Novel kali ini mengisahkan tentang seorang pangeran yang dibuang oleh ibunya atas suruhan ayahnya, karena menganggap anaknya yang lahir itu adalah sebuah kutukan dari langit.
Namun siapa sangka pangeran yang dibuang itu ternyata diselamatkan oleh orang-orang baik. Dari orang-orang baik itu dia mempelajari tentang banyak hal.
Sehingga dengan itu dia menjadi seorang pendekar tanpa tanding bermula dari mempelajari sebuah kitab legenda.
Berbagai ragam lika-liku kehidupan dia lalui selama dalam pengembaraannya, baik suka maupun duka, termasuk tentang lika-liku asmaranya dengan beberapa orang gadis.
Jika penasaran tentang kisahnya, yuk ikuti perjalanan Kisah Pangeran Yang Terbuang!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KPYT 035. Akhirnya Qiangwei Lepas dari Penderitaan
Pada keesokan harinya Zhao Jinlong berencana akan mengobati penyakit korengan yang menimpa Qiangwei, tepatnya pada pagi hari.
Karena sebelum itu Zhao Jinlong mempersiapkan terlebih dahulu segala sesuatunya yang nantinya akan menunjang pengobatan Qiangwei, termasuk ramuan herbal, campuran air mandi Qiangwei nanti.
Sedangkan Hui Lan tidak banyak berperan untuk sementara waktu, karena dia harus menemani Qiangwei di rumah sewaan. Jadi yang keluar mencari obat hanyalah Zhao Jinlong sendiri.
Begitu segala sesuatunya sudah siap, Zhao Jinlong barulah akan memulai mengobati Qiangwei.
Saat ini Qiangwei sudah duduk bersila di atas sebuah dipan yang terletak di ruang belakang. Di depannya sudah duduk Zhao Jinlong yang juga duduk bersila. Sedangkan Hui Lan duduk di sebuah kursi di ruangan itu juga. Tepatnya duduk di dekat sisi dipan sebelah kanan.
Sebelumnya Zhao Jinlong sudah meminumkan dua butir obat pil pada Qiangwei. Obat itu berfungsi sebagai penunjang kesembuhan luka korengan Qiangwei.
"Sebelum aku mengobatimu," kata Zhao Jinlong memberi arahan, "aku akan memberi tahu metode pengobatannya terlebih dahulu kepadamu...."
Mendengar itu Qiangwei cuma diam saja, tidak berbicara atau bertanya. Namun dia memberanikan diri memandang Zhao Jinlong yang duduk cukup dekat di depannya.
Lalu Zhao Jinlong menerangkan metode pengobatannya kepada Qiangwei, yaitu dia akan menyalurkan beberapa energi sakti ke dalam tubuh Qiangwei untuk mempercepat penyembuhan atas luka korengan hampir di sekujur tubuh Qiangwei dan wajahnya.
Termasuk energi sakti yang nantinya akan disalurkan adalah elemen cahaya atau elemen penyembuh yang bersamaan dengan elemen api atau energi panas.
"...Saat aku menyalurkan energi panas dalam tubuhmu," lanjut Zhao Jinlong, "kamu nanti akan merasakan panas yang luar biasa pada permukaan kulitmu...."
"Namun setelah aku merasa luka-luka di wajah dan sekujur tubuhmu sudah sembuh," lanjut Zhao Jinlong, "aku akan menyalurlan energi pendingin, agar kamu tidak merasakan panas lagi...."
"Bagimana, apakah kamu mau merasakan panas barang sebentar?"
"Apa fungsi energi panas dalam pengobatanmu, Long Gege?" tanya Qiangwei ingin tahu.
"Energi panas yang aku gabungkan dengan energi penyembuh akan mempercepat penyembuhan dan pengeringan pada luka-luka di wajah dan sekujur tubuhmu," sahut Zhao Jinlong menerangkan.
"Be-berapa lama aku harus menahan rasa panas itu, Long Gege?" tanya Qiangwei masih agak canggung dan malu-malu.
"Tidak sampai melewati setengah jam," sahut Zhao Jinlong tak lepas memandang Qiangwei yang kini sedikit menunduk. "Bagaimana, apa kamu bisa menahan panas selama itu?"
Qiangwei tidak lantas menjawab pertanyaan Zhao Jinlong barusan. Dia seperti berpikir, tepatnya mempertimbangkan ucapan Zhao Jinlong yang mana dia harus menahan panas yang luar biasa selama setengah jam.
Sebenarnya jika hanya sekedar rasa panas di tubuh, Qiangwei sudah biasa merasakannya. Karena penyakit yang dia derita ini, di samping rasa gatal yang hebat, dia juga merasakan panas di sekujur tubuhnya yang lumayan hebat.
"Jika kamu tidak sanggup, aku akan membuatmu pingsan biar kamu tidak merasakan panas," kata Zhao Jinlong memberi tawaran. Bagaimana?"
Membuatnya pingsan? Itu sama saja selama pengobatan Qiangwei tidak sadarkan diri. Itu artinya Qiangwei tidak melihat wajah Zhao Jinlong yang meneduhkan. Sedangkan hal itu Qiangwei tidak inginkan.
