Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Malam itu, mansion Arkananta tidak lagi terasa seperti istana yang megah, melainkan sebuah ruang hampa yang dipenuhi oleh hantu-hantu masa lalu. Aeryn masuk ke dalam rumah dengan langkah terhuyung, rambutnya berantakan karena angin malam, dan tangannya mencengkeram kaset kecil itu seolah hidupnya bergantung pada benda plastik tersebut.
Xavier sudah berdiri di lobi, wajahnya tegang. Ia baru saja kembali dari rumah Baskara setelah Hugo melepaskan pengawasannya. Begitu melihat Aeryn, Xavier langsung menghampirinya, mencengkeram kedua bahu istrinya dengan cemas.
"Aeryn! Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi di sana?" tanya Xavier, suaranya parau.
Aeryn tidak menjawab. Ia hanya menatap Xavier dengan mata yang kosong, lalu perlahan mengangkat tangannya, menunjukkan kaset hitam kecil dengan label "Sel C-12".
"Aku menemukannya, Xavier," bisik Aeryn. Suaranya pecah. "Aku menemukan suara Ibu."
Xavier menatap benda itu sejenak, lalu menatap wajah Aeryn yang pucat pasi. Ia mengerti. Tanpa banyak bicara, ia membimbing Aeryn menuju ruang kerja pribadinya yang kedap suara. Ia menyuruh Hugo berjaga di luar dan tidak membiarkan siapa pun masuk.
Di dalam ruangan, Xavier mengambil sebuah pemutar kaset lama dari laci lemari besinya. Ia meletakkannya di atas meja jati yang luas. Aeryn duduk di kursi, tubuhnya gemetar hebat.
"Kau siap?" tanya Xavier lembut. Tangannya berada di atas tombol play.
Aeryn mengangguk pelan, meski sebenarnya ia ingin lari sejauh mungkin. Ia ingin tahu, tapi ia takut hancur.
Klik.
Suara desis memenuhi ruangan selama beberapa detik. Kemudian, terdengar suara gesekan kain, diikuti oleh suara napas yang pendek dan berat. Napas seseorang yang sedang berjuang melawan sesak yang luar biasa.
"Halo... Aeryn..."
Aeryn tersentak. Suara itu. Meskipun sangat lemah dan serak, itu adalah suara yang selalu ia dengar dalam mimpinya. Suara Maryam Valerine.
"Jika kau mendengar ini... artinya aku sudah tidak ada. Aeryn, anakku... jangan salahkan dirimu atas apa yang terjadi padaku. Maafkan Ibu karena tidak bisa melihatmu tumbuh besar."
Aeryn menutup mulutnya dengan tangan, air matanya mulai tumpah tanpa suara. Xavier berdiri di belakangnya, meletakkan tangannya di bahu Aeryn, memberikan kekuatan yang ia sendiri tidak tahu apakah cukup.
"Aku tidak sakit jantung, Aeryn," suara Maryam di kaset itu terputus oleh batuk yang menyakitkan. "Ratna... wanita itu... dia datang ke selku setiap minggu. Dia bilang dia membawa obat dari rumah, perintah dari Baskara. Tapi setiap kali aku meminumnya, paru-paruku terasa seperti terbakar. Aku tahu... dia menukar obat asmaku dengan sesuatu yang lain. Dia menyuap sipir bernama Herman untuk membiarkannya masuk tanpa catatan medis."
Aeryn memejamkan mata. Jadi Herman benar-benar terlibat, namun pria itu akhirnya mencoba menebus dosanya sebelum ia sendiri dibungkam.
"Ratna mengatakannya padaku semalam... sambil tersenyum. Dia bilang dia akan menjadi ibu barumu. Dia bilang Baskara sudah lama menginginkan aku pergi agar Valerine bisa menjadi milik mereka berdua. Aeryn... jangan percaya pada mereka. Lindungi dirimu... lindungi warisan kita..."
Suara di kaset itu semakin mengecil, diikuti oleh suara erangan pelan yang menyayat hati. Suara Maryam yang sedang meregang nyawa sendirian di dalam sel yang dingin, dikhianati oleh suami yang ia cintai dan dibunuh oleh wanita yang ia anggap teman.
"Baskara... kenapa kau tega..."
