"Aku rela untuk menjadi yang ke - 3...yang pertama Tuhanmu, yang kedua Ibumu, yang ketiga Istrimu...Aku...asal jangan ada yang keempat diantara kita..."
Sebuah janji suci yang tidak seorangpun bisa menggoyahkannya.
Kisah perjuangan hidup seorang Lyvia dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga.
° Novel Adrian Maulana
Satu-satunya pria yang meluluhkan hatinya.
Namun apa jadinya jika kepercayaan cinta dikhianati.
Apakah Lyvia masih bisa menerima kembali ketulusan cinta Adrian ?
Akankah Adrian bisa meluluhkan hati Lyvia ?
Yuk ikuti kisah selengkapnya...😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azzahra Nian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35. Prima Junior
"Mas...kita mampir dulu ke 'Baby Shop' dulu ya...aku mau membelikan kado untuk Prima junior..." kata Lyvia kepada suaminya.
Adrian membelokkan mobilnya memasuki halaman parkir 'Baby Shop' terbesar di kota ini.
"Anaknya cewek apa cowok yang...?" tanya Lyvia.
"Tadi aku dengar cowok..." jawabnya sedikit ragu.
"Kok aku dengar....pasti gak...? nanti takutnya aku salah pilih lagi...?"
"Bentar-bentar...aku tanyakan dulu." kata Adrian ingin memastikan.
Entah siapa yang dihubungi, mungkin temannya atau bahkan langsung tanya ke yang bersangkutan.
Lyvia masih asyik dengan berbagai macam baju dan perlengkapan bayi yang lucu-lucu.
"Bagaimana Mas...?" tanya Lyvia ketika melihat suaminya berjalan mendekat.
"Iya yang ....cowok, namanya Gibran" jawabnya, menirukan informan yang dihubunginya.
"Mbak...saya mau satu paket parcel baby untuk cowok ya....?" pinta Lyvia pada pegawai disana.
"Baik Ibu...maaf mau yang paket berapa..?" tanyanya lagi.
"Boleh saya tau isi per/paketnya apa saja...?"
Tanya Lyvia yang kemudian ditunjukkan beberapa paket parcel hantaran untuk babyborn.
Lyvia memperhatikan dengan seksama isi paket yang ditawarkan. Mulai dari harga 150 ribu sampai lima ratusan ribu.
"Saya mau yang paket utama ini saja Mbak...minta yang warna biru langit ya..."
"Baik Ibu...silahkan ditunggu sebentar" jawabnya mempersilahkan kami menunggu di tempat yang telah disediakan.
"Maaf Ibu...apa akan diberi kartu ucapan...?" tanyanya kembali.
"Oya....tentu..." pegawai itu memberikan secarik kartu ucapan untuk dituliskan sesuatu. Lyvia menyerahkan kembali kartu itu kepada pegawai baby shop untuk segera dibungkus.
Tak berapa lama pesanan kami telah selesai. Usai membayar kami lanjutkan lagi menuju rumah Prima.
"Sayang ....ini nanti kamu sisipkan buat istrinya ya...?"
"Iya Mas...." jawab Lyvia yang menerima amplop untuk istri Prima.
Sesampainya di sana, sebelum turun dari mobil, kami sudah disambut oleh beberapa keluarga dan Prima juga tentunya.
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam...." jawab mereka serempak.
"Silahkan Ibu...mari Pak Adrian, silahkan masuk ..." sapa salah seorang keluarga prima kepada kami.
Saya diantarkan menuju kamar baby Gibran. Tidak lupa Lyvia semprot kan antiseptik di tangannya sebelum menggendong baby Gibran nanti.
"Hallooo Mbak Lia.... selamat ya..." ucapku seraya kuberikan ciuman dan pelukan tanda selamat. Lyvia menaruh bingkisannya di atas meja kosong di dalam kamarnya.
"Terimakasih Tante...kapan ini, sudah isi belum...?" tanyanya kembali.
"Hehehehe.... doakan ya...semoga secepatnya...." jawabku berharap segera punya momongan juga.
Aku banyak bertanya tentang suka dukanya mengandung dan melahirkan. Mbak Lia pun dengan senang menceritakan kisahnya selama sembilan bulan mengandung sampai melahirkan.
Meskipun seribu satu sakit jadi satu, tapi bisa menjadi seorang Ibu adalah hal yang diimpikan setiap wanita.
Belum sempurna rasana hidup seorang wanita kalau belum ada buah hati dari buah cinta mereka.
Baby Gibran yang bobok sempat terbangun karena popoknya basah.
Oekk.... oekk...oekk....
"Sayang.... Tantenya berisik ya..." Lyvia berusaha mengajak baby Gibran ngobrol.
"Dedek lagi popol Tante...." jawab Mamanya.
Mbak Lia membersihkan bekas ompolnya. Meskipun ini yang pertama baginya, tapi ia begitu cekatan merawat baby Gibran.
Selesai dibersihkan, baby Gibran belum kembali tidur, tapi masih asyik memandangi lampu yang membuatnya merasakan adanya cahaya.
"Sini Mbak....coba aku gendong..." pintaku pada Mbak Lia.
