Asmara sepertinya bukan keberuntungan bagi Devan McCloud. Setelah cinta pertamanya meninggal karena leukemia dan istrinya meninggal karena kecelakaan, Devan memutuskan tetap sendiri bersama anak angkatnya, Rainer yang baru berusia sepuluh tahun saat ibu angkatnya meninggal. Lima tahun kemudian, Rainer bertemu dengan seorang dosen musik yang dibantunya saat berkas-berkasnya terbang terkena angin. Dosen itu bernama Thalia Colton dan Rainer pun menjadi dekat karena sama-sama suka musik. Devan yang betah menduda, merasa tidak suka melihat Rainer dekat dengan wanita yang lebih tua dan pantas menjadi ibunya. Namun Thalia menyimpan rahasia besar yang membuat dunia Devan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Montir Seksih
Thalia melotot saat Devan mencium bibirnya namun wanita itu memejamkan matanya saat lidah Devan mulai masuk ke dalam mulutnya dan bermain disana. Tangan Thalia pun mengulur dan memeluk leher Devan membuat pria itu semakin mendekatkan tubuh polosnya ke tubuh istrinya. Devan meletakkan tubuh Thalia diatas kasur tanpa melepaskan ciumannya dan saat Devan mulai mencu*mbu leher Thalia, suara ketukan terdengar di pintu kamar mereka membuat keduanya saling terdiam.
"De... Devan ..." bisik Thalia parau.
"Rainer ..." ucap Devan sambil bangkit dari posisinya menindih tubuh Thalia. "I'm sorry Thalia... Aku ...Terbawa suasana..." Devan mengusap rambutnya yang sedikit lembab. "Biar aku yang membuka pintunya."
Devan menyambar kimono piyamanya dari casptock dan membuka pintu kamarnya sementara Thalia kembali masuk ke dalam selimutnya dan menariknya guna menutupi tubuhnya. Wanita itu pun berpura-pura masih tidur karena dirinya belum siap berhadapan dengan putranya yang pastinya akan sangat kepo.
Devan pun membuka pintu kamarnya dan melihat Rainer berdiri disana dengan tongkatnya. "Pagi boy ... Ada apa?" sapa Devan santai.
"Apakah mummy baik-baik saja?" tanya Rainer dengan tatapan curiga.
Devan menaikkan sebelah alisnya. "Kamu curiga dengan Daddy ? Memang Daddy mau apain mummy kamu ?"
"Apakah Daddy menyuruh Mummy tidur di sofa ? Atau di lantai? Atau di kamar mandi? Atau di atas karpet walk in closet?" cecar Rainer membuat Devan melongo.
"What? Memangnya Daddy sejahat itu? Tuh, mummy kamu masih tidur ! Lagipula siapa yang bilang ada suami menyuruh istrinya tidur di lantai?" tanya Devan judes.
"Mirei yang bilang ! Katanya kalau di novel-novel roman yang dia baca seperti itu ..." jawab Rainer sambil melongokkan kepalanya melihat ibunya masih tidur.
Devan menepuk jidatnya. "Astaghfirullah anaknya Yuta ! Sudah, kamu jangan berpikiran aneh-aneh ! Daddy tidak seperti yang ditulis author drama pernikahan... Ayo, kita keluar. Biarkan mummy kamu istirahat ..."
Devan mengajak Rainer keluar dari kamarnya namun dirinya melirik ke arah Thalia yang tampak tidak berani bergerak. Devan tersenyum tipis lalu menutup pintu kamarnya.
Setelah dirasa aman, Thalia menyibakkan selimutnya dan menepuk-nepuk dadanya yang masih berdebar debar akibat ulah Devan yang menciumnya beberapa menit lalu.
"Ya Tuhan ... Bahaya ini ! Bisa-bisa ramalan semua orang jadi kenyataan... Tahun depan Rainer dapat adik ..." ucap Thalia yang langsung turun dari tempat tidur dan mengambil botol air mineral di mini bar yang ada di kamar Devan. Thalia menenggak air itu hingga habis.
"Usahakan jangan sampai khilaf, Thalia. Ingat itu!" monolog wanita cantik tersebut.
***
"Benar semalam Mummy tidur di tempat tidur bersama Daddy ?" tanya Rainer masih tidak percaya. Cerita Mirei sangat merasuk di pikirannya. Jujur Rainer cemas jika Devan berbuat jahat pada Thalia seperti di novel-novel yang dibaca Mirei. Keduanya sekarang berada di dapur dan Rainer duduk di kursi bar sementara Devan dibalik meja dapur mengambil makanan yang masih sisa semalam dari kulkas untuk dipanaskan.
"Ya Allah Rainer... " kekeh Devan sambil menyiapkan sarapan. "Bilang sama Mirei ... Jangan bikin cerita aneh-aneh !"
"Kata Mirei kalau di novel begitu berarti di dunia nyata memang ada kan suami begitu ?" tetap Rainer mencecar Devan.
