Tahun pertama pernikahanku bersama mas Abim kehidupan kami sangat harmonis dan bahagia, manakala diriku sudah mengandung buah hati dari cinta kita.
Tapi siapa sangka, tahun kedua pernikahanku di landa badai yang amat dasyat saat aku melahirkan seorang putri cantik yang justru di benci oleh ibu mertuaku yang menginginkan seorang penerus berjenis kelamin laki-laki.
Siapa sangka, diam-diam suamiku telah menikah dengan mantan sahabatnya. Yang merupakan wanita pilihan ibunya. Dan ibu mertuaku memintaku untuk menerima pernikahan kedua suamiku dan madunya itu.
Apakah yang harus aku lakukan? Bertahan atau melepaskannya? Ikuti kisahku..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AniitaLee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baru Permulaan
“Ara! Kenapa tidak di angkat teleponku? Aku khawatir sama kamu Ra!”
“Indra? Jadi ini nomer kamu? Maaf tidak aku save,” cicit Inara sambil meringis malu. Padahal Indra tidak bisa melihatnya.
“Jahat banget sih, nomerku tidak di save Ra. Tapi yang penting sekarang, kamu baik-baik saja kan? Apa kamu sudah pulang? Biar aku jemput.”
“Aku sudah pulang kok Dra, tenang aku baik-baik saja kok. Jelita juga baik lagi tidur malah.”
“Syukurlah, aku khawatir sama kalian tahu Ra.”
Hati Inara menghangat mendengar Indra yang begitu mengkhawatirkan dirinya dan juga sang putri.
“Lebay kamu Dra, by the way lanjut chat aja ya Dra. Udah malem takut Jelita bangun. Oke bye.”
“Bentar Ra, minggu depan alumni sekolah kita bakal ngadain Reuni. Gimana apa kamu mau ikut reuni Ra?”
Inara nampak berfikir sejenak. Bepergian di saat suasana hati dan rumah tangganya tidak baik-baik saja Inara fikir akan percuma. Ia tidak akan bisa menikmati acara yang biasanya di adakan setahun sekali itu.
“Lihat nanti saja ya Dra, soalnya ribet kalau harus bawa bayik.”
“Kan ada Abim suamimu Ra kenapa ribet?”
Kamu tidak tahu saja Dra apa yang sedang terjadi dengan rumah tanggaku..
Inara hanya bisa tersenyum getir karena saat ini harus menyimpan rapat-rapat masalahnya sendirian hingga waktu membuka semuanya.
“Iya lihat nanti saja Dra, lanjut chat saja ya. Bye.”
Tut!
Inara buru-buru mematikan panggilan Indra sebelum dokter tampan itu bertanya lebih jauh lagi tentangnya atau suaminya Abim.
*
*
Keesokkan harinya, Inara bangun kesiangan. Lebih tepatnya sengaja bangun kesiangan. Sebenarnya sedari subuh Inara sudah terjaga, namun enggan turun dari ranjangnya. Apalagi Inara masih mengantuk akibat semalam harus terjaga karena menyusui baby Jelita.
Dari jendela terlihat matahari mulai menyinsing di langit. Panasnya perlahan menembus celah-celah kaca jendela kamar yang Inara tempati.
Inara pun bergegas bangun untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya. Menyiapkan air hangat untuk memandikan putrinya, lalu mengajaknya jalan-jalan di sekitar rumahnya.
Begitu Inara membuka pintu, ia mendapati wajah kesal Abim yang tak mendapati sarapan di atas meja. Namun Inara memilih mengacuhkan, ia tetap menjalani aktivitasnya dan mengabaikan keberadaan suaminya Abim.
Begitu selesai, sambil menggendong putri kecilnya Inara membuat sarapan dengan menu roti bakar. Inara membuat dua pasang roti bakar yang sudah ia olesi selai coklat dan selai strawberry. Tak lupa ia menumpahkan madu di atas rotinya itu.
Abim yang sudah siap dengan setelan kantornya pun terlihat kegirangan saat tahu Inara membuatkan sarapan pagi untuknya.
