Follow IG ; Vi_via129.
Alana adalah gadis yang baik hati dan cerdas. Tapi karena keloid di wajahnya dan penampilannya yang aneh membuat ia sering di bully di sekolah dan lingkungan tempat dia tinggal. Bahkan saudari kembarnya pun ikut-ikutan membullynya.
Hingga suatu hari pembullyan itu menyebabkan Alena saudara kembarnya koma dan Alana yang harus menanggung biaya perawatan Alena.
Sadar ia tidak memiliki apapun dan akan semakin menyulitkan hidupnya jika ia terus berhutang kepada sahabatnya. Alana memutuskan untuk menerima tawaran sahabatnya Naya untuk menikah dengan Pamannya yang terkenal dengan kata kejam, sadis dan tak punya hati. Dengan harapan ia dapat mengubah takdirnya.
Sanggup seorang Alana mengubah takdirnya menjadi lebih baik? Dan bagaimana cara dia menghadapi, pria tak berhati yang terkenal sadis dan kejam itu? Kepo in yuk.🤗🤗
Mengandung sedikit bumbu panas-panas.🤗🤗 Harap bijak dalam memilih bacaan.😘😘 follow IG vivia129. untuk visual dan segala informasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vi_via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iya, aku janji!
" Terus menurut paman aku harus kemana? Pulang ke rumahku? Ke rumah Naya atau kemana?" Tanya Alana dengan beraninya. " Paman aku ini sudah menikah dan paman itu suami aku! Sudah sepantasnya dimana pun suami aku berada aku juga harus berada di situ. Dan kalau pun aku pulang ke rumah kakak ipar aku. Paman akan keenakan setelah icip-icip aku terus paman buang begitu saja. Enak sekali." Lanjut lagi dengan nada mengejek, kemudian menarik selimut dan menutupi tubuhnya kembali, bersiap untuk tidur.
" Alana, Kamu sudah mulai berani ya." Teriak Saddam. Ia kembali menarik selimut yang menutupi tubuh Alana.
" Kenapa tidak." Sahut Alana, sengaja menyulutkan emosi Saddam. " lagian apa yang aku bilang kan memang benar?" Lanjutnya lagi membuat Saddam berulang kali memijit pelipisnya.
" Kamu ingin aku mencekik kamu lagi." Gertak Saddam.
" Lakukan saja, toh aku tinggal lapor polisi! Kalau polisi tidak menangapi aku tinggal speak up di sosmed. " Sambungnya.
" Kamu mengancam aku?"
" Tidak, aku hanya memberitahu paman! Paman aja yang suka berpikiran buruk tentang aku."
" Alana__"
" Paman, ayolah! Aku capek, aku ingin beristirahat! Sebaiknya paman keluar temui teman-teman Paman dan biarkan aku beristirahat, karena besok aku harus sekolah. Selamat malam paman." Alana kembali berbaring tanpa menghiraukan keberadaan Saddam, ia bahkan memunggungi Saddam. Dan pada akhirnya Saddam, ia pun keluar kamar dan bergabung bersama kedua sahabatnya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Keesokan paginya, Alana terbangun lebih dulu. Dan ia mendapati Saddam tengah tidur di sampingnya sambil memeluknya dari belakang.
Alana menyingkirkan tangan Saddam dari pinggangnya, kemudian turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian ia keluar dan langsung bergegas ke dapur, menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
Nasi goreng dan sandwich. Adalah menu pilihan Alana pagi itu. Nasi goreng untuknya dan sandwich untuk Saddam. Alana yang sudah terbiasa makan nasi tentu saja ia tidak akan kenyang kalau sarapan mengunakan hanya makan sandwich saja.
Selesai menyiapkan sarapan di meja makan Alana kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap ke sekolah. bertepatan dengan Saddam yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya dan satunya lagi ia pegang untuk mengeringkan rambutnya.
Tanpa menyapa Alana langsung masuk kedalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Tak lama setelahnya ia keluar berjalan menuju walk in closed di mana Saddam masih berada di sana. Alana melepaskan handuknya dan berganti pakaian di hadapan Saddam, seolah-olah pria itu tidak ada disana. " Jangan menggoda aku, Alana! Nanti kalau aku nya tergoda! Kamu nya malah nangis." Ejek Saddam! mengingat malam panas mereka tiga yang lalu. Tapi Alana tidak menghiraukan ucapannya. Ia tetap fokus mengunakan pakaiannya.
Setelah selesai Alana menyisir rambutnya dengan asal kemudian mengikat atas. Tak lupa mengoles krim pada bekas keloid-nya, memakai lip balm, menyemprotkan parfum aroma vanilla dan semua itu tidak terlewat sedikitpun dari tatapan Saddam.
