"Kenapa kau suka sekali ikut campur dengan urusan pribadiku?"
"Karena aku sedang mencari celah untuk mendekatimu dan merebut dirimu dari suamimu yang brengsek itu," jawab Hansel blak-blakan.
Jatuh cinta pada seorang gadis bukanlah hal yang memalukan. Tapi bagaimana jika ternyata kau jatuh cinta pada seorang wanita yang berstatus sebagai istri dari pria lain?
Hal inilah yang dirasakan oleh seorang Hansel Abraham. Hansel jatuh cinta pada Hanni, perawat pribadinya yang saat ini menyandang status sebagai istri dari Raymond Damara.
Langkah apa yang akhirnya akan diambil oleh seorang Hansel Abraham?
Apakah Hansel akan merelakan Hanni tetap bersama Raymond?
Atau Hansel akan menggunakan segala cara untuk merebut Hanni dari pelukan Raymond?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK MUNGKIN
Hanni masih ada di meja pendaftaran pasien saat matanya menyapu ke ruang tunggu di depan poli obgyn.
Netra Hanni tertumbuk pada satu pasangan yang duduk bersebelahan dan terlihat mesra.
"Raymond!" Gumam Hanni tak percaya.
Apa itu benar Raymond dan Renata?
Lalu apa yang dilakukan dua orang itu di sini?
"Sudah, Nona. Anda bisa menunggu sebentar," ujar petugas di bagian pendaftaran yang langsung membuyarkan lamunan Hanni.
"Terimakasih," jawab Hanni seraya tersenyum.
Hanni mengambil kembali kartu yang tadi diberikan Hansel. Tangan Hanni juga menyambar masker yang ada di depan meja pendaftaran.
Namun saat Hanni hendak mendekat ke arah Raymond dan Renata, pasangan itu malah sudah masuk ke dalam poli obgyn.
Apa?
Mereka menemui dokter kandungan?
"Maaf Nona, masih ada satu pasien yang belum selesai diperiksa," ujar suster yang berdiri di depan poli kandungan.
"Iya, tidak apa-apa. Aku akan menunggu sebentar," jawab Hanni seraya duduk kursi tunggu.
Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di pikiran Hanni.
Apa yang dilakukan Raymond dan Renata di poli kandungan?
Mungkinkah Renata hamil?
Tapi bukankah Renata dan Raymond sudah sama-sama berjanji pada Hanni tentang pernikahan pura-pura mereka?
"Silahkan masuk, Nona," suara suster membuyarkan lamunan Hanni.
Disaat bersamaan, Raymond dan Renata terlihat keluar dari dalam poli kandungan.
Secepat kilat Hanni memalingkan wajahnya agar tidak dilihat oleh Raymond dan Renata.
Hanni segera masuk ke poli kandungan.
"Selamat pagi Nona..."
"Hanni," ucap Hanni menjawab sapaan dokter.
Dokter tersenyum dan membaca sejenak riwayat kesehatan Hanni.
"Maaf, Dokter. Boleh saya bertanya?" Ucap Hanni sedikit ragu.
"Iya, anda mau bertanya apa?" Dokter masih tersenyum ramah.
"Pasien yang sebelum saya tadi. Yang pasangan suami istri tadi," Hanni merasa ragu melanjutkan kalimatnya.
"Iya?"
"Apa saya boleh tahu, kenapa mereka datang kesini. Eee maksud saya apa terjadi sesuatu. Sebenarnya mereka berdua teman saya. Tadi saya ingin bertanya langsung, tapi mereka sepertinya buru-buru dan tidak mendengar panggilan saya," panjang lebar Hanni menyusun kalimat, agar bisa bertanya tentang Renata dan Raymond.
"Maksud saya, apa ada sesuatu yang terjadi pada teman saya tadi, Dok?" Tanya Hanni sekali lagi.
"Oh. Teman anda sedang mengandung. Makanya tadi suaminya membawanya periksa kesini karena teman anda sering mual dan muntah. Biasa keluhan hamil muda," jelas dokter
Sesaat Hanni terdiam.
Jadi benar Renata hamil?
Renata hamil anak Raymond?
Ternyata hubungan mereka sudah sejauh itu.
Hanni menarik nafas panjang dan berusaha mengusir rasa pedih yang mendadak menyelimuti hatinya. Suami dan wanita yang sudah Hanni anggap sebagai malaikat ternyata sudah mengingkari janji mereka pada Hanni.
