NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:620
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

“Kita jalan sekarang.”

Han langsung melangkah berbalik menuju gang sempit di sisi jalan. Nara dan Arga buru-buru mengikuti di belakang sementara dua mobil hitam tadi mulai melambat lebih jauh di ujung blok.

“Apa mereka sudah lihat kita?” bisik Nara.

 “Belum pasti,” jawab Han singkat.

“Itu bukan jawaban yang bikin tenang.”

“Karena memang nggak ada yang tenang.”

Arga menunjuk dirinya sendiri sambil tetap berjalan cepat.

“Nah, itu. Akhirnya dia jujur.”

Gang yang mereka itu agak kecil, hanya cukup untuk motor saja. Lembab dan bau, campuran air hujan dan sampah yang di taruh di samping pintu pintu belakang ruko. Lampu-lampu kecil di dinding atas pintu ruko menyala redup dan sebagian lainnya mati total.

Han bergerak cepat tanpa ragu. Belok kiri, menuruni tangga kecil. Melewati pasar malam yang sudah hampir tutup.

Nara menyadari sesuatu, kalau Han sangat hafal kota ini. Bukan hafal seperti orang yang sering nongkrong. Tapi lebih seperti seseorang yang pernah mempelajari semua jalan keluar.

 “Apa kamu memang nyiapin rute beginian?” tanya Nara sambil berusaha menyamakan langkahnya.

“Dulu.”

“Dulu buat apa?”

Han diam tapi Arga menjawabnya lebih dulu.

“Buat kabur hidup-hidup,” jawab Arga

Nara langsung menoleh. Arga hanya mengangkat bahunya.

“Apa? Gue kan cuma bantu komunikasi.”

Han tetap tidak membantah. Mereka keluar dari area pasar menuju jalan kecil yang jauh lebih sepi. Di kejauhan terdengar suara kereta melintas.

Han melirik jam di lengannya.

“Kita masih sempat,” lanjutnya.

“Sempat buat apa?” tanya Arga.

Han menunjuk ke depan.

Sebuah stasiun kereta tua kecil berdiri di ujung jalan, sebagian cat bangunannya mulai pudar dimakan usia. Tidak terlalu ramai. Hanya beberapa penumpang yang  menunggu di area depan sambil memainkan ponsel.

“Kita naik kereta?” tanya Nara.

“Ikuti saja.”

Han masuk lebih dulu ke area stasiun tanpa membeli tiket. Anehnya, petugas di dekat gerbang bahkan tidak menoleh ke arah mereka. Arga menyadarinya juga.

“…gue nggak mau nanya kenapa kita bisa lewat segampang itu.”

“Bagus,” jawab Han.

Mereka turun melewati lorong sempit di bawah peron. Suara langkah mereka bergema pendek. Nara makin bingung ketika Han justru berhenti di depan pintu besi kecil bertuliskan RUANG TEKNISI.

Han mengetuk pelan dua kali. Lalu diam. Kemudian satu kali lagi.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka sedikit dari dalam. Seorang pria tua bermata sayu mengintip keluar. Begitu melihat Han, alisnya langsung naik.

“Wah….” Pria tua itu terkekeh serak. “Si Setan rupanya masih hidup.”

Han mengangguk kecil.

“Aku cuma numpang lewat.”

Pria tua itu membuka pintu lebih lebar tanpa banyak tanya.

“Masuk dulu sebelum hujan makin deras.”

Ruangan di balik pintu ternyata cukup sempit dan penuh dengan peralatan lama. Ada radio tua menyala pelan di atas meja, rak besi yang berdebu, serta termos kopi yang tampaknya sudah menemani tempat itu selama bertahun-tahun.

Arga langsung menghela napas lega.

“Oke. Tempat ini jelek.” Ia mengambil posisi duduk di kursi plastik. “Artinya aman.”

“Jangan merasa nyaman dulu,” jawab Han.

Nara menatap Han.

“Kamu punya tempat rahasia berapa banyak sebenarnya?”

“Cukup.”

“Itu bukan angka.”

Pria tua tadi mengambil termos kopi dari meja dan menyiapkan beberapa gelas kertas.

“Kamu nggak berubah ya,” katanya kepada Han. “Masih ngomong seperlunya.”

