Terlahir kembali sebagai putri dari Duke Donovan, dia sadar bahwa dirinya yang sekarang adalah seorang antagonis yang nantinya akan meninggal dengan mengenaskan. Beruntungnya dia adalah seorang wanita mandiri di kehidupan sebelumnya dan pernikahan bukanlah hal yang besar untuknya.
"Saya tidak peduli bagaimana kalian memandang saya. Ini hidup saya dan saya memiliki hak atas hidup saya sendiri."
Monster dan pedang. Sihir dan darah monster terkutuk. Keberanian dan kesetiaan. Tanpa sengaja menjerat para protagonis pria. Bagaimana kehidupannya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Kenapa Mereka Aneh?!
Di tengah acara makan siangnya, Duke Donovan sesekali melirik Lenka dan Noah. Anak laki-lakinya yang biasa membuat kebisingan, sekarang hanya diam sembari fokus kepada hidangan di depan matanya.
Pelayan-pelayan mereka-Eve, Martha, dan Christine-berpura-pura semuanya terlihat normal, meskipun yang sebenarnya adalah tidak.
"Noah."
"Ya Ayah?"
"Kamu tidak lupa dengan tugasmu hari ini bukan?" tanya Duke Donovan kepada putranya.
"Setelah makan siang, saya harus menemui putra mahkota di ruangannya," jawab Noah.
Duke Donovan menganggukkan kepalanya dengan puas akan jawaban yang diberikan oleh putranya. Duke Donovan menyudahi makan siangnya dan bersiap untuk kembali ke wilayah yang dia pimpin.
Seperti yang telah Lenka dan Noah ketahui tadi malam, ketika ayah mereka meminta untuk bertemu seusai makan malam, bahwa dia akan kembali. Duke Donovan tidak dapat meninggalkan anak-anaknya, tetapi dia juga tak bisa meninggalkan kediaman beserta pekerjaan yang pastinya sudah menumpuk di atas meja.
"Ingin aku antarkan Ayah sampai ke kereta?" ujar Lenka menawarkan diri.
"Tidak perlu putriku, Ayah akan mengirimi kalian surat selama kalian belum pulang. Bekerjalah dengan baik dan cepat pulang karena pastinya Ayah akan sangat merindukan kalian di kediaman."
Namun tiba-tiba seseorang mengejutkan mereka.
"Apa aku mengganggu waktu kalian?" tanya orang itu. Miklan, putra mahkota.
Mata pemuda itu terarah kepada Noah yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya dan malah asik memakan makan siang miliknya.
Miklan memang tau memang mengetahui permasalahan yang ada di antara Lenka dengan Noah, tapi jangan membuat permasalahan itu menjadi batu sandungan bagi pekerjaannya sekarang.
"Paman, maksudku Duke Donovan, aku datang kemari untuk memanggil Noah," ujar Miklan dengan sopan.
Kemudian Duke Donovan memeriksa waktu, jam makan siang belum berakhir. "Sekitar sepuluh menit lagi jam makan siang berakhir, Yang Mulia. Apa mungkin pekerjaan ini cukup mendesak?"
Miklan menoleh ke arah pelayan pribadinya yang sekarang berada di belakang dia. "Kau belum menyampaikan pesanku kepada Noah, Zica?" tanyanya.
"Sudah Yang Mulia, saya sudah menyampaikannya secara langsung."
Telinga Noah sudah sakit dengan semua percakapan yang dia dengar. Entah mengapa akhir-akhir ini peruntungannya tidak baik, selalu saja ada masalah.
Dengan cepat pemuda itu menghabiskan makan siang miliknya, kemudian berdiri dari tempat duduk dan berjalan menuju tempat di mana Miklan sedang berdiri.
"Sekarang saya sudah selesai makan," ujarnya langsung di depan Miklan. Pemuda yang menyandang gelar putra mahkota itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, melihat betapa beraninya putra dari Duke Donovan ini.
"Kalau begitu ayo bekerja, dasar pemalas!" balas Miklan. "Oh ya Lenka, Duke Roan membutuhkan bantuan darimu. Ada banyak berkas yang perlu dipisah-pisahkan. Kamu sudah selesai makan bukan?" tambahnya.
Lenka menganggukkan kepalanya, dia dan Noah pun memberikan salam perpisahan untuk Duke Donovan yang akan melakukan perjalanan pulang.
.
.
Di dalam ruang kerja di mana Lenka, Duke Roan, Miklan, dan Noah berada sangatlah sunyi. Tak ada seorang pun yang berbicara sedari tadi.