Meskipun Qiangwei masih sedikit malu-malu, tapi dia senang memandang wajah Zhao Jinlong yang begitu tenang dan meneduhkan itu, entah kenapa.
Memikirkan hal itu, dengan mantap Qiangwei menjawab pertanyaan Zhao Jinlong.
"Tidak mengapa, aku akan berusaha menahan rasa panas...."
"Kamu yakin, Qiangwei?" tanya Zhao Jinlong ingin kepastian.
"Ya, aku yakin, Long Gege," sahut Qiangwei makin mantap.
Asal terus memandang wajah Zhao Jinlong, rasa derita apapun Qiangwei akan berusaha untuk menahannya.
"Baiklah," kata Zhao Jinlong menyetujui kesanggupan Qiangwei. "Sekarang kamu bersiap-siap. Aku akan memulai pengobatan...."
"Kamu sudah siap 'kan?"
"Iya, Long Gege, aku sudah siap," sahut Qiangwei sambil mengangguk pasti.
★☆★☆
Di pagi yang cerah itu Zhao Jinlong mengobati penyakit korengan Qiangwei yang dideritanya semenjak usianya hampir delapan tahun.
Seperti ucapannya tadi, untuk mempercepat penyembuhan terhadap penyakit Qiangwei, dia harus menyalurkan energi panas yang digabung dengan energi penyembuh, berikut tenaga inti murni.
Tiga energi sakti itu Zhao Jinlong salurkan ke tubuh Qiangwei melalui kedua telapak tangan gadis kecil itu yang direntangkan lurus ke depan.
Ketika ketiga energi sakti telah keluar dari kedua telapak tangan Zhao, maka mulailah ketiga energi sakti itu merambat ke tubuh Qiangwei melalui kedua telapak tangannya yang saling menempel dengan kedua telapak tangan Zhao Jinlong.
Tampak energi-energi sakti itu merambat ke tubuh Qiangwei cukup cepat. Bermula pada kedua tangan gadis itu. Lalu ketiga energi sakti itu terus merambat ke wajah dan badannya.
Hingga tak lama kemudian seluruh permukaan tubuh atau kulit Qiangwei telah rata terbungkus ketiga energi sakti itu, wajah berikut kepalanya hingga ke telapak kakinya.
Dua puluh menit lamanya Qiangwei belum merasakan apa-apa. Namun setelah itu dia mulai merasakan panas di wajah dan sekujur tubuhnya. Awalnya rasa panas itu tidak terlalu.
Namun begitu sudah berlalu 15 menit, rasa panas yang diberitahukan oleh Zhao Jinlong mulai dia rasakan. Akan tetapi seperti tekadnya dia akan berusaha menahan rasa panas itu dengan semampu dan sebisanya.
Asalkan dia terus memandang wajah teduh nan tampan itu, Qiangwei rela menahan rasa panas yang luar biasa itu.
Bersamaan dengan itu luka korengan pada wajah dan hampir di sebagian tubuhnya mulai berangsur sembuh dan mengering perlahan demi perlahan.
Hingga tak lama kemudian, 20 menit telah berlalu Qiangwei masih mampu menahan rasa panas yang makin menggila, meski harus meringis mendesis. Tapi dia tidak lepas dan tidak ingin lepas dari memandang wajah Zhao Jinlong yang teduh.
Beberapa kejap berikut luka-luka di wajah dan tubuh Qiangwei telah sembuh. Bahkan bekas lukanya telah kering sekering-keringnya.
Tampak kulit-kulit bekas luka itu berguguran dari permukaan wajah dan tubuh Qiangwei. Lalu kulit-kulit bekas luka itu seketika lebur menjadi uap berwarna gelap, terus lenyap.
Tidak lama kemudian, luka-luka korengan di wajah dan tubuh Qiangwei telah lenyap semuanya, tak ada lagi tersisa di tubuhnya. Kini kulitnya yang asli telah nampak namun berbelang-belang keputihan.
Sementara Hui Lan yang melihat luka korengan di wajah dan tubuh Qiangwei sudah sembuh, alangkah senang hatinya. Akhirnya Qiangwei selamat dari penderitaan yang selama ini dia rasakan.
Hui Lan amat senang dibuatnya.
Hui Lan tidak pernah lepas memperhatikan selama jalannya proses pengobatan. Dan menyaksikan keajaiban yang disuguhkan Zhao Jinlong didepan matanya, membuatnya takjub bukan main.
Dan rasa kagumnya terhadap Zhao Jinlong semakin bertambah.
Sedangkan Zhao Jinlong, setelah merasa kalau penyakit korengan Qiangwei akibat serbuk racun sudah sembuh, dia segera mencabut energi panasnya lalu mengganti dengan energi pendingin atau penyejuk, seperti ucapannya tadi.
Sepuluh menit Zhao Jinlong melakukan hal itu, dan melihat Qiangwei tidak lagi merasakan panas, Zhao Jinlong mengakhiri pengobatan.
"Penyakitmu sudah sembuh, Qiangwei," kata Zhao Jinlong memberi tahu seraya tersenyum senang sekaligus lega, karena dia berhasil menyembuhkan penyakit kulit Qiangwei.
