NovelToon NovelToon
Akhirnya Cinta Itu Hadir

Akhirnya Cinta Itu Hadir

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Umi Haifa

Andika Saputra seorang pemuda yang baru memasuki dunia kerja di ibu kota. Dia seorang arsitek, bekerja di perusahaan kontraktor "Satria Group" yang cukup punya nama di ibu kota. Kinerjanya sangat bagus dan kejujurannya menjadi perhatian manajemen perusahaan termasuk Gunawan Presdir perusahaan tersebut. Hingga Gunawan sangat menginginkan Andika menjadi menantunya, suami untuk Karina anak semata wayangnya.
Ujian demi ujian kehidupan dilalui oleh Andika, dari mulai kepergian ibunya utk selamanya, perjuangan meraih karirnya, termasuk perjuangan cintanya.
Akankah Andika berjodoh dengan Karina?
ataukah ada wanita lain yang dicintainya?

Temukan jawabannya.....!
Selamat membaca.

Salam
Umi Haifa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Haifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan dalam Mimpi

Tiga puluh menit sudah Karina berada di samping mamanya berusaha membangunkannya namun mamanya masih enggan untuk membuka mata, seperti sedang berada di alam mimpi yang indah dan enggan untuk meninggalkan mimpinya.

Gunawan beranjak keluar ruangan pasien membiarkan Karina mendampingi mamanya dan mempersilahkan Andika untuk masuk ke dalam melihat kondisi Ambar . Kini giliran Gunawan yang hanya melihat istrinya dari balik kaca pembatas ruangan.

Andika pun masuk dan mendekati Ambar, posisinya di belakang Karina yang sedang duduk dan mengusap-usap tangan Ambar.

Merasa ada seseorang yang datang Karina menoleh ke belakang.

Hmmm, sepertinya laki-laki ini benar-benar mencari muka, kenapa dia tidak pulang saja, ngapain masih di sini, bukannya tadi dia bilang sudah membatalkan perjodohan denganku. Batin Karina

Karina sebenarnya tidak suka Andika berada di sana, tapi ia tersadar dengan ucapannya sendiri di depan mamanya yang masih belum sadar dari tidurnya. Bukankah ia tadi mengatakan bersedia menikah dengan Andika di depan Papa dan Mamanya, jadi harusnya ia tidak membenci Andika.

Muncul sedikit penyesalan dalam hati Karina, karena terbawa emosi, menyalahkan diri sendiri dan berharap mamanya segera bangun dari komanya, sampai-sampai ia mengatakan bersedia menikah dengan Andika, walaupun papanya mengatakan perjodohannya sudah dibatalkan, namun Karina mengatakan ia tetap akan menikah dengan Andika demi membahagiakan mamanya.

Sekarang Karina harus mempertanggungjawabkan ucapannya.

Mungkin setelah mamanya sadar dari komanya ia akan menepati janjinya. Tapi bagaimana kalau Papanya memintanya sekarang Karina menepati ucapannya? Apakah Karina siap?

Yang pasti Karina akan melakukan apapun demi kesembuhan mamanya. Hanya demi mamanya.

Karina merasa tidak nyaman berada di dekat Andika, ia mencium kening mamanya dan beranjak keluar ruangan pasien tanpa memperdulikan Andika, Karina minta ijin kepada papanya untuk ke toilet. Gunawan pun memberitahu tempat toilet yang berada di ruang tunggu pasien.

Andika duduk di kursi penunggu pasien di samping tempat tidur Ambar, ia membuka aplikasi Quran digital, dan membaca surat Al Mulk dengan suara pelan, dilanjutkan dengan surat Ar Rahman. Pada saat membaca pertengahan surat Ar Rahman, tiba-tiba tangan kiri Ambar bergerak, matanya mengerjap seperti berusaha membuka matanya namun terasa berat. Andika menghentikan bacaan Quranya, kemudian memperhatikan gerakan tangan Ambar. Terdengar suara dari mulut Ambar memanggil nama seseorang namun tidak begitu jelas. Andika langsung memanggil perawat. Dan perawat dengan dokter jaga ruangan pun segera datang memeriksa kondisi Ambar.

