NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Publik Tidak Akan Bersimpati pada Manekin

Kabel-kabel hitam tebal menjalar melintasi lantai pualam lobi utama. Lampu sorot memancarkan cahaya menyilaukan ke sudut-sudut ruangan. Tiga juru kamera bergerak lincah memetakan wilayah baru mereka.

Dinda memeluk tabletnya erat-erat, menepi ke dinding dengan wajah tegang. Karyawan divisi desain saling berbisik gugup. Ritme kerja mereka hancur dalam hitungan menit.

Steven Aditya berdiri di tengah kekacauan itu. Jas mahalnya sudah dilepas. Lengan kemeja biru tuanya digulung sampai siku. Dia mengarahkan timnya lewat ketukan jari dan isyarat rahang.

Shanaya melangkah keluar dari lift. Setelan jas putih tulangnya rapi tanpa kerutan. Postur tubuhnya tegak sempurna. Pandangannya sedingin balok es.

"Kamu mengubah kantorku jadi lokasi syuting film aksi," serang Shanaya.

Steven memutar tubuhnya perlahan. Matanya menyapu penampilan Shanaya dari atas ke bawah.

"Mulai hari ini, bahkan cara kamu berjalan akan memengaruhi opini publik." Steven menatapnya tanpa berkedip. "Biasakan dirimu."

Syuting dimulai sepuluh menit kemudian.

Shanaya duduk di ujung meja ruang rapat eksekutif. Kamera menyala. Lampu menyorot. Dia menjelaskan kerangka koleksi musim gugur Kesuma Group kepada timnya. Suaranya stabil. Intonasinya terukur elegan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti rilis pers yang disusun ahli komunikasi. Sempurna. Tanpa celah.

"Cut."

Suara Steven menghentak keras dari balik monitor. Ruang rapat mendadak hening.

Pria itu berjalan mendekati meja Shanaya. Tangannya bertumpu pada pinggiran meja kaca. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Ulangi."

"Ada yang salah dengan penjelasanku?" Shanaya membalas tatapan tajam pria itu. "Datanya akurat."

"Kamu sedang tampil."

"Aku memang sedang direkam, Steven."

"Tidak." Nada suara Steven merendah, hanya ditujukan pada Shanaya. "Kamu sedang bersembunyi. Publik tidak akan bersimpati pada manekin. Aku butuh manusia."

Rahang Shanaya mengeras. "Dan aku tidak suka dijadikan hiburan."

Shanaya bangkit berdiri, menyamakan tinggi pandangan. "Jangan lupa, Steven. Ini tetap perusahaanku. Bukan studio milikmu."

Steven tidak mundur. "Maka bersikaplah seperti pemilik yang perusahaannya sedang dirampok, bukan robot pembaca berita."

Shanaya mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar timnya keluar dari ruang rapat.

Dia butuh udara.

Shanaya membenci fakta bahwa pria itu sudah bisa membaca celah pada nadinya.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ruang rapat itu terasa seperti kandang kaca.

Dia berjalan cepat keluar menuju sayap barat gedung yang jarang dilewati orang. Wilayah itu belum direnovasi. Tempat dia biasa menjauhkan diri dari kebisingan.

Langkahnya terhenti. Pintu kayu kusam di ujung lorong itu sudah terbuka.

Steven masuk tanpa permisi. Pria itu berdiri di dalam ruang arsip tua Kesuma Fashion. Ruangan berdebu, penuh gulungan kain sisa produksi dan patung jahit usang.

Namun, mata gelap pria itu tidak menatap tumpukan barang rongsokan.

Steven menatap sebuah papan gabus kusam di tengah ruangan. Di sana, puluhan sketsa kasar bertinta merah tertempel acak.

Shanaya melangkah masuk. "Ini bukan area syuting."

