NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Kisah Perjuangan Bunda

Sepulangnya dari Ngarai Sianok, mereka pun kembali ke Rumah Gadang. Di sana tampak adik perempuan Bunda sedang menyapu halaman.

"Kakak mau pergi ke makam?" tanya Tek Nun kepada Bunda.

"Iya, Dik. Habis jalan-jalan dulu sebentar," jawab Bunda.

Tek Nun baru sadar jika ada dua pasangan muda yang sangat ia kenali. Segera dia meletakkan sapu lidinya.

"Iko sia, Kak? Uda Devan lah ado bini Yo?"(ini siapa, kak? Mas Devan udah ada istri ya?"

"Ini Hanum, Dik. Dia calon menantu kakak, beberapa bulan lagi mereka akan menikah."

Tek Nun tampak terkejut. "Waduh, kenapa gak bulan depan saja, Kak? Lebih cepat lebih baik..," kata Tek Nun bersemangat.

"Hanum sebelumnya sudah menikah dengan suaminya, Dik. Hanya saja mereka baru saja berpisah sebulan yang lalu. Panjang ceritanya, mirip kakak dulu," ucap Bunda berbisik pada Tek Nun dengan menggunakan bahasa Minang. Membuat Tek Nun mengangguk-anggukkan kepalanya.

Devan tampak memahami maksud ucapan Bunda. Tetapi Hanum hanya diam saja menyimak pembicaraan mereka sembari tersenyum.

"Ya sudah kalau begitu, ayo masuk! Kebetulan saya lagi goreng pisang," kata Tek Nun mengajak mereka bertiga masuk.

Bunda dan Hanum membantu Tek Nun di dapur. Sedangkan Devan kini tampak sedang duduk berceloteh dengan Paman nya.

"Coba makan yang ini, Hanum," ucap Tek Nun menyodorkan rantang berisi pisang goreng yang terlihat mengepul.

Hanum mengambil salah satu nya, harum sekali. Dia mencicipinya hingga tersenyum. 'Enak sekali, Tek!" ucapnya senang.

Tek Nun dan Bunda tersenyum melihat Hanum yang begitu senang.

"Tentu saja!" kata Tek Nun.

"Sudah lama rasanya aku gak pulang kesini, Dik. Sekalinya pulang yang ada hanya rasa sesal di hati. Andai saja kakak pulang kampung dari bulan yang lalu," Bunda terlihat sedih. Masih memikirkan peristiwa yang terjadi dengan cepat ini.

"Tak apa lah, Kak. Sekarang kakak sudah di kampung, Amak pasti senang melihatnya.., sebelum dia pergi, Amak selalu menyebut nama kakak. Jadi, sekarang kakak tidak usah sedih lagi. Katakan pada Amak kalau kakak sudah datang..," kata Tek Nun berucap sambil mengangkat pisang goreng terakhir dari dalam kuali yang dimasak di atas tungku api kayu itu.

Bunda terdiam saja mendengarnya. "Ya sudah, kakak mau siap-siap dulu. Hanum, nanti habis ini kamu mandi ya. Kamar mandinya hanya ada satu, jadi antrian kita," kata Bunda sambil bergegas menuju kamarnya. Menyisakan Hanum dan Tek Nun berdua di dapur.

"Kamu antarkan dulu ini ke ruang tengah ya, habis ini kesini lagi," ucap Tek Nun meminta Hanum untuk mengantarkan sepiring pisang goreng ke ruang tengah.

Saat Hanum tiba, tampak paman tersenyum lebar. "Oh.., ini dia calon menantu ambo? Nama mu Hanum, kan?" ucap Paman kepada Hanum.

Hanum tersenyum. "Iya, Paman."

"Panggil saya Paman Zul," kata Paman Zul kepada Hanum. "Devan, beruntung sekali kamu punya calon istri seperti Hanum. Cantik nian!"

Devan hanya mengangguk saja sambil tersenyum. Lagi pula benar apa kata pamannya. Hanum izin kembali untuk pergi ke dapur. Duduk menatap Tek Nun yang kini sedang mengupas bawang.

"Hanum mau bantuin juga, Tek," kata Hanum.

"Ya sudah, kamu iris saja bawang sama cabe nya, kita bikin nasi goreng ala kampung," kata Tek Nun. Kini dia duduk sejenak sambil mengisap teh hangatnya.

"Jangan lupa minum teh nya," kata Tek Nun lagi.

Perempuan itu mengangguk. Kini, dia sibuk mengiris semua bahan dengan tangkas. Tak sampai lima menit, semuanya sudah siap.

"Wah, jago juga kamu ya! Kalo istilah Minangnya cadiak bana! Pandai sekali!' puji Tek Nun melihat Hanum.

Hanum tertawa kecil, "Sudah biasa, Tek Nun..," katanya.

"Hanum, Tek Nun pengen tahu cerita kamu sebelumnya. Tapi rasanya tidak sopan kalau langsung ditanyakan. Tek Nun saja lah yang bercerita," katanya. Dia sekarang mengambil panci yang bagian bawahnya terlihat hitam gosong.

