Lilis tumbuh besar bersama kawan kawannya. Tanpa keluarga, tanpa kasih sayang orang tua. Hanya beberapa teman yang selalu ada. Termasuk seorang remaja bernama Kak Nur. Yang selalu ada dan menjadi pelindungnya, walaupun takdir membuat mereka terpisah.
Lilis behasil meraih mimpi menjadi seorang kowad. Dirinya ternyata berbakat memegang senjata. Dalam kariernya dia mengenal cinta. Juga patah oleh cinta itu sendiri.
Kenapa Lilis patah? Lalu mampukah ia bangkit kembali meraih bahagia? Apakah Lilis kembali bertemu Nur lagi?
Bagi yang sudah membaca novel saya, mungkin anda sudah mengenal tokoh ini. Dalam novel ini akan ada orang yang ada kira jahat, ternyata tidak sejahat itu. Dan orang yang anda kira baik, ternyata tidak sebaik itu. Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan tokoh, tempat, dan kejadian, itu hanya kebetulan saja. Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utiyem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nostalgia
Mata gadis itu membelalak yang sangat dirindukannya datang juga ke panti ini. Lilis berlari memeluk orang itu dengan erat.
"Kau tambah dekil," komentar Nur saat pelukan mereka terlepas. Lilis hanya nyekikik saja.
"Ini sudah mending dari kemarin kemarin. Aku hampir setahun berada di luar negeri dengan iklim dingin. Kulitku sudah mau balik putih lagi," terang Lilis. Nur tertawa. Mengacak rambut Lilis dengan sayang.
Mereka makan malam berdua di loteng tua kesayangan. Nur membawa sepiring nasi dan Lilis membawa segelas besar teh hangat. Mereka berencana makan sepiring berdua. Usulan Nur. Dua orang itu dengan santainya menikmati hembusan angin malam. Nur beberapa kali menyuapi Lilis. Walaupun makanan sederhana ala panti, tapi nikmatnya luar biasa. Apalagi debaran dada Nur masih tidak terkendali melihat Lilis ada dihadapannya.
"Aku kira kau lupa jalan ke panti. Mentang mentang lulus kowad dan menjadi sniper viral," kata Nur santai. Lilis kaget. Menoleh Nur disampingnya.
"Kau tahu?" tanya Lilis tidak percaya. Kalau dirinya hanya kowad semua orang tahu, tapi perannya sebagai sniper wanita pertama di negara ini, Lilis kira hanya kalangan militer yang tahu. Apalagi prestasi viralnya. Nur tersenyum.
"Aku tahu lebih dari yang kau tahu," kata Nur sombong. Lilis justru tertawa.
"Lagakmu kaya jendral aja Kak," kata Lilis kemudian meminum teh hangatnya.
"Aku bahkan tahu sidang etik itu. Apa alasanmu di sidang?" tanya Nur selanjutnya. Yang ini benar benar membuat Lilis kaget luar biasa. Beruntung tidak menyemburkan teh yang ada di mulutnya. Seperti…. saat bersama Herman dulu. Hah!! Herman lagi…. Herman lagi…. Kenapa Lilis selalu teringat pria itu!!!
"Kakak juga tahu itu? Dari mana?" tanya Lilis benar benar penasaran.
"Aku nanya duluan Is," kata Nur sambil tersenyum misterius. Dulu waktu kecil siapa yang nanya duluan harus dijawab duluan.
"Aku… dianggap melakukan kesalahan karena kemanusiaan," kata Lilis mengawali kisah. Nur mendengar dengan seksama.
"Terkadang keadilan memang tidak harus nurut aturan Sayang. Terkadang kita pencipta keadilan itu," tanggapan Nur saat Lilis usai bercerita. Pria itu mengeluarkan rokoknya dan menyulut. Lilis ikut melakukan hal yang sama.
"An njing! Apa ini yang kau dapat saat menjadi tentara!!" kata Nur kesal melihat Lilis lihai sekali merokok. Lilis nyengir. Dia baru sadar berada di samping kakaknya. Bukan teman satu barak. Nur masih mengomel tentang bahaya merokok.
"Termasuk gangguan janin. Gangguan janin kau dengar!! Kita janin janin tidak diinginkan. Setidaknya jangan jadi ibu bereng ngsek untuk calon bayimu!" kata Nur merampas rokok Lilis dan mematikannya.
"Santai saja Kak, aku tidak hamil," kata Lilis sambil tersenyum manis pada Nur. Kedip kedip manja. Hal yang hanya dilakukan pada Nur. Membuat jantung Nur semakin tidak aman.
"Anggap saja aku berinvestasi. Aku tidak mau anak,-" anakku kelak terganggu batin Nur masih bisa ngerem mulutnya.
"Anak apa?" tanya Lilis karena Nur tidak segera melanjutkan perkataannya.
"Maksudnya…. Anak…. Anakmu… ya, anakmu keponakanku. Aku tidak ingin terjadi apa apa dengannya," kata Nur gelagapan sendiri. Lilis tertawa. Mencubit kedua pipi Nur.
