Niat hati ingin dinikahkan dengan kekasihnya, Rania justru dinikahkan dengan Dave, ayah kekasihnya tanpa sepengetahuan nya.
Suatu hari. Pernikahan Rania hampir saja batal, sebab pengantin prianya kabur entah kemana. Ketika Dave meminta maaf pada keluarga Hamid Malik atas kelakuan putranya, Hamid justru memaksanya untuk menikahi Rania menggantikan putranya, Kevin.
Dave tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Hamid. Selain Hamid mengancam Dave akan menyebarkan scandal putranya dengan putrinya ke media, Dave pun tak tega pada Rania yang konon katanya sudah dirusak oleh putranya.
Lantas, kemana Kevin? Dan apakah Rania menerima pernikahan nya dengan pria tua yang seharusnya menjadi ayah mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di atas king size
Rania ditidurkan di atas king size dengan posisi terlentang. Kemudian, Dave perlahan melepaskan pagutan bibirnya. Namun, tangan Rania menahan tengkuk Dave seolah tak ingin ciuman itu diakhiri.
"Sebentar, sayang. Saya mau buka pakaian saya dulu," bisik Dave lembut sambil mengangkat tangan Rania dari tengkuknya perlahan.
Rania membiarkan apa yang suaminya itu hendak lakukan. Setelah tangan Rania tak lagi menahan kepala Dave, Dave berdiri tegak. Melepas pakaian yang menempel ditubuh nya satu persatu.
Rania menatap takjub dengan mulut yang menganga. Tubuh suaminya yang tadi masih terbungkus rapih, kini sudah dalam keadaan hanya menyisakan celana bo xer ketat yang membungkus sesuatu dan nampak menonjol besar sekali didalamnya. Tatapan Rania menyapu seluruh tubuh suaminya mulai dari wajah tampan nya hingga kakinya. Hanya ada satu kata dibenak Rania saat ini, yaitu" sempurna".
Dave tersenyum melihat ekspresi Rania. Sejujurnya, ada keraguan di hati Dave mengingat kondisi Rania yang Dave yakini tak sepenuhnya sadar. Namun, karena hasrat birahinya yang kian memuncak dan sudah berada di pucuk ubun-ubun nya, Dave menyampingkan keraguannya itu. Akal kurang waras Dave berkata, nikmati saja yang ada saat ini, dan urusan akibatnya itu soal nanti. Toh, Rania istri sah nya yang sudah selayaknya Dave gauli.
Rania bangkit lalu berjalan menghampiri Dave yang hanya diam berdiri sembari tersenyum tipis ke arahnya.
"Ooom..!" ucap Rania dengan nada mengayun manja, saat mereka beradu pandang dengan jarak yang amat sangat dekat.
"I-iya, sayang," sahut Dave lembut tapi agak gugup.
"Kita main lagi yuk!"
Belum sempat Dave mengiyakan ajakan istrinya, Rania langsung melabuhkan ciumannya diatas bibir Dave. Kemudian mengalungkan kedua tangannya pada leher Dave. Dave menyambut nya dengan suka cita. Bibir mereka kembali berpagutan. Kedua tangan Dave pun bergelirya bebas di tubuh Rania yang polos. Menyapu perlahan mulai dari pinggulnya, lalu berakhir me re mas gemas dua gundukan yang mengkal dan menantang, dan sesekali memelintir pucuk nya yang berwarna merah muda. Tubuhnya merespon, menggelinjang pelan saat Dave melakukan hal demikian."Oom, sssshhh". De sa han yang keluar dari mulut mungil sang istri pun semakin membuat Dave kian bersemangat saja melakukan nya.
Dave mendorong pelan tubuh Rania ke arah king size sampai Rania terlentang pasrah. Setelah itu, Dave langsung menindih tubuhnya dan meng hi sap dua pucuk ranumnya secara bergantian, disertai dengan kejutan-kejutan yang berirama. Rania makin menggelinjang dan menjambak rambut Dave." Hmmmmmm.....!" desisnya.
Cukup lama Dave bermain-main di area gunung kembar. Dan setelah puas di area itu, kecupan Dave turun perlahan hingga ke area perutnya yang rata. Tubuh Rania meliuk-liuk saat Dave bermain-main di area sana, sampai akhirnya Rania berkata," Om, aku, aku mau keluar, Oomm." Seketika tubuh rania mengejang, di sertai lenguhan. Dave pun tersenyum melihat sang istri yang sudah mencapai or gas me nya.
"Apa aku sudahi saja. Rania sudah or gas me," ucap bathin Dave. Namun saat Dave hendak beranjak, Rania menahan tangannya.
