Setiap tindakan kekerasan yang dilakukan, baik disengaja atau tidak, akan berakibat pada gangguan atau kerusakan psikis dan atau fisik seseorang.
Karya ini mengisahkan tentang seorang wanita yang dikaruniai wajah cantik, bertubuh indah dan molek. Namun berada pada tempat dan lingkungan yang salah, hingga mengalami pelecehan dan tindak kekerasan demi kekerasan. Semua itu meninggalkan jejak yang melukai dari waktu ke waktu.
'JEJAK LUKA' ini dikisahkan, agar kita bisa berhati-hati dan waspada pada orang yang ada di sekitar kita. Baik saudara atau yang kau anggap teman baik.
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan selalu bahagia. ❤️ U.
🙏🏻Selamat membaca 💟
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Jejak Luka 28.
...~•Happy Reading•~...
Beberapa waktu kemudian, Enni bertemu dengan Prita di kamarnya. Mereka kembali berbagi cerita, setelah Prita menunjukan buku tabungan Enni. Enni juga menyerahkan uang tips dan gaji yang dia baru terima dari Mami Sinna kepada Prita.
"Aku seperti bendaharamu." Prita tersenyum, sambil menerima uang dalam amplop coklat yang diberikan padanya.
Sekarang Enni sudah bisa masukan uang ke dalam amplop coklat kepada Prita. Sebab sudah punya amplop dari Mami Sinna, saat berikan gajinya.
"Iyaa, yaa... Bendahara yang ngga digaji." Enni berkata sambil tersenyum memikirkan ucapan Prita saat menerima amplop darinya. Enni merasa, Prita menolong tabung semua uangnya tanpa diberikan sangu.
"Saat pegang uangku dan uangmu, aku merasa seperti orang kaya. Hehehehe..." Prita jadi tertawa dengan pikirannya sendiri, sebab dia tahu banyak uang Enni dalam buku tabungan. Apa lagi jika ditambah dengan tabungannya, makin banyak.
"Hehehe... Mba Prita bisa aja. Ooh, iya, Mba. Aku mau cerita tamu khusus yang aku layani waktu itu. Sebelumnya aku lupa cerita, sebab momennya ngga pas. Selalu buru-buru pamit, waktu bertemu." Enni berkata diselah tawanya, karena suasana yang lebih santai.
"Setiap kali kita bertemu hanya berikan amplop, terus kabur. Ngga sempat ngobrol dengan Mba. Tadi karena kita tertawa, aku jadi ingat kejadian lucu waktu itu." Enni mengingat kejadian bersama tamu khusus yang dilayaninya.
"Aku sangat ingat kejadian itu, karna itu pertama kali aku tertawa di tempat ini..." Enni menceritakan kejadian yang terjadi dengan tamu khusus yang dibilang seorang pejabat pemerintah oleh Mami Sinna.
Cerita Enni membuat mereka kembali tertawa sambil saling mendorong pundak. "Hahaha... Sudah letoi, padahal masih pingin, kesal banget tuuh." Prita berkata sambil tertawa membayangkan cerita Enni tentang pelanggangnya.
"Iya, Mba. Sangat kesal, karna mungkin masih pengen main lagi." Enni tertawa lagi, ingat yang dilakukan tamu yang dilayaninya dan juga langsung kabur.
"Bapak itu buru-buru, bukan mau cepat pulang, Winda. Tapi mungkin takut obat yang digunakan abis masa saktinya." Prita bicara sambil menahan tawa dengan ucapannya, sambil menghapus air yang keluar dari matanya.
"Maksudnya, gimana, Mba." Enni jadi berhenti tertawa lalu bertanya dengan serius, sebab belum mengerti maksud Prita.
Prita juga berhenti tertawa saat melihat Enni bertanya serius. Dia jadi berpikir, mungkin Enni belum mengerti atau tidak tahu yang dia maksudkan tentang obat.
"Aku lupa kasih tau, kadang pria-pria yang ke sini apa lagi yang sudah usia, suka gunakan jamu atau obat kuat. Supaya tetap semangat tegang dan ngga rugi, sudah bayarin banyak." Ucap Prita sambil tersenyum, mengingat pengalamannya dengan pria seperti itu.
"Ooh, gunakan obat. Jadi abis efek sakti obat, toh. Aku kira karna minum air mineral yang bikin juniornya melempem." Enni jadi menepuk dahinya, tapi jadi tersenyum akan pikirannya yang kocak.
"Seringnya begitu. Jadi ngga usah tanggapi ajakan keluar dari tempat ini. Sementara, jalani dulu di sini. Nanti kita pikir, jalan keluar yang baik. Siapa tahu ada kita bisa keluar bersama." Bisik Prita pelan, agar Enni bisa bersabar. Dia sudah berpikir untuk bicara dengan security.
"Iya, Mba. Makanya aku langsung tolak. Aku pamit dulu, ya, Mba. Takut dicari Mami Sinna, karna kelamaan di sini." Enni segera turun dari tempat tidur, khawatir keasyikan sampai lupa waktu. Prita mengangguk mengerti, lalu dia ikut turun dari tempat tidur.