Miklan dan Noah sibuk mengurus surat yang akan dikirim ke bangsawan. Sedangkan Duke Roan dan Lenka memilah berkas-berkas prajurit.
"Lenka, bisakah kamu membawakan tumpukan berkas yang lain?" pinta Duke Roan sembari membenahi letak kacamatanya yang agak merosot.
Tanpa menjawab, Lenka langsung melaksanakan permintaan Duke Roan. Berkas-berkas prajurit yang dikirim dari setiap keluarga bangsawan untuk keperluan pembasmian monster yang aka segera dilakukan.
Ketika Lenka meletakkan tumpukan berkas yang lain, Mort dan Teivel terlihat sedang mencoba berinteraksi dengan Duke Roan.
"Menurutmu bagaimana dengan pria ini Teivel?" tanya Mort kepada Teivel yang tak melepas pandangannya dari Duke Roan.
"Biasa saja. Kurasa dia menangis tadi malam, aku masih bisa mencium bau asin itu," jawab Teivel sembari mengendus-endus.
Duke Roan yang tak paham dengan apa yang sedang kedua monster besar itu lakukan hanya memandangnya saja, kemudian kembali fokus bekerja.
"Rasanya sangat bosan terus berada di dalam ruangan Nona! Biarkan kami bermain! Izinkan kami keluar!" Teivel merengek, monster itu juga mengobrak-abrik beberapa berkas yang untungnya bukan berkas yang diperlukan.
"Kami ingin mengejar kelinci! Ah tidak, rusa, kuda, rubah! Kami ingin bermain~" Mort juga tak kalah rewelnya dari Teivel. Dia berguling-guling tidak jelas di lantai.
"Apa mereka berdua salah makan? Mereka terlihat aneh. Monster? Yang benar saja, mungkin julukan anjing peliharaan lebih tepat untuk mereka berdua." Duke Roan mengungkapkan pendapatnya.
Mulut pria bangsawan satu ini memang cukup membuat seseorang naik darah. Begitu mengena di hati! Tepat sasaran!
Namun apa yang dikatakan oleh Duke Roan juga tidak ada salahnya juga. Meski Mort dan Teivel itu monster, sikap mereka sangat berbeda dari monster yang ada dalam kepalanya dulu.
"Mereka bilang mereka bosan dan ingin bermain. Tapi yah bagaimana, saya masih belum menyelesaikan pekerjaan, jadi belum bisa menemani mereka bermain."
Duke Roan menanggapinya dengan satu kata, "Oh."
Kemudian keduanya kembali bekerja, terlarut dalam kefokusan mereka memilah setiap berkas yang ada. Suasana kembali sunyi dan juga janggal bagi sebagian orang.
"Bagaimana bisa tidak pertengkaran antara kakakmu dan Duke Roan? Sebuah hal yang mustahil!" bisik Miklan.
"Lebih baik kita juga fokus kepada pekerjaan kita sekarang, Yang Mulia. Lebih cepat selesai, lebih cepat kita beralih ke pekerjaan lain."
Sebenarnya ada apa dengan orang-orang di sekitarku? Kenapa mereka aneh semua?! Runtuk Miklan dalam hati.
Ruangan kemnali sunyi untuk 4 jam. Jika kalian berada di sana, kalian pasti sudah mengeluh dengan semua yang ada di depan mata kalian. Berkas-berkas yang berceceran, meja yang dipenuhi oleh tumpukan kertas surat dan juga berkas, juga cangkir-cangkir kotor yang terletak tak beraturan, apalagi dengan berbagai keluhan yang keluar dari mulut Miklan.
"Kapan ini selesai? Mengapa ini banyak sekali? Daging … roti … jus … sosis …."
"Yang Mulia, bila Anda sudah lelah, istirahat saja," ujar Duke Roan kesal. "Jujur saja Yang Mulia, saya dan Lenka cukup terganggu dengan setiap keluh kesah yang keluar dari mulut Anda itu."
"Kenapa Anda membawa nama saya, Duke? Kapan sayang mengatakan itu? Yang Mulia tolong jangan dengarkan omong kosong yang baru saja Duke Roan katakan," sangkal Lenka.
"Haish sudahlah, dasar orang-orang gila kerja." Duke Roan melepas kacamatanya dan mulai mengenakan mantel. "Aku pergi sebentar, ada seseorang yang harus kutemui."
"Sana pergi berkencan saja dengan banyak gadis, dasar mata keranjang," balas Miklan setengah kesal.
Duke Roan tersenyum miring, kemudian melirik Lenka yang masih bekerja. "Lenka juga akan istirahat. Adik Ipar, aku pergi dengan Kakakmu dulu ya~"