Mendengar ucapan Zhao Jinlong, Qiangwei langsung memeriksa tubuhnya yang tidak ada lagi korengan sama sekali. Meski bekas luka pada kulitnya menyisakan belang-belang keputihan, Qiangwei sudah gembira, amat gembira.
Tiada henti-hentinya dia mengucapkan terima kasih kepada Zhao Jinlong, bahkan menyembah sujud di depan bocah sakti itu. Namun Zhao Jinlong menegurnya halus, bahwa tidak usah terlalu berlebihan seperti itu.
★☆★☆
Selanjutnya, tibalah saatnya Qiangwei untuk mandi dengan air ramuan herbal yang dibuat oleh Zhao Jinlong. Tujuannya agar belang-belang di wajah dan tubuh Qiangwei, bekas dari luka korengan hilang. Dan juga agar bau badan Qiangwei ikut hilang.
Satu pekan lamanya Qiangwei mandi air ramuan herbal buatan Zhao Jinlong. Dalam seharinya Qiangwei melakukan ritual mandi tiga kali. Yaitu pada pagi hari, siang dan sore hari.
Dan selama satu pekan itu ternyata sudah cukup bagi Qiangwei dinyatakan sembuh secara total. Belang-belang di wajah dan tubuhnya telah sirna. Berganti dengan kulit yang putih bersih dan mulus.
Perlu diketahui pula bahwa, ketika hari ke empat Qiangwei mandi ramuan herbal, Hui Lan ikut serta mandi pula. Mereka mandi bersama dalam bak mandi yang sama.
Sehingga kulit dan wajah Hui Lan makin putih, makin halus lembut, makin cantik, tidak jauh beda dengan Qiangwei.
Hingga pada suatu pagi, setelah Qiangwei dan Hui Lan selesai mandi, berpakaian dan berdandan rapi dan cantik, lalu mereka menghampiri Zhao Jinlong yang tengah sarapan di ruang belakang.
Sementara Zhao Jinlong yang sedang asyik sarapan, begitu menyadari kehadiran dua gadis kecil yang telah diubahnya menjadi bidadari kecil itu, dia langsung berhenti makan.
Lalu dia memandang kedua bidadari kecil itu yang telah berdiri cukup dekat di depannya beberapa saat lamanya. Selama dia menatap kedua gadis kecil itu, rasa takjub dari binaran matanya seakan tak ingin sirna.
Terutama pada Qiangwei, dia benar-benar takjub akan segala keindahan yang ada pada gadis kecil itu. Dia tidak menyangka bisa menciptakan keindahan seperti itu.
Sedangkan Qiangwei, belum lama berdiri di depan Zhao Jinlong, dia langsung menghambur ke Zhao Jinlong, lalu memeluk erat bocah sakti itu sambil menangis haru penuh bahagia.
Melihat hal itu, Hui Lan ikut-ikutan menangis haru pula. Dia juga turut merasakan bahagia seperti apa yang dirasakan Qiangwei, sahabatnya.
Setelah puas memeluk Zhao Jinlong serta menangis haru, tentu dengan mengucapkan sejuta rasa terima kasih yang tulus dan mendalam, lalu dia berlutut di depan Zhao Jinlong, terus berkata.
"Long Gege, aku tidak punya apa-apa untuk diberikan kepadamu sebagai rasa terima kasihku. Tapi aku bersedia menjadi pelayanmu seumur hidup. Semoga kamu menerimanya, Long Gege."
Lalu Qiangwei hendak bersujud di depan Zhao Jinlong. Namun Zhao Jinlong dengan cepat mencegahnya. Lalu membawanya berdiri, terus berkata.
"Tidak perlu, Qiangwei, kamu tidak perlu memberikan apa-apa kepadaku, apalagi bersedia menjadi pelayanku segala. Aku tulus dalam membatu mengobati penyakitmu, tidak mengharapkan apa-apa...."
"Lagi pula anugrah yang kamu peroleh berupa kesembuhan dan keindahan kulit, itu semua berkat pemberian Yang Maha Kuasa," lanjut Zhao Jinlong bernada bijak. "Aku hanyalah kepanjangan tangan dari Sang Penguasa Langit."
"Tapi aku tulus bersedia menjadi pelayanmu, Long Gege," kata Qiangwei lagi bagai memaksakan permintaannya yang tulus.
"Tidak usah," bantah Zhao Jinlong secara halus. "Kamu menjadi temanku saja itu sudah cukup."
Lalu Zhao Jinlong memeluk Qiangwei dan Hui Lan, terus berkata kepada Qiangwei dan juga kepada Hui Lan.
"Mulai saat ini kamu akan selalu bersamaku, Qiangwei, sama seperti Hui Lan yang sudah bersamaku. Aku berjanji akan menjaga dan melindungi kalian dengan nyawaku...."
"Terima kasih, Long Gege," ucap Qiangwei dan Hui Lan hampir berbarengan penuh rasa haru.
★☆★☆★
Membosankan membacanya.
d tunggu om bro kelanjutannya
d tunggu kelanjutannya om bro