Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 34
Malam mulai menyelimuti kota ketika suasana rumah sakit kembali tenang. Setelah cukup lama menemani Shakira, Gayatri dan Nayana akhirnya membujuknya untuk beristirahat. Keandra juga berpamitan sementara waktu karena ingin memberi ruang bagi Shakira untuk memulihkan tenaganya.
Di dalam kamar, lampu utama telah diredupkan. Shakira tampak memejamkan mata, tetapi ia belum benar-benar tertidur. Sementara itu, Keenan masih berdiri di lorong rumah sakit dengan pikiran yang kacau.
Ia mengusap wajahnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana. Setelah beberapa saat menatap layar tanpa tujuan, ia akhirnya mengetik nama dokter yang menangani Shakira. Beberapa menit kemudian, seorang dokter perempuan keluar dari ruang perawatan setelah menyelesaikan pemeriksaan pasien lain.
“Dokter, boleh saya berbicara sebentar?” tanya Keenan dengan sopan.
“Tentu.” Dokter itu tersenyum ramah.
Mereka berjalan menuju ruang konsultasi yang tidak jauh dari sana. Begitu pintu tertutup, Keenan langsung duduk dengan wajah penuh kegelisahan.
“Dokter ... sampai kapan kami harus menyembunyikan kenyataan ini dari Shakira?”
Dokter terdiam beberapa saat sebelum menjawab. “Secara medis, kondisi fisik istri Anda sudah mulai membaik. Namun, kondisi emosionalnya masih sangat rentan.”
Keenan mengangguk pelan. “Saya mengerti.”
“Karena itu, kami memang menyarankan agar keluarga memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan kabar tersebut.”
“Apakah ada dampaknya jika kami terus menyembunyikannya? Entahlah, Dok. Saya rasa … kami kesulitan untuk memberitahu Shakira perihal ini.”
Dokter menatap Keenan dengan serius. “Saya mengerti kekhawatiran keluarga Anda, tetapi menyembunyikan fakta ini terlalu lama juga memiliki resiko.”
Keenan langsung mengangkat kepalanya. “Resiko? Resiko apa itu, Dok?”
“Jika pasien mengetahui kenyataannya dari orang lain, atau menyadarinya sendiri tanpa pendampingan keluarga, rasa shock yang muncul bisa jauh lebih besar.”
Jantung Keenan kembali berdegup kencang. “Menurut Dokter ... apa yang sebaiknya kami lakukan?”
Dokter itu mengembuskan napas pelan. “Menurut saya, jangan menunggu terlalu lama.”
Keenan terdiam, lidahnya terasa kelu.
“Istri Anda berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.” Dokter itu terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya. “Yang terpenting adalah bagaimana cara menyampaikannya.”
Keenan mengangguk paham, tetapi ia sendiri pun belum tahu bagaimana cara memberitahu Shakira.
“Pastikan ada orang-orang yang paling ia percaya berada di sisinya saat itu. Biarkan ia menangis jika memang ingin menangis. Jangan memaksanya untuk terlihat kuat.”
Keenan menundukkan kepala. Air matanya kembali menggenang. “Saya takut dia membenci saya, Dok. Semua ini … semua ini terjadi karena saya.”
Dokter tersenyum tipis. “Yang paling dibutuhkan istri Anda nanti bukanlah penjelasan panjang. Melainkan kehadiran suaminya.”
Sementara itu, di dalam kamar perawatan, Shakira perlahan membuka matanya. Cahaya lampu yang redup membuat ruangan terasa tenang. Pandangannya berkeliling sejenak sebelum menyadari bahwa suasana di sekitarnya begitu sunyi.
Nayana tampak tertidur di sofa dengan posisi yang kurang nyaman, sementara Gayatri sedang berbincang pelan dengan Keandra di balkon kecil yang menyatu dengan kamar perawatan. Melihat kedua orang terdekatnya berada di sana membuat Shakira merasa sedikit tenang, tetapi perasaan itu tidak bertahan lama.
Tatapannya beralih ke langit malam yang terlihat dari balik jendela. Entah mengapa, dadanya kembali terasa sesak. Tanpa sadar, ia meletakkan telapak tangannya di atas perutnya. Perasaan hampa yang terus menghantuinya belum juga menghilang. Justru dari hari ke hari, rasa kosong itu semakin kuat, seolah ada sesuatu yang hilang dari hidupnya, meski ia sendiri tidak mampu menjelaskan apa.
“Sayang.”
Suara lirih itu nyaris tidak terdengar, bahkan lebih menyerupai bisikan yang keluar tanpa disadarinya. Di saat yang sama, air mata perlahan mengalir dari sudut matanya.
Shakira sendiri tidak mengerti mengapa ia menangis. Tidak ada kejadian yang memicunya saat itu. Namun, hatinya terasa begitu sesak, seolah sedang meratapi kehilangan yang bahkan belum mampu ia pahami.
Beberapa saat kemudian, Gayatri kembali masuk ke dalam kamar. Begitu melihat air mata yang membasahi pipi Shakira, langkahnya langsung terhenti. Raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
“Shakira?”
Mendengar panggilan itu, Shakira buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan.
“Aku tidak tahu kenapa,” ucapnya dengan suara bergetar. “Akhir-akhir ini aku sering menangis tanpa alasan.”
Gayatri segera duduk di samping ranjang, lalu menggenggam tangan menantunya dengan lembut.
“Itu wajar,” katanya berusaha terdengar setenang mungkin.“Tubuhmu masih dalam masa pemulihan.”
Shakira menggeleng pelan. “Bukan hanya tubuhku.”
Ia mengangkat wajahnya dan menatap Gayatri. Matanya masih dipenuhi air mata dan kebingungan yang sulit disembunyikan. “Hatiku juga terasa sakit.”
Kalimat itu membuat dada Gayatri kembali terasa sesak. Ia menelan ludah, berusaha menahan gejolak emosi yang hampir menghancurkan ketenangannya. Meski begitu, ia tetap memaksakan senyum agar Shakira tidak curiga.
“Semuanya pasti akan membaik,” ujarnya lembut.
Shakira membalas dengan senyum tipis. Senyum itu begitu rapuh, sementara tatapannya masih menyimpan begitu banyak pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
“Aku berharap begitu.”
Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Keenan baru saja kembali dari ruang konsultasi dokter. Langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja mendengar seluruh percakapan antara Shakira dan Gayatri. Tangannya kembali mengepal erat. Ucapan dokter beberapa saat lalu terus berputar di dalam kepalanya.
Keenan memejamkan mata. Kini ia benar-benar menyadari bahwa waktu yang mereka miliki semakin sedikit. Cepat atau lambat, kebenaran itu pasti akan terungkap. Menundanya hanya akan membuat luka yang ada semakin dalam. Di dalam hatinya, sebuah keputusan akhirnya bulat diambil.
Apapun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan Shakira terus hidup dalam kebohongan. Ia akan mengatakan semuanya dengan mulutnya sendiri, menerima apapun konsekuensinya, entah itu kemarahan, kebencian, bahkan jika Shakira memilih menjauh dan tidak pernah memaafkannya lagi.
Karena kali ini, Keenan tidak ingin lagi menjadi laki-laki yang lari dari tanggung jawab. Ia akan menghadapi akibat dari semua keputusan yang pernah diambilnya, seberat apa pun harga yang harus dibayar.
kehancuran menantimu..