Setelah merasa penampilannya sudah rapi, Alana menghampiri Saddam dan menadakan tangannya. Ingin menyalami tangan suaminya itu.
" Apa?" Tanya Saddam, sembari mengangkat satu alisnya.
"Uang jajan! Apalagi?" Sahut Alana. Sengaja mengerjai pria itu.
" Apa kak sandrina kamu itu, tidak memberikan kamu uang?" Tanya Saddam lagi, kali ini sambil melipat kedua tangannya di dada.
Alana tersenyum kemudian menarik tangannya dan menjawab. " Kak Rina selalu memberikan aku uang dan lebih dari cukup. Bahkan kemarin pun aku masih mendapatkan uang darinya."Akunya, sembari berjalan untuk menyiapkan buku-bukunya di atas meja, lalu menyimpannya ke dalam tas sekolah. " Tapi itu berbeda, karena kak Rina memberikan uang kepada aku itu sebagai adiknya. Sementara paman kan suami aku! Wajar dong kalau aku meminta sebagai istri. " Lanjutnya, sembari berjalan menghampiri Saddam lagi , menarik tangannya lalu mencium punggung tangan suaminya itu setelah itu ia melangkah keluar kamar.
Berjalan ke meja makan, mengambil dua kotak makan yang telah ia siap di sana! Menyimpannya ke dalam tas! Lalu bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
" Aku berangkat ya! Sarapan paman sudah aku sediakan di atas meja makan. Sampai jumpa." Teriak Alana setelah mengunakan sepatu. Ia pun berangkat ke sekolah tanpa menunggu sahutan dari Saddam.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Alana tiba di sekolah lebih awal hari ini, bahkan di kelasnya baru ada lima murid dengan dirinya, Alana duduk di tempat duduknya, mengeluarkan buku tugas yang belum sempat ia kerjakan dan mulai mengerjakan tugas itu. Saat Naya datang Alana baru saja menyelesaikan tugasnya. Ia pun menyimpan bukunya ke dalam tas mengeluarkan dua kotak makan yang dia bawa lalu menyerahkan satu kepada Naya. " Kamu baru menyelesaikannya." Tanya Naya.
Alana mengangguk kepalanya. " Iya, tapi udah selesai kok! sekarang temani aku sarapan di kantin ya. Aku tadi belum sempat sarapan. mau ya Nay! mumpung masih lima belas menit lagi sebelum jam masuk."Karena tidak tega dengan Alana. Naya melirik jam di pergelangan tangannya kemudian mengangguk, kedua sahabat itu pun berjalan ke kantin.
" Al, gimana semalam! Paman ngomong apa aja saat melihat kamu pulang?" Tanya Naya begitu keduanya duduk di meja pokok setelah Naya memesan minuman untuk mereka.
" Nggak ngomong apa-apa. Biasa aja dia." Jawab Alana, sembari menikmati nasi goreng buatannya sendiri.
" Bohong kamu pasti di marahin lagi kan sama paman! Jujur aja Al, jangan belain paman aku itu." Desak Naya." Buktinya kamu baru sempat menyelesaikan tugas yang aku berikan pagi ini. seharian kemarin ngapain aja. kalau gitu?" todongnya lagi.
" Nay, benar kok aku nggak bohong. Sumpah, Dan kemarin itu aku__ aku ketiduran, ya aku ketiduran seharian makannya aku baru sempatnya sekarang. percaya ya sama aku, please." Sahut Alana sembari menaikkan kedua jari telunjuk dan tengah. Ia tidak mungkin mengatakan kepada Naya, kalau kemarin ia pulang kerumahnya dan bersih-bersih seharian.
" Oke, aku percaya! Tapi kamu harus janji, begitu paman nyakitin kamu. Kamu harus langsung memberi tahu aku dan mama. Janji." Naya mengulurkan jari kelingkingnya, meminta Alana untuk berjanji. Karena ia tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan Alana! tapi sebagai sahabatnya. Naya tidak ingin memaksa Alana.
" Iya, aku janji." Ucap Alana sembari melingkar jari kelingkingnya dengan jari kelingkingnya Naya. Setelah itu keduanya menikmati sarapan mereka sambil bercanda.
Lima belas menit berlalu, Bel masuk pun berbunyi! Alana merapikan kotak makannya dan punya Naya. Setelah itu keduanya segera berlari ke kelas mereka tapi tiba-tiba, Rian dan kawan-kawannya menghadang jalan mereka. "Eeehh siswa nggak berguna! minggir nggak." Teriak Naya.
" Kalau kita nggak mau kamu mau apa? jawab Rian sembari mendorong bahu Naya."
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..💝💝...