Melihat dokter dan perawat mendatangi Ambar, Gunawan pun masuk melihat keadaan istrinya. Andika memberitahu kalau tadi ada respon gerakan tangan Ambar dan Ambar memanggil nama seseorang tapi tidak jelas.

Ya Allah mudah-mudahan ini sebuah kemajuan. Batin Gunawan

Dokter dan perawat tampak sedang mengobservasi Ambar dari kepala sampai kaki.

Karina masuk kembali ke ruang perawatan pasien, dari kaca pembatas ia melihat di tempat mamanya berkumpul dokter, perawat dan papanya juga ada disana, ia pun segera menggunakan baju khusus pengunjung pasien dan menemui mamanya, ia khawatir sesuatu terjadi dengan mamanya, apa kondisi mamanya memburuk? Itu yang ada di pikirannya

" Mama kenapa Pah?" Tanya Karina dengan wajah cemas.

" Tadi Andika melihat tangan mamamu bergerak, sekarang sedang diperiksa dokter." jawab Gunawan. Karina pun merasa lega, apa yang ia khawatirkan tidak terjadi.

Sebelum dokter meninggalkan Ambar ia menjelaskan kondisi Ambar, responnya membaik, sudah ada respon terhadap rangsang nyeri, tanda vitalnya juga stabil.

Waktu sudah menunjukan hampir pukul sepuluh malam, namun Gunawan, Andika dan Karina masih diperbolehkan berada di samping Ambar. Perlakuan petugas terhadap keluarga Gunawan memang lebih istimewa dibanding pasien lain, Direktur rumah sakit mengenal Gunawan dengan baik, karena sepuluh tahun yang lalu proyek pembangunan rumah sakit ini dikerjakan oleh kontraktor perusahaan Gunawan, yang tergabung dalam Satria Group.

Karina mendekati mamanya, mencium keningnya. Tiba-tiba Ambar mengerjapkan matanya, berusaha untuk membukanya. Karina yang melihat gerakan mata mamanya, langsung memanggil mamanya.

" Mah....ini Karin Mah, bangun Mah, ayo buka matanya." ujarnya dengan penuh semangat.

Akhirnya Ambar pun membuka matanya perlahan, pandangannya terasa buram, hanya tampak cahaya putih yang begitu terang dan menyilaukan matanya, ia mengerjapkan matanya lagi mencoba memeperjelas pandangannya, ia pun mendengar seseorang yang terus memanggilnya di arah kirinya. Ambar pun menengok ke arah kiri, mulai terlihat dua bayangan yang tidak begitu jelas wajahnya, seperti dua orang laki-laki menurut pandangan Ambar. Ambar mengerjapkan matanya lagi, dan pandangannya yang tadi buram mulai terlihat jelas. Ia sangat mengenal salah satu laki-laki yag berdiri disampingnya.

" Pah....." ucapnya dengan suara pelan.

" Iya sayang.....alhamdulilllah kamu sudah bangun." Gunawan pun mendekati Ambar, memegang tangannya dengan wajah tersenyum bahagia.

Melihat mamanya memanggil papanya Karina langsung mencium kening mamanya dengan perasaan bahagia, tak terasa air matanya menetes di pipinya. Ambar pun menengok ke arah seseorang yang menciumnya yang tak lain adalah putrinya.

" Ka...rin....?" ucap Ambar dengan suara pelan.

" Iya mah ini Karin.....maafin Karin mah, Karin janji gak akan ninggalin Mama." Tampak penyesalan di wajah Karina, namun sekarang ia merasa lega karena mamanya sudah kembali sadar.

" Mana An...dika? Bu..kan..nya tadi ber...sama...mu? Ta..di Mama men...cari ka...lian ber...dua." Ucap Ambar terbata-bata sambil berusaha membuka masker oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya agar suaranya terdengar jelas. Namun Karina menahan tangan kanan Ambar yang mencoba membukanya.

