NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Senjata dari Masa Lalu

Malam itu, Aditya duduk sendirian di kamarnya di Villa Pradipa—kamar tamu yang kini mulai terasa seperti rumah. Perkamen kuning dari Kakek Wijaya terhampar di depan kakinya. Tinta emasnya berpendar pelan, menunjukkan peta yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa: sebuah lokasi di Pegunungan Gede, tersembunyi di balik air terjun.

"Ruang pelatihan rahasia," bisiknya. "Sepuluh kali lipat kecepatan latihan."

Tapi sebelum berangkat, ia harus mempersiapkan diri. 4210 Koin bukan jumlah yang sedikit.

Ia membuka Toko Sistem.

TOKO SISTEM DEWA MATAHARI

Level 1 (Terbuka)

· Pil Penguatan Mental Level 2: 500 Koin (Meningkatkan fokus dan ketahanan terhadap serangan mental)

· Pil Pemulihan Tubuh Level 2: 500 Koin (Menyembuhkan luka sedang dalam 1 jam)

· Skill Book: Basic Combat Mastery: 800 Koin (Menguasai dasar semua seni bela diri)

· Senjata: Pedang Kayu Matahari: 1200 Koin (Tidak bisa patah, terbakar saat terkena energi kultivator)

· Armor: Rompi Anti-Energi: 1500 Koin (Mengurangi 20% damage dari serangan energi)

Aditya menghitung. Jika ia membeli semuanya, Koin-nya habis. Tapi jika hanya memilih yang penting...

"Pil Penguatan Mental, Basic Combat Mastery, dan Pedang Kayu Matahari."

Total: 2500 Koin. Sisa: 1710 Koin.

Ia mengonfirmasi pembelian. Tiga benda muncul di hadapannya: pil ungu seukuran ibu jari, sebuah buku bersampul hitam, dan sebilah pedang kayu yang ringan tapi hangat di genggaman.

Aditya menelan pil lebih dulu. Kali ini tidak ada rasa sakit—hanya sensasi dingin yang menjalar ke kepala, lalu kejelasan yang belum pernah ia rasakan. Pikirannya teratur. Ingatannya tajam. Bahkan suara jangkrik di luar terdengar lebih jelas.

Status: Kecerdasan +4 (22). Skill baru: Mental Fortitude (Pasif—tahan terhadap ilusi dan serangan jiwa).

Lalu ia membuka Skill Book. Halaman-halamannya kosong, tapi begitu ia menyentuhnya, gambar-gambar bergerak masuk ke pikirannya: kuda-kuda, pukulan, tendangan, kuncian, gulat. Ribuan gerakan dasar dari puluhan aliran bela diri. Bukan untuk dikuasai semuanya—tapi untuk dipahami.

Basic Combat Mastery terpelajari. Efek: Meningkatkan efektivitas semua serangan fisik sebesar 30%. Bisa mengantisipasi gerakan lawan yang levelnya tidak lebih dari 5 level di atas.

Dan pedang kayu itu... Begitu Aditya mengalirkan sedikit energi ke telapak tangannya, bilah kayu itu menyala jingga—hangat, bukan membakar. Ia bisa merasakan pedang itu seolah menyatu dengan lengannya.

"Besok aku berangkat," katanya pada pedang itu—seolah benda itu bisa mendengar.

Pintu kamar diketuk.

"Masuk."

Alesha masuk. Rambutnya tergerai, tanpa sanggul CEO yang biasa. Untuk pertama kalinya, ia hanya terlihat seperti wanita biasa di larut malam—lelah, tapi tidak bisa tidur.

"Kau masih bangun."

"Kau juga," Aditya menaruh pedangnya. "Ada yang ingin dibicarakan?"

Alesha duduk di kursi, pandangannya jatuh ke perkamen di lantai. "Kakek sudah cerita lebih banyak. Tentang ruang pelatihan itu."

"Apa yang beliau katakan?"