Steven mengabaikan teguran itu. Jarinya menyentuh pinggiran kertas sketsa yang sudah menguning. Goresan di atas kertas itu kasar, tajam, agresif, dan bernyawa. Sangat kontras dengan karya-karya yang dirilis atas nama Anastasia Lim.

"Goresan ini menjerit," ucap Steven tanpa menoleh. "Anastasia Lim tidak pernah punya tarikan garis setajam ini. Semua karyanya mati."

Napas Shanaya tertahan sedetik.

Sketsa itu adalah sisa dari kehidupannya yang direbut. Bukti malam-malam panjang saat dia menggambar sampai jemarinya kaku, hanya untuk melihat Anastasia menempelkan namanya sendiri di atas karya itu keesokan harinya.

Steven memutar badan. Tatapannya menembus langsung ke dasar pertahanan Shanaya. Pria itu mengoyak paksa topeng profesionalnya dan menuntut kebenaran yang berdarah.

"Karya ini punya nyawa, Shanaya. Kenapa kamu membiarkan perempuan tanpa bakat merampok semua ini darimu?"

Kuku-kuku Shanaya menusuk telapak tangannya sendiri. Amarah murni akhirnya merembes keluar.

"Karena pengkhianatan paling sempurna selalu datang dari meja makanmu sendiri," jawab Shanaya. Suaranya bergetar tipis. "Anastasia tidak merebut perusahaanku secara paksa. Aku yang menyerahkan kuncinya."

Steven tidak menyela. Dia membiarkan Shanaya menelanjangi lukanya.

"Aku pikir darah lebih kental daripada uang." Shanaya melangkah maju. Matanya menyala penuh dendam. "Aku membiarkan dia masuk ke divisi inti. Aku membiarkan dia mematenkan desainku. Aku memberinya panggung karena dia keluargaku. Dan dia memakai panggung itu untuk mencekik leherku pelan-pelan."

Keheningan berat menyelimuti ruang arsip. Aroma tembakau dari kemeja Steven bercampur dengan debu kertas tua.

Steven memangkas jarak di antara mereka. Jari telunjuknya terangkat, menunjuk ke arah dada Shanaya.

"Ini." Mata gelap Steven mengunci pandangan Shanaya. "Ini emosi yang kubutuhkan untuk menghancurkan mereka. Simpan manekin itu untuk orang lain."

Suara langkah kaki berlari memecah ketegangan pekat di antara mereka. Dinda muncul di ambang pintu arsip. Asisten itu nyaris kehabisan napas.

"Mbak Naya," panggil Dinda panik. Tangannya gemetar menyodorkan sebuah undangan fisik tebal berwarna emas.

Shanaya menoleh. Logo timbul di atas amplop tersebut langsung menarik atensinya.

"Anastasia meluncurkan merek fashion barunya besok siang," kata Dinda cepat. "Konferensi pers mewah di Hotel Kempinski."

Shanaya menarik undangan itu. Dia membuka lipatannya. Di bagian dalam, tertulis kutipan manis Anastasia yang dirancang khusus untuk memanipulasi opini publik. Nama Shanaya disebut tiga kali sebagai inspirasi terbesarnya.

Namun, bukan itu yang membuat napas Shanaya berhenti.

Di bagian paling bawah undangan itu, ada satu kalimat tulisan tangan dengan tinta emas.

*Untuk Kak Shanaya. Aku tidak sabar memperlihatkan desain baru kita pada dunia.*

Jemari Shanaya langsung membeku. Darahnya mendidih seketika.

Steven mengambil undangan itu dari tangannya. Mata pria itu menyipit saat melihat sketsa mini gaun di pojok kartu. Desain itu sangat identik dengan tarikan garis di papan gabus usang di belakang mereka.

Senyum tipis dan mematikan muncul di sudut bibir Steven.

"Menarik," ucap Steven pelan.

“Besok dia akan berdiri di depan kamera…”

Steven mengangkat undangan emas itu perlahan.

“…dan menjual hidupmu sebagai miliknya.”

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!