[CH 01-145 END]
Apa yang akan kau lakukan jika kau terjebak di dalam tubuh Putri Mahkota yang sangat dibenci oleh Sang Pewaris Tahta?
****
"Dimana ini?" Pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan kebingungan sang gadis menatap sekelilingnya, tempat itu begitu asing dan bisa ia bilang sedikit kuno.
"Nona sudah sadar?"
Gadis itu mengernyit kebingungan saat di depannya ada orang dengan pakaian kuno.
"Apakah kita sedang syuting drama kolosal?"
Gadis itu kebingungan, pasalnya hal terakhir yang ia ingat adalah terjun ke danau karena menghindari ibunya. Ia kira ia sudah mati tetapi jika mati tidak mungkin ia masih bisa bernafas dan bertemu dengan manusia juga bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Miss_Kha11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 35: Rencana yang buyar
Menteri San mendatangi tempat Tabib Han dengan tergesa-gesa. Ada kabar buruk yang akan ia sampaikan. Disana ia melihat tabib Han tengah berkutik dengan obat obatan herbal seperti setiap harinya. Tabib Han menatap aneh Menteri San yang terengah-engah itu.
"Mengapa anda Lari lari?"
"Ada yang ingin kusampaikan"
"Apa?"
"Hakim baru....dia-"
"Ada apa denganya?"
"Dia mengetahui rencana kita, dia adalah hakim yang mengantikan Hyuk dan dia sudah tahu rencana kita"
"Haiss, bagaimana bisa anda seceroboh itu"
"Kita harus menyikirkan Hakim baru itu, dan memasukan orang kita agar menjabat salah satu kehakiman, akan susah jika kita tidak mempunyai orang dikehahiman"
"Ya tapi untuk sekarang singkirkan dulu dokumen palsu itu, agar kita terbebas jika hakim baru itu melaporkan kita ke hakim kepala"
"Sudah aku sudah membakar habis, haiss padahal aku susah payah menyiapkanya"
"Aku akan meminta yang lainya berkumpul untuk membahas rencana baru kita"
"Ya sepertinya aku juga punya sedikit rencana"
֍۪۪̣̣۪۪۪⃟᎒⃟ LITTLE PEONY֍۪۪̣̣۪۪۪⃟᎒⃟
Haerin berada di pemakaman Lee Sun. Lee Sun tidak dimakamkan di pemakaman keluarga kerajaan atau bahkan dibuatkan kuil. Hanya dimakamkan di makam atas bukit karena mati dalam keadaan memberontak. Haerin tidak membawa iring-iringan banyak karena memang hanya ingin mengunjungi makam saja tidak untuk mampir kemana-mana. Hwan tidak ikut karena ada rapat bersama para Menteri. Ditemani dua pelayan dan dua pengawal saja kini Haerin berada di depan tempat peristirahatan terakhir Lee Sun.
"Kalian bisa tunggu di depan" keempat orang itu mengangguk lalu beranjak pergi meninggalkan Ratu mereka.
Haerin menyiramkan sebotol arak di batu nisan Lee Sun, senyuman manis terus terpantri di wajahnya. Diciumnya bunga krisan putih yang berada di tanganya lalu ia letakan disamping botol Arak.
"Bagaimana kabar anda Pangeran?"
"Jika kau bertanya kabarku, aku sangat baik" monolog Haerin.
"Aku tidak akan pernah melupakan sebesar apa cintamu terhadap Haerin. Cinta sejati yang menututku sangat gila. Kau cinta kepada Haerin bukan kepadaku bukan? Aku yakin sekarang kau dan Haerin sudah bertemu. Haerin bunuh diri karena tidak ingin menghianatimu cintanya juga sangat besar padamu. Kalian akan menjadi pasangan yang sangat sempurna"
"Aku hanya ingin berterima kasih kepada mu, karena melaluimu aku jadi sadar jika cinta yang sebenarnya itu adalah melihat orang yang kita cintai bisa bahagia Sekalipun ia tidak menjadi milik kita. Disini aku sangat mencintai Hwan, tapi aku sadar aku sudah tidak sanggup lagi berada di sampingnya. Ini terlalu berat untukku"
Haerin memejamkan matanya, hanya disinilah ia bisa mencurahkan seluruh isi hatinya. Setidaknya ia merasa sedikit tenang karena isi hatinya tercurahkan juga.
"Terima kasih sudah mendengar isi hatiku, aku permisi Pangeran"
Haerin beranjak dari tanah makam. Ia harus menjadi lebih kuat lagi untuk menghadapi semuanya. Menyusun rencana untuk melawan orang orang yang akan menurunkanya dari kursi Permaisuri. Ia tidak ingin pergi daru sisi Hwan sekalipun disisinya sangat berat.
