Terkadang orang tidak paham dengan perbedaan anugerah dan kutukan. Sebuah kutukan yang nyatanya anugerah itu membuat seorang Mauryn menjalani masa kecil yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DessertChocoRi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab- 35 Sisa-sisa Kebenaran
Angin malam menggigit. Dedaunan kering berdesir di antara reruntuhan, seolah ikut menelan napas mereka yang masih tersisa.
Revan berhenti di bawah pohon besar, menurunkan ranselnya dengan suara berat.
“Kita istirahat di sini. Aku tak yakin bisa jalan lebih jauh tanpa jatuh.”
Mauryn masih berdiri beberapa langkah di belakangnya, memandang ke arah bukit gelap tempat fasilitas itu tersembunyi. Matanya masih basah, tapi tak lagi menangis.
Ia menatap hampa, seperti pikirannya tertinggal di balik dinding baja yang kini menutup ayahnya.
“Mauryn…” Revan mendekat pelan.
Ia tidak menjawab.
Revan menarik napas pendek, lalu menepuk bahunya lembut.
“Aku tahu kamu ingin kembali. Tapi kalau kita mati di sana, semua ini percuma.”
Mauryn akhirnya berbisik lirih,
“Dia memanggilku, Revan. Aku mendengarnya jelas. Dia sadar. Dia menungguku.”
“Aku tahu,” jawab Revan tenang.
“Dan aku janji kita akan kembali. Tapi kali ini kita harus punya rencana. Tempat itu penuh sistem pertahanan kalau masuk tanpa pikir panjang, kita bahkan tidak sempat menyentuh pintu.”
Daren, yang duduk tak jauh, menatap mereka dengan wajah letih.
“Rencana? Kamu masih berpikir kita bisa menembus tempat itu setelah alarm aktif? Mereka pasti sudah bergerak. Kamu dengar sendiri, bukan? Suara mesin, drone, semuanya.”
Mauryn berbalik ke arahnya.
“Kamu yang bilang ayahku di sana, Daren. Kalau dia masih hidup, berarti ada alasan mereka menyimpannya.”
Daren menunduk, bibirnya mengatup.
“Ya. Tapi alasan itu justru yang harus kamu takuti.”
Revan menyipitkan mata.
“Kamu tahu lebih banyak dari yang kamu akui.”
Daren menghela napas berat.
“Aku hanya teknisi di sana. Aku tidak tahu seluruhnya, tapi… aku dengar rumor. Mereka bilang ayahmu bukan sekadar tahanan, Mauryn. Dia….”
“Dia apa?” tanya Mauryn cepat, matanya menatap tajam.
“Dia penemu sistem itu. Ruangan tempat dia dikurung… dibangun dengan hasil penelitiannya sendiri.” Daren menelan ludah.
Hening. Hanya suara api kecil dari obor darurat yang Revan nyalakan.
“Ayahku yang menciptakan… jebakan itu?” Mauryn menatap kosong.
Daren mengangguk pelan.
“Dia memimpin proyek awal. Tapi setelah kecelakaan besar, dia menghilang. Kami pikir dia mati. Ternyata mereka menyembunyikannya di sana.”
Revan menatap ke tanah, rahangnya menegang.
“Berarti semua ini sudah direncanakan sejak lama. Mereka butuh Mauryn karena dia satu-satunya yang bisa membuka sistem buatan ayahnya.”
Mauryn memejamkan mata, mencoba menelan kenyataan pahit itu.
“Jadi selama ini… aku hanya kunci,” gumamnya pelan.
“Mereka tak pernah peduli siapa aku. Hanya apa yang bisa kulakukan.”
Revan duduk di depannya, nada suaranya lembut tapi mantap.
“Kamu lebih dari itu, Mauryn. Kamu bukan cuma bagian dari proyek mereka. Kamu satu-satunya yang bisa menghentikan semuanya.”
Ia menatapnya, mata mereka bertemu di bawah cahaya obor redup.
“Dan aku akan bersamamu sampai selesai,” lanjut Revan, tegas tapi hangat.
Mauryn menunduk, suaranya bergetar.
“Kenapa? Kamu bisa saja meninggalkanku waktu itu. Kamu tahu aku hanya membawa masalah.”
“Karena aku juga punya alasan sendiri. Kamu bukan satu-satunya yang kehilangan seseorang karena mereka.” Revan tersenyum tipis.
Hening sesaat. Daren menatap dari jauh, tapi tak ikut bicara. Ia tahu, ini bukan waktunya.
Mauryn akhirnya berkata pelan
“Aku ingin tahu segalanya. Tentang ayahku. Tentang proyek itu. Dan tentang kenapa aku… seperti ini.”