Karina merasa aneh dengan pertanyaan mamanya, kenapa mama mengetahui Karina bersama Andika, bukankah mamanya dari tadi tidur tidak sadarkan diri.

" Saya di sini tante." ucap Andika yang merasa dicari oleh Ambar. Ambar pun menoleh ke arah Andika. Kini pandangannya cukup jelas bisa melihat wajah Andika.

" Syu...kurlah....tante se...nang ka..mu terus ber...sama Karin." Ujarnya

" Ke...napa baju ka...lian sudah di...ganti, pa...dahal mama ma....sih ingin me...lihat ka...lian mema...kai baju pe...ngantin." Pertanyaan Ambar membuat bingung yang mendengarnya. Karina memandang Gunawan seolah meminta penjelasan pertanyaan mamanya. Gunawan sendiri tidak mengerti yang diucapkan istrinya tentang baju pengantin.

Andika mengerutkan keningnya, mencerna yang diucapkan Ambar. Ia memang bersama Karina sejak menjemputnya dari Bandung, tapi tidak menggunakan baju pengantin, yang ada malah Andika telah membatalkan perjodohannya dengan Karina.

Andika baru sadar kalau dokter belum mengetahui Ambar sudah sadar, ia pun berinisiatif memberitahu dokter dan memintanya untuk memeriksa Ambar.

" Pa saya panggil dokter untuk memeriksa tante." Gunawan menganggukan kepalanya.

" Karin te...rima kasih ka...mu sudah me...nuruti ke...inginan Papa dan Mama, akhir...nya kamu me...nerima Andika." Suara Ambar terdengar pelan tapi jelas walaupun mulutnya tertutup masker oksigen.

Karina tidak memberikan respon terhadap ucapan mamanya karena Karina masih bingung dari mana mamanya tau Karina mau menerima Andika dan mau menikah dengannya padahal mamanya baru saja bangun dari tidurnya yang lama, apa saat mamanya belum sadar dan saat Karina mengatakan mau menikah dengan Andika, mamanya mendengarnya? Tapi rasanya tidak mungkin karena saat dibangunkan pun mamanya tidak memberikan respon.

" Pah ... sebe...narnya a...pa yang ter...jadi de...ngan Mama, a...pakah ini di ru...mah sakit?" Ambar mulai mengenali sekitarnya, melihat tangannya terpasang selang infus, ia yakin ia berada di rumah sakit.

Belum sempat Gunawan menjawab pertanyaan istrinya, Andika bersama dokter jaga dan perawat datang menghampiri Ambar. Dokter menyapa Ambar dengan perasaan senang melihat pasiennya sudah membuka matanya dan merespon dengan baik, kemudian melakukan pemeriksaan dari kepala sampai kaki. Dokter pun memberikan pertanyaan kepada Ambar dan dijawab dengan baik, ini menunjukan bahwa kesadaran Ambar telah pulih kembali. Hasil pemeriksaan fisik dokter pun menunjukan hasil yang bagus. Masker oksigen pun dilepas diganti dengan selang oksigen yang ditempelkan di hidung Ambar, dokter pun membolehkan Ambar untuk minum sedikit-sedikit karena fungsi pencernaannya sudah pulih kembali setelah efek pembiusan saat operasi.

Dokter jaga menjelaskan kepada Ambar bagaimana keadaan Ambar sebelumnya dan kondisi perkembangannya saat ini yang menunjukan kemajuan, namun tetap memerlukan observasi di ruang CICU, bila kondisinya terus perbaikan dan stabil baru bisa pindah ke ruang rawat inap biasa. Setelah selesai dengan penjelasannya dokter jaga pamit karena akan menyampaikan perkembangan terbaru Ambar kepada beberapa dokter spesialis yang merawat Ambar.

Setelah kepergian dokter jaga dan perawat, Gunawan mendekati istrinya, mencium keningnya, dan menggenggam tangan Ambar dan menciumnya. Sungguh pemandangan yang romantis bagi pasangan yang termasuk tidak muda lagi. Karina sendiri tidak aneh melihat pemandangan bagaimana papanya menunjukan perasaan cinta dan sayangnya kepada mamanya. Karina tersenyum bahagia melihat papa dan mamanya hingga tak terasa air mata bahagia menetes di pipinya.

