Erie, seorang gadis berusia 19 tahun yang mempunyai nasib malang, secara tiba-tiba dinikahkan oleh bibi angkatnya dengan pria bernama Elden. Tidak hanya bersikap dingin, pria tampan nan kaya raya itu juga terkesan misterius seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Erie. Kira-kira bagaimana cara Erie bertahan di dalam pernikahannya? Apakah Erie bisa merebut hati sang suami ketika ia tahu ternyata ada wanita lain yang menempati posisi istimewa di dalam hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jealous?
Elden memain-mainkan penanya sambil berpikir. Banyak sekali masalah yang terjadi di perusahaannya akhir-akhir ini. Belum lagi ia harus membereskan semuanya sendiri karena Mario telah ia tempatkan di markas besar organisasi.
Sebuah suara muncul di laptop Elden. Suara ini datang dari notifikasi pesan surat elektronik yang dikirimkan oleh Mario. Pesan itu berisi pemberitahuan tentang pemberian izin masuk seseorang ke dalam perusahaan. Elden yang melihat pesan itu mengangkat kedua bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia tidak menyangka permintaannya beberapa hari lalu, langsung disetujui oleh orang itu. Padahal, orang itu selalu berkata bahwa ia tidak ingin lagi menginjakkan negara ini. Ia terlalu sering disakiti oleh bangsanya sendiri.
Elden kembali ke meja di mana di atasnya ada setumpuk kertas-kertas laporan. Ia membacanya satu per satu secara rinci. Pria itu mencium gelagat mencurigakan dari pabrik kayu miliknya di daerah timur. Sepertinya ada seekor tikus atau mungkin sekelompok tikus yang mencoba-coba untuk memanipulasi data keuangan. Elden menghembuskan napasnya. Selalu ada saja orang-orang tak berguna yang tamak dan serakah. Bahkan jika ancaman hukuman mati saja sudah tidak mereka hiraukan, lalu bagaimana caranya Elden membasmi mereka dari perusahaannya?
Elden menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia memegang lehernya sambil sesekali menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk merenggangkan otot-ototnya yang tegang. Astaga, ini baru beberapa jam ia bekerja, mengapa ia merasa sudah begitu lelah? Tampaknya umur yang sudah semakin tua sangat mempengaruhi produktivitasnya.
Di tengah kelelahan, kedua mata hazel Elden menangkap sesuatu yang menarik di depannya. Seorang wanita yang sibuk mengetik di atas keyboard. Seumur hidup, Elden sudah melihat ratusan wanita yang bekerja bersamanya, tapi entah mengapa perempuan itu saja yang terlihat berbeda. Padahal pakaiannya sama saja dengan yang digunakan wanita kantoran pada umumnya
Ada banyak hal yang membuat Elden semakin intens menatap Erie. Elden menyukai cara perempuan itu bekerja. Terutama ketika ia sedang serius. Sering kali Elden bisa melihat beraneka ragam ekspresi yang terpancar dari paras cantiknya itu. Erie akan mengerutkan keningnya jika ia merasa kesulitan akan sesuatu. Ia akan mengerucutkan bibir merah mudanya itu ketika ia merasa kesal dengan pekerjaannya. Atau, perempuan itu memiringkan kepalanya saat ia menemukan sesuatu yang menarik. Namun, yang paling Elden sukai adalah ketika Erie menyibak anak rambutnya di pinggir telinganya. Jujur, itu terlihat sangat menggoda.
Saat melihat Erie yang kesulitan bekerja karena rambutnya, sebenarnya Elden ingin sekali menyuruh perempuan itu mengikatnya. Ia yakin Erie akan mengindahkan perkataannya. Hanya saja, Elden keberatan jika banyak mata laki-laki di luar sana memandang leher Erie. Sebab Elden merasa Erie akan terlihat semakin seksi dengan leher terbuka seperti itu.
