NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gemuruh di Balik Tenang

Dinding kayu penginapan itu seolah ikut membeku, menjadi saksi bisu bagi seorang lelaki yang biasanya setenang telaga kini tengah berperang dengan badai di dalam dadanya.

Senja duduk di tepi ranjang yang berderit pelan setiap kali ia menggeser posisi. Matanya menatap kosong ke arah jendela, di mana siluet pepohonan menari mengikuti irama angin yang mulai mendingin.

Di luar sana, matahari hampir tergelincir sepenuhnya, menyisakan gurat merah jingga yang tampak seperti luka di cakrawala yang kian menggelap.

Ia terheran-heran pada dirinya sendiri.

Sejak kapan seorang Senja, yang tumbuh besar dengan logika baja dan kendali diri yang begitu rapat, bisa begitu mudah terpancing oleh kehadiran orang asing? Mengapa pertemuan singkat dengan lelaki bernama Arkala itu sanggup meruntuhkan benteng ketenangannya hingga ia bersikap begitu spontan—bahkan hampir kasar?

"Bukan begini caramu, Senja," bisiknya pada sunyi yang merambat di sudut kamar.

Ia teringat betapa sulitnya ia membangun jembatan kepercayaan dengan Arunika. Setiap kata yang ia ucapkan sebelumnya telah ia timbang dengan hati-hati, seperti seorang pengrajin kaca yang takut karyanya pecah berantakan.

Satu langkah salah, satu ledakan emosi yang tidak perlu, bisa membuat Arunika kembali menarik diri ke dalam cangkangnya yang dingin dan tak tersentuh.

Ia tak ingin Arunika merasa ilfeel atau menganggapnya sebagai pemuda kota yang arogan dan temperamental.

Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak.

Ia memutuskan, mulai detik ini, ia akan menghadapi Arkala dengan kesopanan yang paling tinggi.

Ia akan menunjukkan bahwa ia adalah pria yang berkelas, bukan karena materi yang ia bawa, melainkan karena kemampuannya menguasai diri.

Meskipun jauh di lubuk hatinya ada percikan cemburu yang masih membara, ia akan membungkusnya rapat-rapat dengan sikap yang paling tenang. Ia ingin Arunika melihat bahwa ia adalah sosok yang dewasa dan stabil.

Pintu kamar berderit pelan, memutus arus pikirannya.

Ayahnya melangkah masuk dengan langkah yang berat namun berwibawa.

Pria itu mendapati sang putra tengah melamun dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah pemandangan yang jarang ia lihat dari anak laki-lakinya yang biasanya selalu fokus pada tujuan.

"Senja? Kamu kenapa? Seperti orang yang sedang kehilangan arah saja," tegur papanya lembut. Suaranya rendah, namun penuh dengan perhatian seorang ayah yang tajam.

Senja tersentak, bahunya sedikit menegang sebelum ia segera membenarkan posisi duduknya.

Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Ah, nggak apa-apa, Pa. Ini... lagi anu, cuma lagi memikirkan konsep buat rencana kita kemarin. Ada beberapa bagian yang rasanya masih kurang pas di hati."

Papanya manggut-manggut, meskipun kerutan di dahinya menyiratkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya.

Baginya, Senja adalah buku yang terbuka, namun kali ini ada halaman yang seolah sengaja dilem rapat oleh anaknya itu.

"Yaudah, kalau kamu memang lagi nggak sibuk, temani Papa sebentar. Mari kita lihat bagaimana perkembangan bisnis kita di sini.

Udara di luar sedang bagus, barangkali jalan-jalan sebentar bisa memberikanmu inspirasi yang lebih segar."

Senja mengangguk setuju. Barangkali, berjalan keluar adalah satu-satunya cara untuk mendinginkan kepalanya yang terasa mendidih. "Baik, Pa."

Langkah kaki mereka membawa mereka menyusuri area terbuka di sekitar penginapan.

Namun, baru beberapa langkah berjalan, pemandangan di bawah pohon damar besar itu kembali menjadi ujian pertama bagi janji yang baru saja Senja buat di dalam kamar tadi.

Di sana, di bawah naungan dahan-dahan yang gemerisik dimainkan angin, Arunika sedang duduk berdampingan dengan Arkala.

Mereka terlihat begitu santai dan akrab, sebuah kedekatan yang terasa sangat alami dan tanpa jarak, seperti dua orang yang sudah tumbuh bersama sejak kecil.

Arkala dengan telaten membantu Arunika merajut selembar benang wol, memberikan saran tentang simpul yang salah dengan nada bicara yang santai.

