*HARAP BIJAK*
Tulisan ini mengandung konten dewasa dan dikhususkan untuk yang sudah berusia 18+
Chloe adalah wanita yang dianugerahi dengan tubuh sempurna, hidup berkecukupan dan dikejar banyak lelaki. Setiap orang yang melihatnya sekilas akan menginginkan hidup sepertinya. Namun, tidak dengan dengannya. Apakah yang terjadi pada Chloe?
Mengampuni adalah satu kata yang mudah diucapkan namun sulit bahkan hampir mustahil Chloe lakukan. Masa lalu mengikatnya seperti tali dan mengikutinya layaknya bayangan.
Bagaimana Chloe bangkit dari masa lalu? Akankah ia berhasil melaluinya? Atau justru semakin tenggelam dan larut didalamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SRIYANTI 150317, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awkward moment
Axcel keluar kamar dengan wajah yang sudah kembali segar. Ia menghampiri Marry dan Chloe dengan wajah sumringah. Melihat Axcel, Chloe justru semakin penasaran dengan pria itu.
“Ada apa Chloe? Kenapa menatapku seperti itu?”
“Akhhh, tidak. Aku hanya jarang melihatmu tanpa kacamata.” (Chloe berbohong)
“Oh iya, aku melepasnya. Aku biasanya memakai kacamata jika bekerja. Apa kau sudah makan?”
“Chloe dan nenek sudah makan. Sekarang makanlah Axcel. Kau pasti sudah lapar.”
“Aku belum lapar sama sekali, Nek. Apa saja yang kalian perbincangkan? Jangan bilang bahwa aku adalah topik utamanya?” ucap Axcel dengan nada bercanda.
“Aishhh, kau ini ke geer-an sekali.”
Marry yang melihat tingkah mereka hanya tertawa. Sebenarnya baru kali ini Axcel memperkenalkan seorang wanita pada neneknya. Hal ini tentu membuat Marry bertanya-tanya. Sekalipun dulu Marry memaksa Axcel memperkenalkan seorang wanita padanya, Axcel tak pernah membawanya kecuali Chloe.
“Aku tahu bahwa aku adalah topik pembicaraan kalian terlihat bagaimana nenek dan kau melihatku. Kau menatapku seperti itu bukan karena kacamata kan? Sudah lah, akui saja Chloe. Hahahahaha”
Axcel yang melihat reaksi Chloe yang seolah ketahuan tertawa terbahak-bahak. Chloe yang memegang bantal spontan melemparnya pada Axcel.
“Aishhh, bagaimana dia bisa semenyebalkan ini, Nek?”
“Chloe, kau tahu sifat Axcel yang jarang ia tunjukkan adalah kejahilannya. Dia hanya jahil pada orang-orang tertentu yang nenek sendiri kadang heran melihatnya.”
Telepon Berdering
Mendengar telepon yang berdering, membuat Marry mengangkatnya.
“Hallo, nenek. Aku dan Richard akan sampai dirumah nenek 5 menit lagi.”
“Benarkah? Kebetulan sekali ada Axcel disini. Segeralah tiba, nenek tidak sabar kita berkumpul bersama.”
“Baiklah, nenek. Sampai ketemu disana.”
...****************...
Axcel yang langsung mengetahui siapa yang menelepon bertanya pada Marry.
“Apa Richard dan Michelle akan segera kesini?”
“Yaaaa. Nenek senang sekali kita bisa berkumpul bersama disini. Lima menit lagi mereka sudah sampai.”
Chloe yang mendengarnya bingung harus bersikap bagaimana.
“Nek, sepertinya Chloe harus pulang. Chloe tak enak jika mengganggu nenek dan keluarga.”
“Siapa bilang kau mengganggu Chloe? Nenek akan memperkenalkan mu pada Richard dan Michelle istrinya.”
Mendengar ucapan Marry membuat Axcel dan Chloe justru terdiam dan tak ada yang berbicara. Tentu Marry tak mengetahui apa yang terjadi pada mereka.
Bell pintu berbunyi sebagai pertanda Richard dan Michelle sudah sampai. Marry membukakan pintu dan mengajak mereka masuk ke rumah.
Richard dan Michelle yang tadinya leluasa dan bahagia seketika terdiam melihat keberadaan Chloe. Marry yang menyadari keadaan langsung bertanya.
“Apa kalian saling mengenal?”
“Tentu, Nek. Chloe adalah temanku,” ucap Richard kikuk.
Michelle yang mendengarnya hanya diam dan tak mau merusak keadaan. Ia masih tak suka melihat Chloe namun ia juga tak mau Marry mengetahui apa yang terjadi di antara mereka.
“Kenapa kau tak bilang pada nenek, Chloe?”
“Ehhh, maaf Nek. Chloe hanya tak banyak berkomunikasi dengan Richard jadi Chloe tak kepikiran untuk memberitahu.”
“Aishhh, ada apa dengan anak zaman sekarang. Berbeda sekali dengan zaman nenek dulu. Baiklah, mari kita makan bersama. Michelle dan Chloe, tolong bantu nenek mempersiapkan makanan ya (sambil berjalan kearah dapur).
Michelle dan Chloe bergegas segera untuk membantu Marry mempersiapkan segalanya. Sedangkan Axcel dan Richard memilih berada di sofa menunggu mereka selesai.
“Kenapa bisa Chloe berada di sini?”
“Nenek meminta aku membawanya kerumah.”
“Bagaimana bisa?”
“Pertemuan yang tak disengaja saat membeli es krim dan ada Chloe disana.”