Tidak, tidak. Sebenarnya mau bagaimana pun penampilannya, istrinya itu akan terus terlihat cantik dan menawan di mata Elden. Walaupun Elden sudah memindahkan ruangan kerja Erie ke ruangannya, tapi itu tidak bisa menampik rasa gelisahnya. Bukan hanya untuk melindungi Erie, tindakan itu juga dilakukan Elden untuk menjaga Erie dari mata para lelaki lain. Ya. Semakin hari rasanya Elden semakin posesif terhadap Erie. Jika perlu, Elden akan melakukan tindakan kejam untuk membuat Erie selalu berada di dalam pelukannya. Misalnya mengurung Erie, atau bahkan Elden juga bisa mematahkan kaki jenjang perempuan itu agar ia tidak bisa lari darinya. Elden tidak peduli jika ia akan dibenci. Bukankah burung cantik harus dikurung di dalam kandang agar tidak terbang terlalu tinggi?
Saat tengah asyik memandang, mendadak Erie berdiri dari kursinya. Melihat gelagat perempuan itu yang hendak berjalan ke arahnya, membuat Elden mengalihkan perhatiannya ke atas setumpuk kertas yang ada di depannya.
“Tuan, ada seorang wanita ingin bertemu Anda,” kata Erie kepada Elden.
Dengan tetap berpura-pura bekerja, Elden menanggapi perkataan Erie. “Suruh dia masuk.”
“Baik, Tuan.”
Huh! Elden bernapas lega. Nyaris saja tadi ia kepergok sedang memandangi Erie yang sedang bekerja. Harusnya itu tidak jadi masalah. Toh, pada kenyataannya Erie adalah istrinya. Jadi wajarkan jika pria itu terpesona dengan istrinya sendiri? Tapi entahlah. Hubungannya dengan Erie tidak seromantis itu. Apalagi peristiwa beberapa waktu lalu semakin memperparah hubungan mereka. Kejadian kematian Dicken saja sudah membuat Erie marah besar, dan Elden justru menambahnya dengan tindakan bodohnya. Meskipun Erie mengikuti semua perkataannya, namun Elden bisa melihat tatapan marah dan benci dari sorotan mata perempuan itu.
Beberapa detik kemudian, seorang wanita masuk ke dalam ruangan Elden setelah ia mengetuk pintunya terlebih dahulu. Dengan penuh percaya diri, wanita itu berjalan mendekati Elden. Bahkan ia juga berani mengecup bibir pria itu. Setelah itu, ia berbisik di telinga Elden untuk menyapa dengan menggunakan bahasa Prancis yang juga di tanggapi Elden dengan bahasa yang sama, sebab Elden cukup fasih menggunakan bahasa dari negara yang menjadi kiblat mode tersebut.
“Berhenti, Aami!" ujar Elden menginterupsi kegiatan wanita yang berusia 26 tahun itu saat tangan wanita tersebut sedang bermain-main di wajahnya.
“Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu, Elden. Aku hanya ingin menyapa wajah tampanmu saja dan astaga Elden! Kau! Caramu memanggil namaku tadi, ughh seksi sekali. Aku suka.”
“Lepaskan aku Aami, jika tidak, anak buahku akan membawamu pulang.”
“Baiklah, baiklah.”
Aami turun dari pangkuan Elden dan berjalan ke kursi yang ada di depan meja Elden. Ia menghempaskan bokongnya ke kursi itu dan memandang Elden. “Bukankah Jessie tidak ada di sini? Kenapa kau terlihat gelisah pria tampanku? Atau jangan-jangan…” Aami melirik ke arah Erie yang sedang sibuk dengan komputernya. “Dia? Wanita itu? Ya ampun Elden! Yang benar saja! Aku bisa menerimanya jika kekasihmu adalah seorang model internasional seperti Jessie. Tapi wanita itu?”
“Diam! Aku tidak memanggilmu untuk berbicara mengenai wanitaku.”
