Duke Bucin Anak
Fukus Tema: Fanbar Regresi
Fukos Genre: Ayah Bucin Anak
Bak terbangun dari mimpi panjang, Zahira kembali kemasa lalu tepat saat umurnya 6 tahun, selepas ia dihukum mati oleh ayah kandungnya sendiri, tanpa tau dosa apa yang telah ia lakukan.
"Aku tidak mau hidup seperti itu lagi!", ucap Zahira yang kemudian menyusun rencana untuk pergi dari rumahnya sebelum ia mencapai usia dewasa.
Akankah Zahira benar-benar pergi meninggalkan kediaman Duke, atau Zahira memaafkan keluarganya?
Jangan lewatkan kisah lengkap perjalanan hidup Zahira yang kedua, hanya di Novel Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Edward tidak seperti Nicolas. Edward meskipun introvert tapi dia lebih penasaran dengan orang.
Jadi saat sore hari Grace dan Edward berpapasan. Grace lebih bisa mengajak Edward untuk berbicara.
Grace yang memiliki rasa rendah diri bisa tersenyum lega karena Edward tidak seperti Nicolas.
Edward lebih ramah.
"Tuan muda kedua sangat tampan." Puji Grace.
Dalam hatinya, dia senang bukan main. Dia akan bisa menjadikan temannya dulu.
"Terimakasih."
"Saya sangat kesepian di rumah besar ini, bisakah Tuan Muda menjadi teman saya?" Grace dengan tidak tahu malu nya memberikan sebuah penawaran kepada Edward.
Dasarnya Edward adalah anak yang tidak enakan. Dia akhirnya mengangguk kan kepalanya.
"Sungguh?"
"Saya sangat senang Tuan Muda."
Cita cita Grace tidak disini, tapi di puncak tertinggi, jadi meskipun sang Duke memiliki dua anak lelaki, Grace hanya akan menjadikan mereka sebagai tameng. dalam hal ini, menjadi adik cantik dan manis adalah satu jalannya.
"Apa yang sedang Tuan muda lakukan biasanya."
Edward yang juga Tidka memiliki teman bicara di kastil tersebut pun berbicara panjang kali lebar kali tinggi.
Grace sendiri tidak terlalu tertarik dengan obrolan yang hanya membahas pembelajaran. Seumur hidupnya Tidka pernah belajar, bagaimana mungkin dia bisa belajar. Makan saja susah.
Tapi dia tersenyum seolah olah antusias. Mengelabui lawan adalah sebuah taktik yang selalu dia terapkan.
***
Balmo menghadap sang Duke. Rencananya Balmo ingin mengatakan kalau bagaimana menjadikan Nona Amanda, yang dibawa Duke sebagai teman Nona Zahira. Mereka seumuran, akan bagus juga jika menjadikan Nona Amanda untuk jadi pelayan pribadi Nona Zahira.
Gustaf hanya diam saja awalnya atas usulan Balmo.
"Kau atur saja bagaimana baiknya."
Balmo menunduk dan pamit undur diri.
Saat pergi ke kamar yang ditempati Amanda, dia kaget karena anak tersebut sudah Tidka ada.
"Gawat!" Tuannya itu benci melihat anak berkeliaaran dimana mana.
Balmo baru menemukan Amanda di dekat taman dan tengah berbicara dengan Tuan Muda Kedua, Edward.
"Saya mencari Nona kemana mana."
"Ah maaf Tuan, saya hanya suntuk dan berjalan jalan."
Balmo memberikan salamnya kepada Edward.
Disini, bahkan orang tua pun membungkuk kepada yang lebih muda.
'Yah benar, asal ada jabatan dan kekuasaan, semua orang akan tunduk.'
Ambisinya semakin menyala nyala.
"Saya ada urusan dengan Nona."
"Denganku?"
Balmo mengangguk.
Balmo kemudian pergi dengan Grace.
Di bangku taman, Balmo menjelaskan bahwa Tuan Duke akan menampungnya.
Grace sudah tersenyum penuh dengan kemenangan.
"Nona Amanda akan menjadi teman sekaligus pelayan pribadi Putri Duke."
'Apa?' Apa dia tidak salah dengar.
"Bagaimana?"
"Putri Duke, seumuran dengan Nona, jadi kalau Nona menjadi teman, kami berharap sang Putri memiliki teman yang seumuran."
"Begitu ya..." Grace tersenyum kecut.
Bukan sebagai putri adipati, tapi sebagai seorang pembantu. Dia Tidka siap menerima pemberitahuan tersebut. Tapi tetap saja dia tersenyum seolah sedang bersyukur atas segala pemberian sang Duke.
"Terimakasih atas kebaikan hati Yang Mulia Tuan."
Balmo tersenyum. "Say yakin kalian akan segera akrab."
'Lihat saja nanti! Putri Duke pasti akan menyesal menjadikan dia sebagai pelayan pribadinya.'
Dari sana Balmo kemudian ke kediaman Sang Putri untuk memberikan kabar tersebut.
Zahira langsung meletakkan gelas tehnya.
"Apa yang barusan kamu bilang?"
"Seorang pelayan pribadi seusiaku?"
Itu adalah hal normal yang sering terjadi di kediaman bangsawan . Memiliki pelayan seumuran. Tapi Zahira tidak bisa menerima nya.
Tangannya masih gemetar. Bukannya dia takut , hanya saja rasanya masih trauma untuk bertemu langsung dengannya. Orang yang telah mencuri segalanya dari kehidupan sebelumnya.