"Tak apa, Tek Nun. Itu kenapa, Tek?" tanya Hanum heran melihat panci gosong itu.

"Beberapa hari yang lalu, Tek Nun coba masak telur cuman apinya kebesaran. Lupa ternyata, malah pake kayu cengkeh. Kobaran api nya gede," kata Tek Nun menjelaskan. Kini tangan ya menggosok panci itu dengan sabut kelapa dan abu bakar.

"Hanum ceritakan saja sekarang, Tek Nun. Supaya lebih jelas," kata Hanum lagi.

"Ya sudah kalau Hanum mau, Tek Nun terima saja," bagi Tek Nun dia paham betul maksud ucapan kakaknya tadi. Bahwasanya Hanum juga pernah dinikahi oleh suaminya yang pertama. Mulanya Tek Nun tersentak kaget, tetapi saat Bunda mengatakan sama dengan dirinya itulah yang membuatnya jadi mengerti.

Hanum bercerita tentang dirinya, orang tuanya yang telah tiada, Bramasta yang kini menceraikannya dan mendekam di penjara, diselingkuhi. Tek Nun menyimaknya dengan seksama.

"Hanum.., Tek Nun salut dengan perjalanan kamu. Sejujurnya, Kakak sama kamu punya latar belakang yang sama.. Meskipun dari segi orang tua ada perbedaannya."

Hanum menatap Tek Nun sejenak.

"Kakak juga dulu seperti itu, Hanum. Dia diselingkuhi oleh suami pertamanya," Tek Nun memastikan tidak ada Bunda di dekatnya.

"Dulu dia menikah dengan laki-laki seperti suami pertama kamu dulu. Tidak pernah disentuh dan selalu diabaikan. Seolah pernikahan yang dilakukannya karena keterpaksaan semata. Sampai akhirnya kakak tidak sanggup karena suaminya berselingkuh."

"Kakak sudah mati-matian bekerja untuk Tek Nun dan juga Amak waktu itu. Dari situlah Tek Nun sadar, kakak sudah lelah menghadapi semuanya. Syukurlah sekarang semuanya sudah baik-baik saja.., Tek Nun kuliah dulu sebagian biayanya dari Kakak..," sambungnya lagi.

"Bunda dulu kerja di mana, Tek?" tanya Hanum penasaran.

"Di perusahaan gede begitu, Tek Nun juga kurang tahu sih. Ngurus saham apalah itu, di sana juga Kakak ketemu sama ayahnya Uda Devan," kata Tek Nun lagi sambil tersenyum mengingat kakaknya dulu.

"Jadi, Hanum.., Tek Nun minta kamu untuk tetap tangguh. Menjadi perempuan memang banyak sekali cobaannya. Bukan maksud Tek Nun mengartikan laki-laki tahunya enak saja, bukan. Tapi.., kita sebagai perempuan harus saling menguatkan. Apa pun dendam yang terbesit di hati cobalah untuk meleburkannya. Buang jauh-jauh dan ganti dengan pembuktian yang jauh lebih baik," ujar Tek Nun sembari menatap Hanum.

"Baik, Tek Nun. Terimakasih sudah berbagi ceritanya. Hanum insyaallah akan tetap kuat!" Hanum kini tertawa kecil.

"Sip! Ya sudah, kamu siap-siap juga. Biar Tek Nun yang lanjutin."

"Tek Nun ikut juga?" tanya Hanum.

"Iya.., cuma kalo Tek Nun mah gercep hehe," katanya sambil meletakkan panci yang terlihat lebih bersih dibandingkan sebelumnya.

Hanum tersenyum saja. Dia merasakan kenyamanan, kehangatan yang selama ini dia dambakan. Keluarga ini baginya begitu menentramkan jiwa.

Selepas sarapan, mereka berlima menuju pemakaman. Bunda banyak sedihnya, tetapi tak lama kemudian dia kembali menguatkan dirinya. Tak hanya menziarahi makam Amak, mereka juga singgah ke makam Apak yang ada di sebelahnya.

"Kak, nanti sore kita main ke jam gadang yuk!" ajak Tek Nun setelah mereka keluar dari area pemakaman.

"Ide bagus tu!" ucap Paman Zul menimpali istrinya.

Bunda mengangguk mengiyakan. Sementara Devan dan Hanum saling pandang.

ALHAMDULILLAH AKU LOLOS SNBT 2026, TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA KAK ! 🥹🤲🤓

1
Anonim
IBLIS HARUS DIBANGKITKAN DAN MENJALIN KONTRAK DENGAN NYA HANUM...BUNUH SEMUA MUSUH MU
silainge01
First nulis di sini
partini
good
partini
sehat selalu Thor, semoga dapat yg terbaik 👍👍
silainge01: Aamiim terimakasih kakak 🤲
sehat selalu 🤓
total 1 replies
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!