Cerita ini mengisahkan tentang Mawar. Menikah muda dengan Aditya walaupun sudah di larang oleh kedua orang tuanya.
Setelah berjuang ingin bangkit dari kemiskinan, rela berjualan kripik singkong agar suaminya bisa kuliah. Untuk menepis keraguan orang tuanya.
Namun, setelah berhasil. Apa jadinya jika sang suami malah menikah lagi?
Kita ikuti yuk kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trisubarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Tertawa Takut Dosa.
Bu Reny di gelandang ke kantor oleh security. Sampai di ruangan perdebatan panjang pun terjadi. Untuk mencari titik temu, security mengusulkan agar Bu Reny menghubungi salah satu keluarganya.
"Sekarang begini saja, Ibu lebih baik menghubungi salah satu keluarganya Ibu" saran dua security yang sedang menginterogasi.
"Oh iya, kenapa bisa sampai lupa ya? gara-gara sampean ini!" ketus Ibu Reny, lalu ambil telepon jadulnya dari saku celana yang hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS. Sebenarnya Adit ingin membelikan handphone Ibunya yang bagus, tetapi Ibu Reny tidak bisa menggunakan.
Bu Reny melirik sebentar sang scurity ia berdehem lalu membetulkan posisi duduknya bersandar di sofa empuk sok elegan, mengangkat satu kakinya bertopang di atas lutut selayaknya orang berkelas. Padahal beliu hanya melihat tokoh senetron favoritnya di televisi yang sering beliau tonton.
"Cepat Bu, mau telepon saja lama sekali" ucap salah satu security, gemas menunggu Ibu Reny yang tampak operating tidak juga memencet tombol.
"Dia bilang tadi anaknya kaya? tapi teleponnya kok jadul? cih" bisik salah satu security kepada temannya. Temanya tidak menjawab justeru menyikut perut temanya agar diam.
"Apa bisik-bisik?! Ibu Reny menatap tajam kedua security.
"Tidak Bu, makanya cepat telepon, saya banyak tugas ini." sahut security.
Ibu Reny tidak menjawab security kemudian menguhubungi Diah berkali-kali. Namun tidak di angkat, lalu menguhubungi Aditya panggilan pertama langsung di angkat.
📞Assalamu' alaikum..." sahut Adit dengan suara yang kurang jelas.
📞"Waalaikumusallam" "Dit, tolong Ibu. Ibu di tahan polisi di pasar" terang Ibu, scurity di kira polisi.
📞"Di tahan polisi? memang apa salah Ibu?" suara Adit panik. "Ibu sekarang di pasar mana?" sambung Adit kemudian.
Ibu memberi isyarat security agar memberi alamat. Security menulis di kertas kemudian memberikan kepada Bu Reny. Ibu menceritakan kejadiannya, kemudian memberi alamat mall yang sudah di berikan kepada scurity kepada Adit.
*****
Mawar yang baru jalan-jalan di kawasan perumahan bersama Melati mendapat telepon dari Adit kemudian bergegas pulang.
"Ada apa kak?" tanya Melati karena setelah mendapat telepon Mawar berjalan tergesa-gesa.
"Nggak tahu ini, Mas Adit telepon sepertinya penting" sahut Mawar. 5 menit bukan waktu yang lama Mawar sampai di rumah segera masuk kekamar.
"Ada apa Mas?" tanya Mawar yang masih ngos ngosan khawatir suaminya terjadi apa-apa sebab Adit sedang dalam keadaan yang tidak baik.
"Ibu di tahan polisi katanya" jawab Adit dengan wajah panik.
"Ya Allah... kenapa memangnya?" Mawar tak kalah panik.
Adit menceritakan kepada Mawar seperti yang di ceritakan Ibu tadi.
"Terus bagaiman ya Maw? Diah nggak bisa di hubungi lagi?" tanya Adit gusar, tidak mungkin menjemput Ibu dalam keadaan seperti ini.
"Biar aku saja yang berangkat" sahut Mawar tanpa menunggu jawaban Adit, Mawar segera kekamar mandi karena kebelet. Setelah dari kamar mandi kemudian ganti baju.
"Kamu benar mau menjemput Ibu Maw?" tanya Adit khawatir jika Istrinya menemui Ibunya seorang diri.
"Iya" jawab Mawar singkat, sambil mengenakan kerudung bergo.
"Terus sama siapa Maw?" tanya Adit lagi.
"Sama Melati saja, aku bawa motor ya, biar cepat." kata Mawar jika naik motor selain cepat juga cepat mengeluarkan dari garasi pikirnya.
"Iya hati-hati" sahut Adit sebenarnya tidak tega melepas Mawar. Namun apa boleh buat hanya Mawar yang ada saat ini.
"Aku berangkat Mas, nanti kalau ibu tanya bilang ya, sekarang Ibu masih tidur soalnya" kata Mawar.
"Iya, terimakasih ya Maw"
"Pakai termakasih lagi" ucap Mawar lalu mencium punggung tangan suaminya kemudian mencari Melati.
