Mendapati suaminya bercinta dengan adik kembarnya hingga hamil seolah belum cukup membuat Rana menderita, hingga Mamanya meminta Rana untuk berbagi suami dengan adik kembarnya itu, Rania. Karena merasa dirinya ikut andil menjadi penyebab perselingkuhan itu, Rana pun harus mengikhlaskan suaminya menikahi Rania, meski hatinya luar biasa hancur dan kecewa. Belum lagi sikap Rangga yang semakin lama semakin mengabaikan keberadaan Rana, demi Rania yang sedang mengandung anaknya.
Hadirnya sosok Ananta yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, membuat Rana sadar akan rumah tangganya yang mulai tidak sehat lagi. Rana pun menjadi bimbang, antara berpisah dengan Rangga dan kembali pada mantan kekasihnya itu, atau tetap mempertahankan rumah tangganya dan membuat Rania pergi dari kehidupan mereka?
Follow IG @si_nicegirl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nicegirl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mereka Check In?
"Mama tidak mau tahu, kamu harus menikahi Nia setelah ingatan Nia kembali! Atau sesuai kesepakatan kita, akhir bulan ini kita akan mengatakan kebenaran itu pada Nia, dan setelah itu kamu bisa menikah dengannya!"
Ucapan mama Tian terus terngiang di telinga Rangga, hingga membuat suasana hati Rangga menjadi buruk, dan ia tidak fokus pada pekerjaannya.
Ada dua rapat yang harus ia cancel, karena moodnya sedang buruk sekali. Untuk menghindari sesuatu yang tidak ia inginkan.
Sambil bersandar pada kursi kerjanya, Rangga terus menatap bingkai foto dirinya bersama Rana. Foto pernikahan mereka yang terpampang di atas meja kerjanya.
Rangga mengambil bingkai foto itu untuk mengusap bagian wajah Rana yang terlihat sangat cantik dengan kebaya pengantinnya.
Senyum bahagia tidak hanya tersungging di wajah Rangga, tapi juga si wajah Rana.
Apa senyum itu akan terus mengembang di wajah cantik Rana saat istrinya itu mengetahui kalau Rangga dan Rania telah melakukan hubungan itu?
Sudah pasti tidak. Malah bisa jadi akan sangat membahayakan untuk pernikahan mereka.
Rangga harus bisa membujuk Rania agar menentang rencana mama Tian yang akan menikahkan mereka.
Tapi bagaimana caranya kalau ingatan Rania saja belum kembali?
Rangga mengerang pelan lagi. Otaknya yang encer biasanya selalu dapat menemukan jalan keluar dalam setiap masalah, kini seolah-olah membeku. Blank sama sekali.
Namun ia akan tetap pada pendiriannya untuk tidak menduakan Rana, untuk tidak menikah lagi terutama dengan adik iparnya sendiri.
Tapi bagaimana kalau mama Tian yang membicarakan masalah ini langsung ke Rana? Pastinya Rana akan lebih sakit hati lagi nantinya.
Satu-satunya jalan saat ini adalah bicara jujur dengan Rana dan bersiap dengan apapun yang akan menjadi konsekuensinya.
Ya, lebih baik Rangga sendiri yang mengatakannya pada Rana langsung.
Sebelum keberaniannya memudar, Rangga bergegas meninggalkan ruang kerjanya. Ia berhenti sebentar untuk berbicara dengan sekretarisnya,
"Kalau ada yang mencari saya, katakan saja saya pulang lebih awal karena ada urusan mendadak!" serunya.
"Baik, Pak Rangga."
"Dan jangan lupa batalkan semua janji temu saya hari ini, juga esok hari!" tambahnya sebelum melanjutkan lagi langkahnya.
Rangga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai ke kantor Rana, sebelum keberaniannya menghilang.
Entah sudah berapa kali mobilnya nyaris bersenggolan dengan pengendara motor, sampai akhirnya mobilnya memasuki gedung kantor Rana.
Ia baru akan melewati lobby untuk menuju tempat parkir saat melihat Ran sedang berhadapan dengan Ananta.
Mereka berdiri terlalu dekat, hingga dada Rangga terasa sakit karena terbakar api cemburu. Terutama saat melihat Ananta menyelipkan rambut Rana yang tertiup angin ke balik telinganya.
Rangga mematikan mobilnya dan baru bersiap keluar dari dalam mobil untuk menghajar Ananta ketika pria itu membukakan pintu mobil untuk Rana, sebelum ikut masuk setelah Rana duduk manis di dalamnya.