“Lebih hemat energi.”

“Dan tetap nggak lucu.”

Arga langsung mengangkat tangannya.

“Nah, akhirnya ada orang lain yang sadar juga.”

Pria tua itu tersenyum kecil, sambil  menuang kopi ke gelas kertas tanpa bertanya.

“Aku Malik,” katanya singkat pada Nara.

“Nara.”

Malik mengangguk kecil lalu menyerahkan satu gelas kopi hangat ke Han.

“Kamu kelihatan lebih buruk dibanding waktu terakhir kamu datang.”

“Aku rasa juga begitu.”

“Berarti memang parah ya.”

Nara duduk perlahan di dekat meja sambil mencoba menghangatkan tangannya sendiri.

Tubuhnya mulai terasa lelah sekarang. Ketika rasa panik mulai hilang, semua rasa capek dan lelah langsung datang secara bersamaan. Malik memperhatikan Han beberapa detik sebelum akhirnya bertanya,

“Siapa yang ngejar?”

Han diam sebentar.

“…Helios.”

Ruangan langsung sunyi.

Radio tua di meja terdengar mendadak terlalu keras. Malik terdiam, ekspresinya berubah tipis.

“Bangsat.”

Arga langsung menunjuk cepat.

“Nah. Semua orang pasti selalu bilang itu tiap dengar nama mereka.”

Malik tidak tertarik bercanda. Ia menatap Han tajam.

“Kalau kamu bawa mereka ke sini berarti situasinya udah jelek.”

“Belum separah nanti.”

“Kalimatmu menenangkan sekali.”

Han duduk di kursi dekat pintu.

“Aku cuma numpang istirahat beberapa jam saja.”

Malik mengusap dagunya pelan.

“Kalau mereka sudah mulai mencari sampai jalanan…” Ia melirik keluar jendela kecil. “berarti tidak lama lagi kota ini bakal panas.”

Nara memperhatikan semuanya diam-diam. Lagi-lagi reaksi yang sama. Ketakutan, atau setidaknya sangat berhati-hati. Ia bahkan mulai membenci nama Helios, sebelum benar-benar tahu apa itu.

“Aku masih nggak ngerti kenapa mereka mengejar aku,” katanya pelan.

Han menatap lantai beberapa detik.

“Mungkin karena yang kamu lihat lebih penting dari yang kamu kira.”

“Aku cuma lihat data.”

“Kadang data lebih berbahaya daripada senjata.”

Malik mendengus dan mengangguk kecil tanda setuju.

“Terutama buat orang kaya.”

Arga mengambil mi instan cup dari rak kecil dekat meja.

“Boleh minta?”

“Itu pertanyaan sopan pertama yang keluar dari mulutmu,” jawab Malik.

“Jadi boleh?”

“Ambil aja.”

Nara memperhatikan mereka sebentar. Aneh. Di tengah semua kekacauan ini, mereka masih bisa bicara santai soal mi instan. Mungkin memang seperti itu cara orang bertahan. Kalau terlalu serius, bisa bisa, kepala bisa pecah sendiri.

Han berdiri pelan lalu berjalan mendekati jendela kecil. Hujan masih turun. Pantulan lampu rel tampak samar di genangan air. Nara memandangnya beberapa detik sebelum akhirnya bertanya,

“Siapa nama lengkapmu sebenarnya?”

Ruangan sedikit hening. Arga langsung menoleh cepat.

“Eh, iya.”

Malik ikut melirik Han sambil tersenyum tipis.

“Wah. Pertanyaan bagus.”

Han tetap membelakangi mereka. Beberapa detik ia tidak menjawab. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

Lalu akhirnya…“Han saja cukup.”

Arga langsung mengeluh.

“Tuh kan. Misterius lagi.”

“Tapi itu bukan nama lengkap,” kata Nara.

Han menoleh sedikit. Tatapannya lebih lelah dibandingkan dengan udara dingin sekarang.

“Nama lengkap bikin orang lebih mudah kehilangan sesuatu.”

Nara mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti maksudnya. Saat ini, sejak pertama kali bertemu,  Han terdengar seperti seseorang yang sudah kehilangan banyak hal.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!