"Bahwa tempat itu tidak hanya mempercepat latihan. Tempat itu juga... menguji." Alesha menatap Aditya. "Tidak semua yang masuk bisa keluar dengan selamat. Beberapa kultivator keluarga Pradipa dulu masuk ke sana dan tidak pernah kembali."

Aditya menyandarkan punggungnya. "Kenapa baru bilang sekarang?"

"Karena aku baru tahu sekarang. Kakek sengaja tidak bilang di depan Maya—dia tidak ingin Maya khawatir." Alesha menggigit bibirnya. "Tapi aku merasa kau harus tahu."

"Aku menghargai kejujuranmu. Tapi aku tetap akan pergi."

"Aku tahu." Alesha menghela napas. "Aku hanya... tidak ingin kehilangan orang lagi. Ayahku. Kakek yang hampir mati. Sekarang kau."

Aditya terdiam. Panel sistem menunjukkan angka "Kesedihan: 74%, Kejujuran: 96%" di atas kepala Alesha.

"Kau tidak akan kehilanganku," katanya akhirnya. "Aku cleaning service yang keras kepala, ingat?"

Alesha nyaris tersenyum. "Keras kepala memang."

"Lagipula, aku sudah belanja banyak hal dari toko sistem. Masa mau mubazir?"

Alesha menatap pedang kayu di samping Aditya. "Itu senjata barumu?"

"Pedang Kayu Matahari. Katanya tidak bisa patah."

"Pedang kayu," Alesha mengulangi. "Kau yakin?"

"Justru karena kayu, orang akan meremehkanku. Dan itu keuntungan."

Alesha berdiri. "Kalau begitu, aku tidak akan menghentikanmu. Tapi ada satu syarat."

"Apa?"

"Kau harus kembali dalam dua minggu. Kalau tidak..." ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah cincin perak sederhana—bukan pusaka, hanya perhiasan biasa. "...aku akan mengirim Maya dan seluruh tim keamanan untuk menjemputmu."

Aditya menerima cincin itu. "Ini..."

"Cincin ibuku. Bukan pusaka, jadi tenang saja." Alesha berjalan ke pintu. "Anggap saja... jimat keberuntungan."

---

Pukul 05.00 pagi. Aditya berdiri di gerbang Villa Pradipa dengan ransel kecil di punggung. Maya bersandar di mobil SUV, tangan terlipat.

"Aku akan mengantarmu sampai kaki gunung. Selebihnya, kau sendiri."

"Cukup."

Mereka berkendara dalam diam melewati kabut pagi Puncak. Sesekali Maya melirik ke arah pedang kayu yang tersembul dari ransel Aditya.

"Pedang kayu," gumamnya.

"Semua orang terus bilang begitu."

"Karena itu konyol."

"Itu tidak bisa patah."

"Kita lihat saja."

Mobil berhenti di sebuah jalan tanah di kaki Gunung Gede. Hutan tropis membentang di depan mereka—hijau, lebat, penuh suara burung dan serangga yang belum sepenuhnya bangun.

Maya menyerahkan sebuah alat pelacak kecil. "Ini buat jaga-jaga. Kalau kau tidak kembali dalam dua minggu, aku akan melacakmu."

"Terima kasih, Kapten."

"Maya saja. Kita sudah bertarung bersama dua kali."

Aditya tersenyum. "Maya."

Ia melangkah keluar dari mobil. Udara pegunungan langsung menyergapnya—dingin, segar, jauh dari polusi kota.

"Aditya."

Ia menoleh.

Maya masih duduk di kursi pengemudi, jendela terbuka. Wajahnya setengah tertutup bayangan. "Jangan mati. Kau masih berutang janji untuk mencarikan adikku."

"Aku masih ingat."

"Bagus."

Mobil berbalik dan meluncur pergi, meninggalkan Aditya sendirian di kaki gunung. Ia menatap perkamen di tangannya. Peta itu menunjukkan jalur menuju air terjun di ketinggian 1800 meter.

"Air terjun, lalu ruang pelatihan, lalu..." ia mengepalkan tinjunya, "...level baru."

Ia mulai mendaki.

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!