Lisa Ayunda Wijaya wanita cantik yang berusia 23 tahun, yang sudah menyandang status istri dari Rafa Anderson, ia di hianati oleh suaminya hingga memiliki hubungan terlarang dengan Papa mertuanya.
Lisa pikir Papa mertuanya itu orang yang sangat baik, nyatanya Papa mertuanya adalah orang yang menyembunyikan segalanya darinya.
"Lisa pikir Papa orang yang sangat baik, tapi nyatanya Papa pembohong terbesar dari pada Rafa!!!"
"Maafkan Papa, semua Papa lakukan karena Papa sangat mencintaimu."
Lalu bagai mana kisah cinta Lisa, apa ia tetap menjalin hubungan terlarang, atau ia mengakhiri semuanya setelah tau rahasia Papa mertuanya?
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 35 Ke Makam
Lisa tertidur pulas dari semalam setelah melakukan olah raga malam bersama Papa mertuanya di atas ranjang.
Bahkan hingga jam menunjukkan pukul 07.00WIB, Lisa masih tertidur pulas dengan posisi yang sama masih memeluk Papa mertuanya.
Sedangkan Bagas sendiri ia sudah terbangun dari jam menunjukkan pukul 05.00WIB, karena ia sebenarnya belum menyelesaikan pekerjaan rancangan proyek yang akan ia bangun di luar kota nanti, tapi karena menantunya tidak kunjungan bangun, dengan terpaksa ia masih berbaring di atas ranjang.
Bagas memandangi wajah menantunya yang masih tertidur pulas, lalu ia tersenyum saat banyak tanda kepemilikan di leher menantunya.
"Terima kasih masih tetap mau bersamaku walau pun usia kita berbeda, Lisa Papa berharap apa pun yang terjadi nanti di masa depan kamu tetap bersama Papa."
Setelah mengatakan itu Bagas langsung mengecup kening menantunya cukup lama hingga menantunya terbangun dari tidurnya.
"Pagi sayang."
Bagas menyapa menantunya sambil tersenyum lebar, senyuman yang tidak pernah pudar dari bibirnya semenjak ia bisa bersama menantunya.
"Iya pagi Pa, Papa sudah bangun dari tadi?"
Lisa bertanya sambil mengusap ke dua matanya.
"Iya Papa bangun dari tadi, mau sekarang apa nanti sore ke makam orang tuamu?"
"Sekarang saja Pa, tapi Lisa tidak ingin sarapan dulu, kalau Papa mau sarapan, sarapan saja dulu."
"Tidak, iya sudah kamu mandi sana, bajumu tinggal pilih di lemari."
Bagas berbicara sambil duduk dan menunjuk ke lemari pakaian tempat baju menantunya.
"Papa tidak sering membawa wanita kemari?"
Lisa bertanya dengan kening berkerut saat mendengar ada baju wanita dalam lemari kamar Papa mertuanya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak sayang, semua yang ada di lemari itu sudah Papa siapkan untuk kamu satu bulan yang lalu."
"Oh begitu."
Setelah mengatakan itu Lisa langsung berjalan ke lemari pakaian, ia langsung mengambil baju pilihannya lalu langsung pergi ke kamar mandi.
Sedangkan Bagas memutuskan untuk mandi di kamar mandi tamu, sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi terlebih dulu di tanya oleh Olivia
"Kaka tidur satu kamar bersama Kalisa?"
Olivia bertanya dengan kening berkerut saat tau dari asisten rumah tangganya semalam kalau Lisa tidak keluar kamar dari semalam di kamar kakak angkatnya.
"Iya memangnya kenapa? Lagi pula kita bukan anak-anak lagi."
Setelah mengatakan itu Bagas langsung meninggalkan Olivia yang masih terus mengamati lehernya, ia yakin kalau ia juga memiliki tanda kepemilikan dari menantunya melihat reaksi Olivia melihat dengan kening berkerut.
Namun Bagas sama sekali tidak malu, lagi pula Olivia bukan lagi anak-anak, Olivia sudah dewasa, tentu paham dengan masalah itu.
Setelah Bagas dan menantunya selsai mandi, ia langsung berpamitan pada Olivia karena akan pergi ke makam orang tua menantunya, tidak lupa ia juga membeli bunga di perjalanan.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil Bagas tidak melepaskan genggaman tangan menantunya. Sedangkan Lisa hanya fokus melihat ke arah leher Papa mertuanya sambil tersenyum karena mengingat permainannya semalam hingga meninggalkan banyak tanda kepemilikan di leher Papa mertuanya.
"Oh Lisa, kenapa otak mesum kamu itu hingga tidak ada rasa malu, sampai meninggal banyak tanda kepemilikan, kalau Papa yang melakukan itu sama kamu tidak masalah, Papa seorang lelaki, tentu wajar kalau nafsu Papa sangat tinggi, tapi ini kamu perempuan Lisa, kamu bahkan tanpa malu-malu memberikan tanda kepemilikan pada Papa."
Walau pun Lisa tersenyum ia tetap merutuki kebodohannya karena malu saat melihat tanda kepemilikan dari Papa mertuanya, apa lagi tadi di rumah itu ada Olivia, ia yakin kalau Olivia mengetahuinya membuat ia malu sendiri.
"Kenapa kamu menatap Papa seperti itu sayang?"
Bagas bertanya tanpa melirik ke arah menantunya, ia tetap fokus menyetir.
"Tidak apa-apa Pa, Lisa hanya malu karena melihat Papa yang banyak tanda kepemilikan oleh Lisa, pasti tadi tantu Olivia berpikir betapa frontal dan tidak tau malunya Lisa."
"Tidak apa-apa sayang, lagi pula Papa suka."
Bagas memang sama sekali tidak keberatan saat ada tanda kepemilikan di lehernya, lagi pula tanda kepemilikan itu di berikan oleh wanita yang sangat ia cintai.
"Tetap saja Lisa malu Pa."
"Kita sudah sampai sayang."
"Iya Pa."
Mereka berdua langsung turun dari mobil lalu berjalan sambil bergandengan tangan ke arah makam orang tua Lisa.
Setelah sampai Bagas dan Lisa langsung berdoa lalu ia juga langsung menaburkan bunga yang ia beli tadi di perjalanan. Setelah selsai Bagas langsung mundur beberapa langkah, ia membiarkan menantunya mencurahkan semua isi hatinya pada makan orang tua menantunya.
"Ma, Pa, maafkan Lisa karena Lisa baru bisa datang kemari, maafkan Lisa yang masih belum mengingat Papa dan Mama, Lisa sangat sayang kalian berdua. Pa, Ma, Terima kasih karena telah memberikan lelaki baik seperti Papa Bagas untuk Lisa, kalian berdua memang tau kalau Papa Bagas adalah orang yang sangat baik."
Air mata Lisa langsung mengalir deras, memang hatinya sangat sedih walau pun ia belum mengingat masa lalunya.
"Pa, Ma, kalian berdua tidak perlu kuatir, sekarang Lisa sudah sangat bahagia dengan lelaki pilihan kalian, semoga saja jalan Lisa dan Papa Bagas di permudah kedepannya. Pa, Ma, Lisa pamit pulang dulu."
Lisa langsung menghapus air matanya, ia langsung berdiri dari duduknya, lalu ia langsung berjalan ke arah Papa mertuanya.
Setelah itu Bagas juga membawa menantunya ke makam ke dua orang tuanya yang tidak jauh dari sana. Setelah berdoa Bagas mengenalkan Lisa pada makam orang tuanya kalau Lisa adalah wanita yang sangat ia cintai.
Memang selama ini Bagas tidak pernah membawa Lusi ke makam orang tuanya, ini baru pertama kalinya ia membawa wanita ke makam orang tuanya.
Setelah berbicara panjang lebar dan Bagas juga tidak lupa meminta restu ke orang tuanya agar ke depannya masalah ia dan menantunya di permudahkan.
Setelah selsai mereka berdua langsung kembali ke mobil lagi, lalu Lisa langsung memeluk Papa mertuanya.
"Terima kasih Pa, sudah menjadi lelaki yang selalu berdiri di belakang Lisa selama ini, dan Terima kasih telah mengantarkan Lisa ke makam orang tua Lisa."
Lisa sangat terharu dengan semua yang di lakukan Papa mertuanya selama ini, bahkan kalau orang lain yang di berikan kepercayaan oleh ke dua orang tuanya belum tentu seperti Papa mertuanya.
Apa lagi Lisa juga tau dari cerita Papa mertuanya kalau perkara kematian orang tuanya karena urusan masalah harta hingga mereka mengorbankan nyawanya agar tidak jatuh pada orang yang salah.
Menurut Lisa ia sangat beruntung bertemu lelaki seperti Bagas, bahkan adik tiri Papanya saja tega membunuh keluarganya sendiri hanya untuk harta, sedangkan Papa mertuanya yang di percaya oleh ke dua orang tuanya sangat amanah.
Papa mertuanya mengembalikan semua aset miliknya lagi, padahal kalau pun semua harta miliknya tidak di kembalikan, ia juga tidak tau kalau ia adalah putri dari orang berada.
"Itu sudah kewajiban Papa sayang, Papa sangat mencintaimu, tentu saja Papa harus menjaga wanita yang Papa cintai."
Bagas berbicara sambil membalas pelukan dari menantunya, ia juga mengecup singkat kening menantunya.
"Semoga masalah kita di permudah dan semoga kita cepat bersama."
"Iya sayang semoga saja kita segera menyelesaikan masalah kita masing-masing lalu kita menikah dan hidup bahagia."
"Iya Pa."
wanita kalian sudah egois pasti hal menjijikan sekalipun dia benarkan
DinDut Itu Pacarku mampir
DinDut Itu Pacarku mampir