Devan menggelengkan kepalanya. "Ampun deh ! Rain, meskipun Daddy dan Mummy belum saling cinta, tapi care itu ada. Daddy tidak akan tega menyuruh Mummy kamu tidur di lantai ! Yang benar saja !" Devan meletakkan segelas susu di depan Rainer. "Daddy belum sholat subuh. Kamu disini dulu ... Paling sebentar lagi mummy kamu ba..."
"Good morning. Apakah kalian selalu bangun jam lima kurang seperempat pagi ?" sapa Thalia dengan nada santai. "Seriously... Ini masih terlalu pagi..." Thalia pura-pura menguap sambil ditutupi tangannya.
"Kami selalu ibadah subuh jam lima pagi Mummy. Mummy mau ikut?" ajak Rainer sambil menyesap susunya.
"Bagaimana kalau mummy lihat dulu ?" senyum Thalia.
"Boleh saja ... Tapi aku duduk dulu karena kan belum kuat kakiku ..." senyum Rainer bahagia karena Thalia mau melihat dia beribadah.
"Yuk sholat berjamaah... " Ajak Devan ke Rainer dan kedua pria itu menuju ke sebuah ruangan kecil yang awalnya Thalia tidak tahu untuk apa namun sekarang dirinya tahu untuk apa. Thalia melihat bagaimana ayah dan anak itu melakukan ritual ibadahnya dengan khusyuk. Terlepas dirinya belum ada keinginan untuk pindah, Thalia merasa bersyukur Devan dan Rainer adalah orang-orang yang taat beribadah.
***
Thalia menyiapkan sarapan diatas meja makan meskipun menurutnya terlalu pagi tapi karena Devan hendak ke perusahaannya pagi-pagi, dia harus sudah siap semuanya.
"Memang mobil milik siapa yang harus Daddy tangani sendiri?" tanya Rainer yang sudah duduk di kursi makan.
"Ayahnya Mirei !"
Thalia tersenyum geli mendengar nada sebal di ucapan Devan. "Tapi Mr Hayashi kan memang pelanggan tetap kamu Van..."
"Hanya saja dia sok ekslusif... Meskipun berani bayar mahal sih ..." gumam Devan.
"Ayolah Dad ... Demi Oom Yuta ..." rayu Rainer. Thalia yang duduk di sebelah Devan pun menatap suaminya dengan wajah memelas.
"Siapa tahu dia jadi calon besan kamu, Van..." goda Thalia membuat Devan melotot.
"Rainer dan Mirei masih kecil, Thalia !"
Thalia dan Rainer terbahak. "Kan aku tidak bilang mereka akan menikah sekarang ! Aku juga tidak setuju ! Biarkan mereka menikmati masa mudanya tapi kalau mereka jodoh suatu saat nanti.. Mau bilang apa?" kekeh Thalia.
"Jangan berpikiran aneh-aneh, Thalia !" sungut Devan sambil memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya.
***
Setelah Devan pergi ke McC Custom, Thalia dan Rainer memulai terapi yang sudah diberikan caranya oleh Aaliyah Bianchi dan Vikram Gupta, dua ipar Rainer yang berprofesi sebagai dokter ortopedi dan Traumatologi.
Thalia nyaris terbahak saat Rainer menanyakan hal yang sama ke Devan tentang semalam dirinya tidur dimana.
"Rainer, ayahmu orang baik. Tidak mungkin Mummy disuruh tidur di lantai ..." kekeh Thalia. "Jika demikian, Mummy sudah bersin-bersin kena flu !"
"Mum ... Sudah pernah ke perusahaan Daddy?" tanya Rainer tiba-tiba.
Thalia menggelengkan kepalanya.
"Kita kesana yuk ... Sambil membawa makan siang ... Bagaimana?" ajak Rainer. "Apalagi ini kan hari Minggu. Tidak banyak resto buka ..."
"Boleh ... Mummy buatkan makan siang dulu."
***
Menjelang jam makan siang, Thalia memarkirkan mobilnya di parkiran McC Custom dan dirinya membantu Rainer turun. Penjaga gedung itu melihat Rainer dan memberitahukan dimana Devan berada dan keduanya pun menuju tempat pria itu mengurus mobil-mobil custom khusus pelanggan VIP nya. Devan memang memegang sendiri mobil antik milik pelanggannya yang khusus meminta dirinya.
Thalia dan Rainer melihat kaki Devan berada di bawah sebuah mobil kuno merek Plymouth GTX bewarna ungu.
"Dad ! Ayo makan siang dulu ..." panggil Rainer.
Devan yang tiduran diatas papan roda bengkel pun keluar dari bawah mobil itu.
"Kalian berdua ngapain kemari?" tanya Devan terkejut.
Thalia melihat bagaimana kotornya Devan, hanya bisa menahan debar jantungnya.
Ya ampun, Devan benar-benar montir seksih ! Bisa jatuh cinta beneran aku ... - batin Thalia.
Montir seksih kata Thalia
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
semakin aku buat silsilah keluarga pratomo, semakin mumet aku hanna 😭🤣