Tawa renyah sesekali meledak di antara mereka, sebuah kehangatan yang membuat siapa pun yang melihatnya tahu bahwa ada ikatan kuat yang mendasarinya.

Senja menarik napas panjang sedalam mungkin, membiarkan oksigen dingin yang menusuk memenuhi paru-parunya.

Dadanya berdenyut, ada rasa perih yang aneh saat melihat Arunika bisa tertawa selepas itu dengan pria lain.

Namun, ia mengingat janjinya. Ia mengunci rahangnya kuat-kuat, memastikan tidak ada otot wajah yang menegang.

Wajahnya kembali alem—tenang, datar, dan tak terbaca, persis seperti permukaan danau di pagi buta.

Lihat saja nanti, batinnya sembari terus melangkah mengikuti ayahnya tanpa menoleh lagi. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa jauh lebih dekat dengannya tanpa perlu menggunakan amarah. Kesabaran adalah permainan yang paling kukuasai.

Sementara itu, di bawah pohon damar, angin berembus membawa aroma udara yang bersih dan segar.

Arkala menghentikan gerakan tangannya pada benang rajutan, lalu menatap Arunika dengan tatapan yang melindungi.

"Gimana kabar kamu selama aku tinggal, Ika?" suara Arkala terdengar ringan, namun jelas menyiratkan rasa ingin tahu yang tulus.

Arunika tersenyum tipis, matanya tetap fokus pada rajutan di tangannya. "Jujur, aku ngerasa sepi sih.

Tapi aku tahu kamu juga punya urusan yang nggak kalah penting di sana. Hidup kan memang harus terus berjalan."

"Tapi kenapa nggak pernah chat atau telepon?" Arkala bertanya lagi, kali ini dengan nada bicara yang lebih santai, seperti sedang mengomel pada adik sendiri. "Pas aku chat sama nelpon juga jarang sekali diangkat."

Arunika menghela napas panjang. Ia menyelipkan seuntai rambut yang terbang tertiup angin ke balik telinganya.

"Ya gimana ya... di sini aku lumayan sibuk. Jaringannya juga sering hilang-hilangan, kamu tahu sendiri kan. Lagian, aku nggak mau ganggu konsentrasi kamu. Kamu pasti punya banyak hal yang harus diurus di sana."

"Enggak lah," sanggah Arkala tenang. "Kalau kamu ada apa-apa, atau kalau kamu sekadar merasa sepi dan butuh teman bicara, harusnya kamu kasih tahu aku aja."

Hening sejenak di antara mereka. Hanya suara angin yang mengisi kekosongan. Arkala kemudian melirik ke arah jalan di mana Senja baru saja berlalu bersama ayahnya.

"Terus... si cowok tadi, siapa itu? Dia sering gangguin kamu nggak selama aku nggak ada?" Arkala bertanya dengan nada menyelidik.

"Kelihatan banget dari gelagatnya, dia itu kayak lagi berusaha banget mau deketin kamu."

Arunika tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gemerincing lonceng yang ditiup angin.

Kali ini ia mendongak, menatap Arkala dengan tenang.

"Sebenarnya dia orang baik kok. Mungkin tadi dia cuma kaget saja melihat kamu datang tiba-tiba. Dia itu orangnya cukup sopan. Pas awal-awal dia ke sini, justru aku yang agak jutek sama dia. Mungkin dia mikirnya aku nggak gampang dekat sama orang baru, trus pas kamu datang kesini kita kaya deket banget, mungkin makanya dia jadi bersikap seperti itu."

"Serius kamu jutekin dia?" tanya Arkala, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil yang terlihat puas.

Arunika mengangguk pelan sambil tersenyum simpul.

"Yah, baguslah kalau begitu. Biar dia tahu rasa sedikit," ujar Arkala santai. Ia kembali mengambil jarum rajut dengan gerakan yang luwes.

"Biar dia sadar kalau nggak semua orang bisa langsung akrab hanya dengan sekali sapa. Kamu kan memang punya benteng yang tinggi buat orang baru."

Arunika hanya terdiam, tidak membalas ucapan Arkala.

Ia kembali menunduk menatap rajutannya. Angin kembali berembus, menggugurkan beberapa helai daun ke atas pangkuan Arunika.

Di kejauhan, lampu-lampu penginapan mulai menyala satu per satu, menandakan waktu istirahat telah tiba, meski pikiran orang-orang di dalamnya justru baru saja memulai perjalanan yang panjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!