"Mel ikut kakak yuk" ucapnya kepada Melati yang sedang duduk di kursi sambil memainkan handphone.
"Kemana kak?" tanya Melati mendongak menatap kakaknya yang berjalan cepat keluar menuju garasi.
"Pokoknya ikut saja" Mawar tidak bicara lagi langsung membuka garasi mengeluarkan motor kemudian menghidupkan.
Melati pun segera mengikuti kakaknya tidak bertanya-tanya lagi. Untung tadi melati sudah ganti pakaian.
"Ini jaketnya di pakai" Mawar menyodorkan jaket dan helm miliknya kepada adiknya. Setelah siap, motornya melesat menuju mall di dekat rumah yang di tempati mertunya.
10 menit kemudian sampai di mall, Mawar segera memarkirkan motornya, lalu turun dari motor bergegas masuk kedalam di ikuti Melati.
"Kak, kita mau belanja?" tanya Melati menyejajarkan lankah kakaknya.
"Nanti kamu juga tahu" sahut Mawar.
Sampai di dalam mall, Mawar menanyakan di mana letak kantor. Setelah mendapatkan invormasi Mawar tidak buang waktu lagi berjalan cepat sampai di depan kantor. Ibu Reny sudah terlihat dari kaca sedang berbicara dengan scurity. Namun tidak terdengar entah apa yang mereka bicarakan.
"Selamat pagi... " ucap Mawar tersenyum ramah kepada scurity masih berdiri di pintu kantor yang tidak di tutup. Ibu Reny mlengos ketika yang datang bukan Adit melainkan menantunya.
"Selamat pagi Mbak... ada yang bisa saya bantu?" tanya scurity.
"Saya mau menjemput Ibu saya Pak?" terang Mawar.
"Cih! Ibu saya! kapan saya penah melahirkan kamu!" batin Ibu Reny tersenyum meledek.
Mawar menatap wajah mertuanya yang tidak bersahabat hanya mengabaikan saja, Mawar pikir sudah kebal dengan kelakuan mertuanya itu.
"Silahkan masuk Mbak" ucap security.
"Terimakasih Pak" Mawar masuk lalu Melati membuntuti. Mawar mendekati Ibu Reny mengangsungkan tangan ingin menciumnya. Namun Ibu justru menyembunyikan tangannya kebelakang.
"Silahkan duduk Mbak" kata security menunjuk kursi dengan dengan jempolya.
Mawar tidak ambil pusing dengan sikap mertuanya, justeru mengikuti saran security duduk di sebelah Melati. Setelah berkumpul security menceritakan semuanya. Mawar mendengarkan dengan seksama tidak pikir-pikir lagi, Mawar membayar ganti rugi pajangan kristal yang pecah. Melati baru tahu apa yang terjadi. "Nenek-nenek kencentilan!" batin Melati.
"Terimakasih Mbak... lain kali, Ibunya di jaga ya..."ucap security menjabat tangan Mawar, kemudian melirik Ibu Reny.
Ibu Reny melotot kesal kepada security. "Memang saya anak kecil apa? huh!" tukasnya kemudian keluar mendahului Mawar. Security menggeleng menatap langkah kaki Ibu Reny yang mengenakan sandal jepit lumutan, yang lebih mencengangkan sandalnya beda sebelah yang satu warna hijau dan satu lagi warna merah.
"Kalau begitu, saya pamit Pak, tolong maafkan Ibu saya" ucap Mawar menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Setelah mendapat anggukan security Mawar kemudian menarik tangan Melati, bergegas menyusul mertuanya.
Ibu Reny segera naik ojek tanpa mengucap terimakasih kepada menantunya. Mawar yang baru keluar dari mall bersama Melati melihat mertuanya sudah pergi, Mawar pun mengejar menjalankan motor dengan cepat.
Hanya satu putaran mereka sampai di kediaman Ibu Reny.
"Ngapain kamu mengejar saya?! tukas Ibu Reny ketika sampai di depan pintu gerbang.
"Mau minta minum Bu, hauskan" jawab Mawar santai.
Ibu menatap menantunya kesal bergantian menatap Melati.
"Ngapain kamu datang ke jakarta, mau minta duwit sama anak saya kan? huh! enak bener kamu?! sinis.
Melati sebenarnya kesal melihat tatapan sinis mertua kakaknya itu. Namun biar bagaiman Ibu Reny tetaplah orang tua yang harus di hormati, Melati lebih baik diam. Namun kekesalan Melati pun seketika hilang ketika tidak sengaja menatap kaki Ibu Reny, ingin tertawa tapi takut dosa.
******
"Maaf reader yang baik hati dan tidak sombong🤝 jika kadang cerita budhe feel nya tidak masuk."
"Budhe sedang sibuk di dunia nyata yang butuh perhatian, ya begitulah jika menulis sambil bekerja menjadi tidak fokus." 🤝🤝🤝.