Sosok wanita Cantik dan Ceria bermata biru menjalani harinya dengan semua masalah yang ada, Kisah misteri dan juga Asmara yang datang silih berganti ikut menyertai.
Teman dan musuh tak bisa terlihat dengan nyata, bahkan cinta dan obsesi sulit untuk dibedakan.
Lalu bagaimana semua bisa terlewati, bahkan kematian menyertai perjalanannya, bagaimana kisah ketegangan penuh trik dan intrik akan berakhir, dan misteri terungkap dengan segala tipu daya, bahkan kekonyolan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantuan Saudara
Aftan terdiam dan mengerutkan keningnya.
"Apa mungkin mereka masih saudara?" Tanya lirih Aftan.
"Perlukah itu di bahas sekarang?" Jawab Ailina sedikit kesal dengan apa yang Aftan tanyakan.
Aftan terdiam, lalu segera menyerang kembali disaat anak buah pemilik kastil semakin banyak mengepung dan berdatangan.
"Tuan, ini tidak seimbang" ucap salah satu pengawal Aftan yang sudah membantu bertarung sedari tadi.
"Jangan terlihat cemas, kita berusaha sekuat tenaga" sahut Aftan.
"Ada pintu keluar rahasia, tempatnya aman dan ada di lantai atas ruang ini" sahut Ailina.
Nampak Aftan dan yang lain terdiam, mengerti dengan maksud perkataan Ailina, tak ada gunanya melawan saat ini, karena keadaan tak seimbang, bisa-bisa malah mati konyol.
Jadi yang terbaik saat ini adalah segera mencari jalan keluar dari kastil dengan cepat dan pergi sejauh nya, dan untuk selanjutnya dipikir nanti.
Aftan menyatukan kekuatan dengan Ailina untuk melawan seseorang yang mirip dengan Sky, kekuatannya sangat gila, bahkan Aftan dan Ailina sempat keteteran menyerang secara bersamaan.
"Aku semakin menyukaimu Baby" ucap laki-laki itu dan fokus menyergap Ailina.
Aftan tentu tak tinggal diam.
"Ba-ji-ngan, jangan harap kau bisa menyentuhnya!" Teriak Aftan dengan kekuatan lebih besar menghantam tubuh Musuhnya.
Tapi sayang, gerakan Aftan telah terbaca, dan mampu dihindari dengan sempurna, lalu terdengar tawa yang membuat Aftan makin murka.
"Perisai mu Ai!" Teriak Aftan saat terkejut laki-laki itu tiba-tiba sudah berada dekat sekali dengan posisi Ailina berdiri.
Ailina secepatnya menggerakkan tubuhnya dan mengeluarkan perisai semampu yang dia bisa.
"Kau cukup kuat juga" ucap laki-laki yang tak bisa menyentuh Alina sat ini.
Tubuhnya membentur perisai Ailina cukup keras, hingga terpental dan jatuh ke lantai, namun segera berdiri dan menatap tajam kembali.
Saat itu juga, kesempatan digunakan dengan baik untuk segera berlari menuju ke lantai atas Rungan seperti yang di bilang oleh Ailina.
Saling berlompatan dengan kekuatan ringan tubuhnya, semua sudah bisa masuk ke dalam sebuah lorong yang pintunya masih terbuka.
Sementara Aftan berusaha dengan keras menahan gerakan musuhnya yang ingin mengejar Ailina dan anak buahnya.
"Kalian pergilah dulu, ikuti lorong ini sampai akhir, akan ada Prof Mark dan orang-orang kita disana!" Teriak Ailina dan menutup pintu lorong rahasia itu kembali.
Lalu melesat kembali ketempat Aftan yang mati-matian beradu kekuatan yang masih seimbang.
"Kenapa kau kembali?!" Teriak Aftan.
"Aku belum berkeringat maksimal!" Sahut Ailina lalu melompat dengan kekuatan perisai dan mata birunya, saat ini benar-benar ingin menghajar laki-laki yang berani menculiknya.
BRAK
Senyum Ailina mengembang seketika, satu pukulan berhasil dengan baik mendarat di perut laki-laki itu.
"Sepertinya sudah cukup pemanasannya" kata-kata itu memuat Ailina seketika waspada.
Nampak mata laki-laki itu juga mengeluarkan sinar merah, dan apa yang terjadi berikutnya membuat hal luar biasa terjadi seketika.
Perisai Ailina menghilang, tubuhnya seolah tiba-tiba melemah, Aftan juga menyadari hal itu, di putuskan tatapan matanya seketika, dan baru memahami.
"Jangan tatap matanya Ai!" Teriak Aftan.
"Tidak semudah itu" sahut laki-laki itu lalu tertawa cukup meneruskan terdengar di telinga.
Benar adanya, Ailina tak bis memalingkan tatapannya lagi, seolah pancaran sinar merah dari mata laki-laki itu menguncinya.
Kekuatan mata biru Ailina pun tak bisa dikeluarkan sama sekali.
"Kak, tolong aku!" Teriak Ailina.