...~▪︎▪︎▪︎~...
Setelah pertemuan itu, Enni kembali melakukan rutinitas seperti sediakala. Kesibukan di tempat itu membuat dia lupa waktu bahkan tidak tahu sudah banyak waktu yang berlalu.
Dia yang sebelumnya adalah yunior di tempat itu, sekarang telah menjadi senior. Dia hanya melihat perubahan orang-orang penghuni merak. Tapi dia tidak bisa bertanya, sebab tidak ada hubungan baik di antara mereka.
Enni hanya tahu banyak tahun sudah berlalu, dari tanggal yang tertera dalam buku tabungan yang diberikan oleh Prita padanya. Sebab di tempat itu tidak ada kalender yang bisa menunjukan tanggal, bulan dan tahun.
Hanya ada jam dinding di kamar yang menunjukan waktu untuk mereka bekerja, makan dan tidur. Jadi dia tahu sudah pagi, siang atau malam.
~**
Hari ini Enni kembali mengunjungi Prita untuk berbincang-bincang dan juga menitipkan uang yang didapatkan di tempat itu untuk ditabung, setelah lama tidak bertemu dengan Prita.
"Winda, kau sekarang makin dewasa dan cantik. Lebih cantik dari terakhir kita bertemu. Aku tidak bisa mengatakan perubahanmu." Prita berkata sambil memeluk Enni. Dia tidak bisa mendefenisikan perubahan pada tubuh dan wajah Enni.
"Benarkah, Mba Prita?" Enni berkata sambil membalas pelukan Prita.
"Benarrr... Kau sedang happy?" Tanya Prita menyelidiki, sebab melihat kecantikan dari dalam juga terpancar keluar.
"Mau dibilang happy, mungkin, Mba. Tapi ini mungkin karna aku jalani perawatan akhir-akhir ini. Mami Sin mendatangkan orang dari salon untuk merawatku." Enni berkata setelah melepaskan pelukannya, lalu duduk di atas tempat tidur dengan Prita.
"Waaooou... Pantas kau terlihat berbeda." Prita berkata sambil memperhatikan Enni dengan lebih teliti, dari atas sampai ke bawah.
"Mba liat rambutku ini. Cocok ngga?" Enni melepaskan jepitan rambut lalu menggerai rambutnya untuk dilihat Prita.
"Cocok banget. Perubahan warna rambutmu ke coklat gelap ini makin bikin kau jadi berbeda." Prita berkata sambil memegang rambut lebat Enni yang berwarna coklat gelap dan agak berombak melewati punggung.
Enni tersenyum senang mendengar pujian Prita yang setuju dengan warna rambut pilihannya saat Mami Sinna mau mengganti warna rambutnya.
"Tapi apa yang membuat Mami Sin merawatmu dengan merubahmu seperti ini?" Prita berkata sambil menunjuk wajah dan tubuh Enni dengan kedua tangannya. Ada hal yang mengganggu pikirannya tentang perubahan Enni.
Sebab setahunya, Mami Sinna tidak pernah melakukan sesuatu dengan percuma. Selalu ada rencana disetiap tindakan yang dilakukan buat para wanita yang tinggal di tempatnya.
"Aku ngga tau pasti. Tapi mungkin berhubungan dengan ajakan Mami Sin yang mau mengajakku keluar." Enni coba mengingat-ingat penyebab dia diperlakukan lebih istimewa dari yang lain.
"Mengejakmu keluar? Kemana?" Tanya Prita yang mulai curiga. Sebab dia sudah bertahun-tahun di tempat itu, tapi tidak ada pegawai salon datang merawat dia dan teman-teman di nuri. Apa lagi mau ajak mereka keluar. Tapi dia tahu ada wanita tertentu yang diajak keluar oleh Mami Sinna.
"Yang aku ingat, Mami Sin bilang waktu aku ambil gaji terakhir. 'Nanti siap-siap, ada yang akan datang merawatmu. Saya mau ajak kau ke anjungan.' Itu yang dikatakan Mami Sin." Enni meniru ucapan Mami Sinna.
"Tidak lama kemudian ada pegawai salon datang ke kamar untuk merawatku." Enni menceritakan yang dia ingat dan mengaitkan semua perubahannya dengan ucapan Mami Sinna.
Walau ucapan Enni tenang dan santai, membuat Prita terkejut. "Kau mau diajak ke anjungan sama Mami Sin?" Prita berkata pelan, cendrung berbisik sambil memegang kedua bahu Enni dengan kuat.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
derita anak pertama kalau orang tua tinggal 1 dan tidak perhatian lagi jadi banyak pikiran.
tinggalkan saja kekasihmu nes sekarang sudah selingkuh kedepan pasti selingkuh lagi.
selingkuh seperti penyakit tak ada obat
nyesek banget ada korban rudapaksa..