Menikah tanpa dasar cinta, akankah bertahan lama ?
Kalaupun berjuang hanya seorang diri, mungkinkah akan bahagia ?
Fira menerima perjodohannya dengan Bara. Namun setelah menikah, Bara memberikan Fira beberapa lembar kertas perjanjian pernikahan mereka. Bara berkuasa atas segala peraturan yang dibuatnya.
"Kenapa kau melakukan semua ini hah?" tanya Fira, gemetar penuh emosi dan tak menyangka.
"Karena aku, tidak pernah menginginkan kehadiranmu!" seru Bara, menyentak Fira.
Bagaimanakah kelanjutan kisah antara Bara dan Fira ?
Apakah pernikahan mereka akan berlangsung lama atau Fira menyerah begitu saja ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertarik Padanya
Pagi ini Fira berangkat lebih pagi ke kampus, Ia juga menyempatkan untuk membuatkan Bara bekal, meskipun kadang Bara tidak membawanya tapi setiap hari Fira selalu membuatkannya.
Namun di pagi ini ada yang beda, Fira menyelipkan sebuah surat di bawah kotak makan Bara.
Fira segera keluar dari gedung apartemen, berjalan menuju jalan raya untuk mencegat Taksi.
Selang 15 menit, ada sebuah mobil yang berhenti di dekat Fira.
" Fira.. " Panggil seorang pria di dalam mobil. Fira yang mendengarnya, mengeriyitkan dahinya, Ia masih berdiam di tempatnya tak menghampiri sumber suara.
" Siapa " ucapnya tanpa suara.
" Fira " Teriak Dion yang kini berdiri keluar dari mobilnya.
" Eh.. Kak Dion " sapa Fira, tersenyum.
" Kau sedang apa disini ? " tanya Dion yang kini menghampirinya.
" Oh, aku sedang menunggu taksi, mau pergi ke kampus "
" Ayo aku antar " tawar Dion dengan semangat.
" Apa tidak merepotkan ? " tanya Fira segan.
" Tidak lah, ayo ! " ajak Dion yang mulai berjalan membukakan pintu mobil untuk Fira. Fira pun tersenyum mengangguk ketika memasuki mobil Dion.
Kini Dion masuk ke dalam mobilnya, dan langsung melajukan mobilnya menuju kampus Fira.
" Sekarang kita jarang ketemu ya " ucap Dion, memulai pembicaraan.
" Iya " ucap Fira dengan malu.
" Oh ya, kamu berangkat dari apartemen XXX, apa kamu tinggal disana sekarang ? "
" Emm iya, sudah satu bulan aku tinggal disana "
" Kau tinggal bersama siapa disana ? " tanya Dion.
" Aku tinggal bersama su- " Fira menghentikan ucapannya.
" aku harus bilang apa padanya " gumam Fira dalam hati, bingung menjawab pertanyaan Dion.
" Bersama siapa ? "
" Em.. sendiri saja "
" Oh " ucap Dion sambil menganggukan kepalanya.
" Ya Allah.. maaf kan aku, lagi-lagi aku berbohong " gumam Fira dalam hati.
" Oh ya waktu itu kamu dan Bara kenapa bisa pergi bersama ? "
" Oh.. itu.. itu "
" Ahhh ya ampun aku harus menjawab apa lagi ini " gumam Fira dalam hati
" Itu apa ? " tanya Dion, melirik ke arah Fira dengan sedikit heran.
" Itu... kebetulan saja dia menemaniku " ucap Fira kembali berbohong, demi menutupi hubungannya dengan Bara.
" Apa kamu tahu kalau Bara sudah beristri ? "
" Emm.. Iya " ucap Fira ragu.
" Apa kamu pernah bertemu dengan istrinya Bara ? soal nya, semenjak dia menikah, aku tidak pernah melihat istrinya, kalaupun aku berkunjung ke rumah Om Hito juga, Om bilang istrinya tinggal di apartemen XXX bersama Bara " ucap Dion.
" Kau kan tinggal di apartemen XXX itu, apa kau sering bertemu dengannya ? " tanya Dion penasaran.
" Em.. iya " ucap Fira ragu. " Ya Allah... aku harus membuat kebohongan apalagi ini " gumamnya dalam hati, tak enak kepada Dion karena harus berbohong.
Dion sejenak melirik ke arah Fira, dilihatnya mimik wajah Fira seperti orang gelisah, yang seakan memikirkan sesuatu hal yang begitu berat.
