Sejak menjalankan misi dari SKAK, kehidupan Fabian Bara Akalanka mulai membaik. Bahkan, dia bisa membalas dendam kepada mantan kekasihnya—Adara Sandria.
Namun, belum sempat Fabian menuntaskan semua misi, system tersebut mendadak rusak. Lantas, dia dihadapkan pada rahasia besar yang ada di balik SKAK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Miskin
Di dalam kamar kos kecil dan sempit, Fabian meringkuk di sudut kasur usang. Matanya menatap datar dan kosong, sedangkan wajahnya kusut masam seperti tak ada gairah hidup.
Dini hari tadi, dia terpaksa pindah ke sana. Beruntung, masih ada mendapat tempat, dari pada luntang-lantung di jalanan tanpa tempat tinggal.
Vila, mansion, tabungan, juga semua kendaraan termasuk motor Harley, sudah diambil lagi oleh SKAK. Fabian kini tak ubahnya lelaki miskin, persis seperti dulu ketika belum mengenal SKAK.
"Kenapa semuanya berakhir begini? Apa kata orang nanti jika aku kembali miskin? Adara, Zayan, nggak terbayang betapa senangnya mereka kalau lihat kondisiku yang sekarang. Tuhan benar-benar nggak adil!" Fabian mengumpat, tetapi suaranya pelan dan hanya tertahan di tenggorokan.
Hancur, sangat hancur, bahkan Fabian sampai diam dan tidak mau berangkat kerja. Tanpa meminta izin atau apa, dia absen begitu saja. Pikir Fabian, biarlah jika nanti dipecat. Dia malah akan pergi ke luar kota atau ke mana saja yang jauh dari kehidupan sekarang. Toh untuk apa lagi bertahan? Tempat tinggal tidak ada, cinta tidak ada, paling hanya Keyla yang cukup berharga.
"Keyla juga hanya teman, aku nggak bisa berharap banyak padanya. Hah, bener-bener sial!" Fabian mendengus kesal.
Dia jadi teringat dengan janjinya kemarin pada Keyla. Dia berjanji akan mengajak wanita itu melihat-lihat mansion miliknya. Namun, yang terjadi malam di luar dugaan. Semua dicabut tanpa ampun. Sungguh, aturan yang sangat mencekik.
Cukup lama Fabian diam di posisi yang sama. Menggerutu, memaki, mengumpat sendiri. Jangankan mandi atau makan, cuci muka atau minum saja ia tidak.
Bukan hanya satu atau dua jam Fabian terdiam seperti itu, melainkan berjam-jam sampai lewat jam makan siang. Meski begitu, tidak ada rasa haus atau lapar yang menderanya. Sekadar kekesalan karena kehilangan harta belaka.
Sekitar pukul 02.00 siang, tiba-tiba pintu kamar kos Fabian ada yang mengetuk. Lelaki itu tak langsung beranjak, dan hanya mengernyit heran. Pikirnya, siapa yang datang berkunjung? Tidak mungkin ibu kos. Katanya, dia punya usaha toko yang buka pagi sampai malam.
Karena ketukan tak juga berakhir, dengan sedikit malas Fabian beranjak dan berjalan ke arah pintu.
"Bi!" panggil wanita cantik pemilik rambut hitam lurus panjang. Wanita yang tak lain adalah Keyla.
Fabian terkejut seketika. Tak menyangka Keyla akan datang. Karena sejauh ini belum ada satu pun seseorang yang dia beri tahu terkait kepindahannya.
"Kok malah bengong sih? Aku nggak disuruh masuk?" Keyla memanyunkan bibir untuk mencairkan suasana. Karena saat itu, raut wajah Fabian sangat tegang dan tidak sedap dipandang.
"Ya udah masuk sini, tapi ya ... begini. Kasur-kasur doang." Dengan perasaan yang tak menentu Fabian mempersilakan Keyla.
Keyla tidak risih dengan tempat baru Fabian. Baginya itu lebih dari layak karena selama ini sering tinggal di tempat sederhana. Jadi, tempat tinggal semacam itu bukan masalah.
Setelah duduk di tepi kasur—tanpa ranjang, Keyla meletakkan kantong plastik yang sedari tadi ia genggam.
"Makan dulu gih, aku tadi bawa dari resto," ucapnya.
Fabian menatap sesaat. Menu yang dibawa cukup nikmat—ayam panggang dengan sambal pedas, namun Fabian tidak tertarik. Untuk saat ini dia tidak bisa bersahabat dengan rasa lapar.
Kendati demikian, Fabian tak mau mengecewakan Keyla. Ia duduk di hadapan wanita itu dan ikut menatap menu yang sudah dibuka di depan mata.
"Kamu ngapain bawa makanan segala. Ini mahal."
Keyla tertawa, "Ini nggak seberapa. Jauh banget kalau dibandingin sama sesuatu yang udah kamu kasih ke aku."
Fabian tak menjawab lagi, hanya membuang napas kasar sambil mengacak-acak rambut yang belum sempat disisir. Sampai akhirnya, ia dikejutkan dengan satu hal—Keyla. Entah dari mana wanita itu tahu kalau dirinya sudah pindah.
"Bi___"
Fabian memungkas cepat, "Key, aku mau tanya sesuatu."
"Tanya apa?" tanya Keyla.
"Kamu ... kok bisa tahu kalau aku ada di sini? Ini cukup jauh dari vila, dan kupikir mustahil kamu bisa tahu. Kecuali aku sendiri yang bilang. Tapi, aku belum ngomong apa-akan, kan?" Sembari bicara, Fabian menatap Keyla dengan lekat, hingga wanita itu tak bisa berkutik dam gelagapan seketika.
Bersambung....