"Pah...jadi tadi mama cuma mimpi yah...?" ucapannya mulai terdengar lancar.

" Mimpi...? Maksud Mama?" Gunawan masih bingung dengan ucapan istrinya.

" Mama melihat Karina dan Andika menggunakan baju pengantin akan melaksanakan akad nikah, tapi Abah dan Umi datang mengajak Mama pergi, menarik tangan Mama, tapi Mama bisa melepaskan pegangan tangan mereka dan kembali lagi menemui Karina tapi Karina dan Andikabtidak ada, Mama mencari-cari tapi tidak ketemu, terus Mama mendengar suara seseorang mengaji, akhirnya Mama melihat Karina di samping Mama, ternyata pernikahan Karina itu hanya mimpi ya Pah?" Ambar mengingat jelas mimpinya bagaimana orang tuanya yang sudah meninggal mengajaknya pergi meninggalkan acara ijab kabul pernikahan putrinya dengan Andika. Terlihat sedikit kecewa di wajah Ambar saat menyadari bahwa pernikahan putrinya hanya mimpi, tapi ia merasakan seolah-olah nyata.

Karina memeluk mamanya, menyadari harapan mamanya sangat besar melihat ia bisa menikah dengan Andika, bagaimana bisa pernikahannya sampai terbawa dalam mimpi mamanya, menjadi bunga dalam tidurnya yang panjang, kalau bukan karena impian mamanya akan pernikahan Karina dengan laki-laki pilihan papanya terwujud.

" Mah Karin akan mewujudkan mimpi Mama....Karin akan menikah dengan Mas Andika." Ucapan Karina terdengar cukup jelas di telinga Andika. Andika menyipitkan matanya, ia meyakinkan lagi apakah yang diucapkan Karina tidak salah ia dengar, karena siang tadi Andika susah membatalkan perjodohannya karena jelas Karina tidak menerimanya, namun saat ini Karina yang mengatakannya sendiri akan menikah dengan Andika. Andika menoleh ke arah Gunawan, dan pada saat yang sama Gunawan menoleh ke arah Andika hingga tatapan mata mereka pun bertemu, kemudian Gunawan menganggukan kepalanya, seolah mendukung ucapan putrinya, dan terlihat senyuman di wajahnya.

bersambung

*** Hai...hai...hai...terima kasih sudah membaca novel perdanaku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, comen dan vote yah, biar Thor tambah semangat melanjutkan novel ini. Ditunggu saran masukannya juga yah. Daahhhh.🤗

1
Islamiyah Iss
nanggung penasaran sama Riana juga mba
Islamiyah Iss
💪💪💪💪
inchieungill
kan bukan muhrim
inchieungill
koq salaman Thor?
ione
Luar biasa
ElHi
ini gada lanjutan lg ya thor?
محمد إقبال
sy sudah tamat 4 x thorr.., tapi belum puass, jadi candu malah
Ria
_👍🏻
Dwi apri
seru banget thor...banyak pelajaran yg bisa diambil
terimakasih
Dwi apri
suka sama cerita...sampai sini bagus, ga bertele-tele....suka sekali
Morani Banjarnahor
lanjut thor
Emi Kartini
Luar biasa
Fhyan Rachman
inspiratif
dementor
elo yang nanya,elo yang keder.. are you okay naradita????
dementor
dari benci jadi cinta.. Allah memang maha mengatur segalanya.. Alhamdullilah ya Allah.. 🙏🙏🙏
dementor
cerita cintanya band kahitna..
dementor
#timcandrariana#
dementor
sinetron andin pastinya.. betul nggak????
dementor
mantan terindah yang lagunya band kahitna.. yang dicover oleh penyanyi raisa.. mantan terindah..
dementor
libur dulu,kita olah raga ranjang saja..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!