"Iya nich...biar cepet ketularan..." katanya lagi.
Adrian yang tanpa sengaja melihat istrinya menggendong baby Gibran, langsung berdiri untuk mendekatinya.
"Sayang ... hati-hati loo, anak orang itu..." ledeknya.
"Eehhh.... sembarangan, gini-gini juga calon Ibu Mas..."
Prima dan Lia tertawa mendengar canda mereka berdua.
"Makanya buruan biar ada mainan baru di rumah." saran Prima pada sahabatnya itu.
Asyik bermain dengan baby Gibran, sampai-sampai lupa waktu.
"Mbak Lia...sudah malem, dedek Gibran juga sudah pules, ini saya mohon pamit dulu ya...??" kata Lyvia pamit pulang karena sudah terlalu malam.
"Iya.... terimakasih banyak atas kunjungannya Tante..." jawabnya. Kusisipkan amplop pesanan Mas Adrian di tangan Mbak Lia ketika kami bersalaman.
"Loo...Tante, ini apa...?" tanyanya bingung.
"Itu sedikit dari om Adrian buat dedek Gibran beli bedak ya...?" jwabku basa-basi.
"Terimakasih banyak, disampaikan om Adrian..."
Aku keluar diantar Ibunya mbak Lia, karena baby Gibran merajuk minta susu. Diluar Mas Adrian masih asyik ngobrol dengan Prima dan beberapa orang teman kantornya.
"Mas...kita pamit...?" tanyaku.
"Nanti Mbak....masih sore masih asyik ini..." jawab salah seorang yang ada disana.
"Eeehhh....jangan dong, kan pengantin baru, mana bisa main tinggal saja..." ledek salah seorang lainnya lagi.
Hahhahahah...
Terdengar tawa mereka bersamaan. Lyvia hanya tersenyum mendengarnya. Adrian segera berdiri, takut kalau berlama-lama di sini, jadi sasaran ledekan teman-temannya
"Pamit dulu ya...." katanya pada Prima dan yang lainnya.
"Oke Bro... hati-hati dijalan, terimakasih sudah datang...Via terimakasih ya..." jawab Prima sambil berjalan mengantarkan mereka ke mobil yang dia parkir di halaman.
"O ya... sampaikan salam ku buat Lia ya..." kata Adrian yang tadi belum sempat berpamitan.
"Siap Ndan...." jawabnya lagi.
Sepanjang perjalanan Lyvia banyak menguap. Dilihatnya jam yang ada di Handphonenya. Sudah hampir jam 11, ternyata hampir larut.
"Kenapa sayang, tumben jam segini kamu ngantuk...?" kata Adrian yang dibenarkan oleh Lyvia.
Entah kenapa sejak menikah dia lebih sering tidur awal. Padahal dahulu Lyvia sering tidur larut tapi sekarang baru jam 9 sudah ngantuk sekali rasanya.
Ketika mobil berhenti, Lyvia meloncat keluar langsung menuju kamarnya. Dia bergegas membersihkan diri dan ingin segera tidur kali ini.
Namun Lyvia yang sekarang bukanlah Lyvia yang dulu lagi. Sekarang dia tak sendiri, ada Adrian disisinya.
Diurungkan niatnya untuk tidur. Dia keluar dari kamar, sekedar mengucapkan selamat malam kepada suaminya.
"Nggak jadi ngantuk....??" tanya adrian yang melihat Lyvia datang mendekatinya.
"Ngantuk sih Mas....tapi gak enak kalau tidur sendiri..." jawabku sekenanya.
"Hahhahah.... biasanya juga tidur sendiri." godanya pada Lyvia.
"Itukan dulu mas... sekarang semua harus berbagi..." terang Lyvia lagi.
"Berbagi apa....?" bisiknya sambil berjalan merangkul Lyvia ke kamar.
"Berbagi semua sayang...mulai dari berbagi tempat tidur sampai berbagi hati...hehehheh...." jawabku cengengesan.
"Iiiiihhhhhhh......" komentar Adrian yang gemas dengan jawabanku. Dia ketatkan pelukannya hingga membuatku susah bernafas.
Adrian menuju kamar mandi untuk berganti pakaian dan membersihkan diri. Dia menyusul Lyvia di ranjang.
Lyvia yang sudah setengah sadar, memiringkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya.
"Suamiku....apakah anda menghendaki untuk melakukan Sunnah Rasulullah..." tawarnya setengah bercanda.
"Hahahahahhah.....candamu itu tidak lucu sayang..." jawab Adrian sambil mencubit hidung Lyvia.
"Tidurlah sayang....aku tau kamu lelah, meskipun aku ingin, tapi kukesampingkan egoku demi kebahagiaanmu..." bisiknya pada istrinya.
Diciumnya kening istrinya yang sudah terlelap tidur. Adrian memeluk dan sesekali dia kecup rambut Lyvia. Adrianpun juga tertidur, karena sebenarnya dia sendiri juga sudah mengantuk.
~ ----------------------------
~ ----------------------------
~ ----------------------------
Semua serb natural...😍😍😘
Lanjut ah...😗😗