" Kenapa aku merasa ada yang aneh ya, apa Fira sedang menyembunyikan sesuatu dariku? " gumam Dion dalam hati.
Kini Dion menghentikan mobilnya di depan gerbang kampus, Dan segera keluar dari mobil, membukakan pintu mobil untuk Fira.
" Kak Dion, terimakasih ya maaf merepotkan " ucap Fira tersenyum.
" Iya sama-sama " balas Dion tersenyum, ia pun berpamitan kepada Fira dan segera masuk kembali ke dalam mobilnya, dan langsung melajukan mobilnya menjauh dari kampus Fira.
" Ah.. Ya Allah... kenapa harus ada rahasia-rahasia an segala sih " gumam Fira sambil berjalan malas dan tertunduk.
Geduk, " Astagfirullah " ucap Fira.
" Maaf, maaf " ucap Reza, yang tak sengaja menyenggol Fira karena ia terlalu fokus melihat ponsel sambil berjalan.
" Pak Reza " ucap Fira tanpa suara.
" Apa kau tidak apa-apa ? " tanya Reza.
" Ti - tidak apa-apa " ucap Fira sambil memegang sikut lengannya yang tersenggol.
" Oh ya kamu mahasiswi disini ya ? " tanya Reza
" Em.. iya " ucap Fira sambil menganggukan kepalanya.
" Semester berapa ? " tanya Reza
" Semester akhir Pak " ucap Fira. Reza pun menganggukan kepalanya.
" Fira.. " gelegar suara Merry yang memanggil dari arah belakang. Fira dan Reza langsung menoleh ke arah sumber suara. Fira tersenyum, dan kembali menyapa Merry.
Merry pun segera menghampiri Fira dan Reza yang masih tertegun di tempat.
" Hai Pak Reza " sapa Merry dengan nada genit nya, sambil menyibakan sedikit rambutnya ke belakang telinga.
" Loh.. kok kamu tahu nama saya ? " tanya Reza kebingungan.
" Siapa sih yang gak tahu sama dosen ganteng kayak Bapak " ucap Merry dengan genitnya, sambil berlaga seperti wanita pemalu.
" Merry " seru Fira pelan, sambil menajamkan kedua matanya ke arah Merry. Merry yang melihat tatapan Fira, ia pun mendekat ke arah Fira dan berbisik di dekat daun telinga Fira.
" Kesempatan Fir.. " bisiknya.
Reza yang melihat mereka, hanya tersenyum kebingungan.
" Maafin teman saya ya Pak " ucap Fira tak enak.
" Sudah tidak apa-apa " ucap Reza.
Reza pun berpamitan untuk pergi terlebih dahulu kepada Fira dan Merry. Mereka berdua pun mengiyakan. Kemudian Fira dan Merry segera berjalan menuju kelas mereka, disusul oleh Selly yang datang dari arah belakang mengejar Fira dan Merry untuk pergi ke kelas bersama.
***
Bara bangun dari tidurnya, bersiap untuk pergi ke kantor. Pagi ini ia mengenakan kemeja dalam berwarna putih di balut dengan setelan jas berwarna Abu yang warnanya senada dengan celana yang ia kenakan, membuat tampilannya semakin karismatik dan semakin memancarkan ketampanannya.
Bara keluar dari kamarnya, matanya menyapu seluruh ruangan, mencari keberadaan Fira, namun ia tak mendapatinya. Bara pun berjalan menuju dapur untuk membuat kopi. Dan dilihatnya kotak makan berwarna biru yang tertutup rapat, berada di atas meja bar.
Ia menautkan kedua alisnya saat melihat selembar surat yang ada di bawah kotak makan itu, Bara meraih selembar kertas yang berada di bawah kotak nasi itu. dilihatnya isi tulisan dalam kertas itu membuat bibir kaku nya tersenyum lebar, bahkan pupil matanya ikut membesar dan sedikit berbinar ketika sedang membaca isi tulisan dari kertas yang ia pegang.
Selamat pagi Mas Bara
Hari ini Aku berangkat lebih pagi
Ini sarapan untukmu
Semoga suka.
( Isi tulisan kertas dari Fira )
" Ternyata dia bisa romantis juga " gumam nya.
Bara kemudian segera membuat kopi untuk dirinya dan langsung menikmatinya sedikit demi sedikit .