“Huh! Baiklah. Apa yang membuatmu menjemputku mendadak seperti itu? Kau tahu, pekerjaanku sangat banyak.”
Elden mengeluarkan sebuah map dari laci meja dan menaruhnya di depan Aami. “Aku ingin kau membantuku menyelidiki ini.”
“Hmm, apa bayaranku?”
“Sebuah hotel berbintang di Paris.”
“Terlalu murah.”
“Bagaimana dengan sebuah pulau pribadi di negara bagian selatan?”
“Aku tidak tertarik.”
“Lantas, apa maumu?”
“Kau.”
“Aami!” ucap Elden geram. Ia menatap wajah wanita di depannya dengan sorotan mata seolah ingin menghabisi nyawa wanita itu saat itu juga.
“Wow! Santai sayang. Aku hanya bercanda. Ayolah, jangan terlalu serius Elden. Baiklah, aku terima pulau itu,” kata Aami menyerah untuk menggoda Elden setelah mendapatkan pandangan membunuh dari pria itu.
“Di dalam map ini ada informasi dasar yang sudah organisasiku selidiki,” tukas Elden menjelaskan.
Aami mengambil map di depannya. “Elden, kau yakin akan aman jika aku membukanya di sini?” ujarnya sambil kembali melirik ke arah Erie.
“Tenang saja. Dia tidak mengerti bahasa Prancis.”
Aami mengulum senyum. “Oho! Apa kau memang memahami semua pegawaimu atau kau hanya memahami wanita itu saja?” goda wanita itu lagi.
“Aami, sepertinya anjing-anjing pelacakku sedang ingin memakan daging.”
“Hey hey! Tidak baik memberikan daging mentah kepada anjing, Tuan. Perut mereka akan sakit,” ucap Aami sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Elden.
Saat Elden menggeram menahan amarah, Aami langsung mengalihkan perhatiannya dengan membuka map yang ada di tangannya. Aami adalah seorang agen mata-mata handal yang bekerja di sebuah perusahaan keamanan di Prancis. Ia banyak membantu kepolisian dalam mengungkap jaringan pengedaran obat-obatan terlarang dan sindikat mafia penyeludupan minuman keras. Sudah delapan tahun ia bekerja di bidang itu. Itulah sebabnya, Elden memanggil Aami untuk membantunya mengungkap cara kerja gangster bernama Monster yang sampai saat ini tidak bisa ditemukan oleh organisasi milik Elden, meskipun mereka mempunyai beberapa petunjuk.
Sebenarnya, Aami adalah teman Elden di organisasi dulu. Ia masuk ke dalam organisasi saat berusia 13 tahun. Saat itu, Aami diselamatkan oleh Tuan Besar ketika ia hendak dilecehkan oleh sekelompok orang di sebuah rumah bordil. Menurut pengakuan Aami, ia bisa sampai di tempat itu karena orang tua kandungnya menjualnya. Mereka berhutang dan tak sanggup membayar hutang itu. Jadi, tanpa pikir panjang, mereka menyerahkan Aami yang masih bocah ke tempat kelam itu.
Aami merupakan gadis yang pintar pada saat itu. Dalam waktu singkat, ia bisa menguasai semua pelajaran di organisasi dengan baik. Gadis itu juga sangat setia kepada keluarga Alvaro karena ia menganggap Tuan Besar sebagai penyelamatnya. Ia harus membalas budi. Itulah yang ia pikirkan sebelum ia tahu tujuan sebenarnya organisasi itu dibentuk oleh Tuan Besar.
Setelah empat tahun terperangkap di dalam organisasi, Aami merencanakan untuk kabur. Berkat bantuan Eldenlah, wanita itu berhasil keluar dari organisasi secara hidup-hidup. Tak tangggung-tanggung, Elden juga mengirimnya ke Prancis. Sejak saat itu, ia berjanji akan membantu Elden jika pria itu membutuhkan bantuan.
