Aku masih menunggu..
Saat dimana Tuhan mengaitkan jemariku dan jemarimu
Menjadi sebuah genggaman dalam keridhoan
Meski sangat sakit bagiku, aku harus menerima perjodohan yang tak pernah sekalipun terbayangkan dalam pikiranku.
Perjodohan yang di setujui kedua orang tuaku dan orang tuanya, namun tidak dengan kami. Aku dan dia yang tidak saling mencintai.
Perjodohan yang memisahkan antara aku dan cintaku, juga antara dia dan cintanya.
Yang akhirnya membawa kami ke sebuah persekongkolan. Kami berdua sangat berharap, persekongkolan ini akan membuahkan hasil.
Hasil yang akhirnya bisa kembali kepada cinta kami masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri syachid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Lagi
Dua minggu pasca kejadian terusir itu, Adi tidak lagi menampakkan batang hidungnya. Apalagi datang ke rumah Indy. Beberapa kali Indy melewati rumah cowok itu saja tidak melihat adanya tanda-tanda Adi berada di rumah.
Jum'at ini Indy merasa sangat malas. Dia langsung merengkuh kasur empuk setelah pulang sekolah. Sampai waktu dzuhur tiba, barulah ia bangun dan mengambil wudhu untuk segera menghadap Sang Khalik.
"Ndy," teriak Rini memanggil puteri kesayangannya dari balik pintu.
Melihat anak perempuannya tengah melaksanakan sholat, Rini memilih duduk menunggu di sofa ruang tamu rumahnya.
Selesai sholat Indy langsung menyambangi mamanya yang ternyata masih menunggu.
"Ada apa, Ma?" tanya gadis itu setelah memakai jilbab instannya.
"Tolongin Mama, ya. Beliin gula pasir di warung depan, satu kilo aja. Mama nanggung lagi manggang kue, takut gosong kalau di tinggal," beber Rini beralasan.
"Panas, Ma," keluh Indy.
"Pakai motor biar cepet, udah buruan sana."
"Motor Indy bannya bocor. Tadi aja pulang sekolah ngedorong dari pertigaan depan," lapornya pada sang mama.
"Ya udah, jalan kaki. Sekali-kali panas-panasan."
Rini langsung meninggalkan gadis itu yang siap mengumbar seribu alasannya demi menghindari keluar rumah di panas terik seperti siang ini.
Indy masuk ke dalam kamarnya sebentar. Mengganti kerudungnya yang hanya sepanjang dada dengan yang lebih panjang menjuntai menutupi tangannya.
Gadis itu benar-benar takut pada sinar matahari. Tanpa mengganti seragam pramuka yang masih menempel di tubuhnya, Indy langsung melesat berjalan menuju warung.
"Ya Allah … kenapa panas banget, sih? Indy kan jadi terbakar matahari," rintihnya dalam hati.
Sepanjang berjalan di gang yang sepi itu Indy terus menyembunyikan tangannya di dalam jilbab panjangnya.
"Untung pakai kaus kaki, kalau enggak, bisa belang nih kaki."
Gula pasir pesanan mamanya sudah ia beli. Gadis itu kembali berjalan untuk segera pulang. Belum seperempat jalan, seseorang dari kejauhan sayup-sayup terdengar memanggilnya.
Karena itu dia menghentikan langkahnya tepat di bawah pohon mangga yang cukup meneduhkan.
"Indy," panggil orang itu lagi dengan menghentikan laju motornya tepat di depan Indy yang berdiri.
"Apa?" jawab gadis itu cuek.
"Tadi gue kira bukan lo, pas di panggil ternyata berhenti," tuturnya.
"Terus?" gadis itu masih saja cuek.
"Alhamdulillah, pulang jum'atan gue ketemu bidadari syurga. Bahagianya, Ya Allah,"
"Udah? Panas nih, gue mau cepet-cepet balik. Mama udah nungguin gue," tukas Indy.
"Tunggu bentar," cegatnya.
"Apalagi?" Indy mulai merespon dengan kesal.
"Naik ke boncengan, biar gue anterin," pinta cowok yang nampak gagah menggunakan sarung, baju koko, dan peci.
"Nggak usah, lo langsung pulang aja. Nanti pahala yang lo dapet malah turun di rumah gue," ucap Indy beralasan.
"Nggak papa, gue ikhlas. Yang penting bidadari gue jangan sampe kepanasan terlalu lama."
"Hmmm. Ya udah deh, gue juga capek jalan."
Akhirnya Indy naik ke jok belakang motor yang di kendarai Adi. Cowok itu baru saja pulang dari jum'atan di masjid. Pandangannya tak sengaja menangkap sosok Indy yang hari ini berbeda dari dua minggu lalu.
Jilbab panjang menjuntai menutupinya bahkan kaus kaki tidak lepas dari kakinya. Masya Allah, Adi kagum melihatnya. Indy sudah berubah, menjadi cewek yang lebih sholehah lagi. Begitu yang ada di pikirannya.
"Thanks," ucap gadis itu setelah di antar hingga ke rumahnya.
"Gih masuk, gue tunggu di sini."
"Kenapa? Lo nggak mau pulang?" tanya Indy bingung.
"Mama gue nanyain, lo. Jadi gue pengen ajak lo ke rumah. Mau, nggak?"
"Mau. Sebentar," ucapnya seraya masuk dengan cepat ke dalam rumah.
Bagaimana bisa menolak ajakan yang di tawarkan Adi. Jika bayangan toples-toples yang berisi nastar saja sudah langsung terbayang dalam benaknya ketika adi menyebut kata 'mama'.
#seperti sampah
#my husband is a Gay
mendukung terimakasih
Yey season 2 !!