Bukan maunya menikah dan menjadi istri kedua, kalau bukan permintaan dari istri pertama yang memaksanya untuk menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*34
Arya datang ke kantor polisi untuk melaporkan soal penculikan. Awalnya agak sulit untuk Arya meminta polisi untuk membantu mempercepat proses laporan yang Arya buat. Tapi, Arya punya satu bukti yang baru saja Yulia kirimkan.
Bukti yang berupa foto Nana yang sedang diikat disalah satu kursi dalam gedung tua. Hal itu membuat polisi tidak pikir panjang lagi untuk segera mencari keberadaan Nana.
Dengan kecanggihan teknolongi yang ada di zaman sekarang, polisi dengan mudahnya bisa melacak di mana keberadaan Yulia menyekap Nana sekarang. Mereka segera menuju lokasi di mana Nana berada. Sebelumnya, mereka telah mengatur siasat agar Yulia tidak bisa melarikan diri.
Salah satu anak buah Yulia menyadari akan kedatangan polisi. Ia segera memberitahukan pada Yulia.
"Gawat bos, gawat," kata anak buah itu sambil gelagapan.
"Gawat apanya?" tanya Yulia yang sedang berbicara dengan Lisa soal langkah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
"Ada--ada polisi sedang menuju kesini bos."
"Apa!?" ucap Yulia dan Lisa sekaligus.
"Kok bisa polisi datang kesini sih," kata Lisa tak habis pikir.
Setahu Lisa, tempat ini adalah tempat paling aman yang ia punya. Di tempat ini juga, ia pernah menghasilkan puluhan bahkan sampai ratusan juta uang. Uang trasaksi barang harap seperti narkoba.
Hampir bertahun-tahun ia melakukan trasaksi itu, tidak ada satu polisi pun yang tahu. Ia tidak pernah tertangkap selama ini. Tapi kali ini, setelah membantu Yulia menyekap Nana, tempat ini dengan mudahnya dilacak oleh polisi.
"Mbak Yuli melakukan apa selain rencana yang sudah aku susun?" tanya Lisa dengan nada kesal.
"Tidak ada. Aku hanya mengirimkan sebuah foto pada Arya."
"Agghhh ... pantas saja polisi tahu. Kenapa kamu melakukan hal-hal bodoh seperti itu. Kenapa kamu tidak tanya aku dulu," kata Lisa dengan sangat kesal.
"Kenapa kamu malah menyalahkan aku, kamu yang tidak ada bersamaku dan tidak bisa aku hubungi tadinya," kata Yulia tak kalah kesal.
Yulia memang bukan penjahat sesungguhnya. Dia tidak akan tahu apa saja yang harus di hindari dan apa yang harus dilakukan. Semua rencana berasal dari Lisa. Dia adalah dalang yang sesungguhnya.
"Ah ... sudahlah. Sekarang bukan waktunya untuk berdebat. Aku tidak mau tau, kita harus bisa keluar dari gedung ini tanpa tertangkap oleh polisi. Aku tidak mau tertangkap dan dikurung di penjara," kata Lisa.
"Aku juga tidak ingin tertangkap, apalagi dikurung dalam penjara. Kamu kira kamu saja."
"Kalian berdua, bawa perempuan itu sebagai sandra agar kita bisa bebas pergi dari sini," kata Lisa pada kedua anak buah Yulia.
"Baik bos," jawab anak buah itu serentak.
Mereka pun melaksanakan apa yang Lisa katakan. Sedangkan Yulia, ia hanya bisa mengikuti langkah Lisa yang berjalan menuju pintu keluar gedung tua tersebut.
Saat mereka ingin keluar dari gedung itu, polisi menghentikan langkah mereka.
"Jangan bergerak. Tempat ini sudah kami kepung. Jangan coba-coba melarikan diri atau kalian akan kami tembak."
Lisa terlihat santai dengan ancaman polisi tersebut. Mungkin, otak mafia yang ia miliki tidak membuat ia gentar sedikitpun ketika berhadapan dengan polisi yang bersenjata mengelilingi tempat ini. Berbeda dengan Yulia, ia begitu takut sampai tangannya bergetar. Ia hanya bisa bersembunyi dibalik Lisa.
"Bagaimana ini Lisa? Kita akan tertangkap sekarang," kata Yulia bicara pada Lisa dengan suara yang gemetaran sambil menahan air mata.
"Mbak Yulia terlalu lemah. Kita tidak akan tertangkap jika mbak Yulia tidak bodoh."
Dua anak buah Yulia dengan cepat membawa Nana. Mereka menjadikan Nana sebagai tameng agar polisi tidak bisa apa-apa.
"Beri kami jalan atau aku akan membunuh perempuan ini," kata Lisa sambil mengarahkan pistol ke kepala Nana.
"Nana!" panggil Arya dengan sangat kaget.
Nana hanya bisa melihat saja. Mulutnya tidak bisa bicara karena dibekap dengan lakban. Tangannya juga terikat saat ini. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain ikut apa yang Lisa lakukan. Ia juga telah di ancam sebelumnya. Jika dia melawan, anak yang ada dalam kandungannya menjadi taruhan utama.
"Pak tolong, jangan sampai istri dan anak saya celaka," kata Arya dengan nada memelas pada polisi.
"Yulia tolong, jangan sakiti Nana. Apa kamu tidak punya rasa kemanusiaan sedikitpun lagi sekarang?" tanya Arya pada Yulia dengan nada yang sangat lembut.
"Kalian datang untuk dia bukan? Bagaimana kalau kalian beri kami jalan, maka dia akan selamat," kata Lisa dengan tegas.
Polisi itu saling pandang. Mereka memberi isyarat untuk melakukan sesuatu.
"Jangan coba-coba mendekat!" kata Lisa semakin mencengkram erat lengan Nana.
"Kalian pikir aku main-main dengan apa yang aku katakan. Aku tidak akan main-main dengan perkataan ku. Beri jalan atau kalian ingin perempuan ini mati," kata Lisa semakin serius dengan ancaman yang ia katakan.
tau ibu tiri ga sebaik ibu kbdung.
sombongngg🤣🤣🤣
😂😂😂
😂😂