Kisah cinta seorang wanita yang berlumuran dosa yang dipertemukan dengan lelaki sholeh
Thara dijodohkan dengan Ayaz lantaran tidak tahan dengan sikap anaknya yang liar dan diluar kendali. Surya yang merupakan ayah dari Thara memilih Ayaz, yang merupakan murid teladannya dulu. Dia yakin bersama Ayaz, Thara akan berubah menjadi wanita baik-baik. Mengingat reputasi Ayaz yang gemilang dan juga ke shalehannya.
Namun keluarga Ayaz tidak setuju anaknya dinikahkan dengan wanita liar seperti Thara. Ibunya takut hal itu akan membuat malu nama baik keluarga. Namun karena Surya banyak berjasa pada Ayaz. Membuat pria itu mau tidak mau menyetujui perjodohan itu.
Lalu bagaimana rumah tangga mereka, mengingat sifat mereka yang sangat jauh bertentangan.
Apakah Ayaz mampu mendidik istrinya? membuat Thara jatuh cinta atau malah menyerah karena tidak tahan dengan wanita itu.
"Tidak ada yang menginginkan pernikahan ini! untuk apa ditanggapi dengan serius. Urus, urusanmu sendiri. Jangan ikut campur dengan urusanku!!"
"Memang kita tidak menginginkan pernikahan ini, tapi ketahuilah bahwa segala sesuatu yang terjadi atas kehendak ALLAH. Kau adalah amanah dari ayahmu untukku, Thara. Dan tanggung jawabku begitu besar terhadapmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aff18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Edy menelan ludahnya berkali-kali. Hanya tinggal satu langkah lagi, maka tugasnya selesai. Dia hanya tinggal membuka pintu ruangan Dokter spesialis kandungan, lalu menyampaikan pertanyaan Ayaz.
Dia ingat beberapa jam sebelum dia sampai disini. Ayaz tiba-tiba menelponnya. Dia pikir ada pekerjaan penting atau apa. Tapi sungguh diluar dugaanya, bahwa Ayaz menyuruh hal aneh padanya. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Edy sudah memelas, agar sebaiknya Ayaz lihat artikel digogle saja. Namun Ayaz tetap keukeh ingin dari dokternya langsung.
Ketika selesai menghela nafas beratnya. Edy melangkah masuk, dan langsung disambut hangat oleh sang dokter.
"Silahkan duduk, Pak."
Dengan kaku, Edy duduk dan menghadap dokter itu. Tangannya meremas pelan celana dibagian pahanya sendiri. Sudah pasti dia yakin Dokter pasti bertanya-tanya dimana ibu hamil yang mau diperiksa.
"Maaf Pak, dimana istrinya yang mau periksa?"
"Tidak ada."
"Tidak ada?" dokter itu berkerut heran. Lalu apa tujuan Edy datang menemuinya?
"Lalu? siapa yang mau periksa? apa-"
"Tidak, bukan saya!" Edy langsung menyela.
"Lalu?"
Edy berdehem sekali untuk menghilangkan kegugupanya.
"Jadi begini. Sebenarnya kedatangan saya kemari untuk menanyakan sesuatu."
"Apa itu?"
"Em, kapan wanita hamil dan suaminya boleh melakukan-" Edy tidak menggantung ucapannya. Namun tangannya bergerak memberitahu sesuatu. Sang dokter yang menatapnya malah semakin bingung dan tidak mengerti.
"Katakan saja lebih jelasnya. Saya tidak mengerti apa maksudnya seperti itu!"
"Maksud saya, kapan mereka boleh berhubungan suami istri."
Dokter itu membentuk mulutnya seperti lingkaran karena baru saja mengerti maksud Edy.
"Oh. Saya pikir apa. Kehamilan tidak akan terganggu akibat berhubungan badan, kecuali jika memang dari awal pemeriksaan diketahui kehamilannya bermasalah. Jadi boleh saja, Pak."
"Begitu?"
"Apa ada hal lain?"
"Tidak. Terimakasih."
Cepat-cepat Edy keluar dari sana. Membuang nafasnya keras-keras.