֍۪۪̣̣۪۪۪⃟᎒⃟ LITTLE PEONY֍۪۪̣̣۪۪۪⃟᎒⃟
"Pelayan Ri, dimana Eomma?" tanya Jaeyoon karena sedari tadi tidak melihat ibunya.
"Ui-Bin tengah pergi ke Tabib Han"
Mata bocah itu terlihat berbinar saat tau ibunya pergi, seingatnya ibunya akan lama jika pergi ke kediaman kakeknya. Masih berada di kawasan istana memang tetapi pasti akan lama.
"Kalau begitu Jae akan pergi keluar rumah"
"Tidak, sebaiknya Wonja disini saja"
"Jae akan melihat ikan hanya sebentar, boleh ne?"
Pelayan Ri sudah dipesani untuk tidak membiarkan Jaeyoon keluar rumah. Tetapi melihat Jaeyoon terlihat sangat ingin keluar seperti itu membuat Pelayan tidak tega. Jaeyoon masih dalam usia yang masih ingin tahu dalam segala hal tidak baik jika anak itu selalu dikurung di dalam rumah. Tetapi jika atasanya tahu jika Jaeyoon keluar rumah ia akan habis.
"Jae tetap akan kabur jika tetap tidak diijinkan" ucap Jae pelan tetapi masih bisa di dengar pelayan Ri, ia akan berada dalam masalah besar jika Jaeyoon kabur lagi.
"Ne marilah kita melihat ikan tapi Wonja tidak boleh kabur lagi"
"Ne"
Akhirnya Pelayan Ri mengantar Jaeyoon untuk melihat ikan, anak itu begitu senang menaburkan makanan ikan. Melihat ikan ikan itu berebut makanan.
"Mereka sangat lucu" ucapnya disertai dengan kekehan khas nya.
Pelayan Ri ikut tersenyum melihat Jaeyoon yang begitu bahagia.
"Pelayan Ri, apakah kau tahu Eomma-mama kemana? Jae juga tidak melihatnya sama sekali"
"Maksud Wonja, Jungjeon-Mama?"
"Ne"
"Saya dengar, Jungjeon-Mama sedang pergi keluar istana"
Jaeyoon membelalak mendengat itu. Ia langsung menatap lekat Pelayan Ri dengan mata bulat berairnya.
"Eomma-mama akan kembali bukan? Dia tidak akan meninggalkan Jae sendiri kan? Eomma-mama sudah berjanji pada Jae" ucapnya ketakutan. Ia sangat menyayangi Haerin dan tidak ingin berpisah dari ibunya itu.
"Wonja tenanglah, Jungjeon-Mama pergi dalam kunjungan ia akan segera kembali"
Bocah itu bernafas lega mendengar penjelasan dari Pelayan Ri.
"Wonja sangat menyayanginya Jungjeon-Mama?"
"Iya, karena hanya Eomma-mama yang menyayangi Jae"
"Jaeyoon-ah" panggil seseorang yang suara tidak begitu asing.
Begitu berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya bocah itu langsung menghampiri.
"Paman Hakim"
"Kau masih menginggatku?"
Jaeyoon mengagguk ia akan selalu mengingat orang yang baik padanya, karena pada nyatanya banyak sekali yang menurutnya orang jahat.
"Paman membawakan manisan untuk Jae" Woo hyun menunjukan bungkusan yang membuat anak kecil itu berbinar.
"Ah maaf anda siapa, dan Wonja-" sela Pelayan Ri. Ia tidak menggenal orang didepanya dan tentu saja was was takut jika Jaeyoon diracuni.
"Aku hakim baru, dan kau tenang saja manisan ini tidak beracun" jawab Woo hyun melihat kecurigaan di mata Pelayan Ri.
"Paman hakim orang baik Pelayan Ri"
Akhirnya Pelayan Ri mengangguk.
"Cha, sekarang kita duduk dan makan ini"
Jaeyoon mengangguk, lalu mereka duduk dan menikmati manisan yang dibawa Woo hyun. Betapa senang hatinya melihat buah hatinya telah tumbuh sebesar ini. Rasa kecewa tentu saja selalu menghantui dirinya karena kebodohanya dulu sekarang Putranya lah yang menjadi korban, tidak mendapatkan kasih sayang ayah dan ibu sekaligus. Andai saja waktu dapat diputar ia sama sekali tidak ingun menyentuh Naeri Waktu itu tapi sudah lah tidak ada apapun yang perlu disesali toh juga akan percuma saja.