidak membiarkan rumah ini menjadi dingin atau berdebu.

​Siham menata kotak bekalnya di atas meja makan kayu yang permukaannya sudah agak aus namun bersih mengkilap. Ia mengeluarkan nasi goreng rempah kali ini tanpa beban harus memikirkan apakah bumbunya terlalu tajam atau letak sendoknya simetris. Di sini, ia bebas.

​"Wah, nasi goreng buatanmu memang aromanya tidak ada yang mengalahkan," puji Ayah sembari menarik kursi kayu untuk Siham. "Dulu Bunda selalu bilang, kamu punya 'tangan emas' kalau masak rempah."

​Mereka makan dalam suasana yang sangat berbeda dengan jamuan di rumah mertua Siham semalam. Tidak ada grafik saham yang dibahas, tidak ada tuntutan penampilan, tidak ada sindiran tentang psikiater. Hanya ada percakapan tentang pohon mangga yang mulai berbuah dan kenangan-kenangan masa kecil.

​"Ham," ucap Ayah di tengah makannya, "Ayah bangga sekali padamu. Meskipun sudah jadi orang sukses di Jakarta, kamu tidak lupa jalan pulang ke rumah tua ini."

​Siham menunduk, air matanya nyaris jatuh ke dalam nasinya. Ia teringat perlakuan Dewangga yang menganggap Ayahnya hanya sebagai mantan asisten rumah tangga yang harus tahu diri.

​"Siham yang harus berterima kasih, Yah. Karena Ayah, Siham tahu apa artinya disayangi tanpa syarat," bisik Siham lirih.

​Siham memandangi Ayahnya yang makan dengan lahap. Di kepala Siham, ia mulai menyusun sajak baru untuk buku Aksara Renjana-nya. Sebuah sajak tentang "Pintu Kayu yang Selalu Terbuka", tentang cinta yang tidak butuh pilar marmer untuk terasa mewah.

​Makan bersama Ayah pagi ini bukan sekadar sarapan biasa. Bagi Siham, ini adalah ritual penyembuhan. Di sini, ia bukan editor yang sedang ngelantur, melainkan seorang anak yang sangat dicintai. Ia menyadari satu hal: Dewangga boleh saja menguasai hartanya dan mengikat statusnya, tapi Dewangga tidak akan pernah bisa memiliki jiwa Siham yang akarnya tertanam kuat di rumah sederhana ini.

​Siham menatap tembok keliling yang ia bangun. Tembok itu bukan untuk membatasi Ayah, tapi untuk melindungi satu-satunya sisa kebahagiaan yang ia miliki. Pagi ini, Siham makan dengan tenang, mengumpulkan tenaga sebelum ia kembali ke dunianya yang penuh sandiwara. Ia tahu, setelah dari sini, ia akan bertemu dengan tim manajemen untuk membahas naskah Surat Pamit-nya.

​Dan bekal yang ia bawa tadi, nyatanya bukan hanya untuk mengenyangkan perut Ayah, tapi untuk memberi makan keberanian di hatinya sendiri agar ia sanggup berkata: cukup.

1
Maya Lara Faderik
cerita yang memilukan penuh luka tak dapat dibayangkan kalau didunia nyata,kalau ia pun Kalian dijodohkan Dewangga jangan lah membenci siham , memarahi nya juga siham hanya dituntut oleh kedua orang tua kalian lagipun mantan mu yang mengkhinat meninggalkan dirimu tapi kenapa harus siham tempat kau melempias kemarahan dan kebencian,lelaki yang teregois,angkuh dan tersombong didunia novel ...adakah aku patut bersyukur itu hanya mimpi untuk menyedarkan Dewangga...tapi hatiku masih sakit kerana menangis terisak2 ,... hidung ku tersumbat banyak mengeluarkan air mata...Thor..karyamu sangat membuat ku terbawa perasaan ..terrrbaik thorr...
Maya Lara Faderik: Amin 🙏🙏🙏
total 4 replies
sukensri hardiati
sukaa....nggak nyangka klo dewangga cuma mimpi...tak kira ceritanya mengulang waktu....yaaah...efeknya sama sih...ngadih dewangga kesempatan buat memperbaiki semuanya ....
sukensri hardiati
aduuuh....tamatnya jangan begini laah....
sukensri hardiati
semoga bapak siham juga selamat....sehat sampai punya cucu
Sherly Neovita
🥰
Erna Nurwahyu
😭😭😭😭😭jahat banget sih Thor ini mata sampe bengkak karna nangis terus part ini😭😭😭😭
Erna Nurwahyu
aku nangis terus part ini😭😭😭😭
Mas Nunah
aku nangis nangis baca novel ini
Ainun Nasir
ya Ampun kaget banget pas di akhir ada tulisan tamat
blcak areng: Maaf Kak🙏
total 1 replies
Charlie Si Pendiam
kok tamat sih Thor, sudah melow berat🤭
blcak areng: Maaf ya kak 🙏
total 1 replies
Uthie
Apakah Judul itu kelanjutannya????
Uthie: Yaaaa..😢😢😢
total 2 replies
Uthie
Yaaa...koq Tamat aja 😢😢😢😢
Bunga
sedih banget/Sob/
Uthie
Semoga masih ada kesempatan untuk kalian hidup bahagia yaaa.... not Sad Ending 👍👍👍
Uthie
💞💞💞💞
Haryati Atie
thoor ini ga ada cerita unboxing kli ya , ku kira cerita bakal bede sma mimpi dewangga .
Uthie
Masihkah mereka dapat bersatu dan mengubah takdir 😢
Uthie
Semoga di kesempatan kali ini, mereka bisa bersama selamanya 😢
Uthie
Nexxxttt.... lagiiii
Uthie
syukurlah...bisa kembali bersama merubah kejadian tragis di masa depan 👍👍😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!