Melihat mobil mewah itu bergerak keluar, Rangga pun kembali menyalakan mesin mobilnya untuk membuntuti mereka.
Saat ini bukan waktunya makan siang. Jadi ke mana mereka akan pergi?
Perut Rangga terasa mencelos saat membayangkan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi pada Rana dan Ananta. Kecemburuannya semakin memuncak hingga mendekati amarah.
Stir mobil yang tak bersalah menjadi pelampiasannya saat Rangga mencengkeramnya dengan terlalu erat hingga buku tangannya memutih.
Cukup jauh mereka pergi dari kantor, nyaris setengah jam Rangga membuntuti mobil yang membawa istrinya itu.
Kalau saja Rana tidak sedang bersama Ananta, Rangga tidak akan membuntutinya hingga seperti ini dalam keadaan kepalanya yang berdenyut nyeri.
Masalahnya pria yang membawa Rana adalah mantan istrinya itu. Satu-satunya pria yang Rangga cemburui. Karena cukup lama Rana move on dari pria itu hingga akhirnya bersedia menerima cinta Rangga.
Amarah Rangga semakin memuncak saat mobil Ananta masuk ke sebuah hotel mewah dan berhenti di depan lobby masuknya.
Supir Rangga turun untuk membukakan pintu Rana, sementara pegawai hotel membuka pintu di sisi Ananta. Mereka jalan bersisian memasuki hotel tanpa menyadari Rangga sedang memperhatikan mereka.
Setelah supir Ananta membawa mobilnya ke area parkir, Rangga bergerak maju. Ia melompat turun dan menyerahkan kunci mobilnya pada karyawan hotel. Ia tidak mau kehilangan jejak Rana dan Ananta.
'Kamu masuk ke dalam hotel dengan mantan kekasihmu? Apa sebenarnya yang kamu lakukan di belakang aku?' batin Rangga bertanya-tanya.
Hatinya semakin terbakar ketika melihat Ananta merangkul bahu Rana saat mereka memasuki lift. Dan saat pintu lift tertutup, barulah Rangga mendekati lift itu untuk melihat ke lantai berapa mereka berhenti.
Setelah mengetahuinya, Rangga segera masuk ke lift sebelahnya yang sejak tadi ia tahan dengan sebelah kakinya. Ia segera keluar saat lift berhenti di lantai yang ia tuju.
Sebelumnya Rangga berharap kalau lantai yang Rana dan Ananta tuju merupakan lantai yang berisi ruang pertemuan, atau sebuah kafe mewah.
Tapi ternyata hanya kamar presidential suites saja yang ada di lantai itu. Dan ia cukup frustasi karena tidak mengetahui kamar mana yang Rana dan Ananta masuki.
"Sial kalian!" geram Rangga.
Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Rana, namun ternyata nomor istrinya itu tidak aktif. Rangga semakin frustasi karenanya, namun tidak dapat melakukan apapun tanpa memancing keributan, hingga ia memutuskan untuk pulang.
Nanti, saat Rana sampai di rumah, ia akan langsung menginterogasinya.
Meski mengendarai mobil dengan pikiran dan hatinya yang kacau, Rangga sampai juga ke rumahnya, dan Rania langsung menyambutnya dengan senyum lebar yang sama dengan senyuman Rana, hingga Rangga memutuskan untuk tidak membalas senyumannya itu.
"Tumben pulang siang, Mas? Apa kamu sedang tidak enak badan?" tanya Rania.
"Hmmm."
Hanya itu jawaban Rangga. Ia memutuskan mengabaikan Rana dan menuju kamarnya untuk menenangkan sambil berendam air hangat.
Rangga melempar begitu saja tas kerjanya, lalu menyusul jas hitamnya, sambil melangkah ke kamar mandi. Ia bahkan tidak menyadari kalau Rania juga ikut masuk ke kamarnya, lalu menghadang Rangga untuk membantunya melepaskan dasi dan kancing kemejanya.
"Aku bisa sendiri!" desis Rangga sambil menepis tangan Rania.
"Biarkan aku membantumu, Mas. Biasanya kamu tidak pernah menolak."
Rania kembali berkutat pada kancing baju Rangga, dan diluar dugaannya, Rangga mendorong Rania hingga terjatuh dengan posisi duduk,
"Aww! Kenapa kamu jadi kasar begitu sih, Mas?" keluh Rania
"Jangan pernah menyentuh aku lagi!" geram Rangga sebelum masuk ke kamar mandi.
***
Karena cerita selanjutnya terlalu hot, seperti biasa aku up di KK Additional part 35nya yaa ...