“Akhhh, bagaimana bisa kejadian tak terduga bisa terjadi? ucap Richard frustrasi.
Richard tentu tahu betul bagaimana perasaan Michelle melihat keberadaan Chloe dan perasaan tak enak Chloe berada di antara keluarga Richard.
...****************...
Michelle yang melihat Chloe hanya diam namun tatapannya datar. Sedangkan Marry terlihat sangat bahagia dikunjungi oleh kedua cucunya.
“Michelle, apa kalian baru saja pulang dari kantor dan langsung kesini?”
“Iya, Nek. Kami sangat merindukan nenek.”
“Nenek juga sangat merindukan kalian. Nenek ingin sekali memiliki cucu dari kalian. Kapan kalian akan memberikan cucu pada nenek?”
“Richard dan Michelle sedang mengusahakan nya, Nek.”
Marry yang mendengarnya berhenti sejenak dari kesibukannya dan menghadap pada Michelle.
“Apa ada yang salah dengan kesehatan kalian?”
“Sejauh ini tidak ada, Nek. Hanya saja belum waktunya Michelle hamil. Tetapi, Michelle dan Richard tetap rutin memeriksa kesehatan kita masing-masing agar segera memiliki anak.”
“Syukurlah kalau begitu. Nenek senang mendengarnya.”
Michelle memang cenderung sangat sopan pada Marry dan berhati-hati bersikap pada Marry. Berbeda dengan Chloe yang lebih leluasa dan santai saat berbincang pada nya. Hal itu, menunjukkan perbedaan bagaimana Marry menghadapi Michelle dan Chloe. Marry tentu menyayangi Michelle namun Marry tak banyak tahu tentang Michelle sedangkan Michelle selalu berusaha menyenangkan Marry dengan caranya sendiri.
Setelah makanan dipersiapkan, Michelle memanggil Richard dan Axcel yang terlihat sedang berbincang. Saat makan, mereka hanya membicarakan hal umum. Chloe cenderung lebih banyak mendengarkan dan sesekali menatap Axcel. Axcel seolah tahu arti tatapan Chloe.
Sehabis makan dan membersihkan semuanya, Axcel meminta untuk kembali sambil mengantarkan Chloe. Sedangkan Richard dan Michelle masih bersama Marry.
Axcel dan Chloe berpamitan pada mereka. Michelle bisa melihat bagaimana kedekatan Marry dan Chloe dari cara mereka berpelukan dan berbincang.
“Chloe, nenek tunggu kunjungan mu selanjutnya. Nenek akan mendesak Axcel untuk membawamu kemari,” ucap Marry tersenyum.
“Akhhh, nenek. Chloe akan segera bertemu dengan nenek lagi.”
Axcel menyalakan mesin motornya dan membonceng Chloe. Dalam perjalanan pulang, hujan deras tiba-tiba terjadi. Axcel dan Chloe yang masih berada diantara kemacetan berusaha mencari tempat berteduh. Hingga akhirnya, Axcel membawa motornya di depan sebuah toko yang sedang tutup. Mereka berteduh disana.
Melihat Chloe yang kedinginan membuat Axcel membuka jaket kulitnya dan memberikannya pada Chloe. Chloe langsung menerimanya dan memakaikan pada tubuhnya.
“Maaf karena kau harus kehujanan dan terlambat sampai ke apartemenmu.”
“Tidak apa-apa. Apa kau pawang hujan sampai harus meminta maaf?”
“Hahaha, bukan begitu. Aku hanya tak enak hati. Untuk pertemuan dengan Richard dan Michelle apa itu masalah untukmu?”
“Tentu saja. Apalagi dengan tatapan Michelle padaku. Tapi aku tak mau membuat nenek mengetahui apa yang terjadi karena itu dapat menambah masalah.”
“Responmu cukup bijak. Terimakasih, Chloe.”
Chloe yang mendengarnya, menatap Axcel sesaat dan melihat tak ada kecemasan dalam dirinya. Mengingat apa yang dikatakan oleh Marry tentang Axcel, membuat Chloe sulit untuk menerimanya.
“Kenapa kau menatapku?” tanya Axcel tanpa berpaling pada Chloe.
“A...aku tak menatapmu. Aku hanya melihat jalanan saja. Apa kau selalu kepedean seperti ini?” ucap Chloe dengan kesal.
“Jangan berbohong Chloe. Aku tahu kau menatapku. Jangan sering melakukan hal itu jika tak mau jatuh cinta padaku.”
Mendengar pernyataan Axcel membuat Chloe semakin kesal bahkan ia mencubit kuat lengan Axcel. Axcel yang mendapat cubitan, spontan meringis kesakitan dan menoleh ke arah Chloe.
Sesaat setelah menoleh, sebuah mobil melesat kencang dan membuat cipratan air hujan kearah mereka berdua. Spontan Axcel melindungi Chloe agar air hujan tak mengenainya.
SALAM DAN MAMPIR YA
KE ⚘⚘MENIKAHI PRIA URAKAN⚘⚘
yuk saling soppour
SALAM DAN MAMPIR YA
KE ⚘⚘MENIKAHI PRIA URAKAN⚘⚘
yuk saling soppour
SALAM DAN MAMPIR YA
KE ⚘⚘MENIKAHI PRIA URAKAN⚘⚘
yuk saling soppour
saling dukung sukses bersama kk
feedback nya ya kk🙏
jgn lupa mampir di novelku juga berjudul:
"My Annoying Wife" 🍃🍃🍃
kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowok polos 🍊🍊🍊
ku tunggu like and comment nya ya 🙏🙏☺️
like karya q ya
cinta rasa covid-19
the Thunder's love