"Nona Hanni!" Panggil dokter pada Hanni yang terlihat melamun.
Hanni segera mengulas senyum di bibirnya,
"Jadi teman saya tadi sedang mengandung, Dok?" Tanya Hanni memastikan sekali lagi.
"Benar, Nona Hanni. Teman anda sedang mengandung lima minggu," jelas dokter sekali lagi.
"Syukurlah kalau begitu. Mereka berdua memang sudah lama menantikan momongan," ucap Hanni lagi memasang senyuman manis.
Meskipun hati Hanni rasanya sedang porak poranda sekarang. Tapi Hanni juga tidak bisa menyalahkan Renata.
Bagaimanapun juga, Renata adalah istri sah Raymond. Dan posisi Hanni hanyalah sebagai istri siri Raymond.
"Jadi Nona Hanni, anda ingin memeriksa posisi IUD anda?" Tanya dokter lagi.
"Iya, sebenarnya saya sedikit kurang nyaman belakangan ini. Saya takut posisinya bergeser atau semacamnya," jelas Hanni menjelaskan keluhannya.
"Mari kita lihat dulu posisinya!" Dokter membimbing Hanni naik ke ranjang yang dipakai untuk USG.
Dokter akan memeriksa posisi IUD Hanni melalui layar USG.
"Memang sedikit bergeser dari tempatnya. Wajar jika anda merasa kurang nyaman. Bagaimana jika dilepas dulu dan kita bisa memasangnya lagi bulan depan," saran dokter tersebut.
"Apa bisa jika langsung dilepas sekarang, Dok?" Tanya Hanni cepat.
"Bisa. Jika memang nona Hanni ingin dilepas sekarang, akan segera saya lakukan tindakan," jawab dokter.
Hanni segera mengangguk.
"Sekarang saja, Dokter!" Ucap Hanni.
****
Setelah tiga puluh menit berada di poli kandungan, Hanni akhirnya keluar dengan sedikit menahan nyeri di bagian kewanitaannya.
Tapi ini tak sesakit hati Hanni saat ini.
Kebenaran yang baru saja Hanni dengar tentang kehamilan Renata sudah membuat hati Hanni sakit bak diiris sembilu. Hanni melangkahkan kakinya dengan gontai ke arah ruang terapi.
Suasana sudah sepi. Hanya ada Hansel yang kini berbaring seraya memejamkan matanya di dalam ruangan tersebut.
"Hans!" Sedikit ragu, Hanni menyapa Hansel yang sepertinya tengah tertidur.
"Kau sudah selesai bertemu dokter kandungan?" Tanya Hansel tanpa membuka matanya.
"Iya sudah," Hanni duduk pelan-pelan di kursi yang ada di samping ranjang Hansel.
Hanni sedikit meringis menahan nyeri.
"Kau kenapa?" Tanya Hansel yang melihat Hanni meringis menahan sakit.
"Tidak apa-apa!" Jawab Hanni cepat.
"Ekspresi wajahmu seperti orang habis dipukuli saja," gumam Hansel heran.
Ya, hatiku memang baru saja dihantam sebuah batu yang menyakitkan.
Dan sekarang, hatiku rasanya sungguh sakit!
Hanni bergumam dalam hati.
Hansel sudah bangun dan duduk di atas ranjang sekarang.
"Apa kau habis menangis?" Tebak Hansel seraya mengangkat dagu Hanni.
Wajah wanita itu terlihat sembab.
"Tidak! Siapa yang menangis?" Sanggah Hanni cepat.
"Jangan membohongiku!" Sergah Hansel bersikeras.
"Aku tidak menangis! Mataku hanya kemasukan debu saat tadi berjalan kesini," jawab Hanni memberi alasan.
Hanni tadi memang sempat ke toilet sebentar untuk menumpahkan tangisannya. Tapi Hanni juga sudah mencuci mukanya. Lalu bagaimana Hansel bisa tahu kalau Hanni habis menangis.
"Melamun lagi?"
"Tidak! Siapa yang melamun?" Sanggah Hanni membela diri.
"Kita pulang sekarang! Aku ada urusan di hotel," ujar Hansel yang langsung disambut Hanni dengan sebuah anggukan.
Cepat-cepat Hanni mengambil kursi roda Hansel dan memindahkan tuan muda itu ke atasnya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.