"Mau kemana? Kenapa tidak diselesaikan dulu, Om!" ucap Rania lirih.
Glek
Dave menelan air ludahnya.
Tawaran Rania seolah kembali membangkitkan hasrat dan gairah Dave. Tanpa berpikir panjang, Dave langsung membuka bo xer yang membungkus pusaka kebanggaannya. Kini saatnya gantian dirinya yang akan menuntaskan keinginan nya yang sudah di tahan-tahan, dan membuat miliknya berdenyut nyeri karena belum saja tersalurkan.
Dalam posisi terlentang pasrah, Dave meregangkan kedua kaki Rania sedikit menekuk, lalu mengarahkan miliknya ke arah labia mayora yang nampak putih mulus serta mengkal. Saat Dave melakukan penetrasi, sejenak dave terdiam." Kenapa sulit sekali? Bukan kah milik wanita yang tak lagi perawan itu mudah dimasuki?"
Tapi karena hasrat birahinya yang tak lagi bisa di tunda, Dave tak peduli. Dave terus mendorongnya perlahan.
Rania meringis dan merintih." Sakit, Oom!" Tangannya me re mas kuat spray di sisi kanan dan kiri.
Dave langsung mengulum bibir Rania, agar ciuman nya itu dapat mengurangi rasa sakit pada saat proses penetrasinya. Senti demi senti Dave lalui, hingga saat Dave menghentak agak kuat " kreeekkk " Dave merasa miliknya menyeruak dan menembus sesuatu yang begitu hangat dan nikmat. "Awww sshhh....sakit, Ooomm!" Suara Rania menjerit, namun melemas diakhir. Airmata Rania pun keluar dari sudut-sudut matanya.
"Jadi kamu masih perawan, Rania!" ucap bathin Dave ditengah kesakitan milik Rania dan ditengah kenikmatan miliknya.
"Sakit, Om. Sakitt," gumam Rania lirih sambil merengkuh tubuh Dave. Kuku jarinya sedikit melukai kulit punggung Dave, saking sakitnya.
"Maaf sayang, maaf." Dave mengecupi mata Rania yang mengeluarkan airmata sampai airmata nya itu kering. Kemudian, Dave perlahan menggerak gerakkan miliknya di dalam labia mayora yang tak dapat Dave gambarkan bagaimana rasa nikmatnya.
Beberapa saat kemudian. Dan saat Dave terus menggerak-gerakkan miliknya, Rania meracau." Aku, aku mau nyampe, Om. Shhhh!"
Mendengar itu, Dave semakin mempercepat gerakan nya. Dave pikir, ini kesempatan dirinya untuk menanamkan benihnya pada rahim sang istri. Karena setelah malam ini, Rania belum tentu mau memberikan hak nya kembali. Dave berharap, benih nya yang sekali semprot ini akan tumbuh subur di dalam rahimnya. Kemudian lahir ke dunia sebagai generasi pertama dan terakhir Dave di usianya yang tak lagi muda.
Beberapa menit kemudian. Tubuh Rania dan Dave mengejang, disertai erangan dan lenguhan panjang saat cairan cinta itu keluar secara bersamaan. Dave melemas, lalu merubuhkan tubuhnya ke samping Rania agar tak menindih tubuh Rania yang juga lemas.
Rania dalam sekejap langsung tertidur pulas setelah dua kali mengalami or gas me.
Setelah nafasnya kembali teratur dan tubuhnya sedikit berdaya, Dave duduk hendak mengambil selimut yang terhempas ke bawah king size. Tak sengaja, Dave melihat bercak darah di bawah pinggul Rania yang masih terlentang polos. Dave mengusap wajahnya gusar. Melihat darah itu, Dave semakin yakin kalau Rania masih perawan dan tak hamil seperti dugaannya selama ini.
"Kenapa kamu dan Kevin membohongi kami? Bukan nya waktu itu kalian....." Dave mengacak-acak rambutnya. Tak habis pikir, kenapa putra dan calon menantunya itu berbohong. Membuat scandal yang konon katanya melakukan hubungan terlarang. Sampai Hamid memaksanya untuk menikahi Rania yang semestinya menikah dengan putranya yang kabur entah kemana.
Perasaan Dave saat ini ada dua versi yang berbeda. Senang dan sedih. Senang ternyata, dirinya sendiri lah yang memerawani dan Rania tak sedang hamil. Selain Senang Dave juga sedih. Karena cara Dave merenggut kesucian Rania bukan karena keikhlasan dari hati Rania, melainkan karena pengaruh obat perangsang. Bagaimana setelah Rania sadar nanti? dave mengusap gusar wajahnya.
ayo up lagi, kak