Sial! aku sudah seperti orang bodoh gara-gara Pak Ayaz. Padahal ada goggle!
***
"Kalo pengen, jangan ditahan-tahan." bisik Thara dengan nada sensualnya. Dia tahu suaminya sedang berusaha mengendalikan diri. Meski gerak tangannya tak bisa dihentikan.
"Jangan dulu. Tunggu kabar dari Edy."
"Apa hubungannya sama Edy?"
"Adalah pokoknya."
"Itu tatapan Mas nya udah penuh syahwat loh! tangannya juga udah kemana-mana gak bisa diem. Udah... gas aja. Mama gak bakal tau kok." Thara kembali merayunya dengan senyuman menggoda. Bahkan Thara dengan beraninya menduduki Ayaz yang sudah nyaris runtuh pertahanannya.
Ayaz menatap penuh pertimbangan. Suara desisan juga tak tertahan dari mulutnya. Thara kembali berbisik ditelinganya dengan sensual. "Kita bisa pelan-pelan Mas. Atau mau Thara bantu dengan cara lain?"
Ayaz mencengkram lembut pinggang istrinya. Nafasnya pun sudah terdengar keras. Ketika pertahanannya benar-benar sudah diruntuhkan oleh godaan Thara yang sangat berpengalaman. Ayaz langsung saja meraup bibir istrinya. Memberikan hisapan lembut dan menggoda. Sementara tangannya sudah bergerilya disetiap jengkal tubuh Thara. Hingga wanita itu pun ikut melenguh.
Ketika keduanya baru saja ingin memasuki dunia mereka yang penuh dengan kenikmatan. Tiba-tiba saja suara geduran pintu terdengar keras. Diiringi dengan suara teriakan yang tidak lain berasal dari Mama Gina.
"AYAZ....!! BUKA PINTUNYA."
"Astaga, Mama kenapa jadi kayak gini sih!"
"Udah Mas, liat dulu aja. Mungkin penting." Thara mengancingkan kembali bajunya.
"Biarin aja lah. Nanti kalo capek, Mama berenti sendiri."
"Mana suami sholehku? jangan jadi anak durhaka kamu, Mas. Udah sana!"
Ayaz berdecak kesal. Dia beranjak dari sana dan membuka pintunya. Entah apa lagi yang akan terjadi, Mama Gina menatapnya dengan pandangan mencela.
Ayaz melihat arah pandangan Mama Gina yang tertuju pada kancing kemejanya yang sudah setengah terbuka.
"Kamu-"
"Jangan su'uzon. Ayaz belum sempet. Mama gedor pintu mau ngapain? jangan terlalu dzolim sama anak sendiri, Ma. Dosa!"
"Mama gak nyesel gedor pintu kamar kalian, meskipun Mama gak punya tujuan. Kalo aja Mama gak gedor pintunya, mungkin kamu udah kebablasan! kamu dicariin Edy sana. Dia bilang udah nelpon kamu tapi gak diangkat-angkat. Pantesan...!"
"Mana orangnya?"
"Ada dibawah."
Ayaz membenahi pakaiannya. Lalu segera turun kebawah. Sementara Mama Gina hanya mengusap dadanya lalu masuk menemui Thara.
Thara sendiri terkesikap dengan kehadiran mertuanya.
"Mama?"
"Udah minum susu?"
Thara menggeleng. Dia memang tidak pernah suka dengan minuman seperti itu. Jika tidak Ayaz dan Mama Gina yang menyuguhi, maka Thara tidak akan pernah meminumnya.
"Anak sama mantu, sama bandelnya. Gak mau nurut kalo dibilangin." Mama Gina berjalan mendekati meja yang sudah tersediah semua kebutuhan Thara. Mulai dari susu, vitamin dan buah. Langsung saja dia membuatnya meski diiringi dengan cibiran.
"Kebutuhan asam folat dan vitamin itu penting. Jangan dianggap remeh. Ini minum... "
Thara mengambil gelas dari Mama Gina. Dan langsung menenggaknya sampai tandas.
"Dulu, pas Mama hamil muda. Mama disuruh ngerjain semua jenis pekerjaan rumah. Neneknya Ayaz terkesan judes. Dia suka nindas orang seenaknya. Gak peduli mantunya lagi hamil muda."