“Bagaimana? Kau menemukan sesuatu?” ucap Elden memperhatikan mimik wajah Aami yang sedang serius memperhatikan data-data di tangannya.
“Ini cukup sulit ditelusuri, tapi data-data ini sangat berguna. Orang-orang di organisasimu sudah meningkat pesat rupanya.”
“Berapa lama waktu penyelidikanmu?”
“Aku tidak yakin. Bisa cepat dan bisa juga lambat. Aku akan menemuimu jika aku sudah mengetahui siapa pelakunya.”
“Kau bisa datang ke sini kapanpun kau ingin menemuiku.”
“Aku pikir, kau mengizinkanku ke markas organisasimu untuk membiarkanku melepas rindu.”
“Tidak. Kau hanya akan mengganggu Mario. Biarkan dia fokus dengan pekerjaannya.”
Aami tersenyum menggoda. “Jadi aku tidak boleh mengganggunya, tapi aku boleh mengganggumu, begitu?”
“Lakukan itu jika kau tidak menyayangi nyawamu.”
“Uh! Kalau saja kau tidak tampan, seksi dan kaya, aku ragu masih ada wanita yang bertahan di dekatmu, Elden.”
“Pergilah. Kecuali rumah dan penthouseku, kau bebas tinggal di mana saja. Aku akan membayar semua kebutuhanmu selama kau berada di negara ini.”
“Baiklah, terima kasih, tuan tampan. Aku pergi dulu,” kata Aami lalu melenggang pergi dari ruangan Elden.
Sejak saat itu, jadi Aami semakin sering datang ke kantor Elden. Elden sudah mengatakan bahwa Aami tidak perlu izin untuk bertemu dengannya. Ia juga memberikan kartu identitas khusus untuk Aami agar wanita itu bisa masuk ke perusahaannya tanpa melalui resepsionis.
Sampai pada hari itu, hari di mana Aami menemukan suatu petunjuk penting tentang kasus Elden. Ia langsung datang ke ruangan Elden walaupun hari masih pagi. “Selamat pagi, Elden,” sapanya pada Elden dengan menggunakan nada manja meski ia tahu bahwa di ruangan itu tidak hanya ada mereka berdua saja.
“Kenapa kau ke sini sekarang?” tanya Elden merasa aneh karena Aami biasanya akan datang ke kantornya pada siang hari.
“Aku merindukanmu, jadi aku ingin cepat-cepat menemuimu. Bagaimana? Apa kau merasa terharu karena ada seorang wanita cantik merindukanmu?” kata Aami sambil memeluk dari belakang Elden yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Elden melepaskan dekapan Aami dan menarik tangan wanita itu dari tubuhnya. “Duduk yang benar dan katakan apa yang kau dapatkan.”
Aami duduk di atas meja kerja Elden. “Aku akan memberitahumu jika kau memperbolehkan aku duduk di pangkuanmu.”
Elden menatap Aami dengan tajam. “Kenapa kau jadi seliar ini?”
“Hey! Aku ini tidak liar pada setiap orang tahu. Lagipula aku juga masih perawan.”
“Hah? Aku tidak percaya itu.”
“Apa kau mau mencobanya?” Aami mendekatkan wajahnya ke wajah Elden dan tersenyum menggoda.
Elden mengerutkan keningnya. “Berhenti berbicara mesum! Kau membuang waktuku.”
“Kau benar-benar tidak seseru dulu Elden. Lihatlah kerutan di wajahmu itu membuat kau terlihat semakin tua.”
“Aami!”
“Tapi ini serius Elden. Aku hanya bisa memberikan informasi berhargaku jika kau menyetujui persyaratanku.”
Elden menghembuskan napasnya pasrah. “Baiklah. Cepat lakukan apa maumu.”
Aami tersenyum senang. Ia turun dari meja Elden dan langsung duduk di pangkuan pria itu. Lalu, Aami mendekap Elden dan membisikkan sesuatu di telinga Elden.
