Dipaksa menikah dengan musuh bebuyutannya di kampus karena sebuah perjodohan yang dibuat oleh kedua kakek mereka yang saling bersahabat. Membuat hidup Johan dan Jihan penuh dengan warna.
Bukan warna kebahagiaan namun warna pertengkaran di setiap hari yang mereka lalui bersama. Johan yang memiliki perasaan cinta pada Jihan namun tak bisa mengekspresikannya dengan baik karena sikap kaku, dingin dan isengnya membuat ia selalu bersikap menyebalkan di mata Jihan. Jihan selalu tak pernah tak marah jika bertemu dengan Johan.
Mampukah Johan membuat Jihan jatuh cinta padanya, meski Jihan sudah terlanjur sebal dan benci pada Johan?
Lalu bagaimana kisah rumah tangga tak biasa mereka akibat perjodohan ini?
Yuk simak novel ini hingga akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditegur
"Marisa, Jihan." Tegur Pak Damian yang tengah berdiri menerangkan materi kuliah hari ini.
Marisa dan Jihan menunduk saat dosen tampan itu menegur mereka. Jihan sedikit melirik kebelakang dimana suaminya berada. Tatapan tajam pun didapatkan Jihan. Pasalnya sejak tadi Johan sudah menendang pelan kursi sang istri untuk tidak terus merumpi dengan sahabat baiknya itu.
Jihan mengerucutkan bibirnya saat mendapati tatapan tajam dari suaminya. Ia membalikkan pandangannya ke depan, melihat Pak Damian yang terus melihat kearah dirinya dan juga Marisa. Kemudian kembali menunduk takut dan malu.
"Kalian kalau tidak suka dengan mata kuliah saya, silahkan keluar! Pintu selalu terbuka untuk orang-orang yang tidak mau mengikuti mata kuliah saya, begitupun sebaliknya pintu selalu terbuka untuk orang-orang yang sangat berminat untuk mengikuti mata kuliah saya." Ucap Pak Damian dengan tegas.
Kedua wanita ini hanya bisa mengucapkan kata maaf, kemudian diam membisu dengan menyembunyikan wajah mereka. Melihat kedua mahasiswinya terdiam, Pak Damian akhirnya meminta mereka untuk ke ruangan kerjanya setelah jam mata kuliahnya berakhir nanti.
"Marisa,Jihan. Setelah jam mata kuliah saya berakhir. Saya minta kalian ke ruangan saya!" Perintah Pak Damian yang kemudian melanjutkan lagi menerangkan materi kuliah hari ini.
Usai jam mata kuliah Pak Damian berakhir dan Pak Damian sudah pergi dari kelas mereka. Johan memukul pelan kepala istrinya dengan buku tebal yang ada di tangannya
Bugh!
"Aduh sakit... Mulaikan kasar lagi ihh," rintih Jihan pada Johan yang tersenyum tak jelas pada istrinya.
"Coba bilang sama gue, tadi lagi ngerumpiin apa sih sampai di tegur sama dosen sok ganteng itu?"tanya Johan pada keduanya.
"Dia emang ganteng, bukan sok ganteng, yang sok ganteng itu lo." Sanggah Marisa yang membela tunangannya.
Marisa memang sudah dijodohkan dengan Pak Damian dan mereka sudah resmi bertunangan empat hari yang lalu.
"Weh...wehh... Ada angin apa lo Marissa belain tuh dosen. Tumben?" Seloroh Johan sembari menepuk sedikit keras lengan Marisa.
"Aduhh... Jie. Suami lo kasar banget!" Rintih Marisa saat tubuhnya terhuyung karena pukulan yang diberikan Johan pada lengannya.
"Emang gitu dia, udah watak susah buat diperbaiki." Sahut Jihan sembari membereskan buku-bukunya.
"Kok baby ngomongnya gitu sih?" Tanya Johan.
Ia menyingkirkan tangan istrinya yang tengah membereskan buku-buku di atas mejanya. Ia membantu sang istri memasukkan buku-buku sang istri ke dalam tas kuliah istrinya itu, yang ukuran tasnya terlalu sempit.
"Kenapa beli tas yang kecil lagi sih? Ini tuh nggak muat baby." Protes Johan ketika ia kesulitan memasukkan buku-buku sang istri ke dalam tas istrinya tersebut.
"Yang sempit-sempit itu bukannya enak." Ledek Jihan pada suaminya sembari memberikan kedipan mata genitnya.
"Mulai nakal ya." Sahut Johan yang memajukan wajahnya mendekati wajah sang istri.
"Ekhmm... Masih ada orang," Marisa berdeham, menggagalkan niat Johan yang ingin mengecup bibir sang istri.
"Ayo Jie, kita keruangan Pak Dosgan!" Ajak Marisa yang menarik tubuh Jihan untuk segera pergi dan tak memperdulikan Johan yang masih sibuk dengan tas Jihan dan buku-bukunya.
"Ayang bawain tas gue ya?" Pinta Jihan pada Johan yang masih berusaha merapikan buku-buku Jihan ke dalam tas.
"Ok siap Baby." Jawab Johan yang tersenyum manis pada istrinya.