Aftan hendak melompat dan menyambar tubuh Ailina, namun terlambat, disaat yang sama dia juga diserang oleh beberapa orang yang membuatnya tak bisa meninggalkan tempatnya.
Suara tawa itu makin nyata perlahan berjalan mendekati Ailina yang masih terdiam dan tak bisa menggerakkan tubuhnya.
Apalagi kekuatan Ailina masih belum pulih sepenuhnya, menambah ketegangan dimana dia tak bisa melakukan apapun saat ini.
"Sudah aku bilang, tempat mu ada di sampingku Baby"
"Jangan berani menyentuh ku!" Teriak Ailina saat tangan itu terus menjulur menuju wajahnya.
BLAM
sebuah sinar melesat hampir saja mengenai tubuh laki-laki pemilik kastil yang ingin menyentuh wajah Ailina.
"My God, susah sekali sampai di tempat ini" suara seseorang yang kini tiba-tiba muncul di antara pertarungan yang ada.
Tentu saja tempat itu semakin porak poranda karena hantaman kekuatan saudara kembar Ailina.
"Kak Evan?!" Teriak Ailina yang langsung berlari saat tubuhnya bisa digerakkan kembali.
Aftan pun menatap lega, setelah sebelumya ikut terkejut dengan suara keras yang membuat tempat itu tak beraturan lagi.
Sementara ada yang terkejut dan berusaha berdiri setelah hampir saja terhantam oleh kekuatan Evan.
Evan menyiapkan tubuhnya menyambut Ailina yang menghampar ke arahnya.
"Kamu tidak apa-apa cantik?" ucap Evan setelah memeluk dengan erat saudara kembarnya.
"Kekuatanku kak, aku terkena racun dan belum pulih sepenuhnya"
"Bre-ng-sek, dia yang melakukan itu?" Tanya Evan dengan tatapan mata menuju ke musuhnya.
Ailina mengangguk pelan, dan kemudian melepaskan pelukannya.
"Ada masalah apa aku masih tak mengerti, tapi ini tak bisa dibiarkan"
Evan langsung mengeluarkan semua perisai di tubuhnya, kekuatan penuh segera dipakai karena sudah bisa meraba kalau saat ini bukan waktunya untuk main-main lagi.
Aftan pun bersiap.
Evan dan Aftan saling pandang, kolaborasi kekuatan penuh mereka dipastikan akan sempurna untuk memberikan pelajaran.
Sementara Ailina merasa tubuhnya masih lemah, terhuyung dan kemudian berjalan tertatih dan menepi dari area pertarungan dahsyat itu.
"Kamu tidak apa-apa" Aftan melompat bukan membantu Evan, justru menuju ke arah Ailina.
Evan mengerutkan kening, kakak sepupunya benar minta di hajar, bukannya membantunya malah menyambangi Ailina.
"Kak, aku baik-baik saja, bantu Kak Evan cepat!" Ucap lirih Ailina.
"Aku beri bantuan tenaga dalam ku dulu, setidaknya kamu tidak merasa lemah"
"Kak tidak usah, bantu saja kak Evan" Ailina berusaha menolak
"Ck, kamu dulu Ai" Aftan masih ngeyel tak mau beranjak.
"Kak?"
Interaksi yang membuat Evan terbengong dan tentu saja merasa ada yang aneh dalam pandangannya.
"Bukannya aku yang saat ini butuh bantuan?" Batin Evan sambil melanjutkan pertarungan.
"Hei, kalian sudah selesai!" Teriak Evan semakin kesal.
Baru saja Aftan mau menyalurkan tenaga dalamnya, segera di hentikan dan menatap Evan sejenak.
"Kekuatanmu bisa mengatasinya!" Sahut Aftan justru masih diam tak bergerak dan melanjutkan bantuan tenaga dalam ke tubuh Ailina.
"Shitt!, Aku kan juga Adik sepupu nya, dasar!" Umpat Evan yang akhirnya mau tak mau melawan sendiri.
Serangan yang sangat sempurna, dan mampu membuat laki-laki itu pun akhirnya roboh dengan membentur dinding cukup keras.
Nampak keluar darah dari mulutnya, Evan bersiap kembali untuk melumpuhkan.
"Aku tidak akan membunuhmu, tapi setidaknya tanganmu itu tidak akan bisa berfungsi lagi karena berani ingin menyentuh adikku"
Laki-laki itu terkesiap, tak mungkin lagi dirinya lari karena tubuhnya kini terluka parah, dan saat Evan akan menyerang, sebuah teriakan terdengar cukup keras, menghentikan apa yang akan dilakukan Evan.
"Jangan lakukan!"
Semua terkejut dan melihat ke sumber suara, ada Prof Mark sudah kembang kempis menahan nafasnya.
BRUG
Prof Mark seketika bersujud memohon.
"Apa yang Prof lakukan?"
Ada apalagi kira-kira ya?, Yuk KOMENnya, jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE,
dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.
kalau brian nugraha itu turunan alex
penasaran in q nya😊😊