Elden membelalakkan mata mendengar apa yang baru saja masuk ke dalam telinganya. “Kau yakin?”
Aami mengangguk. “Dekat sekali Elden. Dekat dan sangat berbahaya,” katanya sembari turun dari pangkuan Elden. Ia duduk di kursi di depan Elden dan mulai menceritakan detail kejadiannya.
Tak terasa obrolan Aami dan Elden berjalan dengan memakan waktu yang cukup lama. Bahkan mereka melewatkan jam makan siang tanpa mereka sadari. Aami tidak hanya memberikan informasi kepada Elden mengenai musuhnya. Ia juga memberitahu sesuatu yang tidak pernah Elden ketahui sebelumnya.
Usai berbicara banyak, Aami meninggalkan kantor Elden. Kali ini ia berniat untuk pulang ke negaranya karena pekerjaannya telah selesai.
Saat Aami keluar dari ruangannya, Elden baru menyadari bahwa Erie tidak ada di ruangan itu. Ia sama sekali tidak menyadarinya sebab terlalu fokus berbincang dengan Aami. Elden menoleh ke arah jam dinding kantornya. Waktu makan siang telah berakhir dan ini sudah lewat sepuluh menit. Elden mulai mencari Erie. Ia menghubungi Tina. Tina berkata bahwa Erie pergi untuk makan siang.
Elden menghubungi Mario yang sedang berada di markas besar organisasi mereka. Ia bertanya di mana restoran yang biasa Erie kunjungi. Mario menyebutkan sebuah restoran yang ada di depan kantor mereka.
Elden memanggil salah satu pengawalnya dan menyuruh orang itu untuk mencari Erie di restoran yang tadi disebutkan oleh Mario. Pengawal itu pergi ke sana dan tak lama kemudian, ia mengirimkan kepada Elden sebuah gambar di mana Erie sedang makan bersama dengan seorang pria. Wajah Erie terlihat cerita dan matanya tampak berbinar-binar. Elden sangat geram melihat hal itu.
XXXXX
Di tempat lain, Erie dan Devin masih berbicara dengan santai mengenai Stefan. Saat melihat restoran itu yang mulai kosong, barulah Erie teringat bahwa ia harus kembali ke kantor. Dengan terburu-buru, ia berpamitan kepada Devin. Sudah tiga puluh menit ia terlambat. Erie berlari menuju kantornya dan bergegas memasuki ruangan Elden.
Benar saja apa yang ditakuti Erie. Pria itu telah duduk di kursi kerja Erie dengan tangan terlipat di dadanya. “Ma… maaf saya terlambat, Tuan,” kata Erie dengan napas terengah-engah.
Rahang Elden menegang. Ia menatap Erie dengan tatapan amarah. “Bukankah sudah kukatakan untuk tidak mendekati pria lain?”
Apa? Elden marah kepadanya bukan karena keterlambatannya? Pria lain? Ah! Erie teringat akan Devin. Ia menunduk untuk menghindari tatapan tajam Elden. “Saya bersalah, Tuan. Maafkan saya.”
“Kau sudah lupa dengan janji yang kau ucapkan?”
“Saya tidak akan mengulanginya, Tuan.”
Elden berdiri dari kursi Erie. “Kau terlambat dan telah mengingkari janji. Jika hal ini terjadi lagi, kau tentu tahu siapa yang akan mendapatkan hukumannya,” tukas Elden tegas. Lalu, ia berjalan menuju kursinya.
Erie mengangkat kepalanya. Ia duduk di kursinya sambil menoleh ke arah Elden. Pria itu benar-benar iblis. Ia selalu mengancam Erie dan membuat perempuan itu tak bisa berbuat apa-apa.
**XXXXX
Dukung novel ini dengan tinggalkan like, comment dan vote… ♥️
Danke… 😍
By: Mei Shin Manalu**
katanya bucin
apa BAWA ya...
Kl diangkat ke layar lebar pasti penonton nya kyk semut antrinya
kereeen