"Ulu lutunya…. Aku saja calon ibunya belum mikir sejauh itu…. Calon pamannya sampai seperhatian ini," kata Lilis sambil terus menarik narik pipi Nur kekanan dan kekiri. Nafas Lilis berbicara berhembus menerpa wajah Nur. Percayalah…. Nur menahan dirinya sangat keras agar tidak mencium Lilis. Juga....jika orang lain yang mengacak mukanya seperti ini, maka bisa dipastikan orang itu dapat pelajaran. Tak ada yang berani mengacak muka mafia berbahaya seperti Nur.
Lilis menguap setelah obrolan randomnya dengan Nur. Menceritakan banyak hal. Juga hari harinya menjadi kowad dan banyak pengalaman serunya. Gadis itu dengan santainya bersandar di pundak Nur.
"Lalu….. apa kau punya pacar?" tanya Nur tiba tiba. Lilis langsung mengangkat kepalanya dari pundak Nur. Terlihat sekali tidak nyaman. Kantuknya juga hilang entah kemana.
"Oh, apa itu terlalu pribadi?" tanya Nur lagi merasa bersalah. Nur tahu berita viral Lilis dan segala penghargaan nya, karena gadis itu juga viral di dunia mafia. Bayangkan! Wanita yang sanggup secantik itu memegang senjata. Jika jatuh ketangan salah satu mafia, maka bisa dipastikan mafia itu sanggup menjadi mafia besar yang tidak bisa di sentuh musuh. 'Hum…. Bapaknya juga sniper'. Batin Nur yang sebenarnya sudah menyelidiki asal usul Lilis. Akan tetapi Nur masih menyimpannya. Nur juga tidak tahu kehidupan pribadi Lilis dalam ketentaraan. Jangkauannya tidak sejauh itu.
Siapa sangka Lilis mau bercerita. Meski dengan muka yang manyun dan sedikit tersendat. Nur tertawa ngakak saat tahu Lilis dua kali di php menikah dengan pria yang sama.
"Aku gak tahu ternyata sniper itu go blok juga," ejek Nur pada Lilis. Yang diejek melorok horor.
"Kenapa tidak kau bun nuh saja pria pengecut seperti itu. Apa perlu aku yang turun tangan?" tanya Nur sambil menyelipkan anak rambut Lilis yang agak berantakan tertiup angin malam.
"Ha…. Iya… kenapa tidak ku bun nuh saja saat kami bertugas berdua," kata Lilis penuh sesal. Nur tertawa ngakak.
"Lalu apa yang kau kerjakan sekarang Kak?" tanya Lilis saat tawa Nur reda. Dari tadi Lilis terus yang bercerita. Sedang Nur belum menceritakan dirinya sama sekali. Hanya menanggapi cerita Lilis dengan ceria.
"Apa….apa…. Apa pekerjaan donatur terbesar di panti ini? Apa yang kau kerjakan sampai sesukses ini?" tanya Lilis antusias. Menggoyangkan lengan Nur yang menjadi sandaran kepalanya.
"Anggap saja aku pengusaha," jawab Nur singkat.
"Usaha apa?" kejar Lilis. Nur menggigit bibir bawahnya kebingungan. Apa dia harus mengaku kalau dirinya mafia?? Apa gadis manis disampingnya ini menerimanya? Lilis terus mendesak Nur.
"Tidurlah, ini sudah malam," jawab Nur ingin mengakhiri malam ini.
"Tidak mau kau belum jawab!" desak Lilis. Nur menghembuskan nafasnya.
"Demi sayangmu padaku," kata Lilis merayu. Entah mengapa malam ini Lilis begitu manja. Seolah mengulang lagi saat saat di panti ini bersama Kak Nur. Kak Nur yang selalu memanjakan dan menyayanginya sepenuh hati. Dada Nur bergetar.
"Demi sayangku padamu?" ulang Nur mengutip kata kata Lilis. Demi sayang Nur pada Lilis, Nur bisa mem bun nuh Herman malam ini. Hatinya terbakar membara. Melihat gadis pengisi hatinya dicampakkan dua kali.
"Iya, demi sayangmu padaku," ulang Lilis dengan mata berkedip kedip manja lagi. Menatap Nur dengan tatapan manjanya belasan tahun yang lalu. Kali ini Nur tidak tahan. Dia menggigit tangan Lilis dengan giginya. Sebagai ganti has srat ingin mencium bibir Lilis yang menggoda.
"Kak Nur!!!" teriak Lilis tidak terima. Nur tertawa ngakak dan berlari menuruni loteng. Lilis dengan cepat menghadang jalannya. Kecepatan sebagai tentara dipergunakan. Nur terhadang dengan cepat. Lilis mencengkram kemeja Nur dan memepet pria itu ke pegangan tangga loteng.
"Kau mau main rahasia denganku!" kata Lilis sebal. Gadis itu masih juga kepo pekerjaan Nur.
"Tidurlah! Besok kau lihat sendiri apa yang aku kerjakan," janji Nur pada Lilis. Akhirnya Lilis setuju. Dirinya juga sudah mengantuk.
"Tapi jika kau tahu, aku akan kesulitan," tambah Nur membuat Lilis makin penasaran.
maklum y thoor masih terbiasa bca yg happy ending.
Nah, ws thor... aku promosikan lagi tuh