“Sayang, terima kasih sudah repot-repot membuat sarapan untuk mas. Kamu memang istri yang paling pengertian,” puji Abim seraya meraih piring yang di hadapan Inara.
Namun sempat Abim meraihnya, Inara segera menepis lengan pria itu.
“Siapa bilang sarapan ini untukmu?!”
Inara langsung mengambil roti itu dan menjadikan satu dengan roti miliknya.
“Roti ini hanya buatku, jatah sarapanku harus double karena aku sedang menyusui! Kamu kalau mau minta istrimu itu untuk membuatkannya. Jangan bisanya cuma ah..ah doang di atas kasur!” ketus Inara yang langsung membawa piringnya masuk ke kamar. Tak lupa Inara mengambil segelas susu untuknya minum.
Ingin marah namun Abim tidak bisa. Karena Abim takut Inara akan pergi lagi dari rumahnya. Sungguh saat ini Abim belum bisa hidup tanpa Inara. Benar apa yang di katakan Inara, harusnya Abim bisa menuntut Jenita untuk melayani kebutuhannya tidak hanya Inara saja. Karena Jenita juga istrinya.
Abim pun bergegas menuju ke kamar untuk membangunkan istri keduanya itu. Karena hari sudah siang, Abim juga belum sarapan. Bisa-bisa ia akan terlambat ke kantor pagi ini.
“Jen! Jenita! Bangun Jen, jangan tidur terus. Kamu harus membuatkan sarapan untuk mas. Sebentar lagi mas terlambat masuk kerja ini,” ujar Abim berusaha membangunkan Jenita yang masih asyik menggulung tubuh polosnya dengan selimut.
“Kan ada mbak Inara mas! Minta aja dia bikinin kayak biasanya!” sahut Jenita masih dengan memejamkan matanya.
“Inara sedang sibuk mengurus bayi kita. Kamu juga kan istriku Jenita.”
“Tapi Jenita masih mengantuk mas, semalam mas menggempur Jenita sampai lemas kan?”
Abim pun mengacak-ngacak rambutnya percuma saja meminta tolong Jenita. Akhirnya Abim memutuskan untuk berangkat dan mencari sarapan di jalan saja.
“Ya sudah mas berangkat sajalah. Biar nanti sarapan di kantor saja.”
“Yaa..yaa mas, hati-hati ya.”
Abim pun mengecup puncak kepala Jenita yang masih terpenjam dan memberikan lumatan kecil pada istri keduanya itu. Lalu Abim memutuskan segera beranjak untuk berangkat. Begitu melewati kamar yang di tempati Inara, Abim menghentikan langkahnya sejenak.
Pria tampan berwajah manis itu berdiri menatap ke arah pintu kamar Inara lalu mengetuknya.
“Sayang, mas berangkat dulu ya. Baik-baik ya di rumah. Assalamualaikum.”
Rasanya Abim ingin mengecup puncak kepala istri pertamanya itu seperti biasa yang mereka lakukan. Biasanya setiap pagi, Inara selalu membuatkan sarapan pagi untuknya namun pagi ini Inara hanya membuatkan sarapan pagi untuk wanita itu sendiri. Ingin protes, namun Abim takut Inara marah atau tersinggung lalu pergi lagi.
Menyadari tidak ada sahutan dari dalam, Abim memilih bergegas pergi. Masalah sarapan ia akan sarapan di kantin perusahaan saja.
Selepas kepergian Abim, Inara pun membuka pintu dan menatap tajam ke arah luar dimana suara mobil Abim perlahan semakin menjauh meninggalkan rumah mereka.
“Kamu yang memberikan racun kepadaku mas, maka aku akan ciptakan neraka untuk kalian berdua! Tunggu dan nikmati saja!”
Bersambung...
Selamat buat Inara dan Indra pny anak kembar dan jelita
DinDut itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
Inara hrs mengusut sampai tuntas
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
klo indra tidak selamat malas lanjut baca nya
DinDut Itu pacarku ngasih iklan
Buk Retno bnr2 pembuat masalah nih
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan