Masalah ekonomi membuat sepasang suami istri terpaksa harus tinggal di salah satu rumah orang tua mereka setelah menikah. Dan mereka memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua sang istri, Namira.
Namira memiliki adik perempuan yang masih remaja dan tengah mabuk asmara. Suatu hari, Dava suami Namira merasa tertarik dengan pesona adik iparnya.
Bagaimana kisah mereka?
Jangan lupa follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan Jiwa
"Duduk, kak, bu," pinta Sera seraya menepuk tepi ranjang agar mereka duduk dengannya.
Bu Ita duduk di sisi kiri Sera, Namira di sisi kanannya, sementara Sera di tengah.
"Kak Dava itu baik tahu sama aku, tapi kak Dava jahat sama kak Namira. Aku juga jahat sih sama kak Namira," ujar gadis itu lagi.
Namira mulai menghentikan tangisnya. Ia memberi kesempatan untuk Sera bicara.
"Kenapa? Ada yang mau kamu ceritain sama kakak sama ibu?"
Sera mengangguk. "Iya. Kak Dava itu baik banget sama aku karena dia itu suka dengerin cerita aku, ngertiin aku waktu aku ada masalah sama Riki."
Kening Namira berkerut. "Riki siapa?"
"Pacar aku. Tapi sekarang udah putus."
"Putus kenapa?"
"Riki nyuri uang SPP sekolah aku yang dari kak Namira."
Namira merasa bingung, tapi apa yang di katakan oleh Sera adalah sebuah kejujuran.
"Kok bisa? Bukannya kamu udah bayarin uang itu ke sekolah?"
Sera meringis dan merasa malu. "Hehe, aku bohong. Aku gak bayarin ke sekolah, aku simpan uangnya di laci buat jajan."
"Terus kenapa bisa di curi sama pacar kamu?"
"Bisa, kan dia nginap di rumah waktu kakak nginap di rumah mertua kak Namira."
Namira sedikit mengingat-ingat kapan kejadiannya. Namun, Bu Ita memberi tahu sesuatu jika pada malam itu beliau pernah mendengar ada suara laki-laki di dalam rumah, mungkin itu yang di maksud Sera.
"Kamu ngajak Riki nginap?"
"Enggak, itu mau dia. Tapi aku senang juga kalau dia nginap di rumah, kita bisa tidur berdua, pelukan, pokoknya aku senang."
Namira hanya bisa menghembuskan napas seraya istighfar. Begitupun dengan Bu Ita yang cukup terkejut atas pengakuan Sera.
"Aku kecewa juga sama Riki, aku marah, karena dia menghilang gitu aja setelah nyuri uang aku. Untung ada kak Dava yang bisa ngertiin perasaan aku gimana waktu itu."
"Awalnya kak Dava nanyain soal pengaman yang dia temuin di tong sampah, itu bekas Riki semalam sama aku. Terus dia jadi nanya-nanya dan aku pun gak canggung lagi buat ceritain semuanya sama kak Dava. Terus setelah itu kak Dava kasih aku solusi gimana caranya supaya aku dapat uang buat ganti uang itu supaya kak Namira gak marah apalagi sampai tahu. Kak Dava punya temen dan temennya itu punya temen yang kerja di kafe, kebetulan lagi ada lowongan. Aku kerja paruh waktu di sana, setiap Sabtu sore dan hari minggu. Dan soal kak Dava kerja sampingan itu sebenarnya bohong, kak Dava antar jemput aku kerja di kafe itu. Kita selalu mampir dulu buat beli jajanan karena aku suka jajan, kalau selama aku kerja kak Dava pergi gak tahu perginya kemana, pokoknya jam aku pulang, dia udah stay di parkiran. Baik banget kan kak Dava?"
Namira terdiam. Kenapa setelah tiga tahun ia baru tahu cerita yang sebenarnya. Itupun di saat kondisi Sera sedang bermasalah.
Bu Ita berusaha memberi peringatan pada Namira untuk tetap tegar dan ikhlas usai mendengar cerita dari Sera.
Namira mengangguk, membenarkan cerita adiknya walau ia merasa perih lantaran luka lamanya kembali terbuka.
"Makin lama aku makin nyaman sama kak Dava, karena kak Dava selalu ada buat aku. Tapi aku juga ngerasa bersalah karena kak Dava itu suami kakak aku sendiri," imbuh Sera.
Namira rasanya sudah cukup untuk dengar cerita Sera. Ia tidak ingin lebih terluka lagi.
_Bersambung_