Season 1 :
"Jika laki-laki yang menghamili mu adalah seorang Dokter, apakah papamu masih akan melakukan itu?"
Aurel tersentak, ia menatap Dokter itu dengan seksama.
"Apa maksud Dokter?"
"Aku akan menikahimu!"
Cerita ini menceritakan tentang perjuangan seorang dokter yang mati-matian menengang teguh sumpah jabatannya, hingga kemudian ia merelakan hidupnya, kepentingannya, perasaannya.
Lalu apakah akan selesai di sini? Masalah kembali datang ketika pria yang menghamili gadis itu muncul, dan tentang siapa sebenarnya pria itu dan apa hubungannya dengan Jessen, membuat hidup Jessen menjadi sangat rumit.
Season 2 :
Kehidupan baru David - Alea dimulai. Kehilangan bertubi-tubi yang dialami David membuatnya hancur dan rapuh.
Yang ia miliki sekarang hanyalah janin yang ada dalam kandungan Alea. Ia tidak ingin kehilangan lagi.
Bagaimana kehidupan mereka?
Siapa Ayah David?
Bagaimana dengan Jessen - Aurel?
Simak terus di COMPLICATED (David - Alea Story) ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
"Yosefina?"
Jessen menepuk jidatnya dengan gemas, kenapa bisa kebetulan begini sih? Kenapa juga wanita itu yang membawa status itu? Sialan!
Tapi apa boleh buat, Jessen segera menekan nomor itu, dan menghubungi nomor yang dikirim residen itu.
"Hallo ...,"
"Kamu dimana, status pasien ku kamu bawa!"
"Ini siapa sih?" tanya suara itu tampak sedikit menggoda.
"Nggak usah pura-pura nggak tahu, aku percaya kamu sudah tahu siapa yang menelepon mu ini!" Jessen benar-benar muak.
"Jessen? Oh kamu Jessen?"
Jessen menggigit bibir bawahnya dengan gemas, wanita satu ini sengaja atau bagaimana sih? Rasanya kalau dia bukan wanita Jessen ingin memukulnya sampai memar-memar.
"Menurutmu siapa lagi? Kamu buta? Di status itu tertulis kan siapa dokter yang menangani kasusnya?" guman Jessen tidak sabar.
"Hei aku tanya baik-baik."
"Aku juga tanya baik-baik, sekarang dimana status pasien ku itu? Aku butuh!" Jessen sudah benar-benar tidak sabar.
"Datang ke rumahku jika kamu benar-benar butuh dan mau status pasien itu kembali padamu. Aku kirim lokasi ku!"
"Aku mau kita ...." terdengar suara sambungan terputus. Yosefina lebih dulu menutup sambungan telepon.
"Sialan!" pekik Jessen sambil menahan emosi. Apa sih maunya wanita satu itu? Dan sekarang ia harus kerumahnya? Astaga!
Ponsel Jessen bergetar, lokasi sudah Fina kirim, tak jauh sih. Namun rasanya Jessen sangat malas jika harus kesana. Tapi kalau tidak ia ambil, lantas besok ia bagaimana dengan presentasi kasusnya? Apalagi ia sudah lupa lupa ingat dengan apa hasil anamnesa tadi.
Lagipula bisa-bisanya sih itu status dibawa pulang Fina? Apa kewenangannya membawa pulang status itu? Jessen dengan gusar kembali masuk ke dalam mobilnya, rasanya ia lebih baik segera ke sana dan mengambil status itu sesegera mungkin.
"Tidak terlalu jauh." guman Jessen ketika membaca lokasi yang dikirimkan itu.
Perumahan elit? Guman Jessen ketika map itu mengarahkannya pada kompleks perumahan elit yang terkenal mahal. Pantas saja sih kan suaminya sudah spesialis. Runtuk Jessen dalam hati. Rasanya kebenciannya kembali memuncak. Ia bergegas menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah dengan nomor 45 itu. Ya tepat sesuai titik yang Fina kirim.
Jessen mematikan mesin mobilnya, lalu melangkah turun dan masuk ke halaman rumah itu. Sepi. Tapi semoga saja dokter jantung itu ada, sehingga ia bisa segera pulang setelah mengambil status yang ia butuhkan itu.
"Permisi!" guman Jessen sambil menggetuk pintu rumah.
"Sebentar," sahut suara dari dalam. Itu suara Fina, Jessen tahu betul itu.
Tak beberapa lama pintu rumah terbuka, munculah wanita itu dengan mini dress warna kuningnya. Sialan! Bahkan tubuh menjulang itu masih sama seperti beberapa tahun yang lalu, tak banyak yang berubah dari sosok itu kecuali statusnya yang sudah menjadi istri dari laki-laki lain.
"Oh, datang juga." gumannya ketika melihat Jessen yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Mana berkasnya, berikan kepadaku." tanya Jessen dingin.