"Bukannya kalo lagi hamil muda gak boleh melakukan pekerjaan berlebihan, Ma?"
"Nah itu! mangkanya Mama gak mau kamu melakukan pekerjaan apapun dirumah ini. Nanti pas hamil tua, baru boleh. Resikonya itu besar, Ayaz itu sampe prematur lahirnya. Untung selamet."
Thara hanya diam dan menyimak dengan baik. Sebab ini baru pertama kali, Mama Gina bicara terlalu banyak padanya.
"Belum lagi cibiran dan makian dari mertua. Itu juga bikin Mama sempet down dulu. Mama hampir stress. Untung aja almarhum Papa Ayaz, selalu menasehati Mama. Menuntun Mama agar banyak-banyak berdzikir dan istighfar. Alhamdulillah hati Mama selalu tenang setiap kali Papa mertuamu dideket Mama."
"Ya Allah.... "
"Gak sampe disitu aja. Bahkan sampe nifas pun, Mama masih aja diomelin hanya karena masalah sepele. Mama nangis pas lahiran aja dibentak sama dia. Katanya Mama ini lebay lah. Padahal rasa sakit itukan manusiawi. Masa nifasnya Mama ini adalah masa yang paling menyedihkan. Mama gak disuruh Ngapa-ngapain sama Papa nya Ayaz. Tapi mertua Mama ngomel terus. Katanya Mama ini pemalas padahal selama masa nifas emang harus istirahat. Mama cuma bisa nangis terus. Kamu tahu akibatnya? Ayaz cuma dapet sedikit asi Mama. Gak sampe dua bulan dia nyusu karena asi Mama gak mau keluar. Ya karena itu tadi, stress berlebihan."
Tanpa terasa air mata Thara mengalir mendengar ceritanya. Rasa sesak yang dirasakan Mama Gina seakan ditransferkan padanya.
"Mangkanya Mama gak mau kamu sampe stress. Insya Allah Mama gak bakal memperlakukan kamu kayak mertua Mama dulu. Mama emang awalnya gak bisa nerima kamu. Tapi sekarang mau gak mau ya Mama harus Terima. Kamu menantu Mama dan ada cucu Mama dirahim kamu. Tolong dijaga, ya..."
thara menag banyak juga, masah bersenang2, sex bebas, hura2, poyah2, dan akhiratnya dapat lelaki yang mencintanya, dan menerima dia apa adanya, bahkan berjuang untuknua
atas lelaki sejati,
fatma miris, berjuang mendapatkan hati lelaki pujaanya tapi miris pujaannya malah nikah dengan wanita lain, dan dia dihujat karena mencinta suami orang, dan miris sekali hidupnya author hukum dia dengan diperkosa dan diperlakukan sangat hina dan kasar
satu kesalahan besar fatma bukan mencintai suami orang tapi fatma mencinta suami pemeran utama wanita karena dasarnya author dan readernya wanita jadi mereka ngehalu diposisi pemeran utama wanita jadi pelakor mereka laknat habis tapi pebinor mereka jaga
*saat fatma melakukan kesalahan mereka beramai menhujat, melaknat dan memaki fatma
tapi
*saat viky melakukan kesalahan meraka diam, tidak mempermasalahkan itu
inilah sikap egois wanita yang dibawa reader dalam berkomentar
*mereka akan melaknat wanita yang menyukai suami alias pelakor
*tapi memaklumi dan terkesan baper dengan lelaki lain yang menyukai mereka, jadi semua kelakuan lelaki itu mereka maklumi bahkan mbenarkan
aku tunggu ucapan thara "maafkan karena tidak sempurna dan Terima kasih suamiku karena ikhlas menerima aku apa adanya" ucapan ini simple tapi sangat banyak maknanya
*membuat suami merasa dihargai dan dianggap
*membuat thara merasa bersukur dan berterima kasih
*membuat thara naik derajatnya karena peka terhadap perasaan suami
*membuat thara naik derajat karena sadar akan kesalahannya
tapi sayang sekali thara tidak pernah mengucapkan kalimat itu