“Kita mulai besok pagi. Tapi untuk malam ini, kamu harus tidur.” Revan mengangguk.
Mauryn menatapnya dengan wajah letih.
“Kalau aku tidur, bisikan itu datang lagi. Kadang aku dengar suara orang-orang yang tak kukenal… tapi terasa nyata.”
Revan menghela napas pelan, lalu menatapnya lembut.
“Kalau begitu, aku akan jaga. Aku pastikan tak ada yang mengganggu, bahkan dari dalam mimpimu.”
Mauryn menatapnya beberapa detik mata itu tenang, tapi penuh janji yang entah kenapa membuat dadanya hangat. Ia mengangguk pelan dan duduk di dekat api.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Hanya suara angin dan detak halus api yang sesekali berdesis.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.
Daren tiba-tiba menegakkan kepala.
“Kamu dengar itu?”
Revan langsung siaga, tangannya meraih pistol di pinggang.
“Dengar apa?”
“Langkah kaki. Lebih dari satu,” jawab Daren cepat, matanya menatap ke arah pepohonan.
Revan berdiri, mematikan obor dengan cepat. Kegelapan langsung menelan mereka.
“Mauryn, di belakangku,” bisiknya cepat.
Suara ranting patah terdengar dari kejauhan.
Lalu cahaya senter beberapa titik, menembus kabut malam.
“Mereka menemuk….” Daren berbisik panik
“Diam,” potong Revan cepat.
Cahaya semakin mendekat. Suara langkah berat, disusul bunyi klik senjata.
Mauryn menahan napas, berusaha tidak bergerak. Tapi dari balik semak, ia bisa mendengar isi hati mereka dengan jelas gelombang kebencian dan perintah yang dingin.
“Tangkap gadis itu hidup-hidup. Yang lain tak penting.”
Ia membeku. Jantungnya berdetak cepat.
“Revan,” bisiknya lirih, “mereka… mereka di sini untukku.”
“Kamu yakin?” Revan menatapnya cepat.
“Ya. Aku mendengar mereka. Tiga orang di depan, dua di kanan.”
Revan mengangguk pelan, lalu membisik, “Saat aku bilang ‘lari’, jangan lihat ke belakang.”
Tapi sebelum ia sempat memberi aba-aba, satu peluru menembus batang pohon di atas kepala mereka.
Ledakan kecil menyusul bom kejut. Cahaya putih menyilaukan meledak di antara pepohonan.
“Mauryn, SEKARANG!” teriak Revan sambil menariknya.
Mereka berlari, menembus kabut dan dedaunan. Daren di belakang, terengah-engah tapi tetap mengikuti.
Suara langkah dan tembakan memburu dari belakang.
Revan menoleh sekilas, lalu berteriak, “Ke arah sungai! Kita bisa sembunyi di bawah tebing!”
Mauryn hampir terpeleset di tanah licin, tapi Revan memegang tangannya erat.
“Aku tak akan melepaskanmu!”
Mereka terus berlari sampai suara air deras terdengar.
Tebing curam terbentang di depan.
“Ke mana sekarang!?” teriak Daren panik.
Revan menatap cepat ke bawah.
“Satu-satunya jalan keluar… turun.”
Mauryn menatapnya tidak percaya.
“Kamu gila! Itu tinggi!”
“Kamu percaya padaku?” Revan menatap matanya tajam.
Hening sepersekian detik.
Lalu Mauryn mengangguk cepat. “Percaya.”
“Baik.” Revan menarik tangannya kuat-kuat dan melompat bersama.
Air sungai yang dingin menyambut dengan keras, menenggelamkan suara tembakan di belakang.
Tubuh mereka terhantam arus kuat, terbawa jauh, tapi Revan tak melepaskan tangannya satu detik pun.
Saat akhirnya mereka muncul di permukaan, terengah-engah, Mauryn menatapnya dengan mata lebar antara takut dan lega.
“Kamu baik-baik saja?” Revan mengusap wajahnya yang basah.
Mauryn mengangguk cepat, masih gemetar. “Kamu…kamu benar-benar gila.”
Revan tertawa pendek, suara seraknya nyaris tenggelam oleh deru air.
“Aku sudah sering dengar itu.”
Mereka berdua saling menatap beberapa detik—dan di tengah arus deras, dengan tubuh menggigil dan napas tersengal, keduanya menyadari hal yang sama.
Mereka baru saja melewati sesuatu yang tak akan pernah sama lagi setelah malam ini.
Bersambung…
Jangan lupa like, komen dan Vote yah semua.