"Masuklah, akan aku ambilkan." gumannya sambil membuka lebar-lebar pintu rumahnya.
'Sial!'
"Tak perlu, aku di sini saja!" tolak Jessen ketus, dia tidak mau ada sesuatu yang terjadi di sini, tidak! Ia hanya mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi, dia laki-laki! Dan tampaknya rumah ini begitu sepi.
"Terserah!" guman sosok itu lalu naik ke tangga rumahnya.
Dari tempatnya berdiri Jessen bisa melihat dengan jelas betapa indah dan mulusnya kaki jenjang Fina itu. Darah Jessen berdesir, sebagai laki-laki yang sudah mencicipi tubuh wanita, tentu normal bukan kalau Jessen tergoda? Tapi tidak! Wanita itu bukan istrinya!
Jessen memijit keningnya dengan gemas, kenapa sih harus seperti ini? Kenapa parasit itu datang disaat ia sudah mulai mapan dengan kehidupan barunya? Kenapa?
"Sen! Bisa minta tolong?" teriak Fina dari lantai atas rumahnya.
"Tidak! Jangan banyak bicara, turunlah cepat dan berikan berkas itu!" jawab Jessen balas berteriak.
"Keterlaluan, tolonglah aku dulu!" Fina kembali berteriak.
Jessen mendengus kesal, ia mengacak rambutnya dengan gemas, menghirup nafas dalam-dalam lalu melangkah masuk ke dalam dan mulai menaiki anak tangga untuk menuju lantai atas, memang apa sih yang wanita itu lakukan sehingga harus berteriak minta tolong?
"Kamu dimana?" teriak Jessen ketika sudah berhasil sampai di lantai atas.
Fina menarik lengan Jessen, lalu menyandarkan tubuh itu ke tembok. Mata mereka saling bertemu. Wajah mereka cukup dekat sehingga Jessen bisa merasakan hembusan nafas itu menyapu wajahnya.
"Fin, lepaskan!" desis Jessen dengan suara tertekan.
"Nggak akan! Aku mau kamu!" balas Fina sambil menatap tajam mata Jessen.
"Kamu gila? Apa yang mau kamu lakukan? Memperkosaku? Atau malah mau membunuhku?" Jessen balas menatap tajam mata itu.
"Aku mau kamu kembali padaku, apakah itu hal yang sulit?" Fina makin mendekatkan wajahnya, Jessen sekuat tenaga mencoba melepaskan cengkraman wanita itu, dan mendorongnya hingga jatuh ke lantai.
"Kamu nggak waras! Setelah kamu mencampakkan aku begitu saja demi residen itu, sekarang kamu mau aku balik ke kamu? Benar-benar gila kamu, Fin!" caci Jessen sambil berkacak pinggang.
Fina tidak menjawab, ia tidak bangkit dari posisinya, ia malah menutupi wajahnya dan terisak. Jessen yang paling tidak bisa melihat dan mendengar tangisan wanita sontak luluh. Ia menatap nanar wanita itu.
"Mana berkas ku, aku akan segera pergi. Maaf sudah menganggu." suaranya sontak melunak, emosinya sudah bisa ia tekan.
"Aku harus bagaimana supaya kamu bisa memaafkan aku?" rintihnya sambil terisak.
"Jangan ganggu aku, cuma itu yang aku minta. Tolong! Aku sudah bahagia dengan kehidupanku, keluarga kecilku." Jessen jongkok tepat di depan Fina yang masih terisak itu.
"Aku cuma mau kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki semua yang telah aku sia-siakan, Sen!" Fina menatap Jessen dengan cucuran air mata, tampak sangat jelas tergambar bahwa Fina sedang dalam tekanan batin.
"Maaf, aku tidak bisa. Kisah kita sudah lama aku tutup. Sudah lama berkahir, tamat, dan apapun itu tidak akan ada yang bisa membuatnya kembali seperti dulu." Jessen menghela nafas panjang, ia sudah tidak mau lagi mengingat masa itu sebenarnya.
"Kita mulai semuanya dari awal, chapter baru, kisah yang baru, aku percaya kita bisa, Sen!" Fina meraih tangan Jessen, menggenggam tangan itu kuat-kuat.
"Maaf, aku sudah beristri, istriku sedang hamil. Tolong, sekarang berikan berkas ku, dan biarkan aku pergi. Tolong ... sekali lagi aku minta tolong, Fin."
Fina melepaskan tangan itu, ia malah menekuk lututnya dan menangis sejadi-jadinya. Jessen menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya, kenapa ia harus jatuh pada suasana seperti ini sih?
"Baik, tapi sebelumnya bolehkah aku minta satu hal?" tanya Fina sambil menatap nanar laki-laki yang ada dihadapannya itu.
"Apa?"
"Tolong peluk aku sebentar saja!"