" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun dalam Rempah
Pagi itu, ruko "Wangi Arumi" mendadak sepi secara tidak wajar. Biasanya, antrean ojek online dan ibu-ibu rumah tangga sudah mengular sejak pukul delapan. Namun, yang datang justru segerombolan petugas dari Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat-obatan.
"Selamat pagi, Ibu Arumi. Kami menerima laporan masyarakat bahwa bumbu racikan Anda mengandung pewarna tekstil dan bahan pengawet berbahaya," ujar petugas paruh baya dengan wajah kaku.
Arumi tersentak, jantungnya serasa berhenti. "Itu tidak mungkin, Pak! Semua bahan kami organik dan digiling segar setiap hari."
Adnan yang baru saja sampai langsung pasang badan. "Laporan masyarakat? Atas dasar apa? Anda tidak bisa menyegel tempat ini tanpa uji laboratorium yang transparan!"
"Kami punya sampelnya, Pak Adnan. Seseorang mengirimkan paket bumbu 'Wangi Arumi' yang dibeli kemarin, dan hasilnya positif mengandung zat berbahaya," jawab petugas itu sambil menunjukkan surat tugas
Rendra yang sedang asyik membuat konten A Day in My Life mendadak mematikan kameranya. Matanya menyipit tajam. "Secara estetika, ini namanya black campaign murahan. Arum, siapa yang pegang kunci gudang bumbu semalam?"
Arumi terdiam. Ia menatap ke arah dapur. Di sana, seorang pegawai baru bernama Tio tampak pucat pasi dan tangannya gemetar hebat. Tio adalah pemuda pendiam yang baru bekerja satu minggu, yang katanya butuh uang untuk biaya rumah sakit ibunya.
Dania yang sedang mengunyah kerupuk pedas langsung melompat pagar pembatas kasir. "Heh, Tio! Sini kamu! Mukamu itu lebih mencurigakan daripada maling jemuran!"
"B-bukan saya, Mbak! Saya nggak tahu apa-apa!" teriak Tio, hendak lari lewat pintu belakang.
Tapi di sana sudah berdiri Erick dengan tangan bersedekap. Erick hanya perlu memberikan satu tatapan dingin untuk membuat Tio jatuh terduduk. "Coba cek kantong jaketnya," perintah Erick singkat.
Dania dengan cekatan menggeledah jaket Tio dan menemukan sebuah botol kecil tanpa label berisi cairan merah pekat dan tumpukan uang tunai dalam amplop cokelat.
"Walah! Ini apa?! Pewarna kain ya?! Dan ini... uang sogokan dari Om Abu-abu Gavin, kan?!" bentak Dania.
Tio menangis tersedu-sedu. "Maafkan saya, Bu Arumi... Tuan Gavin mengancam akan mengeluarkan ibu saya dari rumah sakit kalau saya tidak memasukkan cairan ini ke dalam stok bumbu rendang semalam..."
Arumi merasa lemas. Kebaikan hatinya sekali lagi dimanfaatkan. Namun, kali ini ia tidak menangis. Ia menghampiri Tio, menatapnya dengan kecewa yang mendalam.
"Tio... jika kamu bicara jujur dari awal, aku bisa membantumu. Tapi sekarang, kamu hampir meracuni ribuan pelanggan saya," suara Arumi bergetar karena menahan amarah.
Adnan langsung menelepon pengacaranya. "Bawa pemuda ini ke kantor polisi. Pastikan dia memberikan kesaksian bahwa Gavin yang memerintahkannya."
Rendra menjentikkan jarinya, ia kembali menyalakan kamera ponselnya. "Teman-teman wartawan dan netizen... lihat ini! Percobaan sabotase terhadap bumbu organik favorit kita! Secara narasi, Gavin baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya: mencoba meracuni publik."
Tiba-tiba, ponsel Adnan berbunyi. Panggilan dari Gavin. Adnan menyalakan loudspeaker.
"Bagaimana rasanya, Adnan? Melihat bumbu kesayanganmu disegel?" suara Gavin terdengar sangat puas.
"Kamu kalah, Gavin. Mata-matamu sudah tertangkap," balas Adnan dingin.
"Tertangkap? Oh, Tio hanyalah pion. Tahukah kamu bahwa saat ini timku sedang melakukan lobi untuk mengambil alih kontrak hotelmu karena skandal ini sudah kusebarkan ke media nasional?"
Arumi merebut ponsel Adnan. "Gavin! Kamu boleh menyerang bisnisku, tapi jangan pernah bermain-main dengan kesehatan orang lain! Aku akan pastikan namamu busuk di industri ini!"
"Kita lihat saja, Arumi. Siapa yang akan bertahan: bumbu pasar atau katering internasional?" Gavin menutup telepon dengan tawa sinis.
Kinan yang sedari tadi bersembunyi di balik meja kasir keluar membawa botol semprotan "ramuan jahe-cabe-bawang" miliknya. "Ibu! Kinan sudah rekam suara Om Abu-abu tadi pakai HP mainan Kinan!"
Semua orang menoleh. Ternyata Kinan tidak sengaja menekan tombol rekam pada tablet belajarnya yang diletakkan dekat ponsel Adnan.
"Ya ampun! Kinan, kamu penyelamat!" seru Rendra. "Secara teknis, rekamannya bersih banget! Ini bukti kuat buat laporin Gavin atas pencemaran nama baik dan percobaan perusakan properti orang lain!"
Dania menggendong Kinan dan memutar-mutarnya. "PINTER BANGET KEPONAKANKU! Fix, kita bikin Gavin nangis bombay hari ini!"
.