Itulah kalimat terakhir Maryam sebelum rekaman itu hanya menyisakan suara yang panjang.
Xavier segera menekan tombol stop. Keheningan yang menyusul setelahnya terasa lebih menyakitkan daripada suara rekaman tadi. Aeryn menunduk, bahunya berguncang hebat. Ia menangis tanpa suara, sebuah tangisan yang berasal dari lubuk jiwa yang paling dalam.
"Dia membunuhnya," isak Aeryn. "Ibu Bianca benar-benar membunuhnya. Dan Papa... Papa melihatnya terjadi."
Xavier tidak langsung menjawab. Ia mengambil kaset itu, menatapnya dengan pandangan dingin. Lingkaran setan ini jauh lebih kotor dari yang ia bayangkan.
"Xavier," Aeryn mendongak, matanya merah dan penuh dendam. "Aku ingin mereka membayar. Aku tidak ingin mereka sekadar masuk penjara. Penjara terlalu baik untuk mereka. Ibu menderita selama setahun di sana sebelum mati. Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya... perlahan-lahan."
Xavier mengangguk. Ia berlutut di depan Aeryn, menggenggam tangannya yang dingin. "Kita akan melakukannya, Aeryn. Dengan caramu. Valerine Jewels sudah di tanganmu, tapi itu tidak cukup. Kita akan mencabut setiap helai kenyamanan dari hidup mereka sampai mereka memohon untuk mati."
"Papa juga harus hancur," desis Aeryn. "Dia menyimpan kaset ini selama dua puluh tahun. Dia mendengar suara Ibu merintih, dan dia tetap bisa tidur di samping wanita itu setiap malam. Bagaimana manusia bisa sejahat itu?"
"Orang-orang seperti Baskara adalah pengecut, Aeryn. Mereka lebih takut kehilangan posisi mereka daripada kehilangan nurani," Xavier berdiri, suaranya berubah menjadi sangat dingin dan profesional. "Besok, aku akan menyiapkan draf proyek investasi untuk wilayah Kalimantan. Tanah yang dulu pernah ingin dibeli ibumu, tapi digagalkan oleh Baskara."
Aeryn menghapus air matanya. "Tanah di dekat Samboja?"
"Ya. Tanah itu sekarang sudah tidak bernilai karena masalah limbah industri yang disembunyikan pemerintah daerah. Tapi di mata orang awam yang serakah, itu masih terlihat seperti emas hitam. Kita akan membuat Baskara mengira itu adalah jalan keluarnya untuk kembali kaya."
Aeryn menatap Xavier. "Dia akan memberikan semua sisa hartanya untuk itu."
"Tepat sekali," sahut Xavier. "Kita akan memberinya harapan, lalu kita akan menarik tanah itu dari bawah kakinya."
Xavier berjalan menuju jendela besar, menatap kegelapan malam Jakarta.
Ia berbalik, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aeryn," panggil Xavier pelan.
"Ya?"
Xavier melangkah kembali ke meja, lalu mematikan lampu ruangan hingga hanya menyisakan pendar lampu jalan yang masuk dari jendela. Ia menatap kaset di tangannya, lalu menatap Aeryn dengan ekspresi yang sangat keras.
"Ada satu hal yang harus kau sadari dari rekaman ini," ucap Xavier, suaranya terdengar seperti bisikan kematian.
"Apa?"
"Baskara tidak hanya menyimpan kaset ini karena rasa bersalah. Dia menyimpannya sebagai asuransi untuk mengancam Ratna jika wanita itu mencoba meninggalkannya," Xavier menjeda sejenak, matanya berkilat penuh amarah. "Dia tahu semuanya, Aeryn. Sejak hari pertama ibumu mulai batuk-batuk di rumah itu, Baskara sudah tahu. Dia membiarkan istrinya dibunuh sedikit demi sedikit demi wanita itu. Dia adalah kaki tangan yang paling nyata."
Aeryn terpaku. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras dari ledakan apa pun. Ayahnya bukan sekadar pengecut yang menutup mata; ayahnya adalah orang yang memegang payung saat ibunya tenggelam.
"Maka dia harus menjadi orang pertama yang jatuh miskin di jalanan," ucap Aeryn dengan suara yang kini sekeras batu. "Siapkan kontraknya, Xavier. Aku sendiri yang akan mengantarkannya besok."