"Geli banget gue denger lo manggil Johan. Ayang-ayang." Cibir Marisa sembari menggidikan tubuhnya.
"Apa sih? Iri aja lo nyai... Hahaha... Pengen lo ya?" Sahut Jihan dengan tawa meledeknya.
"Gak juga." Balas Marisa dengan wajah merenggutnya.
Seharusnya Jihan tanpa harus ditanya sudah mengerti jika temannya juga menginginkannya.
"Gak juga berarti iya dong. Gih sana buat panggilan sayang sama Pak Dosgan yang bentar lagi halal di cemek-cemek." Tambah Jihan yang makin membuat Marisa makin menekuk wajahnya.
Tidak mungkin dia membuat panggilan sayang dengan Pak Damian. Pasalnya sang dosen sudah terang-terangan mengatakan jika dia tak mencintai dirinya, dan menerima perjodohan ini karena terpaksa, demi karirnya sebagai dosen di kampus milik pamannya ini.
Awalnya setelah mendengar kejujuran Pak Damian, Marisa ingin sekali membatalkan pertunangannya dengan Pak Damian. Namun Pak Damian memohon pada Marissa untuk menyelamatkan karirnya, dengan tetap melanjutkan pertunangan dan perjodohan ini.
Atas dasar rasa suka dan cintanya Marissa pada Pak Damian, akhirnya ia menerima permohonan Pak Damian. Meski hatinya cukup terluka dengan kenyataan ini.
Adapun alasan mengapa Pak Damian terpaksa menerima perjodohan dari tuan Sadewo. Itu karna Tuan Sadewo mengetahui desas-desus jika dirinya menyukai Jihan, menantu dari teman baiknya.
Demi menyangkal desas-desus yang didengar sang paman. Pak Damian akhirnya mau menerima tantangan dan tawaran sang paman untuk di jodohkan dengan anak rekan bisnisnya yang ternyata adalah orang tua Marisa.
Tok...tok...tok [Marisa mengetuk pintu ruang kerja Pak Damian].
"Masuk!" Sahut Pak Damian dari dalam.
Marisa membuka pintu ruang kerja Pak Damian, dan meminta Jihan untuk masuk terlebih dahulu.
"Masuk Jie!" Marisa melambaikan tangannya untuk Jihan masuk.
Kini keduanya tengah duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Pak Damian.
"Saya belum meminta kalian untuk duduk!" Seloroh Pak Damian yang melihat wajah bingung Jihan dan Marisa.
"Maaf Pak, saya lagi program punya baby, gak boleh banyak berdiri nanti capek " Jawab Jihan spontan, yang diangguki Marisa dan membuat Pak Damian menyernyitkan kedua alisnya.
"Bukan urusan saya." Celetuk Pak Damian dengan wajah dinginnya.
"Emang bukan." Balas Jihan dengan wajah tak kalah datar dan dinginnya.
Damian kembali menyernyitkan kedua alisnya mendengar untuk pertama kalinya. Ucapannya di timpali oleh Mahasiswinya.
Jujur saja, setelah gawang Jihan di bobol Johan. Kepribadian Jihan mengalami sedikit perubahan. Ia lebih sensitif dan menjadi orang yang perasaan. Ketika dia tidak menyukai suatu hal, ia akan lebih frontal menyuarakan dirinya, jika ia merasa benar.
"Kalian tahu tidak, kenapa saya panggil kalian ke sini?" Tanya Pak Damian yang bersandar di kursi kebesarannya dengan melipat kedua tangannya di dada.
Keduanya menggelengkan kepala, tak mengerti maksud dan tujuan dosen ganteng itu memanggil mereka.
"Kenapa kalian bergosip di saat jam mata kuliah saya?" Tanya Pak Damian menatap keduanya secara bergantian.
"Gak sengaja Pak." Jawab keduanya dengan kompak.
"Gak sengaja?"
"Iya." Jawab keduanya lagi.
"Katakan pada saya apa yang tengah kalian obrolkan tadi?" Tanya Pak Damian di luar konteks.
"Harus banget dijawab Pak?" Tanya Marisa yang mendapat anggukan kepala dari Dosen mereka ini.
"Kepo banget sih. Amit-amit cabang bayi." Gerutu Jihan yang didengar oleh Pak Damian.
"Kamu tadi ngomong apa Jihan?" Tanya Pak Damian yang kini memajukan tubuhnya mendekati meja. Ia menatap Jihan dengan tatapan tajamnya yang malah membuat Jihan takut dan matanya mulai berkaca-kaca.
Alih-alih mendapatkan jawaban dari Jihan, Pak Damian malah mendapatkan tangisan Jihan yang tiba-tiba saja pecah di ruangan kerjanya.
Marisa berusaha menenangkan tangis Jihan dan Pak Damian terus saja memijit pelipisnya, ia tiba-tiba saja merasa pusing dengan sikap Jihan yang sangat berlebihan menurutnya.
Ia hanya bertanya pada Mahasiswinya yang sudah berani-beraninya mengumpati dirinya, tapi dia malah harus menghadapi tangis Jihan yang begitu menyebalkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Mampir ke sini juga ya...