Selesai menghabiskan kopinya, Bara segera keluar dari apartemennya, dan tak lupa bekal yang Fira siapkan, Ia bawa untuk sarapan di kantor.
***
Sesampainya di kantor, Bara segera masuk ke dalam ruang kerjanya yang berada di lantai paling atas di gedung itu.
Bara mendudukan tubuhnya di atas kursi kerjanya, dengan tangan yang masih memegang kotak makan yang ia bawa.
Bara kemudian membuka kotak makan itu, dilihatnya ada dua potong sandwich dan tiga potong nugget ayam dalam kotak yang di sekat.
Bara segera melahap satu potongan sandwich, perlahan ia mengunyah dan menikmati sandwich itu.
" Ternyata sandwich buatan dia enak juga " gumamnya dalam hati sambil terus mengunyah. Bahkan tanpa terasa potongan sandwich pertamanya sudah habis.
" Tok tok tok " suara ketukan pintu terdengar di telinga Bara, dan tak lama Dion masuk ke dalam ruang kerja Bara, dan menghampirinya.
" Pagi... Tuan Bara " sapa Dion mendekati Bara.
" Pagi juga Di " balas Bara.
" Wah tumben nih bawa bekal " ucap Dion, yang melihat kotak makan di atas meja kerja Bara.
" Istri yang buat " ucap Bara. Dion pun mengangguk, sejenak ia berfikir untuk menanyakan tentang Fira kepada Bara, namun ia merasa enggan, tapi rasa penasarannya begitu besar, akhirnya Dion pun memberanikan diri untuk bertanya mengenai Fira kepada Bara.
" Bar.. " panggil Dion yang kini mendudukan tubuhnya di atas sofa tak jauh dari meja Bara.
" Hmm "
" Kau kenal Fira kan ? wanita yang kau temani saat pesta anaknya Om Hendra waktu itu ? tanya Dion
" Kenapa memangnya ? "
" Aku masih penasaran, kenapa waktu itu kau begitu menghawatirkannya "
" Aku hanya di suruh Ayah nya buat menemani dia, jadi sudah tanggung jawabku menjaganya waktu itu " ucap Bara berbohong.
" Benarkah ? lalu istrimu kenapa kau tak mengajknya bersamamu ? " tanya Dion tiba-tiba, mengagetkan jantung Bara hingga Bara sejenak terdiam, bingung harus menjawab apa.
" Istriku waktu itu tidak mau ikut " ucap Bara. Dion menggukan kepalanya saat mendengar alasan Bara.
" Bar, apa kamu tahu ? Fira sekarang tinggal di gedung apartemen yang sama dengan kamu " ucap Dion dengan semangatnya.
" Memangnya kenapa ? " Tanya Bara, yang kini mulai melahap kembali potongan sandwichnya.
" Tidak, aku hanya tertarik saja dengan gadis manis itu " ucap Dion tiba-tiba membuat Bara tersedak sandwich nya. Dan dion segera mengambilkan botol air yang berada di meja dekat sofa. Dan segera memberikannya kepada Bara, Bara pun menyautnya dan segera meneguk air itu.
" Maksud kau apa tertarik dengan Fira ! " seru Bara, yang tiba-tiba berdiri dari duduknya.
Dion sejenak menautkan kedua alisnya, merasa aneh dengan sikap Bara.
" Ya.. A - Aku tertarik padanya " jawab Dion dengan jujur.
Bara menarik nafas nya begitu dalam. Ia terdiam sejenak, pikirannya sedikit terganggu dengan pernyataan Dion.
" Kau jangan mendekatinya ! " seru Bara.
" Kenapa memangnya ? Apa kau sehat ? kau kenapa melarangku mendekati Fira ? " tanya Dion heran, ia sejenak memperhatikan Bara, yang seakan bersikap aneh tak seperti biasanya.
" Sudah ! jangan bahas dia lagi, lagi pula aku tak ada hubungannya dengan dia. Tolong bacakan jadwal meeting aku hari ini ! " ucap Bara, yang kembali mendudukan tubuhnya di atas kursi kerjanya, dan tiba-tiba ia melemparkan kotak makannya yang masih tersisa nugget ayam dan setengah potong sandwich yang tak sempat ia habiskan tadi, ke dalam tong sampah yang ada di dekat meja kerjanya itu.
.
.
.
Bersambung ~~~
Udah segitu aja dulu yak 😂
Jangan lupa LIKE & VOTE nya ya 😘😘😘